
Sudah sebulan waktu berlalu pasca kecelakaan yang dialami Papa Alexa. Sekarang Pak Wiratama sudah diperbolehkan pulang dan melakukan pemulihan pasca operasi dari rumah tentunya tetap rutin therapy dan cek up kesehatan.
Libur semester Alexa dan waktu belajar semester pendek Alexa sudah selesai. Walau semester pendeknya kali ini gagal tapi dia tidak terlalu khawatir karena dia hanya mengambil dua mata kuliah dan bisa diperbaiki di semester depan.
Itu semua tidak ada artinya dibanding dengan kesehatan Papanya. Baginya Papalah yang menjadi prioritas untuk saat ini. Dan karena Papanya sudah semakin membaik Alexa balik ke Jakarta melanjutkan kuliahnya di semester dua.
Sebenarnya masih berat berpisah dan meninggalkan kedua orangtuanya tapi demi masa depan Alexa harus berpisah dengan keluarganya.
Papa dan Mamanya sudah bulak balik meyakinkan kalau Papanya sudah lebih baik sekarang dan Mamanya bisa mengurus sendiri Papa dalam proses pemulihan. Dengan berat hati Alexa berangkat kembali ke Jakarta.
Di Bandara Alexa sudah dijemput Reza, Lidya dan Sisil. Mereka sudah tidak sabar menunggu untuk bertemu Alexa.
"Sandraaaa..... kangennya" Teriak Sisil dan disusul Lidya mereka berpelukan ala teletubbis.
Reza membawa koper Alexa dan membawanya. Dia tersenyum melihat ketiga teman yang ada didepannya ini lepas kangen.
"Gimana kabar Om San?" tanya Reza.
"Alhamdulillah semakin membaik Za. Papa dan Mama titip salam buat kalian semua" ucap Alexa menatap teman-temannya.
"Aaaaa... Selamat datang kembali di Jakarta Sandra..." ucap Sisil senang.
"Besok kita urus administrasi semester dua ya di biro" ucap Lidya mengingatkan.
"Iya ya, sepertinya aku harus menyiapkan semua berkas-berkasku" jawab Alexa.
"Kamu istirahat aja dulu San, kan capek baru perjalanan jauh. Lagian di rumah kamu pasti capek kan bantuin Tante ngurusin Om yang masih sakit" ucap Reza memperhatikan sahabatnya itu yang terlihat agak kurusan. Pasti Alexa selain kelelahan juga banyak fikiran, memikirkan Papanya yang sedang sakit. Batin Reza.
Reza sangat tau Alexa sangat menyayangi Papanya. Dari dulu Alexa selalu mengidolakan Papanya. Baginya Papa adalah orang yang paling mengerti dirinya dan selalu membelanya walaupun itu dari omelan Mama Alexa yang selalu menuntut Alexa untuk menjadi wanita anggun dan lemah lembut.
Mereka berempat akhirnya sampai di kos-kosan. Reza hanya bisa mengantarkan para cewek-cewek sampai teras depan kos-kosan mereka setelah itu Reza kembali ke kosannya.
Lidya dan Sisil membantu Alexa membawa semua barang bawaannya ke kamar. Alexa memberi beberapa oleh-oleh buat para sahabatnya. Dia hanya membawa bekal makanan yang dimasak sendiri oleh Mamanya.
Alexa paling suka dibawain sambel teri medan dan rendang. Biasanya Mamanya sengaja buat banyak agar bisa dibagi dan dimakan Alexa bersama teman-temannya.
Malam harinya Alexa mendatangi kamar Lidya.
"Lid kamu dikamar, boleh aku masuk" ucap Alexa.
"Masuk aja San" teriak Lidya dari dalam.
Alexa masuk kekamar Lidya dia ingin membicarakan sesuatu.
__ADS_1
"Lid ada yang pengen aku obrolin sama kamu, kamu sibuk gak?" tanya Alexa
"Nggak San, ngobrol aja. Aku akan dengerin" jawab Lidya.
"Kemarin waktu Papaku sakit membuat aku tersadar ternyata umur, rezeki dan jodoh itu rahasia Allah dan semua sudah diatur. Aku tak henti-hentinya berdoa saat Papa sedang dalam masa kritis. Dan saat Papa sadar aku sangat-sangat bersyukur dan bernazar Lid. Aku akan menjadi Alexandra yang berbeda dan akan berubah menjadi lebih baik lagi. Sebelum aku pulang Papa juga berpesan padaku agar aku kembali ke kodratku sebagai wanita tidak bergaya seperti laki-laki lagi. Papa tidak memaksaku untuk menjadi wanita wonder woman, wanita tangguh. Tapi dia menyuruhku untuk berubah menjadi wanita yang lemah lembut dan penyayang. Musibah yang menimpa Papa menyadarkanku agar terus berusaha mendekatkan diri pada Allah. Aku ingin berubah Lid, pengen memakai jilbab seperti kamu" Alexa meneteskan air mata.
"Alhamdulillah San" Lidya memeluk erat tubuh sahabatnya, dia sangat senang dan mendukung niat Alexa untuk berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi.
"Tolong bantu dan bimbing aku ya Lid" pinta Alexa.
