
Di kota Jakarta.
"San, aku bingung sekali datang ke acara reuni akbar sabtu ini di Bandung" ucap Dimas.
"Apa yang kamu bingungkan Bro, tinggal datang" jawab Sandy.
"Apa kamu tidak lihat kata-kata paling bawah di undangan. Datang harus bersama pasangan" Dimas mengingatkan Sandy.
"Oh iya, aku tidak terlalu memperhatikannya. Soalnya aku kan emang sudah punya pasangan. Kamu aja yang masih jomblo. Heran playboy cap ayam jago seperti kamu ini bisa juga bingung karena tidak punya pasangan. Stock cewek kamu kan masih banyak" ledek Sandy.
"Masalahnya sejak kemarin aku ingin serius mengejar Sandra, aku memutuskan hubunganku dengan wanita manapun. Saat ini aku tidak sedang dekat dengan seorang wanita San" Dimas semakin frustasi.
"Hahaha... Bisa juga orang seperti kamu frustasi seperti ini" Sandy semakin tertawa melihat wajah Dimas.
"San, kamu punya sodara gak yang bisa diajak ke reunian?" tanya Dimas.
"Gak ada Dim. Sodara aku dah pada nikah, kalaupun belum mereka sudah punya pacar semua" jawab Sandy.
"Teman kali San?" tanyanya lagi.
"Dim, Kamu kan tau kita kuliahnya jurusan teknik yang gak banyak ceweknya. Gimana aku punya teman cewek. Lagian juga kalau ada kamu pasti mengenalnya juga. Kita kan satu jurusan" ucap Sandy mengingatkan Dimas.
"Eh iya aku lupa" jawab Dimas.
"Kalau saudara atau teman pacar kamu ada gak San?" Dimas kembali bertanya.
"Mmmm... entar aku tanya pacarku ya. Eh aku baru ingat sesuatu. Aku punya calon yang bisa kamu ajak reunian" ucap Sandy sambil tersenyum jenaka.
"Siapa san?" tanya Dimas penasaran.
"Sisil" jawab Sandy singkat.
"Ogah ah. Ampun aku berurusan dengan cewek cerewet dan lemot seperti dia lagi. Yang ada bisa pusing kepalaku bertengkar terus sama dia" jawab Dimas kesal.
"Yah jadi gimana donk, aku hanya punya saran itu. Karena aku gak punya kandidat cewek untuk bisa kamu bawa ke acara reunian kecuali Sisil" ucap Sandy.
"Akh....." Dimas mengusap kasar kepalanya karena sangat bingung.
"Sudahlah Dim, kamu temui aja Sisil secepatnya. hanya itu jalan satu-satunya. Lagian Sisil juga jomblo kan?" tanya Sandy.
"Ya jomblo lah, cewek kayak gitu mana ada laki-laki yang suka berada dekat dengan dia" jawab Dimas.
"Husss... kamu karena belum tau dia saja. Sisil itu cewek yang imut dan cantik lho. Kemarin pas acara nikahan Aditya dan Sandra, banyak laki-laki yang melirik ke arah dia. Bahkan kemarin salah satu teman kuliah kita bertanya dia itu siapa?" ucap Sandy.
"Cih mereka gak tau aja San, dia cerewet. Kalau mereka tau pasti mundur semua" jawab Dimas.
__ADS_1
"Tapi menurut aku kamu harus pertimbangkan perkataan aku tadi Dim. Lagian hari Sabtu kan sebentar lagi. Disana juga dia kan gak sendiri. Ada Sandra dan Mitha pacar aku" sambung Sandy.
"Sepertinya aku harus cari cewek lain San. Aku pergu dulu ya" Dimas segera keluar dari ruangan Sandy dan pergi menuju basement kantor.
Dimas mengendarai mobilnya melaju menuju Mall terdekat dengan kantornya. Dia ingin berbelanja membeli beberapa pakaian yang kelak nanti akan dia pakai saat reuni akbar kampusnya.
Sampailah Dimas di sebuah butik yang menjual pakaian wanita dan pria. Saat hendak mencari-cari pakaian yang tergantung di rak pakaian tiba-tiba..
Bruk....
"Aduh..." ucap seorang wanita yang terjatuh karena tubuhnya terdorong Dimas yang berjalan secara mundur ke belakang.
"Eh maaf Mbak, saya tadi gak lihat" ucap Dimas berbalik melihat kearah wanita yang jatuh tadi.
Kemudian...
"Kak Dimaaaas..." teriak wanita itu.
Yah mampus gue ketemu cewek ini lagi... Dimas menepuk jidatnya sendiri.
