
Jingga menatap kesal pada Piter.
"Apa maksud adik kakak tidak mengerti?"Piter bingung.
Jingga pun menceritakan kejadian tadi pagi saat tante Delima datang ke rumah bersama Sandra dan pembicaraan dengan kakeknya di telpon.
"Ji....tahu kakak masih sangat mencintai kak Sandra Ji....akan terima semua keputusan ini bila memang bukan Ji lah yang seharusnya di jodohkan dengan Kak Piter,karena Ji sadar cinta memang harus kembali pada pemilik sebenarnya"
"Dik...dengarkan kakak"Piter memegang kedua lengan Jingga.
"Kakak sudah tidak mencintai Sandra,kamu salah faham dengan foto itu,dan satu hal lagi aku tidak akan melepaskan mu sampai kapan pun"nada Piter tegas.
Jingga menurunkan tangan Piter yang memegang lengannya.
"Lebih baik kakak pulang,Ji sudah tidak ingin mendengar alasan apa pun saat ini"Jingga lalu masuk kedalam rumah dan menutup pintu.
Piter masih berada di teras rumah dia mengetuk pintu kembali.
"Dik....adik...keluarlah kakak serius dik...kakak sudah tidak mencintainya dik..."Piter berjalan ke arah halaman yang tepat menghadap jendela kamar Jingga.
"Kakak akan berdiri disini terus sampai kamu keluar"teriak Piter dari bawah.
Jingga menutup telinganya saat Piter berteriak dia tidak mau mendengarkan perkataan Piter.
Suara gemuruh awan berbunyi dan meneteskan air hingga membasahi tanah di bumi,air yang berjatuhan dari langit itu pun semakin deras ditambah tiupan angin yang kencang membuat udara disekitarnya menjadi dingin.
Tapi itu tak membuat Piter tak bergeming dari posisinya dia masih berdiri menatap jendela kamar Jingga,untuk membuktikan bahwa dia benar-benar serius dengan Jingga.
Sudah satu jam hujan turun dengan derasnya,tapi Piter masih berdiri ditempat yang sama,Jingga mengintip dari balik gorden kamarnya.
"Dia itu ngapain sih sudah tahu hujan bukannya berteduh malah hujan-hujanan disitu sedari tadi"Gumam Jingga.
Jingga akhirnya keluar dari kamarnya dia mengambil payung dan dia pun keluar dari dalam rumah menghampiri Piter.
"Hei...tuan bila ingin belajar gila jangan di rumah ku"kata Jingga sewot dia kesal melihat tingkah Piter yang keras kepala.
Piter tersenyum pada Jingga tubuhnya tiba-tiba lunglai dan menabrak tubuh Jingga,Jingga terkejut dia lalu melepaskan payung yang di pegangnya dan menangkap tubuh besar dan tinggi itu.
"Kak...kakak...kenapa?"Jingga panik"Ayo masuk"Jingga memapah Piter dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Jingga menaruh Piter di sofa dan berlari ke kamarnya mencari pakaian ganti untuk Piter dia mencari pakaian yang ukurannya lebih besar dari pakain yang lain tapi tidak ada yang ada hanya baju seragam olah raganya saja,dia pun memilih itu,Jingga turun dari kamarnya dan membawa baju dan handuk.
"Keringkan badan kakak dan gantilah pakaian maaf mungkin ini agak sempit tapi ganti saja Ji takut kakak sakit,ganti lah pakaian kakak di kamar mandi dan taruh pakaian basah kakak di dekat mesin cuci biar nanti Ji cuci dan keringkan"Jingga tak sadar kalau perhatian dan semua kata-katanya sungguh berarti untuk Piter.
__ADS_1
Piter pun berjalan ke kamar mandi dia mengganti pakaiannya dan menaruh pakaian basahnya di dekat mesin cuci.
Jingga membuatkan teh hangat untuk Piter.
"Minum lah kak agar badan kakak hangat"Jingga memberikan segelas teh hangat pada Piter.
Piter duduk di kursi dan meminumnya.
"Terima kasih"ucap Piter.
"Hujannya awet sepertinya bisa sampai pagi,kakak menginap saja,tidurlah di kamar tamu di atas di sebelah kamar Jingga"kata Jingga.
"Ji ke kamar dulu ya kak kakak istirahatlah"Jingga lalu berlari ke kamarnya sementara Piter masih duduk di kursi di ruang utama keluarga.
