
“Baiklah. Sekarang Mas Mahmud sudah punya pengertian tentang sejatining manungsa, sejatinya manusia. Hadits Nabi, Man arafa nafiahu faqad arafa Rabbahu, yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya, Maksud kata ‘dirinya’ dalam hadits itu apa? Atau, yang mana?”
“Pasti sejati diri, ruhnya....”
Pak Subakir mengangguk. “Lalu, mengapa dengan kenal sejati dirinya atau kenal ruhnya, maka dia bisa mengenal Tuhannya?”
Hazri merenung agak lama. “Eemm, mungkin karena Tuhan juga sejati...,” ragu-ragu dia menjawab.
“Benar! Sangat betul itu. Jangan pernah ragu tentang ini, Mas Mahmud. Tuhan adalah Kesejatian Mutlak, Dialah Yang Maha Sejati. Dan, Kesejatian hanya bisa digapai dengan kesejatian juga, tidak mungkin diraih lewat kesemuan. Sejati ketemu sejati, semu ketemu semu. Jangan bingung dan jangan dibolak-balik.”
Hazri mengangguk-angguk sambil menghela napas.
“Nah, Mas Mahmud sudah dapat pengertian lagi tentang hubungan antara sejati diri manusia dengan Kesejatian Mutlak. Terasa tidak adanya hubungan itu?”
Hazri jujur menggeleng. “Belum, Pak.”
Pak Subakir tertawa kecil. “Nanti, Insya Allah, yang ini tidak boleh hanya jadi sekedar pengertian, tapi harus sampai berwujud ilmu.”
“Memangnya ada perbedaan antara pengertian dan ilmu, Pak?” tanya Hazri. Belum paham maksud ucapan Pak Subakir barusan.
Pak Subakir kembali tertawa. “Jelas. Nyata sekali bedanya. Begini, Mas Mahmud, masih sering membaca al-Hikam?”
Hazri kaget, dia tidak pernah bercerita soal kitab Syekh Atha’illah itu kepada Pak Subakir dan yang lainnya di sini. “Iya, Pak. Tapi, bagaimana Bapak tahu?”
Pak Subakir tersenyum. “Ah, kebetulan saja. Bapak hanya menduga dan kebetulan benar. Tapi, ini tidak penting. Balik ke soal perbedaan tadi. Bagi Syekh Atha‘illah, semua yang beliau sampaikan dalam kitabnya itu sudah merupakan ilmu. Tapi, bagi Mas Mahmud yang baru sekedar membacanya, ilmu Syekh Atha’illah itu belum bisa disebut ilmu karena masih berupa pengertian. Bisa dipahami ini?”
Hazri menggeleng cepat. Sama sekali tidak mengerti.
“Bapak mau tanya. Saat membaca al-Hikam, Mas Mahmud bingung tidak?”
“Wah, bingung sekali, Pak. Sepertinya jelas, tapi nggak ngerti-ngerti.”
Pak Subakir tertawa, Agil juga.
“Itulah pengertian. Masih membingungkan. Kenapa Mas Mahmud bingung?”
Hazri merenung sejenak. “Mungkin karena ilmu saya belum sampai...”
“Salah. Bukan karena ilmu Mas Mahmud yang belum sampai, tapi karena pengertian itu memang belum menjadi ilmu bagi Mas Mahmud.”
Hazri mulai agak paham. “Kalau begitu, pasti ada caranya supaya pengertian bisa menjadi ilmu. Iya kan, Pak?”
“Betul. Justru itulah, bagaimana membuat pengertian menjadi ilmu. Kuncinya ada di ‘rasa’. Pengertian baru menjadi ilmu setelah didapat ‘rasanya’”
“Rasa? Bagaimana maksudnya?”
“Begini, langsung contoh saja ya, mudah-mudahan bisa lebih mudah. Sebab, memang tidak gampang menjelaskan ini.”
Hazri mengangguk.
“Bapak mau tanya, Mas Mahmud ngerti mesin?”
“Sedikit, mesin mobil.”
“Kalau mesin jahit? Atau, menjahit sajalah...?”
