
3 tahun kemudian
Alexa kini sudah bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta, walau kedudukannya belum tinggi tapi kariernya sudah mulai naik. Alexa bisa lulus dengan predikat cumlaude dengan masa kuliah 3 tahun 8 bulan.
Begitu juga teman-temannya Lidya dan Sisil, walau mereka tidak secepat Alexa wisuda tapi mereka juga tepat waktu menyelesaikan kuliahnya dengan presetasi yang tidak jauh beda dengan Alexa.
Saat ini mereka tinggal disebuah apartemen milik Alexa. Alexa sengaja mengajak teman-temannya untuk tinggal bersama dengan alasan dia tidak suka sendirian diapartemen.
Walau Lidya dan Sisil juga sudah mempunyai apartemen masing-masing hasil dari kerja keras mereka selama dua tahun ini tapi mereka memilih untuk menyewakan apartemennya saja dan menerima ajakan Alexa untuk tinggal di apartemennya.
Memang diantara mereka bertiga apartemen Alexa yang paling besar. Memiliki tiga kamar yang bisa untuk mereka pakai.
Reza juga membeli apartemen yang terletak digedung yang sama dengan Alexa walau beda lantai. Dua sahabat ini tidak bisa dipisahkan. Dimana ada Alexa pasti ada Reza begitu sebaliknya. Untung saja mereka tidak bekerja di perusahaan yang sama kalau tidak lengkap sudah catatan hidup mereka. Dari SD, SMP, SMU, KULIAH ditempat yang sama walau beda fakultas.
Reza saat ini sudah menjabat sebagai seorang manager di perusahaan besar di Jakarta. Kariernya sudah bisa dibilang sukses dan umurnya juga sudah pantas untuk melepas masa lajangnya. Saat ini Reza sedang menjalankan misi untuk menjerat hati wanita idamannya.
Sudah lama Reza memendam perasaannya pada Lidya tapi karena bocoran yang dia dapatkan dari Alexa bahwa Lidya tidak mau pacaran. Lidya mempunyai keinginan setelah tamat kuliah dan bekerja baru Lidya akan memikirkan pernikahan. Dan Lidya tidak mau pacaran, kalau ada yang pas dia mau langsung nikah aja.
Ini sudah saat yang tepat, Reza akan melancarkan jurusnya untuk memikat hati Lidya. Ternyata Alexa tidak membocorkan rahasia hati Lidya bahwa Lidya juga sudah lama naksir dengan Reza. Alexa membiarkan kedua sahabatnya itu menyimpan perasaannya masing-masing sampai salah satu dari mereka mau keluar dari zona nyaman perasaannya.
Disebuah Cafe favourite Reza dan Alexa bertemu, Reza ingin membicarakan hal serius dengan Alexa. Begitu isi pesan yang dia kirimkan tadi dari hpnya.
"San, aku mau bicara sesuatu sama kamu" ucap Reza memulai obrolan.
"Tentang apa Za?" tanya Alexa penasaran.
"Tentang Lidya" jawab Reza cepat.
"Ada apa dengan Lidya?" Alexa belum tau kemana arah pembicaraan Reza.
"Ada cintaku untuk Lidya" jawab Reza singkat.
"Cie...cie... yang lagi jatuh cinta" goda Alexa.
"Udah lama kaleee... Masak kamu lupa? Sejak kuliah kan aku udah lama naksir sama dia tapi kamu bilang dia gak mau pacaran, maunya langsung nikah tapi tunggu dia bekerja dulu" Reza mencoba mengingatkan Alexa.
"Iya ya lupa aku" ucap Alexa
"Trus kamu mau apa?" tanya Alexa.
"Bantu aku donk mengungkapkan perasaanku padanya" pinta Reza sedikit memelas.
__ADS_1
Alexa paling tidak tahan melihat tampang Reza yang sepertin itu, setiap Reza meminta bantuan dengan mimik wajah memelas seperti itu pasti akan dikabulkannya. Dan Reza tau kelemahan sahabat terbaiknya ini.
"Aku cuma menjadi perantara saja ya, kamu yang ungkapkan sendiri perasaan kamu padanya. Gak gentle donk kalau soal itu harus aku juga yang bilang" ucap Alexa tegas.
"Pasti donk San, mana mungkin kamu yang bilang aku suka sama Lidya. Aku sendiri yang akan bilang sama dia. Walau jantungku harus copot karena berdetak kencang saat mengucapkannya aku akan lebih memilih itu San daripada harus memandatkan niatku padamu" tutur Reza.
"Bagus. Itu baru sohibku" Alexa menepuk bahu Reza memberi semangat.
"Kapan kamu akan melamar Lidya?" tanya Alexa.
"Langsung di lamar San?" Reza balik bertanya.
