
Mereka pun sampai di sebuah restoran dan mereka memesan bebrapa makanan,Jingga hanya memesan kentang goreng karena dia tidak makan protein hewani.
"Lain kali kita cari restoran vegan kasihan dia bila makan bersama dengan kita menunya hanya itu dan sayuran saja"kata Piter pada Al.
Jingga yang mendengar hal itu hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa bos aku biasa makan seperti ini,bos tidak perlu sungkan"kata Jingga sambil memakan kentang gorengnya.
Selesai makan mereka pun kembali pulang saat di mobil.
"Al... tolong kamu atur jadwal pertemuan aku dengan Anton"
Hah... Anton tuh kan pasti ada apa-apa kan sama perasaan kamu Pit...
Al cemas karena Anton adalah psikiater dia juga sahabat mereka berdua.
"Baiklah nanti aku atur jadwal mu untuk bertemu dengannya"
Jingga tertidur di dalam mobil kepalanya menyender di pundak Piter, Al yang melihat itu menahan tawanya karena melihat Piter kebingungan saat kepala Jingga bersandar di bahunya.saat Piter mencoba menggeser kepala Jingga kepala nya malah jatuh di pangkuan Piter membuat Piter jadi tambah serba salah, Al menahan tawa melihat sahabatnya menjadi keki sendiri.
Mobil pun tiba di gang sempit itu Jingga masih tertidur Piter tak tega membangunkannya dia lalu menggendong Jingga sampai kerumahnya Sedangkan Al mengikutinya dari belakang mendorong sepeda Jingga dan membawa kandang jojo.
Dia bilang dia tidak jatuh cinta dengan gadis ini,tapi ini apa namanya dia rela menggendongnya saat dia masih terlelap tidur, Piter... piter...
Piter masuk kedalam gerbang rumah Jingga bersama Al, Nenek Jingga khawatir saat. melihat cucunya digendong oleh seorang pria dewasa dalam keadaan memejamkan mata.
"Dia tertidur Nek... dimana kamarnya biar saya memindahkannya ke kamarnya"jelas Piter saat membaca raut wajah Nenek.
Nenek menunjukan kamar Jingga di lantai dua.
Piter pun menggendong Jingga sampai kekamarnya,Piter meletakan tubuh Jingga perlahan di atas kasurnya.
"Terima kasih.... anda ini siapanya Jingga ya?"tanya Nenek penasaran karena sepertinya cucunya sangat di perlakukan istimewa oleh pemuda yang ada di hadapannya ini.
"Saya guru nya Nek"
"Oh... gurunya... "
"Saya pamit pulang dulu ya nek"Piter menyalami tangan nenek seperti yang Jingga pernah katakan bila dengan orang yang lebih tua harus salim untuk menghormati.
Piter dan Al pun berlalu dari rumah Jingga.
di dalam mobil.
"Rumahnya cukup besar walau tak sebesar rumah mu, tapi rumah sebesar itu kenapa berada di gang sempit seperti tadi ya? dan sepertinya di sana hanya ada rumah itu tak ada rumah lain saat kita masuk gang itu kanan dan kirinya kebun dan kita hanya menemukan rumah besar di dalam gang sempit"Al mengoceh tapi Piter diam saja.
Al melihat sahabatnya terdiam membuatnya juga ikut terdiam.
Hari menjelang malam Jingga terbangun dari tidurnya.dia menggeliat di atas kasurnya dia belum menyadari keberadaannya sekarang saat dia melihat kesekelilingnya dia baru menyadari keberadaannya.
"Bukankah ini kamar ku?sejak kapan aku berada disini?"Jingga lalu melompat dari kasurnya dan keluar dari kamarnya.
"Nenek... "dia mencari keberadaan neneknya. ternyata nenek sedang berbicara dengan kakeknya diruang tamu.
__ADS_1
"Nenek tahu bagaimana Jingga bisa berada di kamar? "tanya Jingga pada neneknya.
"Ya tahu tadi guru mu yang menggendong mu sampai ke kamar mu"jelas nenek.
"Guru"gumam Jingga.
"Apa dia pria berkaca mata,beralis tebal, berbadan tinggi dan berkulit putih yang menggendong ku sampai ke kamar? "tanya Jingga penasaran.
