
Reza, Alexa, Lidya dan Sisil berhenti di Restourant mewah.
"Selera Pak Wadir emang berubah sesuai dengan jabatannya ya" ucap Alexa.
"Iya, ada peningkatan" timpa Sisil.
Lidya hanya diam dan berjalan bersama teman-temannya. Reza sudah memesan meja untuk mereka malam ini.
Baru saja mereka duduk tiba-tiba ada suara yang mengejutkan mereka.
"Dunia memang sempit ya Za, baru aja tadi siang kita bertemu eh malamnya ketemu lagi" Sapa Sandy yang juga baru datang bersama Aditya dan Dimas.
"Wah hebat kamu Za, dikelilingi 3 wanita cantik" sorak Dimas.
"Boleh kami ikut bergabung dan berkenalan dengan dua wanita cantik ini, karena wanita cantik yang satu lagi kami sudah kenal" ucap Dimas sambil melemparkan senyuman mautnya.
"Kamu Dim senangnya mengganggu orang saja" Potong Aditya .
"Nggak kog Kak, kami tidak terganggu. Silahkan gabung sama kami, semakin ramai kan semakin seru" ucap Reza.
Alexa memijak kaki Reza dibawah meja, memberi kode kalau dia keberatan Aditya dkk ikut bergabung. Tapi Reza pura-pura cuek.
Akhirnya mereka ikut duduk di meja Reza dan teman-temannya.
"Kenalkan saya Dimas" Dimas mengulurkan tangannya pada Lidya dan Sisil.
"Sandy"
"Aditya" ucap mereka bergantian.
Sisil menerima uluran tangan mereka sembari menyebutkan nama mereka.
"Sisil"
"Lidya"
"Sebentar Aditya, Dimas dan Sandy. Bapak ini para pemilik ADS Corp?" tanya Sisil terkejut.
Lidya menyikut lengan Sisil.
"Iya nona manis" jawab Dimas ramah. Biasa playboy senangnya lihat cewek bening.
__ADS_1
"Berarti atasannya Sandra donk? Aku gak nyangka pemilik ADS Corp masih muda-muda" ujar Sisil lagi.
"Tepat sekali" ucap Dimas cepat.
"Trus kenapa bisa kenal dengan Reza?" tanyanya lagi penasaran.
"Karena hari ini perusahaan kami menjalin kerjasama dan juga karena Reza temannya Sandra" jawab Dimas tetap sambil tersenyum.
Alexa udah gerah melihat tampang Dimas, dasar playboy cap ayam jago. Umptanya dalam hati.
"Kakak kakak sekalian sepertinya baru pulang dari Kantor?" tanya Reza.
"Iya tadi kami lembur ada kerjaan dikit yang harus di diskusikan bersama" jawab Aditya.
"Kalian temannya Reza atau Sandra? Setau kami hanya Sandra dan Reza yang sahabatan?" tanya Sandy.
"Kami dulu teman kosnya Sandra dan sekarang kami masih tinggal bersama di apartemen Sandra. Karena Sandra sahabatan sama Reza kami jadi ikutan juga" Sisil menjelaskan.
Lidya melirik kearah Aditya. Pria ini bukannya pria yang marah-marah kemarin sama Sandra di supermarket? Ternyata dia atasannya Sandra. Kenapa dia marah sama Sandra ya kemarin? tanya Lidya dalam hati.
Duh Pak Dimas ini keren juga, pengusaha lagi. Batin Sisil.
Tak lama pelayan datang, mereka memilih menu yang mereka inginkan setelah itu kembali ngobrol sambil menunggu makanan datang.
"Kak Adit ini senior aku dan Sandra waktu di SMU?" ucap Reza.
"Kak Adit yang kuliah di ITB itu ya San, yang waktu kita main ke ITB pengen cari dia. Benerkan?" Sisil asal bicara.
Duh bocornya Sisil kumat, ngapain juga dia bilang begitu, aku kan malu. Batin Alexa.
"Waktu kuliah kami pernah jalan-jalan ke Bandung Pak terus kami main ke ITB. Reza bilang ada seniornya plus tetangga Sandra yang kuliah di ITB. Kami suruh Sandra hubungi Bapak tapi nomor Bapak sudah tidak aktif, ganti hp ya Pak. Masak sama tetangga kaku gini Pak" Sisil panjang lebar bercerita.
