
Esoknya dikantor saat hampir waktu makan siang. Alexa berjalan menuju ruangan Aditya.
tok...tok...tok..
"Masuk" jawab Aditya dari dalam.
"Permisi Kak, saya mau ngasi titipan Mama" Alexa masuk dan mendekat ke meja kerja Aditya kemudian meletakkan dua wadah ikan teri dan sambel dalam satu tas kecil untuk bekal makanan.
"Makasih Lex, santai aja ngobrolnya. Kamu masih kaku pakai kata-kata saya, kayak bicara sama siapa aja" jawab Aditya.
"Eh iya Kak. Aku permisi dulu ya Kak, udah janji tadi mau makan siang sama anak-anak" ucap Alexa lebih santai.
"Oke" Aditya menerima pemberian Alexa tadi.
Alexa kembali keruangannya dan makan siang bareng staffnya diluar.
Aditya membuka tas bekal yang diberi Alexa tadi dan membuka dua wadah itu satu persatu.
"Kamu bawa bekal sekarang Dit ke kantor?" tanya Sandy.
"Nggak, ini titipan dari Mamanya si Axel" jawab Aditya.
"Sandra baru dari sini tadi?" tanya Dimas.
Aditya menjawab dengan anggukan.
"Yah telat aku, kalau cepat dikit kan bisa ketemu, ajak dia makan siang bareng" ucap Dimas.
"Dia mau makan siang diluar bareng staffnya" jawab Aditya.
"Bukannya kalian musuhan Dit, kog kayaknya udah dekat banget. Nih sampai dibawain titipan emaknya" tanya Dimas
"Kami sudah berdamai, gak musuhan lagi. Udah besar juga ngapain persoalan remaja dibawa-bawa sampai sekarang" jawab Aditya
"Irinya aku Dit kamu dibawain bekal dari mertuaku" celoteh Dimas.
Sandy dan Aditya tertawa mendengar kata-kata Dimas.
"Dit bagi dit, pengen rasa masakan mertua" pinta Dimas.
"Enak aja. Ini makanan favourite aku. Mau kubawa pulang kerumah untuk teman makan nasi. Makan pakai nasi putih hangat hangat wuih enak banget ni. Mertua lewat di depan mata bisa gak terlihat" canda Aditya.
"Ya iyalah, wong kamu pejam mata mana bisa lihat" jawab Dimas kesal.
Lagi-lagi Sandy dan Aditya tertawa melihat tingkah Dimas yang kesal.
__ADS_1
"Makan yuk keluar" ajak Sandy.
"Ayoklah, kerjaku juga sudah siap" jawab Aditya.
Mereka bertiga berjalan keluar menuju parkir mobil dan makan di restourant terdekat dengan kantor, takut pulangnya telat karena kejebak macet.
Sesampinya di restourant mereka melihat Alexa beserta beberapa staff keuangan sedang makan di restourant itu juga.
"San, aku minta sambel teri Medannya juga donk. Masak cuma Adit aja yang kamu kasi" ucap Dimas tanpa malu, padahal disitu ada beberapa karyawan perusahaan mereka.
"Eeh... iya Pak, nanti saya bawain. Dirumah masih ada kog stock nya" jawab Alexa terkejut karena melihat kedatangan tiga atasan mereka secara tiba-tiba.
"Benar ya, aku tunggu lho. Awas kalau kamu lupa" ancam Dimas.
Sandy dan Aditya tersenyum melihat tingkah Dimas.
"Kami cari tempat dulu ya, silahkan kalian lanjutkan makan kalian" ucap Sandy ramah.
Aditya hanya diam dengan wajah dingin dan datarnya.
"Buk... Ibu kasi Pak Adit sambal teri?" tanya Desi asisten managernya.
"Iya, dia pesan minta dibawain Mama ups...." Alexa sadar dia udah keceplosan.
"Minta dibawain Mama? Maksudnya Buk?" Desi bertanya dan berharap segera dapat jawaban.
"What??? Bos yang kejam itu tetangga Ibu?" Desi teriak dan mulut Desi langsung di bekap Alexa.
"Maaf.. maaf bu. Saya keceplosan" Desi kembali berbisik.
"Ih Ibu pakai rahasia sama saya, gak asik" Desi berpura-pura ngambek.
"Nanti di kantor saya cerita sama kamu. Disini gak asik ceritanya, banyak orang" jawab Alexa.