"Kakak ini selalu saja kalau jalan gak lihat-lihat sekeliling. Aku jatuh kan jadinya" teriak wanita yang tak lain adalah Sisil.
"Aku kan gak sengaja Sil, lagian tadi udah minta maaf" jawab Dimas.
"Kakak ngapain ke sini, tumben datang sendirian. Kak Sandy mana?" tanya Sisil.
"Aku bosan Kak di apartemen sendirian. Sandra dan Lidya udah menikah. Apartemen rasanya sepi banget cuma ada aku" jawabnya sedih.
"Makanya kami cepetan sana ikutan nikah biar ada temannya" suruh Dimas
"Kalau ngomong sih gampang Kak tapi cari pasangan yang serius dan bertanggung jawab itu sulit. Aku gak mau ah kalau cuma main-main doank. Pacar-pacaran doank, serius kagak. Cuma mau asik-asiknya aja. Takut dosa akh.." jawab Sisil.
"Tumben fikiran kamu nyambung ya Sil, biasanya susah connectnya" ledek Dimas.
"Apaan sih Kak Dimas. Eh kakak masih ada yang mau di cari ya. Aku pamit duluan ya Kak" ucap Sisil.
Dimas seketika ingat perkataan Sandy tadi.
"Sil... sebentar..." Dimas menahan Sisil yang hendak pergi meninggalkan butik tempat mereka bertemu.
"Ada apa Kak?" tanya Sisil heran.
"Kamu masih mempunyai hutang padaku kan?" todong Dimas.
"Hutang? hutang yang mana. Aku kan gak pernah pinjam uang Kak Dimas?" tanya Sisil keheranan.
__ADS_1
Tuh kan kumat lagi nih lemotnya. Umpat Dimas dalam hati.
"Kemarin kan aku udah antarin kamu pulang saat pesta pernikahan Aditya dan Sandra" Dimas mengingatkan.
"Oh yang itu. Kak Dimas masih ingat aja" kekeh Sisil.
"Nah kamu mau kan membayar hutang kamu padaku?" pinta Dimas.
"Apa dulu nih Kak?" tanya Sisil penasaran.
"Kamu gak perlu takut, aku tidak akan ngapa-ngapain kamu" jawab Dimas.
"Sekarang jawab dulu. Kamu mau atau gak bayar hutang kamu padaku?" tanya Dimas.
"Mau... asal permintaan Kak Dimas gak macem-macem" jawab Sisil pasrah.
"Nah kalau gitu kita harus mencari baju yang cocok buat kita berdua" Dimas menarik Sisil kearah rak pakaian.
"Tungu dulu Kak... Kita mau ngapain?" tanya Sisil masih keheranan.
"Tenang saja aku gak ngajal kamu untuk cari baju pernikahan kog. Sekarang kamu ikut aja apa yang aku pinta. Nanti setelah ini aku akan cerita sama kamu apa tugas kamu. Oke?" pinta Dimas.
"Kak Dimas ini ada-ada saja maunya" celoteh Sisil kesal.
Dimas mencari stelan jas terkini setelah dia dapatkan yanh sesuai kemudian dia sesuaikan dengan gaun wanita yang ada di butik tersebut.
Setelah dia mendapatkan pakaianan yang sesuai dia menyerahkannya pada Sisil.
"Nih Sil, coba kamu pakai dulu gaun ini. Aku mau lihat kamu bagus tidak memakainya?" suruh Dimas sambil mendorong tubuh mungil Sisil keruang ganti di butik tersebut.
Walau masih bingung dengan sikap Dimas, Sisil tak enak hati menolaknya. Akhirnya dia menerima gaun yanh dipilih kan Dimas kemudian masuk ke kamar ganti untuk memakainya.
Tak lama Sisil keluar dengan menggunakan pakaian yang dipilih Dimas.
"Nah mataku emang gak pernah salah. Pas banget kamu pakai baju ini" puji Dimas.
"Tapi Kak..."
"Udah gak usah komentar dulu" potong Dimas.
Dimas kembali mendorong Sisil ke kamar ganti.
"Sekarang kamu pakai baju kamu yang tadi. Cepatan biar aku bayar setelah itu kita makan oke?" pinya Dimas.
Sisil kembali tidak bisa menolak perintah Dimas. Dia masuk ke kamar ganti kemudian memakai baju yang dia pakai sebelumnya.
__ADS_1
Setelah Sisil keluar, Dimas dan Sisil berjalan menuju kasir dan segera membayar belanjaan mereka.
Setelah itu Dimas menarik Sisil makan disebuah restourant di dalam Mall tersebut.