
Malam hari Piter mengunjungi kontrakan Edel alias Jingga sudah tiga hari dia tidak mendapatkan kabar darinya oleh karena itu malam ini usai pulang bekerja Piter langsung mampir ke kontrakan Jingga.
Dilihatnya pintu kontrakan itu di gembok.
"Kemana dia?apa ada misi hingga tidak ada kabar dan tidak di rumah?"
Piter akhirnya memutuskan kembali pulang tapi langkahnya terhenti saat melihat gadis itu berjalan ke arahnya tapi mencoba menghindarinya.
Piter menghampirinya Jingga memasang wajah aneh dia tersenyum seperti ada yang dia sembunyikan.
"Mau kemana lagi kamu?"tanya Piter.
"Hehe ada yang kelupaan mau aku beli kak permisi ya..."Jingga mencoba menghindar dari Piter tapi Piter melihat ada sesuatu yang aneh pada Jingga.
Piter menarik tangan Jingga hingga mengaduh.
"Akh....seseeehhh"Jingga terlihat kesakitan dan memegangi lengannya.
"Kau kenapa?"tanya Piter cemas.
Dan Piter langsung melepaskan pegangannya dan melihat lengan Jingga saat itu Di pegangnya lengan itu perlahan dan betapa terkejutnya Piter mendapati darah yang masih basah di jaket itu.
"Darah...dik...kau kenapa?"tanyanya semakin khawatir.
"Sesessh tidak apa-apa kak,hanya terluka kecil"
"Luka kecil?tapi kenapa darahnya sebanyak ini ayo kita kerumah sakit"ajak Piter.
"Tidak perlu kak,aku bisa mengobatinya sendiri"
"Kau ini kenapa keras kepala sekali sih"Piter semakin cemas.
"Kak...kakak tenang ya...ayo masuk kalau mau mampir tapi kakak tenang ya jangan panik"Jingga berusaha menengakan Piter.
"Gi...gimana bisa tenang"Piter makin cemas.
"Ya sudah kalau tidak bisa tenang kakak pulang saja tinggalkan aku sendiri"Jingga ketus..
"Kamu ini ngomong apa sih"Piter sewot..
"Ya sudah tenang dong"Jingga kesal
"Iya...iya...aku tenang"Piter akhirnya mengalah.
Jingga akhirnya membuka kunci gemboknya dan masuk kedalam kontrakannya.saat di dalam Jingga langsung membuka jaketnya dan luka di lengannya semakin terlihat oleh Piter.
Piter menganga saat mendapati luka yang masih mengeluarkan darah segar itu.Jingga mengambil kotak P3K dan mengeluarkan kapas dia berniat membersihkan darah tersebut tapi Piter mencegahnya dia ingin dirinya yang mengobati luka di lengan Jingga.
Piter membersihkan darah tersebut dan mengolesi antiseptik di luka tersebut dan membalut perban di lengan Jingga,sesekali Jingga mengaduh dan mendesis menahan sakit.
"Kenapa bisa terluka seperti ini?sudah beberapa hari tidak ada kabar tiba-tiba kamu terluka"
Jingga menghela nafas dia sebenarnya ragu ingin cerita tapi Piter pasti akan memaksa untuk dia bercerita.
"Aku...terkena pisau saat berkelahi dengan preman kak"kata Jingga ragu.
"Hah...apa?"Piter berteriak.
Nah kan begini nih pasti reaksinya mangkanya malas ceritanya.
__ADS_1
"Kamu berkelahi dengan preman?"
Jingga mengangguk.
"Aku sedang menyelasikan misi menyelidiki para preman yang mengekploitasi anak-anak kak,tadi dapat orangnya dan langsung aku tangkap" Jingga mulai bercerita.
"Tapi terjadi sedikit pertarungan ya wajar sih mereka mana mau menyerahkan diri begitu saja kan kak"
Saat Jingga melakukan penangkapan.
Malam itu Jingga yang sudah mengetahui markas preman yang suka mengekploitasi anak-anak mendatangi markas tersebut bersama beberapa polisi daerah,Preman yang ada disana berjumlah 4 orang 3 anak buahnya dan 1 bos mereka.
Terjadi pertarungan di markas tersebut,Jingga dan beberapa polisi pun terlibat baku hantam bersama para preman tersebut Jingga melawan bos mereka.
Preman itu fikir melawan Jingga itu mudah karena Jingga adalah wanita,tapi ternyata melawan Jingga itu lebih sulit dari pada dugaannya Jingga begitu tangguh,lincah dan kuat.
"Sial elu kuat juga ya"kata Preman itu.
Jingga menatap marah pada preman itu dan langsung menendang wajah preman itu dan tendangannya begitu telak mendarat di wajah preman itu hingga hidung preman itu mengeluarkan darah segar.
Tak terima dirinya di buat babak belur oleh wanita dia pun main curang dia mengeluarkan senjata tajam dari pinggannya dan langsung ingin menusuk Jingga tapi Jingga bisa menghindarinya,tapi preman itu secara membabi buta terus menyerang Jingga dan akhirnya berhasil menggores luka di lengan Jingga.
Tapi Jingga tidak menyerah begitu saja Jingga langsung menangkap tangan preman tersebut dan memelintir tangannya hingga terdengar bunyi krek....
"Akh..."Preman itu teriak kesakitan.
Jingga menindih badannya dengan tangan preman itu masih dalam ke adaan di plintir di belakang punggungnya.
