
Piter pamit kedalam kamarnya begitu pun Pluto,tinggalah Jingga berdua saja dengan ibu di depan taman.
Ibu mengelus punggung Jingga membelai rambut hitam dan panjang itu,beliau pun tersenyum pada gadis itu.
"Jingga apa kabar nak?"tanya Ibu.
"Kabar Jingga baik bu"Jingga tersenyum.
"Kenapa kalian harus putus,ibu tahu kalian saling mencintai"
Perkataan ibu membuat Jingga serba salah.
"Kak Piter sudah mengambil semua keputusan ini bu,Jingga tidak bisa menolaknya"
"Kata siapa kamu tidak bisa menolaknya,kamu bisa menolaknya dan terus mempertahankan pertunangan ini,ibu sedih sangat sedih bila mengingat kejadian malam itu"
"Ibu tidak pernah melihat wajah Piter semarah dan sekecawa seperti malam itu,ibu pun melihat wajah mu bersedih,jangan besarkan ego kalian bila kalian memang saling cinta"
Jingga menundukan kepalanya.
"Jingga kembalilah pada Piter,buatlah dia tersenyum kembali"Ibu memengang tangan Jingga seolah memohon.
Piter yang mendengar hal itu tidak suka hingga ia menghampiri mereka berdua.
"Bu...Piter mohon untuk kali ini jangan ikut campur masalah percintaan Piter,Piter akan berusaha mendapatkan cinta sejati Piter dengan perjuangan Piter sendiri"kata Piter dingin.
"Tapi bukan kah kalian saling mencintai".
"Bu....Piter mohon sama ibu,maaf bila kali ini Piter membuat ibu kecewa"Piter menghampiri ibunya dan memegang kedua tangan ibunya menaruhnya didadanya dan bersimpuh di hadapan ibunya.
Jingga terkejut melihat reaksi Piter saat memohon pada ibunya.
Ibu mengelus kepala anaknya dengan lembut.
Di ruang keluarga,Jingga duduk di sofa dan Pluto duduk di sofa bersebarangan dengannya,sambil bermain game kesukaannya.
Sedangkan Piter mengantar ibunya untuk beristirahat di kamarnya.
"Ji...elu cinta kan sama kakak gue?"tanya Pluto tiba-tiba.
Jingga terperanjat mendengar ucapan Pluto,tapi dia tidak menjawab pertanyaan Pluto.
"Heh...toa mesjid gue nanyanya sama elu kenapa elu diem ajah"Pluto kesal dan melempar bantal sofa ke arah Jingga.
"Apaan sih luh kebiasaan deh mancing-mancing keributan"Jingga malas meladeni Pluto.
"Ya gue nanya tapi nggak di jawab elu dengar nggak sih"Pluto kesal.
__ADS_1
Jingga tetap diam.
"Ji...Jingga"Pluto melihat ke arah Jingga yang terlihat murung."Jangan bilang elu malu ngakiun kalo selera lu emang om-om kaya kakak gue ya....hahaha"Pluto meledek.
Tiba-tiba.
Plok....
Bantal sofa mendarat di wajah Pluto,Jingga melemparnya dan tepat mendarat di wajah Pluto yang sedang tertawa.
"Ah...elu juga demennya sama wanita lebih tua ya kan?elu demen kan sama ka Meya..."Jingga meledek.
"Apaan sih gue cuma kagum sama dia bukan cinta"
"Ah....bohong banget"
"Serius...cinta pertama gue nggak berbalas"
"Hah..apa?seorang Pluto bertepuk sebelah tangan siapa tuh cewe rasanya pengen gue peluk ajah bisa nolak elu hihi"
"Rese...lu ya... demen banget ngedenger gue susah"Pluto bangun dari sofa.
"Hayo mau apa lu"Jingga juga bangun dari sofa.
"Elu tuh ya....yang mancing emosi gue dulu"Pluto menghampiri Jingga.
"Aw...sialan lu ya..."Pluto mengejar Jingga yang berlari ke arah taman.
Mereka pun berkejar-kejaran di taman dan mulut mereka masih tidak bisa diam masih saling meledek satu sama lain,keributan yang mereka timbulkan membuat Piter keluar dari kamar ibu.
Jingga berlari dan tidak menyadari keberadaan Piter hingga dia pun tak sengaja menabrak tubuh Piter hingga hampir terjatuh dan Piter menangkapnya sekarang jarak mereka begitu dekat.
