
Sudah sepi mushala. Beberapa ABK masih di situ, namun kebanyakan telah pergi. Sebagian ada yang mandi, ada yang makan malam, ada juga yang melanjutkan sisa tugasnya. Huda di anjungan pegang kemudi, gantian dengan Dasim yang kini sedang shalat. Usai shalat, dia menyalami Hazri lalu beranjak pergi yang lain pun ikut beranjak pergi. Sendirian Hazri kini, meresapi kesyahduan hati atas apa yang barusan dia alami ketika shalat tadi. “Allah...,” gumamnya berulang-ulang.
“He, kok bengong gitu?” sapa Huda tiba-tiba.
Hazri menghela napas “Lagi pengen saja...” jawabnya. Dia melihat ke anjungan, Dasim telah kembali jadi nakhoda. “Nggak capek Dasim pegang kemudi terus?”
“Kuat dia. Pernah sampai tiga hari dua malam.”
“Jago juga ya...,” komentar Hazri,
“Mau kopi?” Huda bertanya.
“Bolehlah.” Walau sebenarnya tidak suka kopi, tapi dari tadi Hazri melihat kopi seperti minuman wajib di kapal ini. Semuanya ngopi.
“Komeng, minta kopi dua ke Cak Nardi. Yang enak....”
Komeng mengangguk dan segera ke dapur.
“Hud, menurutmu apa Allah sedang lihat kita sekarang?” tanya Hazri pelan.
“lyalah. Harusnya begitu,” jawab Huda mantap.
Hazri manggut-manggut. “Di mana sih Allah?”
Huda terdiam. “Ini dia pertanyaan susah. Jujur, Rif, nggak tahu aku. Pokoknya ada, entah di mana. Kata ustadz, di Arsy.”
Hazri manggut-manggut lagi. Tahu dia kalau ‘kabar’ bahwa Allah bersemayam di Arsy, singgasana-Nya. Walau dua belas tahun ngemplang syariat, tapi dulu nilai pelajaran agama Hazri bagus.Mantan santri pula. Shalatnya, puasanya ,dan ngajinya juga bagus. Ustadz Faishol, guru ngajinya, sering memuji. Cuma, entah mengapa tiba-tiba kini dia merasa perlu untuk tahu lebih dalam daripada sekedar berita itu. Arsy Allah, apa dan di mana singgasana-Nya ini?
“Kopi, kopi, kopi...,” Huda berseru senang melihat Komeng datang membawakan kopi pesanannya. “Kok tiga?”
Komeng cengar-cengir. “Nitip satu, Pak Haji. Habis Cak Nardi kalau bikin kopi buat Pak Haji enak betul rasanya.”
Huda tertawa kecil. “Bisa aja kau...,” Dia menurunkan dua gelas kopi, untuknya dan untuk Hazri. “Sudah, makasih, Komeng. Cepat habiskan kopimu, nanti dirampok teman-temanmu kalau ketahuan.”
Komeng mengangguk. Dia pun beranjak sambil agak menyembunyikan gelas kopinya.
Hazri menyeruput. Benar kata Komeng, enak betul kopi ini. Seperti yang dulu di ruang kerja Fahmi. “Enak, Hud. Kopi apa ini?”
“Hahaha... Kalau kukasih tahu, yakin masih mau minum?” pancing Huda.
“Yakinlah, enak gini” Hazri menyeruput kembali kopinya.
Huda tertawa kecil. “Ini kopi luwak. Tahu nggak luwak?”
Hazri menggeleng.
“Musang. Bahasa Jawa.”
Hazri manggut-manggut. “Apa hubungannya musang sama kopi?”
__ADS_1
“Akrab...,” Huda tertawa lagi. “Musang memang suka makan biji kopi, tapi nggak kecerna karena keras. Ya sudah, diprocotin lagi. Terus procotannya diambilin orang-orang. Dikumpulin, diolah.... Jadilah kopi ini.”
“Maksudmu diprocorin apa?”
“Hahaha.... Diprocotin ya diprocotin....”
“Busyet. Jadi ini procotannya Hud?” Hazri memandang kopinya.
Huda tidak menjawab, tertawa-tawa saja.
Hazri memandangi kopinya, ragu-ragu tampaknya. Maklum, selama ini dia memang bukan penggemar kopi. Baru tahu sekarang soal kopi luwak yang sebenarnya sudah ternama di dunia perkopian itu.