"Ya iya donk, jadi kamu mau apa? Mau nembak dia kayak anak ABG?" tanya Alexa sedikit keras, kesal lihat sikap bodoh sahabatnya ini. Padahal nih anak pinter lho kenapa soal cinta jadi begok, umpat Alexa dalam hati.
"Nggak... nggak... San" jawab Reza.
"Nggak jadi maksudnya?" goda Alexa.
"Eh iya.. iya..." jawab Reza lagi.
"Iya dibatalin niatnya?" tanya Alexa.
"Bukan... bukan" jawab Reza.
"Maksud aku... iya aku akan melamarnya" Reza sedikit lega.
"Nah gitu donk, aku kan senang mendengarnya" jawab Alexa.
"Kapan kamu akan melamarnya?" desak Alexa.
"Secepatnya" Reza menjawab cepat dan singkat.
"Baiklah kamu atur aja ya... nanti kalau semua sudah siap kabari aku" ucap Alexa.
"Nah sekarang tentang kamu" Reza mengalihkan pembicaraannya.
"Kenapa dengan aku?" tanya Alexa.
"Kamu kapan mikirin masa depan kamu. Karir udah ada, apartemen dan mobil sudah punya tinggal cari teman hidup. Nanti kalau lamaranku diterima dan aku menikah dengan Lidya kamu tinggal sama siapa?" tanya Reza sambil menatap lekat wajah sahabatnya itu.
"Masih ada Sisil" jawab Alexa cuek.
__ADS_1
"Sisil juga gak selamanya sendiri San, dia pasti mau juga menikah. Apalagi sikapnya yang selalu pecicilan setiap melihat cowok ganteng. Aku yakin dia pasti udah ngebet pengen cepat nikah" ujar Reza.
Alexa terdiam, sungguh apa yang Reza katakan tidak pernah sekalipun dia fikirkan selama ini bahkan terlintas sekalipun tidak pernah. Dia seperti terlupa tentang masa depan yang akan mereka jalani.
Setelah Reza bicara baru Alexa tersadar. Diusianya sekarang ini memang sudah waktunya untuk serius menatap masa depan. Selama ini Alexa selalu menutup diri dan menjaga jarak pada setiap laki-laki yang mendekatinya. Padahal banyak teman kampus dan rekan kerjanya yang memaruh hati padanya tapi dia selalu menolaknya dengan lembut.
Tapi dia belum punya calon ataupun kandidat yang tepat untuk dijadikan pendamping hidup alias suami. Apakah Alexa masih mengisi hatinya dengan nama Aditya sehingga tidak ada lagi tempat buat nama yang lain.
"Kamu masih mikirin Kak Adit, San?" tanya Reza.
Reza menatap kedalam mata Alexa.
"Masih menunggunya?" tanya nya lagi.
Alexa hanya diam.
"Dimana dia sekarang bahkan kamu tidak tau, keluarganya hanya bilang sekarang dia ada di Kalimantan. Kamu mau mencarinya kesana?" Reza mendesak Alexa dengan banyak pertanyaan.
Alexa menggelengkan kepalanya.
"Kalimantan itu luas San gak mungkin kamu bisa menemukannya tapi kalau memang itu mau kamu aku bersedia menemani kamu mencarinya" ucap Reza penuh kasih sayang. Baginya kebahagian Alexa adalah hal yang paling penting.
"Nggak Za, aku tidak mau mencarinya. Kamu sudah lupa siapa aku. Aku bukan wanita yang agresif Za" jawab Alexa.
"Aku tau, aku kenal kamu cukup lama. Kamu punya harga diri yang tinggi. Walau harus terluka sekalipun kamu lebih memilih diam dari pada harus mengungkapkan isi hati kamu. Ya Kan?" tanya Reza.
Alexa kembali terdiam.
"Kalau begitu lupakan dia San, kamu tidak bisa mengharapkan dia yang datang dan mengungkapkan perasaannya pada kamu. Sudah 6 tahun kalian tidak pernah bertemu bahkan pertemuan terakhir kalian dia masih kesal padamu. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau dia menganggap setiap bertemu dengan kamu dia selalu sial?" nasehat Reza.
Alexa semakin tertunduk, dia tidak bisa berkata kata lagi bahkan menatap mata Reza saja dia tidak berani.
"Buka hati kamu pada laki-laki lain. Jangan menunggu sesuatu yang kamu tau itu sangat mustahil" pinta Reza.
Airmata Alexa mulai jatuh perlahan.
Reza menepuk bahu Alexa untuk memberikan dukungan dan semangat.
"Ada yang bisa aku bantu San? Apapun itu asal bisa membuat kamu bahagia" ucap Reza.
Alexa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Fikirkanlah baik baik semua perkataanku. Aku harap kamu bisa berfikir lebih jernih. Tolong buka hati kamu buat orang lain, buat pria lain. Aku ingin kamu bahagia" ujar Reza