Mereka melanjutkan makan siang setelah itu balik ke kantor.
Setelah sampai dikantor Alexa menceritakan awal pertemuan mereka sampai akhirnya dia tau bahwa Aditya salah satu pemilik perusahaan ADS Corp.
"Jadi Buk, Pak Adit itu emang dari dulu emang sudah begitu tampangnya?" tanya Desi.
"Nggak, dulu dia ramah sama setiap orang kecuali padaku karena dia menganggap aku musuhnya. Memang dari dulu dia agak pendiam tapi gak dingin seperti sekarang ini. Aku juga heran kenapa dia sekarang seperti itu ya?" fikir Alexa.
"Ceritanya sekarang udah baikan ni Bu sama Bos seram itu. Buktinya udah kirim-kiriman makanan?" ledek Desi.
"Udah, itu kan kisah dulu Des saat masih remaja masak sampai sekarang dibawa-bawa" ucap Alexa.
__ADS_1
"Ibu gak naksir gitu Buk sama Pak Adit? Dia kan tampan, pintar, kaya lagi walaupun dingin" tanya Desi.
"Huss...dia disini Bos kita, kamu jangan berfikir macam-macam" Alexa tidak mau perasaannya diketahui orang banyak. Cukup Reza dan Lidya saja yang tau. Bahkan Sisil saja sampai sekarang tidak tau. Karena Sisil tipe heboh dan bocor, dia takut kalau Sisil tau bisa keceplosan ngomongnya, bahaya.
******
Keesokan harinya Alexa sudah membawa sambal teri untuk Dimas. Dia sengaja mencampur teri dengan sambalnya. Beda dengan Aditya, Aditya kan orang Medan pasti dia ngerti bagaimana mengolah Teri sambel untuk anak kos biar lebih tahan lama dan tetap rapuh terinya.
"Permisi Pak" ucap Alexa di depan pintu Dimas.
"Masuk" jawab Dimas kemudian melihat Alexa masuk.
"Eh San, sini masuk. Duduk dulu" ucapnya mempersilahkan Alexa duduk di sofa.
"Terimakasih Pak, saya mau memberi ini" Alexa menyerahkan wadah berisi sambal teri.
Dimas sangat antusias menerima wadah itu dan langsung membukanya.
"Terimakasih ya San" ucap Dimas sangat senang.
"Sama-sama Pak, saya permisi dulu ya Pak, masih ada kerjaan saya yang belum selesai" jawab Alexa kemudian melangkah pergi keluar ruangan Dimas.
Dimas yang masih dalam keadaan melayang karena senang segera bergegas menuju ruangan Aditya.
"Dit akhirnya aku mendapatkannya" Dimas memeluk wadah makanan seperti benda itu sangat berharga.
"Apa itu?" tanya Aditya heran.
"Sambel teri nasi seperti punya kamu. Buatan calon mertua" ucap Dimas dengan bangga.
"Cih cuma segitu, punyaku lebih banyak" ledek Aditya.
"Biarin yang penting aku dapat" jawab Dimas.
"Punyaku khusus lagi dibuat Tante Ayu" Aditya terus memanas-manasi Dimas.
"Adiiiiit... ih kamu ngeselin banget" Dimas sangat kesal.
Aditya tertawa lebar melihat tingkah Dimas yang ngambek.
Sandy yang dari tadi sudah melihat kejadian itu merasa heran kenapa Aditya sekarang sikapnya lebih santai dan sedikit kekanak-kanakan ya. Sudah lama Sandy tidak melihat Aditya tertawa ceria seperti ini.
Kalau Dimas jangan ditanya, memang gak pernah dewasa. Untung saat kerja dia bisa serius.
Hari ini Aditya bisa bercanda bahkan mau meladenin sikap manja Dimas. Kalau dia ingat-ingat terakhir dia melihat perdebatan receh seperti ini saat mereka masih kuliah. Sungguh suatu mukjizat bisa terjadi lagi.
__ADS_1
Ada apa dengan kamu Dit, apa yang membuat kamu bisa kembali seperti dulu lagi. Apakah karena kehadiran Sandra bisa mengembalikan keceriaan kamu kembali. Kalau seandainya benar begitu adanya aku akan sangat bahagia.
Sandy tersenyum dalam hati melihat kedua sahabatnya masih saling berdebat hanya gara-gara sambal ikan teri.