“Sudah minum, minum. ... Bersih,” kata Huda di penghujung tawa.
Huda menyeruput kopi luwaknya yang mengebul panas, nikmat betul kelihatannya. Walau dengan geleng-geleng kepala, Hazri menyeruput juga. Dan, sebentar kemudian dia sudah lupa segala procotan. Terlalu enak kopinya....
Sambil menikmati kopi, mereka ngobrol lagi. Masih berkisar soal ‘di mana Allah’ dan sejenisnya. Huda kebanyakan menggelengkan kepala, tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Hazri karena memang tidak tahu.
“Kalau Maha Adil, kenapa kamu enak aku pahit?” tanya Hazri.
“Siapa bilang aku enak?” bantah Huda.
“Masak nggak enak? Enaklah....”
“Itu kan kelihatannya, aslinya orang-orang nggak tahu.”
Huda meringis. “Susah lagi dah....”
“Jadi, gimana nih? Adil nggak?” Hazri mengejar.
“Adil. Pokuknya adil, titik.”
Huda tetap meringis, Hazri nyengir
“Terus. Hud, soal ‘lebih dekat dari urat leher itu’ gimana?”
“Sudah ah, bingung aku. Kita shalat saja....” ajak Huda. Beberapa ABK berdatangan ke mushala hendak shalat isya’. “Di kamar ada buku-buku agama, baca sendiri. Siapa tahu ketemu jawabannya.”
“Di sebelah mana?”
“Di laci meja.”
Hazri mengangguk. Mereka pun beranjak mengambil air wudhu lagi, merasa wudhunya yang tadi sudah batal.
Huda jadi imam lagi pada shalat isya’ berjamaah ini. Sensasi rasa seperti yang tadi dialami saat shalat maghrib kembali mendera Hazri. Walau tidak sedramatis yang pertama, namun tetap mengalir syahdu ke dalam relung kalbunya.
Hazri lama terpekur setelah shalat itu. Sendirian, ditemani debur ombak yang tak tampak di kegelapan malam. Huda sudah kembali ke anjungan. Berulang kali Hazri menghela napas panjang, mencoba menghayati keberadaan Tuhan yang barusan disembahnya. Di mana Allah, memang belum terjawab. Namun, segini pun sebentuk tenang pelan-pelan menguak tabir gelisah hatinya yang telah mengelam hitam sekian lama. “Allah...,” dia mendesah pelan. Setetes air mata dibiarkan bergulir, menghantarkan secercah rindu untuk-Nya.
Hazri menghela napas panjang sekali lagi, lalu melirik arlojinya yang dibeli di Semarang bareng HP beberapa hari lalu. Pukul sebelas malam, berarti hampir empat jam dia duduk terpekur di situ. Hazri melihat ke arah anjungan, Huda tidak kelihatan, Dasim juga, yang pegang kemudi seorang ABK lain. Penasaran, Hazri pun beranjak ke anjungan.
__ADS_1
Melihat kemunculan Hazri, ABK itu memperkenalkan diri. Hazri memang belum mengenal semua nama ABK di sini, kecuali Dasim, Komeng, dan Cak Nardi.
“Saya Muklis, Pak...,” dia memperkenalkan diri.
Hazri menyambut uluran tangannya. “Pak Haji ke mana?”
“Sudah tidur. Tadi mau ke Pak Arif, tapi mungkin dilihat Pak Arif lagi senang sendirian terus nggak jadi. Langsung ke kabin,” jawab Muklis.
Dasim yang sedang tidur di situ terbangun. Dia pun menyapa Hazri.
“Teruskan saja, Sim, biar aku sama Muklis,” kata Hazri.
Dasim mengangguk, dia pun meneruskan tidurnya.
Belum ngantuk, mereka pun ngobrol. Iseng-iseng Hazri minta diajari mengemudi kapal. Muklis tidak keberatan, maka belajarlah Hazri kepadanya. Dua jam, tiga jam.... Tidak terlalu sulit ternyata. Serasa nyetir mobil, cuma mandangnya banyak ke layar GPS, bukan ke depan. Tidak pakai kopling, gasnya tinggal dorong naik dan panteng disitu. Hazri manggut-manggut paham, yang penting navigasi, kecepatan, dan kesigapan menghindari karang serta menyelinapkan kapal menyusur alur gelombang. Ditambah satu lagi, stamina sang nakhoda. Itu saja.