__ADS_1
“Wah, nggak paham sama sekali saya urusan jahit menjahit.”
Pak Subakir tertawa. “Katakanlah, Mas Mahmud, yang awam soal menjahit, membaca buku tentang menjahit. Banyak bingung tidak awalnya?”
“Pasti, Pak.”
“Lalu, gimana caranya supaya tidak bingung terus?”
“Latihan, praktek. Ikut kursus menjahit mungkin.”
Pak Subakir mesem. “Setelah cukup prakteknya, gimana?”
“Mestinya paham menjahit. Tidak bingung lagi.”
“Kenapa bisa tidak bingung? Kenapa bisa paham?”
“Karena sudah mengusai ilmunya...”
“Kenapa bisa dibilang sudah menguasai ilmunya?”
“Eemm, karena sudah tahu rasanya menjahit.”
Pak Subakir tertawa kecil. “Itulah Mas Mahmud. Rasa.”
Hazri pun mengangguk-angguk paham. Sama seperti pengalaman hidupnya. Awalnya dia bingung soal preman, lalu dijalani. Sekarang, apa tentang preman yang dia tidak tahu? Karena sudah tahu rasanya jadi preman. Biangnya malah.
“Begitulah...,” Pak Subakir melanjutkan. “Pengertian apa pun baru bergeser nilainya menjadi ilmu setelah ditempeli rasanya alias ruhnya. Tanpa itu, pengertian cuma sekedar kisah atau cuma dalil-dalil saja. Teori, kata orang-orang. Pahamilah bahwa segala teori bukanlah sejati ilmunya. Teori apa pun itu.”
Hazri menundukkan kepalanya, meresapkan petuah ini. Benar, teori bukanlah sejati ilmunya. Teori adalah pengertian, kisah, atau dalil-dalil yang masih harus dicari rasanya untuk bisa berubah menjadi ilmu. Setelah didapat, barulah sifat ‘kesemuan’ teori menjadi ‘kesejatian’ ilmu bagi yang berhasil mendapatkan rasanya. Bagi yang tidak dapat rasanya, teori tetap saja sekedar teori. Setingkat dongeng.
“Mas Mahmud bisa dikatakan hidup karena ada apanya?”
“Ruhnya.”
“Nah, kalau pengertian bisa ‘dihidupkan’ dengan apa?”
“Rasanya. ”
“Maka..”
Hazri pun mengangguk-angguk paham.
Mereka berhenti sebentar menyeruput kopi. Rada asem juga mulut karena dari tadi belum merokok. Soalnya yang lain juga tidak merokok. Mungkin memang tidak boleh di sini, batin Hazri. Kalau kemarin-kemarin di ruang tamu, ngebul terus.
Pak Subakir mesem. “Tidak dilarang merokok, silakan saja. Kalau bapak, Kang Bilal, dan Kang Agil masalahnya tidak punya rokoknya, hehehe...”
Hazri kaget. Untuk sekian kalinya Pak Subakir tahu apa yang melintas di otaknya. Dia meringis. “Saya kira dilarang ngebul disini,” katanya sambil mengeluarkan rokok. “Ayo, Kang Bilal, Kang Agil sama-sama..”
Mereka pun merokok bareng, termasuk Pak Subakir. Jangan khawatir, stok banyak di locker mobil Hazri. Tadinya mau langsung diambil, tapi Pak Subakir bilang yang ada saja dulu dihabiskan.
“Kalau menurut syariat, apa hukumnya merokok, Mas Mahmud?”
“Setahu saya makruh. Tapi, ada juga yang bilang mubah, bahkan haram.”
Pak Subakir tertawa kecil. “Kalau kata hakikat, tergantung...”
__ADS_1
“Tergantung gimana, Pak?”
“Kalau merokoknya bisa jadi dzikir...”
“Wah? Masak merokok bisa jadi dzikir Pak?”
“Hehehe..., bukan cuma merokoknya. Asapnya, apinya, gerak tangannya, sedotannya, hembusannya, semua berdzikir...”
“Ah bercanda kali Bapak ya?” Hazri masih belum percaya.
Pak Subakir, Bilal, dan Agil tertawa-tawa kecil.
