
Hari ini akan diadakan rapat bulanan. Semua manager beserta asman nya masuk dalam ruang meeting untuk mempertanggung jawabkan dan mempersentasekan kinerja kerja mereka selama sebulan.
Aditya dari tadi fikirannya tidak fokus. Berulang kali dia curi pandang kearah Alexa. Sandy dari tadi memperhatikan tingkah Aditya sambil tersenyum.
Kamu kenapa Dit, dari tadi gak fokus. Biasanya kamu selalu semangat dalam setiap rapat. Kenapa kamu menatap Sandra terus sih. tanya Sandy dalam hati.
Aditya memperhatikan wajah serius Alexa.
Kamu baik-baik aja kan pagi ini Lex, aku gak bisa tidur tadi malam karena mikirin kamu. Pasti pipi dan perut kamu sakit setelah kena pukulan dan tendangan kemarin. Batin Aditya.
Alexa tidak menyadari kalau sedari tadi Aditya melirik kearahnya. Dia fokus terhadap laporannya yang sebentar lagi akan dia persentasekan.
Dua jam berlalu akhirnya meeting selesai. Semua peserta bubar dan kembali keruangannya masing-masing.
Saat Alexa hampir sampai di depan pintu ruang meeting..
"Alexa keruangan saya sebentar" ucap Aditya.
"Baik Pak" jawab Alexa.
Aditya berjalan menuju ruangannya disusul oleh Alexa dibelakangnya.
"Duduk" ucap Aditya saat sampai diruangannya.
Alexa duduk di sofa yang ada dalam ruangan Aditya dan menunggu Aditya berbicara.
"Lexa, Maaf kalau selama ini mungkin saya bersikap ke kanakan pada kamu. Menjauhi kamu hanya karena kisah buruk kita saat remaja. Saya sadar saat itu saya membenci kamu tak beralasan. Hanya karena keusilan dan kecerobohan kamu menganggap saya selalu sial saat sedang bersama kamu. Sekarang saya ingin berdamai dengan kamu, setidaknya kita bisa berteman lagi seperti dulu saat kita sedang dalam masa latihan untuk mengikuti olimpiade matematika" ucap Aditya panjang.
Alexa menatap Aditya? tak percaya dengan yang Aditya katakan.
"Maaf.... Sebenarnya kata-kata ini sudah lama saya simpan di dalam hati saya dan ingin saya ucapkan jika bertemu lagi dengan Bapak. Dulu saya akui saya memang pernah usil dengan Bapak, saya harap Bapak dapat memaklumi saat itu masa-masa puber untuk remaja tapi sejak kita latihan olimpiade matematika saya tidak pernah melakukan keusilan itu lagi. Hal-hal memalukan yang terjadi pada Bapak setelahnya adalah karena kecerobohan yang tidak sengaja saya lakukan bahkan setelah pertemuan kita kembali saya benar-benar tidak sengaja Pak. Maaf sudah membuat Bapak marah. Selama tujuh tahun ini saya berhutang maaf pada Bapak. Hari ini saya lega sekali sudah bisa mengatakannya langsung dihadapan Bapak" Alexa menundukkan kepala memberi hormat.
"Saya sudah memaafkan kamu. Sekarang kita berdamai dan berteman ya" ucap Aditya sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Alexa menyambut tangan Aditya. Mereka berjabatan tangan tanda mereka sudah berdamai.
"Terimakasih Pak" jawab Alexa.
"Kalau begitu saya bisa kembali keruangan saya Pak?" tanya Alexa.
"Silahkan. Eh tunggu dulu, kamu tidak apa-apakan tadi malam atau tadi pagi setelah bangun pagi, biasanya kalau baru selesai bertarung saat bangun pagi badan pasti pegal-pegal" ucap Aditya perhatian.
"Saya baik-baik saja Pak. Sudah biasa, saya sering latihan dengan Reza Pak" jawab Alexa.
"Oh ya, kamu tau Dojang di Jakarta ini?"tanya Alexa.
"Tau Pak, ada tempat kami biasa untuk latihan" jawab Alexa.
"Bisa donk kapan-kapan ajak saya latihan disana" pinta Aditya.
"Boleh Pak, kapan-kapan saya ajak kesana. Bapak tinggal kabari saya saja kapan waktunya" ucap Alexa.
"Oke, nanti saya kabari"
Tak lama Sandy dan Dimas masuk kedalam ruangan Aditya.