Pluto menghentikan langkah larinya saat melihat kakaknya memeluk Jingga.
Jingga tersenyum saat Piter memeluknya.
"Apa yang kalian lakukan?kalian tahu kalian mengganggu istirahat ibu"kata Piter dingin tapi tangannya masih memeluk pinggang Jingga.
"Kalau cinta bilang cinta jangan sok-sokan nanti di ambil orang loh"Pluto nyeletuk entah sindirannya itu di tunjukan untuk siapa.
Piter lalu melepaskan pelukannya ketika mendengar ucapan Pluto.dia lalu duduk di bangku taman,sedangakan Pluto pergi ke dalam kamarnya.Jingga pun berlari keruang utama dan mengambil tasnya.
Jingga menghampiri Piter yang sedang duduk sendirian ditaman.
"Kakak"Jingga menyodorkan jurnal kegiatan PKLnya di hadapan Piter.
Piter bingung.
__ADS_1
"Tolong tanda tangan"Jingga tersenyum.
Piter salah tingkah melihat senyuman Jingga saat dia tersenyum seolah ada cahaya dan buga-bunga yang mengitari tubuhnya.
"Kamu ini sempat-sempatnya ya..."Piter tidak habis fikir ada saja kelakuan Jingga yang membuatnya gemas.
"Ini bukan kantor aku tidak mau tanda tangan"Piter ketus.
"Ayolah kak...biar nanti malam aku langsung bisa menyusun laporan ku"Jingga merengek dan menggoyang-goyangkan tangan Piter.
Piter senang bila melihat Jingga seperti ini,dirinya tidak sadar ia tersenyum tipis,ibu yang tidak sengaja melihat itu saat keluar dari kamar ikut tersenyum.
"Nggak mau"Piter masih menggoda Jingga.
"Ayolah kak...hiks...kakak...tinggal tanda saja disini kak..."Jingga menghentakan kakinya.
Piter semakin gemas melihatnya dan senyumnya kini berganti tawa walau tanpa suara.
Ibu menggelengkan kepalanya dan tersenyun melihat Piter dengan senangnya menggoda Jingga.
Kejadian di kamar ibu.
Ibu terus memohon pada Piter untuk kembali meneruskan pertunanganya dengan Jingga,tapi Piter tetap pada pendiriannya.
"Bu...Piter memang mencintai dia,dan Piter pun tahu dia mencintai Piter,tapi ini bukan saat yang tepat untuk kami kembali bertunangan bu...Piter akan meraih cintanya tanpa adanya paksaan yang mengharuskannya menerima hubungan ini,Piter harap ibu bersabar,Piter tidak akan melepaskannya begitu saja meski kami tidak terikat hubungan apa pun tapi kami saling mencintai,Piter akan mengatakan padanya suatu hari nanti bu..."
Ibu terdiam dirinya senang mendengar pernyataan anaknya bahwa anaknya benar-benar mencintai gadis itu.
Dan semua itu memang terbukti Piter selalu tersenyum bila di dekat Jingga,senyum yang tidak di buat-buat senyum yang tulus dari hatinya.
"Apa bayarannya bila aku menandatangi jurnal mu itu?".
"Anda meminta bayaran pada anak sekolah,hei tuan apa anda ini kumat lagi,tempo hari anda memeras tenaga ku karena aku merusak kaca spion mobil anda,sekarang anda masih meminta bayaran hanya karena sebuah tanda tangan astaga anda ini benar-benar kejam ya"Jingga kesal dan mengoceh tidak karuan.
"Hei...gadis bodoh kau fikir tanda tangan ku ini bisa sembarangan ku berikan pada orang lain"Piter sewot.
"Memangnya aku meminta uang dari mu,kau fikir aku kekurangan uang apa hingga harus meminta uang dari anak sekolah seperti mu"masih sewot.
"Ya...tadi bukan kah tadi kakak meminta bayaran?"Jingga bingung Piter berbicara berputar-putar otaknya tidak bisa menterjemahkan maksud Piter.
"Kau harus membayar semua itu dengan tubuh mu"bisik Piter.
Jingga spontan langsung memeluk dirinya sendiri karena takut.
"Dasar bodoh masud ku bukan hal begitu bodoh otak mu ini benar-benar hanya sebesar biji kacangn hijau"Piter ngomel lagi.
Jingga menatap Piter bingung sekaligus takut.Piter tertawa melihat ekspresi di wajah Jingga.membuat Jingga semakin takut.
__ADS_1
...*****************...