
Sudah hampir satu minggu Alexa , Aditya dan dua orang siswa lainnya mengikuti persiapan lomba olimpiade matematika yang tinggal menghitung hari. Dan sudah hampir seminggu juga Alexa membawa bekal makan siang kesekolah.
Hari ini Mama Alexa membuat dua bekal, satu untuk Alexa dan satu lagi untuk Aditya karena sudah hampir seminggu ini Alexa selalu pulang bersama Aditya.
Saat makan siang diperpustakaan sekolah sebelum latihan dimulai. Alexa menyampaikan pesan Mamanya.
"Kak, ini pesan dari Mama" Alexa menyodorkan bekal makan siang pada Aditya.
"Apa ini?" tanya Aditya.
"Bekal makan siang kak, kata Mama ucapan terimakasih karena kak Adit sudah mau ngajak aku pulang kerumah bareng" Alexa menjelaskan.
Aditya menerima bekal makan siang yang dibawa Alexa. Dia membukanya dan melihat isinya.
Ada sambel udang pakai kentang dan sayur bening. Sepertinya sangat menggugah selera.
Aditya dan Alexa mulai makan bekal yang dibawa Alexa.
Saat sedang menyantap makan siang Alexa melihat wajah Aditya memerah dan keringatnya mengalir deras.
"Kak Adit kenapa?" tanya Alexa.
"Nggak apa-apa" Jawab Aditya sambil meneguk air minumnya sampai habis.
Alexa memperhatikan tingkah Aditya.
"Kak Adit gak tahan pedas?" tanya Alexa.
Aditya sangat malu mengakuinya. Alexa yang melihat wajah merah Aditya tiba-tiba tertawa karena merasa lucu melihat wajah Aditya sangat merah menahan pedas.
"Hahaha Kak Adit gak tahan makan cabe, seperti anak-anak saja" ledek Alexa.
"Diam kamu, cepat habisin makanan kamu" perintah Aditya.
Tapi Aditya tidak bisa menahannya lagi, rasa pedas sudah sampai keubun ubun kepalanya. Akhirnya pertahanannya jebol.
"Huaaa pedaaaaas.... mana minum?" tanya nya pada Alexa.
"Hahahaha.... benar kan aku bilang, Kak Adit gak tahan cabe" Alexa tertawa lepas karena melihat tingkah Aditya yang seperti anak kecil tak sengaja memakan cabe, kepedasan.
Duh kenapa aku selalu sial jika bersama preman pasar ini. Mana makanannya pedas sekali. Air mataku sampai keluar menahankannya.
__ADS_1
Lihat lah, saat ketawa saja dia bisa tertawa lebar, apa gak takut tersedak. Cara makannya sudah seperti orang yang kalap beberapa hari gak makan. Benar-benar gak ada anggunnya sama sekali. Umpat Aditya dalam hati.
Aditya meminum air yang diberikan Alexa.
"Alexa bilang sama Mama kamu, aku ngucapin terimakasih karena sudah dibawain bekal. Tapi lain kali Mama kamu gak perlu repot-repot lagi masakin makan siang buat aku" ucapnya sambil terbata-bata karena menahan pedas.
"Oke Kak, nanti aku sampaikan pada Mama" Alexa masih saja tertawa melihat wajah Aditya yang mengenaskan.
Dasar laki-laki manja, makan sambel gini aja udah kepedasan. Baru sekali makan masakan Mama gimana kalau tiap hari, bisa-bisa sakit perut nih anak. Umpat Alexa dalam hati.
Selang beberapa waktu setelah mereka selesai makan Pak Joni dan dua teman mereka lainnya sudah berkumpul diperpustakaan. Mereka memulai latihan hari ini.
Alexa bersama satu temannya akan mengikuti perlombaan olimpiade matematika khusus untuk kelas 1 SMU sedangkan Aditya dan temannya yang lain mengikuti tingkatan untuk kelas 2 SMU. Setiap kelas akan diwakili oleh 2 orang. Sedangkan untuk kelas 3 SMU tidak diikut sertakan karena sebentar lagi akan ujian kelulusan.
Olimpiade matematika tinggal beberapa hari lagi. Latihan mereka semakin serius. Tahap demi tahap, soal demi soal dengan tingkat kesulitan yang semakin tinggi dapat mereka selesaikan satu persatu.
Bahkan terkadang mereka saling bekerjasama dan membantu dalam menyelesaikan sebuah soal. Seperti soal kali ini.
"Kak soal ini bagaimana rumusnya?" tanya Alexa.
Aditya dengan tekun dan serius mengajari Alexa. Saat melihat wajah serius Aditya tiba-tiba Alexa merasa terpesona. Ganteng juga kalau lagi serius seperti ini tapi kalau lagi marah, uh sebal banget lihat tampangnya. Ucap Alexa dalam hati.
Nih anak kalau diam cantik sekali sebenarnya. Tapi kalau sudah teriak teriak persis pereman pasar yang nagih setoran. Geram melihatnya.
Mereka tak sadar kalau pelan-pelan ada rasa lain terselip dibalik rasa kesal dan marah. Sejenak tanpa sadar melupakan permusuhan yang terjadi diantara mereka.