"Dit, aku sudah mendapatkan rekaman cctv dari lokasi kejadian. Ternyata dalang dari semua ini adalah Satria" lapor Sandy sambil menunjukkan video cctv di hpnya.
Aditya melihat rekaman videonya dan terlihat jelas Satria yang ada di dalam mobil saat terjadi pertarungan.
"Sial!" Aditya mengepalkan tangannya dan menggeprak meja.
"Awas kamu sudah berani bermain-main dan mengusik hidupku" ucap Aditya.
"Tenang Dit, kita lihat saja apa yang selanjutnya dia lakukan nanti baru kita lakukan perlawanan dan kita tanyakan apa maksud dan tujuannya melakukan ini pada kamu" ucap Sandy.
"Aku sudah menduganya, kemarin samar-samar aku melihat wajahnya di mobil, tapi aku tidak bisa menuduhnya langsung karena kaca mobil buram. Wajahnya tidak jelas dari samping" ujar Dimas.
__ADS_1
"Aku merasa sudah tidak ada lagi hubungan masa lalu dengannya. Tapi masih saja dia menggangguku" ucap Aditya.
"Kamu harus lebih waspada saja, jangan sampai hal ini terjadi lagi pada kamu" Dimas menepuk bahu Aditya.
"Aku balik dulu ke ruanganku, ada kerjaan yang harus aku selesaikan" Dimas berbalik dan meninggalkan ruangan Aditya.
Tinggal Sandy dan Aditya yang ada diruangnya.
"Aku perhatikan saat meeting tadi kamu gak fokus Dit, bulak balik kamu melirik kearah Sandra?" tanya Sandy.
"Aku masih khawatir dengan keadaannya setelah kejadian kemarin. Dia kena pukulan dan tendangan kemarin kan" jawab Aditya.
"Trus ada apa kamu tadi memanggilnya keruangan kamu?" tanya Sandy lagi.
"Aku sudah berdamai padanya. Aku sangat kekanak-kanakan kalau tetap membencinya hanya karena kisah masa lalu kenakalannya saat remaja" jawab Aditya.
"Jadi ingat lagu yang dinyanyikan Sandra saat pesta pernikahan Reza kemarin. Kamu jangan terlalu membencinya. Awas nanti kamu bisa jatuh cinta padanya" ledek Sandy.
"Makanya aku ingin berdamai agar apa yang barusan kamu bilang tidak jadi kenyataan" tangkis Aditya atas perkataan Sandy barusan.
"Terlambat Dit, kamu tidak sadar saja. Sebenarnya rasa itu sudah ada dari dulu kan? Buktinya dulu kamu semangat gitu berlatih taekwondo hanya untuk bisa mengalahkannya saat kamu ketemu dia lagi. Wanita yang kamu maksud itu Sandra kan?" pertanyaan yang langsung mengena pada Aditya.
"Sok tau kamu. Aku akui wanita itu memang Alexa tapi aku berlatih taekwondo memang benar karena ingin bertarung dengannya. Bukan karena menyukainya" elak Aditya.
"Tanpa kamu sadari dia sudah menjadi alasan dan motifasi kamu untuk semangat berlatih Dit. Setiap hari pasti kamu mengingatnya, walau ingat karena benci yang membuat kamu giat latihan. Dan kamu berharap bisa bertemu dengannya lagi untuk bertarung dengannya, ya kan?" ucap Sandy menegaskan.
Aditya terdiam mendengar perkataan Sandy.
"Coba kamu fikirkan, tanya hati kamu lebih dalam. Oke brother... aku go dulu ya" Sandy pergi meninggalkan ruangan Aditya.
Aditya kembali mengartikan kata-kata Sandy.
Benar juga dulu setiap hari aku selalu mengingat kebencianku padanya sampai aku mencari tempat latihan taekwondo dan berlatih dengan giat hingga aku mendapatkan sabuk hitamku. Tanpa aku sadari aku mengingatnya setiap hari dan berharap bertemu dia untuk mengalahkannya. Aditya meraba dadanya.
__ADS_1
Perasaan apa ini? Jangan... jangan... Jangan jatuh cinta padanya. Aku tidak boleh menyukainya. Dimas bagaimana? Tidak mungkin aku mengkhianati temanku sendiri. Batin Aditya.
Aditya jadi pusing memikirkan hal yang rumit ini. Lebih baik dia melupakannya dan mulai bekerja.