Tengah malam Jingga terbangun dari tidurnya,dia mendengar suara rintihan dari lantai bawah,Jingga turun dari kamarnya di dapati Piter tertidur di kursi tanpa selimut,dan sepertinya kedinginan.
Jingga lalu menghampiri Piter di pegangnya tangan Piter suhu tubuhnya panas,Jingga panik dia lalu memegang kepala Piter yang ternyata panas.
"Sepertinya dia demam"gumam Jingga.
"Kakak...kak Piter bangun kak"Jingga membangunkan Piter yang matanya masih terpejam.
Piter berusaha membuka matanya.menatap Jingga di hadapannya.
Jingga mendudukan Piter di kasur,dan berlari ke arah bawah dia mencari obat penurun demam di kotak obat dan membawakan air hangat untuk Piter meminum obat tersebut.
"Minumlah ini agar demam kakak turun"Jingga memberikan obat penurun panas pada Piter.
Piter pun meminumnya.
"Tidurlah"Jingga merebahkan badan Piter di kasur dan menyelimutinya dengan selimut.
Tapi tiba-tiba Piter bangun dan menarik tangan Jingga hingga Jingga terduduk di depannya,Piter lalu memeluk tubuh Jingga,Jingga ingin berontak tapi berhenti ketika Piter mebisikan sesuatu padanya.
"Diamlah aku hanya ingin memeluk mu tidak lebih dari ini"nafas Piter yang panas terasa di telinga Jingga.
"Maafkan aku seharusnya aku membuang semua kenangan masa lalu ku,maafkan aku selalu membuat mu kecewa"bisik Piter.
"Kak...bila kakek kembali dan kembali menjodohkan kakak dengannya bagaimana?apa kakak akan melepaskan Ji?"tanya Jingga.
Piter menggelengkan kepalanya.
"Tidak aku tidak akan melepaskan mu meskipun harus menentang ke inginan kakek"bisiknya.
__ADS_1
"Kenapa kak bukan kah kakak masih mencintainya?"
"Ku mohon jangan bahas dia lagi,saat ini yang ada disisi ku itu hanya kamu"Piter menundukan kepalanya di pundak Jingga yang masih di peluknya.
"Apa kakak mencintai ku?"
Piter tidak menjawab ternyata dia tertidur di bahu Jingga.
"Dia tertidur,bisa ya dia tidur dengan posisi seperti ini"Jingga kesal.
Jingga lalu memindahkan posisi Piter,Jingga merebahkan Piter di kasur dan menyelimutinya,dan tak seperti biasanya Piter terlelap nyenyak dalam tidurnya,mungkin pengaruh obat yang di berikan Jingga tadi.
Jingga membelai wajah Piter entah keberanian dari mana yang di dapatnya hingga dia sangat berani membelai wajah tampan nan rupawan itu.
Pukul 05.00 pagi Jingga terbangun dari tidurnya dan dia langsung pergi ke pasar dekat rumahnya,dia membeli beberapa sayuran, jamur dan rempah-rempah untuk membuat bubur.
Sampai di rumah Jingga langsung mengolah semua bahan yang di belinya,setelah selesai dia pun mencuci pakaian Piter dan mengeringkannya,setelah kering dia menyetrikanya agar lebih rapih dan wangi.
setelah selesai semuanya,Jingga ke halaman belakang rumahnya.
Pukul 06.00 pagi Piter terbangun dari tidurnya.dia meregangkan ototnya dan keluar kamar dilihatnya kamar Jingga terbuka tapi tak di temukan adanya Jingga disana,Piter pun turun dari tangga menuju ke bawah,dia lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja,dia menelpon Al.
"Al...tolong bawakan aku baju ganti" Piter langsung to the point.
Hingga membuat Al bingung.
"Baju ganti?memangnya kamu dimana?"tanya Al.
"Aku di rumah kakeknya Jingga semalam aku menginap disini"jelas Piter.
"Hah"Al terkejut hingga berteriak.
Piter langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Kalian sudah baikan?tapi kenapa harus sampai menginap juga?"Al penasaran.
"Semalam hujan aku tidak bisa pulang karena aku bawa motor,dan jangan berfikir kotor dulu bodoh aku tidak serendah itu juga mengambil kesempatan padanya"Piter kesal.
"Eh...iya...iya...nanti aku bawakan pakaian ganti mu"Al menciut dia tahu dia salah.
"Ya sudah"Piter langsung memutuskan saluran telponnya.
...********************...
__ADS_1