Ya Tuhan tolong diamkan mulut Sisil ini. Doa Alexa.
"Eh iya, saat kuliah hp saya pernah hilang jadi saya ganti nomor" jawab Aditya.
Benarkah yang dikatakan wanita ini? Mereka pernah mencariku di kampus? Ngapain mereka mencariku? tanya Aditya dalam hati.
"Kamu kog diam aja San, Pak Adit kan tetangga kamu trus sekarang jadi Bos kamu lagi di kantor. Pasti senangkan punya Bos tetangga sebelah rumah di kampung" Sisil masih juga bercerita.
Alexa sudah sangat malu mendengarnya.
__ADS_1
Mengapa Alexa hanya diam saja, dulu biasanya setiap acara begini dia yang paling tidak bisa diam, pecicilan kesana kemari sampai nyenggol tangan pelayan dan menumpahkan minuman ke wajahku. Benarkah dia sudah berubah? Aditya melirik kearah Alexa. Dia hanya tersenyum malu-malu. Tau malu juga preman pasar ini? ucap Aditya dalam hati.
Lidya mencubit paha Sisil dari bawah meja. Mencoba untuk menghentikan Sisil berbicara.
Makanan datang, mereka kemudian makan bersama. Satu jam tidak terasa mereka bercerita. Reza tidak enak pulang larut malam membawa anak gadis orang.
"Kak Adit, Kak Dimas dan Kak Sandy kamu pamit dulu ya. Gak enak rasanya bawa anak gadis orang pulang malam-malam. Tiga orang lagi anak gadisnya, saya bisa dikejar tiga emak-emak karena mereka telat pulang" canda Reza.
"Iya Za, hati-hati. Rumah kamu jauh sama apartemen mereka?" tanya Dimas.
"Kalau tidak biar saya saja yang ngantar, apartemen saya searah" ucapnya lagi.
"Nggak Kak, kami satu apartemen tapi beda lantai" jawab Reza.
"Dasar kamu ya Za, emang gak bisa jauh jauh dari Sandra. Apa kamu gak bosan lihat wajah Sandra terus dari kecil sampai besar gini" ledek Dimas sambil menepuk bahu Reza
"Hahaha biasa aja kak, namanya sohib" canda Dimas.
"Kita bubar juga yuk Dim, Dit" ajak Sandy.
"Iya bareng aja keluarnya" ucap Aditya.
Mereka sama-sama melangkah keluar dari Restourant.
Saat didepan pintu keluar, Alexa pamit pada atasannya.
"Kami duluan ya Pak" Hormat Alexa pada semua atasannya. Begitu juga dengan Lidya dan Sisil.
Reza, Alexa, Lidya dan Sisil masuk ke dalam mobil tak lama kemudian mobil bergerak meninggalkan Restourant.
"Enak banget ya jadi Reza tiap hari bisa ketemu tiga wanita cantik itu" ucap Dimas menatap kepergian mobil Reza.
"Kalau kamu pindah apartemen saja ke apartemen mereka biar kamu seperti Reza juga tiap hari ketemu" potong Aditya.
"Akan aku fikirkan" jawab Dimas.
"Kamu serius Dim?" tanya Sandy.
"Ya iyalah kan aku udah bilang aku serius mengejar Sandra. Eh Cewek yang bernama Sisil itu lucu juga lho Dit. Lo gak tertarik? dari tadi sepertinya dia suka cari perhatian kamu sampai dia bilang mereka pernah cari kamu dulu sampai ke kampus. Pengen kenalan kali dia dulu sama kamu" ucap Dimas.
"Nggak... Nggak... ada ada saja kamu" jawab Aditya.
__ADS_1
"Bener lho, sepertinya dia single, kalau wanita yang bernama Lidya aku lihat Reza selalu memperhatikannya. Aku rasa calon yang dibilang Reza tadi siang adalah wanita itu. Sedangkan Sandra, kalian tau kan kalau dia targetku" tutur Dimas sambil tersenyum.
"Udah yuk kita pulang" Ajak Sandy tidak mau melihat perdebatan Aditya dan Dimas soal wanita. Mereka melangkah menuju mobilnya masing-masing. Kemudian pulang ke apartemen mereka. Karena malam sudah larut tidak memakan waktu yang lama mereka akan sampai apartemen dengan cepat.