Siang berganti, sore menjelang. Waktu latihan hari ini sudah selesai. Seperti hari-hari yang lalu mereka pulang berdua. Sebenarnya mereka tidak menyadari kalau sudah terjalin keakraban diantara mereka.
"Makasih ya Kak" Alexa turun dari motor Aditya dan membukakan pintu pagar Aditya seperti yang diintruksikan Aditya setiap Alexa ikut pulang bersamanya.
"Hem..." hanya itu saja jawabannya. Kemudian Aditya masuk kedalam garasi rumahnya.
Dasar tak punya hati, diucapin terimakasih cuma dijawab gitu doank. Aku sabar dan mau akur denganmu karena sebentar lagi akan ikut olimpiade matematika. Awas saja begitu selesai bendera perang akan kukibarkan kembali. Umpatnya Alexa dalam hati.
"Mama... Papa... Alexa pulang" ucapnya sambil teriak.
"Salamnya mana Nak?" tanya Mamanya.
"Oh iya lupa. Assalamu'alaikum Bu Haji" sapa Alexa.
"Wa'alaikumsalam sayang, gimana latihannya hari ini?" tanya Mamanya.
__ADS_1
"Siap, aman terkendali" jawabnya singkat sambil tersenyum ceria.
"Nih Ma bekalnya sudah ku berikan ke Kak Adit, dia ngucapin terimakasih tapi katanya Mama gak perlu repot-repot ngasi bekal seperti ini lagi. Dia gak tahan Ma, ternyata Kak Adit itu gak kuat makan cabe hahahaha" Alexa tertawa mengingat wajah Aditya tadi siang.
"Ya ampun kasiannya Adit. Mama gak tau kalau dia gak bisa makan cabe" Mama Alexa terlihat prihatin mendengar cerita Alexa.
"Mama ngapain kasian sama dia Ma, jadi cowok kog gak kuat makan cabe, gak jantan Ma hahaha" Alexa mengejek Aditya untung saja Aditya gak mendengar kata-katanya.
"Kejantanan itu bukan dinilai dari makanan nak tapi keberaniannya. Menurut Mama Adit itu jantan karena dia berani menghabiskan bekal yang Mama kasi ini walaupun sebenarnya dia tidak kuat memakannya" puji Mamanya.
"Mama terlalu memujinya. Mama gak lihat kalau dia nyuruh2 aku. Udah kayak bos aja. Buka pintu pagar! Naik cepat! Kesal banget lihatnya" Alexa jadi kesal karena Mamanya membela Aditya.
Alexa segera masuk kekamarnya.
Lihat aja laki-laki tak punya hati, aku akan membalas semua perlakuanmu padaku. Aku tidak akan tinggal diam selalu kau tindas. Umpatnya dalam hati.
Alexa segera mandi dan berganti baju. Sebentar lagi adzan maghrib dia harus cepat-cepat mandi.
Aditya yang sedang santai dikamarnya setelah mandi tiba-tiba melamun. Ingatannya kembali pada saat Alexa sedang belajar. Betapa cantiknya wajah itu.
Bulu matanya yang lentik, alisnya yang tebal, hidung mancung dan bibirnya yang tipis menghiasai pipi mulusnya membuat wajahnya terlihat hampir sempurna tapi seketika dia ingat gaya makan Alexa yang amburadul dan berantakan hilang semua keindahan yanh terlukis diwajahnya tadi.
Duh kenapa aku jadi mikirin si anak preman pasar itu ya. Otakku sudah korslet kali. Aditya memukul kepalanya mencoba untuk sadar.
Aditya mulai merasa perutnya mules dan panas. Ini apa karena tadi aku makan makanan yang pedas ya. Gimana nih kalau aku sakit perut. Bisa gawat besok gak bisa persiapan olimpiade. Aditya keluar menyamperi Mamanya.
"Ma ada obat sakit perut gak? perutku sakit banget" tanya Aditya.
"Ada tu dikotak P3K. Kamu kenapa sakit perut, tadi disekolah makan apa aja? pasti kamu jajan sembarangan kan?" Mama Aditya mengoceh panjang.
"Nggak Ma, tadi siang Alexa bawa bekal dari Mamanya. Masakan Mamanya pedas banget Ma. Sepertinya perutku gak tahan. Panas rasanya Ma perut Adit" ucap Adit.
Mamanya memberikan obat yang dimaksud.
"Walaupun begitu kamu udah bilang terimakasih kan sama Alexa. Dia udah susah payah bela-belain bawa bekal buat kamu, baik banget" puji Mamanya.
"Baik apanya, dia ngetawain aku waktu lihat aku makan kepedasan. Bukannya kasihan eh malah ngeledek" Aditya kesal mengingat tingkah Alexa tadi siang.
"Kamu itu jangan terlalu membencinya nanti bisa jadi suka lho" ledek Mamanya.
"Mama senang sekali ngomongin itu terus. Udah ah Ma, Adit males dengar semua tentang dia" Aditya pun melangkah masuk kedalam kamar.
__ADS_1