"Iya... betul dia guru mu kan? "
"Ah.... iya benar dia guru matematika ku nek".
Jingga ingin berlari ke kamarnya tapi langkahnya terhenti ketika kakeknya berbicara.
"Ji... ingat fokus belajar dan jangan pacaran"nasehat kakek.
"Iya... kek... Ji... ke kamar dulu ya kek"Jingga pamit masuk kedalam kamarnya.
Di dalam kamar dia mengekuarkan ponselnya dari kantung celananya.
dia mengirim pesan pada Piter.
Bos apa anda menggendong ku sampai ke kamar ku?kenapa tidak membangunkanku saja.tapi terima kasih karena anda baik pada ku.
Tling ponsel Piter berdering pesan masuk dilihatnya dari Jingga,dia pun membacanya.
Aku sudah membangunkan mu tapi kamu tidur seperti orang mati,jadi terpakasa aku menggendong mu sampai ke kamar mu.
Piter berbohong padahal dia sendiri yang tidak tega membangunkan tidur Jingga.
Tangan anda pasti pegal menggendong ku, maafkan aku ya bos...
Jingga mengirim pesan lagi.
Piter tesenyum membacanya.
Kamu harus tanggung jawab tangan ku jadi pegal karena mu.
Jawab Piter.
"Ah... kan dia pasti seperti itu... pasti dia minta yang aneh-aneh lagi deh... "keluh Jingga dia jadi menyesal karena tertidur di dalam mobil tadi.
Tling.... pesan masuk ke ponsel Jingga.
Besok sore sparing dengan ku.
"Ah... kan begini nih.. dia suka sekali menyiksa ku"
Jingga membalas pesan kembali.
*Apa tidak ada hal yang lain bos selain sparing?
Tidak!! atau kau mau berkencan dengan ku dan jadi mainan ku,pilih yang mana*?
__ADS_1
Piter tertawa geli membalas pesan Jingga dirinya senang sekali mempermainkan perasaan gadis itu.
"Ahhhh kan dia gila lagi"Jingga kesal.
Baik aku akan sparing dengan anda bos, lebih baik di banting-banting dari pada harus kencan dan menjadi mainan anda.
Jingga membalas.
Piter tertawa penuh kemenangan.
Keesokan harinya Jingga yang sedang fokus bekerja tak menyadari bila ada tamu yang datang keruangan Piter.
Piter lalu menyuruhnya pulang lebih awal karena tamu yang datang adalah Anton.
"Jingga kamu pulang lebih awal saja aku ada tamu"perintah Piter.
"Oh... baik bos"Jingga merapihkan mejanya.
"Tapi jangan lupa nanti sore kerumah ku"kata Piter saat melihat Jingga akan meninggalkan ruangannya.
"Oh... iya bos,permisi"Jingga pamit dan tersenyum pada Anton,Anton pun tersenyum padanya.
Melihat itu Piter kesal sendiri dia menendang kaki Anton.
"Aw... "Anton kesakitan.
Jingga pun berlalu dari ruangan Piter.
"Apa kau sudah gila menendang kaki ku sakit tahu"keluh Anton.
"Kau kenapa harus senyum-senyum dengannya"Piter sewot.
"Dia tersenyum pada ku ya aku tersenyum juga dong"
"Ah... anak. itu juga kenapa harus senyum-senyum dengan orang asing sih"Piter kesal.
Anton bingung di buatnya.
"Pit... jangan bilang kau jatuh cinta pada anak SMA"tebak Anton.
"Aku memanggil mu justru karena hal itu"Piter sewot.
Al yang ada disana akhirnya menjelaskan kejadian yang di alami oleh Piter akhir-akhir ini.
Anton seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Pit... kau.... astaga...ya ampun...."Anton tidak habis fikir kawannya bisa jatuh cinta lagi dengan seorang gadis kecil.
"Apa ini tidak normal? "tanya Piter pada Anton.
"Ya... untungnya dia sudah SMA mungkin usianya kira-kira 17tahunan ya... terhitung masih normal kecuali dia masih sekolah di sekolah dasar"jelas Anton.
"Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya? "tanya Piter lagi.
__ADS_1
...*************...