“Bukan cuma tentang rokok, itu tawanya Kang Agil sama Kang Bilal juga bisa jadi dzikir. Kerut di kening Mas Mahmud juga bisa, hehehe...”
Hazri geleng-geleng kepala. Susah sekali dia percaya.
“Mau tahu pengertiannya?”
Hazri mengangguk cepat.
“Firman Allah dalam al-Qur’an, ‘Semua yang berada di langit dan. yang berada di bumi bertasbih kepada Allah....’ Semua bertasbih, semua memuji-Nya. Semua berarti mencakup segalanya, tanpa kecuali. Keterlaluanlah kalau di tengah lautan tasbih kita tetap tidak bisa ingat. Bukankah dzikir bermakna ingat kepada-Nya?”
“Allah...,” Hazri pun mendesah. Mulai paham dia.
Pak Subakir tersenyum. “Tapi, ini masih pengertian bagi Mas Mahmud. Dalil, teori, kabar, katanya Qur’an, katanya ustadz.... Harus dikejar rasanya, jangan berhenti hanya sampai di situ. Kalau soal dalil, seluruh isi al-Qur’an benar. Habis perkara. Tidak usah diperdebatkan. Dalil al-Qur’an adalah benar! Titik. Masalahnya sekarang di rasa. Bisa tidak kita merasakannya? Kalau cuma ngomong semua bertasbih kepada Allah, semua memuji Allah, anak kecil juga bisa. Apa susahnya itu? Tapi, coba omongkan dengan sepenuh rasa kebenarannya. Bisa tidak? Sebab tanpa itu, bohong hukumnya bagi yang mengucap. Walau yang diucapkan adalah firman Allah Yang Maha Benar.”
Hazri terpekur lama meresapi ucapan Pak Subakir ini. Benar, jika tanpa rasanya maka dalil Maha Benar pun akan berhukum bohong bagi yang mengucapkan. Jelas bohong karena dia tidak tahu rasa kebenarannya.
“Gimana, Mas Mahmud? Cukup jelas?”
“Ya, Pak. Pada batas pengertian.”
“Bagus. Bisa kita teruskan?” tanya Pak Subakir.
Hazri mengangguk. Sebatang rokok diambil dan disulutnya.
“Rasa itu hakikatnya gaib, sama seperti ruh...,” Pak Subakir memulai lagi.
“Sebentar, Pak, apakah hakikat itu?” Hazri bertanya karena dari tadi Pak Subakir sering menyebut kata hakikat, sekalian teringat Faruq yang dulu pernah memberinya pengertian tentang hakikat.
“Hakikat adalah kesejatian, yang selalu berada dalam kerangka kebenaran. Misalnya Bapak berkata, rasa hakikatnya gaib.... Ini bermakna bahwa sejatinya rasa adalah gaib dan Bapak mengungkapkannya dalam kerangka kebenaran yang Bapak yakini. Mudahnya, hakikat adalah kebenaran. Yang benar pasti sejati. Begitu.”
Hazri mengangguk-angguk. “Contoh lain, misalnya Mas Mahmud berkata, hakikat manusia adalah ruhnya. Bagaimana coba maknanya?”
“Eemm, sejati manusia adalah ruhnya.”
“Benar, asal...?”
“Asal rasanya sudah didapat,” jawab Hazri.
Pak Subakir pun tertawa. “Ya sudah, segitu dulu. Jangan bingung-bingung. Nanti, pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan terjawab dengan sendirinya kalau Mas Mahmud sudah bisa melebur dalam Kesejatian Mutlak yang terpampang ini. Menurut Bapak, jangan pusing dengan segala macam istilah. Perkara mudah itu, nanti paham sendiri. Coba, kenapa Bapak berani berkata begini?”
Hazri memandang Pak Subakir. “Karena Bapak sudah mengalami. Sudah menjadi ilmu, susah dapat rasanya.”
Pak Subakir mesem. “Begitulah. Insya Allah nanti Mas Mahmud pun sama. Paham rasa, tahu kebenaran.”
__ADS_1
Hazri mengangguk-angguk puas.