"Serahkan diri mu ke polisi akui semua kejahatan mu disana"kata Jingga dingin.
"Akh...akh...iya..iya...ampun non..."bos preman itu kesakitan.
Beberapa polisi juga sudah menangkap anak buahnya dan Jingga berhasil melumpuhkan bos mereka dan langsung di giring bersama polisi dan rekan-rekannya.
"Sama-sama pak"
"Oia sepertinya anda tadi terluka mari ikut saya ke kantor untuk di obati"
"Ah...tidak pak ini hanya luka kecil nanti biar saya obati sendiri,semua bukti sudah saya serahkan pada anda tadi kan pak,tolong urus mereka dan beri pelajaran yang setimpal agar mereka tidak mengulangi perbuatan mereka"
"Baik detectiv"
Bos preman itu menatap Jingga seperti ketakutan Jingga menghampirinya.
"Elu kalau mau jadi penjahat jangan beraninya sama anak kecil,enak bener elu meres tenaga bocah elu tinggal terima uang mereka,keluar dari penjara tobat luh"oceh Jingga.
"I...iya...Non...gue tobat"kata preman itu ketakutan.
"Enon ini siapa sih?kok nakutin banget?"kata preman itu,yang melihat aura Jingga sungguh menkutkan.
Jingga hanya tersenyum sinis,dan meninggalkan mereka semua bersama polisi.
"Astaga Jingga...kamu berkelahi dengan preman sampai segitunya?"
"Sesssstttt kak bisa nggak sih bicaranya pelan-pelan berisik tahu nanti tetangga ku dengar di sangka aku nyembunyiin laki-laki orang lagi"kata Jingga pelan
"Ap...apa?"Piter malah bertariak..
"Suussttt pelanin suara kak"Jingga gereget dengan Piter hingga membekap mulut Piter Jingga tidak sadar saat membekap mulut Piter jaraknya dengan tubuh Piter sekarang begitu dekat.
__ADS_1
Piter terkejut karena Jingga langsung membekapnya dan mendorong tubuhnya hingga sekarang posisi Jingga berada di atas tubuhnya menindih badannya.
Piter perlahan melepaskan bekapan Jingga.
"Dik...kalau orang melihat ini bisa salah faham loh"kata Piter sambil tersenyum nakal.
"Aaaaa"Jingga langsung loncat saat menyadari tubuhnya sudah menindih tubuh Piter.
"Maaf kak"wajah Jingga langsung merah.
"Hihi"Piter tertawa kecil.
Selama mengenal Jingga baru kali ini dirinya melihat rona merah di wajah wanita ini.membuatnya semakin gemas.
"Aku mandi dulu ya kak"Jingga mencoba menghindari Piter mencoba menyembunyikan wajah malunya dari Piter.
Piter menunggu Jingga mandi di ruang depan rumahnya yang hanya tiga petak itu,tak lama Jingga keluar dari kamar mandi dengan setelan pakain tidurnya,wajahnya sudah bersih tidak sekumal saat dia pulang tadi.
Piter melihat wajah asli Jingga wajah yang sangat dia rindukan selama ini,Piter terus menatap wajah itu hingga Jingga bingung dan salah tingkah.
"Kak kenapa melihat ku seperti itu?"tanya Jingga keki.
"Eh...tidak aku hanya sedang melepaskan rasa rindu ku saja,aku baru melihat wajah dewasa mu dik"
Brush....
wajah Jingga merona lagi dirinya sadar kini dia memang sudah dewasa,berbeda saat pertama bertemu dengan Piter saat dirinya masih remaja.
"Aku kelihatan tua ya kak,hehe"Jingga malu.
"Bukan itu maksud ku sayang...hihi maksud ku kau sudah dewasa sudah cukup usia untuk menikah"
"Hehehe...begitu"Jingga menggaruk kepalanya.
"Menikah lah dengan ku"
Deg...deg...
Jantung Jingga bergetar tidak karuan mendengar pernyataan dari Piter.
"Dik..."Piter meraih kedua tangan Jingga.
"Menikahlah dengan ku"Piter mengulangi kata-katanya lagi.
"Kak misi ku belum selesai misi utama ku,bisa kita bahas ini setelah semuanya selesai?"kata Jingga lembut.
"Kau tidak ingin menikah dengan ku?kau sudah tidak mencintai ku?"Piter malah salah faham.
"Bukan begitu maksud ku kak...Ji ingin menikah dengan kak Piter Ji juga ingin jadi istri kak Piter,tapi bukan sekarang tunggu sebentar....lagi ya kak...tapi bila kak Piter tidak mau menunggu tidak apa-apa Ji pasrah Ji rela melepas kakak"
"Kamu ngomong apa sih dik..."Piter makin marah,walau dia senang mendengar Jingga mengatakan dirinya ingin menjadi istrinya tapi dirinya marah karena kata-kata terakhir Jingga.
Sudah lama aku tidak mendengar kau mengucapkan nama kecil mu dik...Ji...bila kau sedang berkata kata itu pasti kau memang sedang serius dengan kata-kata mu.
"Sekarang boleh aku tanya sama kakak?Siapa wanita yang kakak bawa ke restoran tempo hari,kalian begitu akrab dan mesra panggil-panggil sayang?"Jingga ketus.
Piter tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa kakak malah tertawa?"
__ADS_1
"Kau cemburu?"
...**************...