Menjelang subuh, Hazri pun sudah lumayan lancar mengemudikan kapal ini. Cuma, ternyata kopi yang diseduh Muklis buat Hazri jauh rasanya dengan yang tadi. Sepertinya kelas procotan memang bukan untuk ABK. Pantas si Komeng ngiler.
Sedang mikirin Komeng saat Hazri melihat Komeng muncul dari kabin ABK. Berjalan ke mushala sambil ngantuk-ngantuk. Dia menggelarkan tikar, mengambil wudhu, lalu mengumandangkan adzan. “Allabu Akbar... Allaaaaaahu Akbaaar...,” suaranya mengalun merdu. Waktu shalat subuh tiba. Hazri mengembalikan kemudi kapal ke Muklis, lalu bergegas turun ke mushala.
Kaget Komeng melihat Hazri sudah duduk di mushala, selepas adzan. “Belum tidur, Pak?” dia bertanya.
Hazri mengeleng. “Nungguin kamu adzan...,” kilahnya sambil tersenyum.
Komeng pun ikut tersenyum.
Beberapa ABK muncul kemudian, tidak semuanya. Setelah menunggu beberapa saat, iqamat pun dilantunkan. Shalat subuh akan segera dimulai. Hazri menolak saat diminta menjadi imam, akhirnya Dasim yang maju. Dia ABK paling senior. Shalat subuh berjamaah itu pun terlaksana lancar. Hazri menghela napas panjang setelah Dasim menutup doanya. Luar biasa, semalam ini dia sujud tiga kali setelah sekian tahun lancar melalaikannya....
“Kok nggak semua shalat, Meng?” Hazri bertanya ke Komeng yang sedang menggulung salah satu tikar.
“Aturannya, Pak Haji. Yang harus jamaah shalat maghrib saja. Yang lain boleh sendiri-sendiri,” jawab Komeng. “Bisa marah Pak Hag kalau ada yang maghrib nggak jamaah kecuali nakhoda.”
“Ow gitu ya...” Hazri manggut-manggut. Beberapa ABK dilihatnya muncul lalu mengambil air wudhu untuk shalat. “Langsung kerja habis shalat subuh?” Hazri bertanya lagi.
“Nggak, Pak, santai saja. Kalau sedang berlayar nggak banyak kerjaan. Paling buka pasang layar sama bersih-bersih. Kalau lagi sandar baru banyak kerjaan. Biasa, bongkar muat barang.”
Hazri manggut-manggut lagi. Matanya mulai terserang kantuk. “Oke, Meng, selamat bersantai ya...,aku mau istirahat dulu” katanya sambil beranjak.
“Iya, Pak. Silakan” Komeng mesem.
Hazri menuju kabinnya. Dilihatnya Huda masih tidur tengkurap pakai sarung tanpa baju. Ngorok. Hazri merebahkan diri di atas tempat tidur yang satunya. Tidak lama kemudian lomba ngorok pun berlangsung ramai dalam kabin itu. Tanpa disadari oleh kedua pesertanya....
Secuil Kopi
Pelaut pelaut adalah orang yang bekerja di atas kapal sebagai bagian dari awaknya, dan dapat bekerja di salah satu dari sejumlah bidang yang berbeda yang terkait dengan operasi dan pemeliharaan kapal. Hal ini mencakup seluruh orang yang bekerja di atas kapal. Selain itu sering pula disebut dengan Anak Buah Kapal atau ABK. Untuk dapat bekerja di atas kapal, seorang pelaut harus memiliki sertifikat khusus kepelautan yang dikeluarkan oleh badan diklat kepelautan.
Profesi pelaut sudah lama ada, dan istilah pelaut memiliki asal-usul etimologis pada saat kapal layar menjadi moda transportasi utama di laut sejak jaman dahulu. Tetapi sekarang istilah ini mengacu kepada setiap orang yang bekerja pada semua jenis kapal sebagai moda transportasi, dan mencakup orang yang mengoperasikan kapal secara profesional atau rekreasi, baik itu untuk angkatan laut militer atau armada kapal dagang.
__ADS_1