"InsyaAllah aku akan bantu kamu. Kita sama-sama belajar untuk jadi lebih baik lagi ya" jawab Lidya.
"Terimakasih ya Lidya" ucap Alexa.
"Oh iya Lid, besok pulang dari kampus temanin aku membeli semua pernak pernik jilbab dan beli pakaian baru ya. Baju aku lengan pendek semua dan gak punya jilbab. Dah gitu ajari aku juga cara pakai jilbab yang benar. Aku gak pintar berdandan" aku Alexa.
"Iya nanti aku ajari ya, besok juga aku temani kamu belanja semua keperluan kamu, kamu sudah shalat Isya belum?" tanya Lidya.
Alexa menggelengkan kepalanya.
"Kita shalat Isya bareng yuk, berjamaah" ajak Lidya.
"Aku balik ke kamar dulu ya, ambil wudhu dan mukena" ucap Alexa.
Tak lama kemudian Alexa datang lagi dengan membawa mukenanya, mereka shalat bersama di kamar Lidya.
Malam ini Alexa memantapkan hatinya untuk segera memakai jilbab. Papa sering berpesan niat baik itu baik ya disegerakan jangan ditunda-tunda. Jangan sampai setan dengar, nanti pasti setan akan mengeluarkan semua jurus bujuk rayunya untuk menggoda manusia agar tidak jadi berbuat baik. Dan Alexa selalu mendengar setiap kata dan pesan Papanya. Karena bagi Alexa Papa adalah segalanya.
Setelah shalat Alexa melantunkan doa dengan sangat khusyuk. Setiap doa yang dia ucapkan diiringi dengan air mata yang mengalir di pipinya. Alexa merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam hatinya. Rasanya lega sekali seperti sudah mengeluarkan bongkahan beban berat yang menghimpit dadanya.
Semoga Allah meridhoi setiap niat baik ini. Aamiin.
Keesokan harinya setelah pulang dari kampus Alexa dan Lidya hendak pergi ke Mall membeli semua perlengkapan yang dibutuhkan Alexa untuk berhijab.
Sisil yang melihat Alexa dan Lidya mau pergi meminta ikut serta bersama mereka.
"Eit... kalian mau kemana?" tanya Sisil.
"Mau ke Mall Cempaka" jawab Lidya.
"Ngapain?" tanya Sisil lagi.
"Kepo banget" ledek Alexa.
__ADS_1
"Iiih Sandra tega bangat sama aku. Ikut donk... Aku males sendirian di kos" ucap Sisil merayu.
"Ya udah bersiap sono, kalau lama kami tinggal ya" ancam Alexa.
"Eeeeh... aku udah siap kog" Sisil menyambar tas sandangnya untuk menyimpan dompet dan hpnya kemudian berlari mengikuti Alexa dan Lidya dari belakang.
Mereka berangkat menuju Mall yang ditujui dengan mengendarai Taxi dan mencari apa yang Alexa butuhkan.
Sisil merasa aneh dengan barang-barang yang dibeli Alexa.
"Kamu kog beli jilbab banyak banget San?" tanya Sisil.
"Kenapa, masalah buat loe?" tanya Alexa balik.
"Ye... gitu aja sewot. Aku kan cuma nanya San, sensitif amat kayak lagi PMS aja" jawab Sisil.
"Kamu juga banyak beli baju lengan panjang. Kamu mau pakai jilbab San?" tanya Sisil penasaran.
Alexa menjawab dengan anggukan.
"Waaah hebat kamu San. Cowok tomboy bisa berubah sedrastis itu. Aku aja yang ayu gini belum sanggup pakai jilbab" ucap Sisil.
"Ya semua butuh proses Sil gak serba instan. Asal kamu mau berusaha aku yakin kamu bisa" jawab Lidya.
Lidya membantu Alexa memakai jibab yang benar.
"Waaaah cantik banget ya San kamu kalau pakai jilbab" ucap Sisil takjub.
"Setial wanita emang lebih cantik lho Sil kalau pakai jilbab makanya kita diperintahkan untuk menutup aurat" jawab Lidya lembut.
Alexa masih sibuk mencoba jilbabnya berulang ulang.
"Kalau gitu aku mau pakai jilbab juga ah biar cantik" Sisil nyerocos.
"Huss... tujuan pakai jilbab itu bukan semata mata untuk tampil cantik. Sebelum kamu pakai jilbab kondisikan dulu hati kamu. Kuatkan tekad dan niat, jangan sampai ditengah jalan jilbabnya dibuka lagi" Lidya mencoba menasehati Sisil.
"Jilbabin hati kamu dulu Sil baru aurat kamu. Yakinkan diri kamu dulu apakah kamu memang sudah siap untuk menutup aurat" Lidya melanjutkan kata-katanya.
Sisil terdiam mencoba mencerna kata-kata Lidya.
"Mending kamu pelan-pelan aja Sil gak usah buru-buru dan jangan karena kamu mau ikut-ikutan tapi murni dari hati kamu yang memang menginginkannya" Alexa menimpali.
"Baiklah, aku akan memikirkannya" jawab Sisil samb berfikir.
__ADS_1
Sore itu mereka berbelanja cukup banyak tapi Alexa sangat senang dan tidak perduli tabungannya terkuras banyak. Menurutnya ini memang harus dia lakukan.