
Operasi sedang berlangsung,Jingga menunggu di kursi penunggu di depan ruangan operasi. Jingga berdoa dan terus berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Piter.
Go dan doktor Darma sampai di rumah sakit mereka segera menghampiri Jingga yang sedang duduk sendirian dan resah,Go yang melihat Jingga melepaskan kemejanya langsung memasangkan jaketnya pada punggung Jingga.
Jingga menoleh ke arah Go mata mereka saling bertemu sesaat dan Jingga pun menunduk kembali.
"Terima kasih"ucap Jingga pada Go.
Doktor Darma melihat seperti ada sesuatu di antara mereka berdua.
Go pun ikut duduk di samping Jingga dan menunggu operasi Piter.dan setelah beberapa jam dokter pun keluar dari ruangan operasi,Jingga langsung menghampiri dokter tersebut.
"Dok...bagaimana dok?"tanya Jingga cemas.
"Syukurlah pasien selamat dan sudah melewati masa kritisnya,setelah ini pasien akan kami pindahkan ke ruang ICU dulu agar bisa memantau keadaannya"jelas dokter.
"Heh...syukurlah"Jingga terlihat lega.
Go merangkul pundak Jingga dan menepuknya memberikan suport,Jingga pun tersenyum padanya.
Piter masih belum sadarkan diri dan dirinya langsung di pindahkan ke ruang ICU Jingga mengikuti langkah perawat dan dokter yang membawa Piter ke ruangan ICU.
Doktor Darma bingung kenapa putrinya begitu mengkhawatirkan pria tersebut,dia sempat berfikir kalau Jingga dan Go mempunyai hubungan yang spesial tapi kenapa sepertinya Jingga begitu mengkhawatirkan Piter.
Jingga menunggu Piter di depan ruang ICU karena Piter belum sadar.Doktor Darma duduk di samping Jingga dan memegang tangan putrinya,sementara Go kembali ke markas tim khusus untuk memberikan laporan.
Jingga menoleh pada ayahnya yang saat ini menggenggam tangannya.
"Siapa dia nak?"tanya Doktor Darma.
"Orang yang aku cintai ayah"jawab Jingga lirih.
"Bukankah kau dengan detectiv tadi?"Doktor Darma bingung.
"Hemf aku dan tuan Go hanya rekan kerja ayah"jelas Jingga sedikit tertawa.
"Laki-laki yang ada di ruangan itulah yang aku cintai"jelas Jingga lagi.
Doktor Darma akhirnya mengerti mengapa putrinya sejak tadi begitu mencemaskan Piter.
Setelah semalaman menunggu Piter di depan ruang ICU pagi ini Jingga di perbolehkan masuk untuk menengok keadaan Piter.
Jingga duduk di samping kasur Piter yang tergeletak miring karena bagian Punggungnya lah yang terkena tembakan dan mengalami operasi.
Jingga memegang tangan Piter yang tertancap jarum infusan.
__ADS_1
"Kak....maafkan aku"Jingga menangis menunduk dan menaruh tangan Piter di dahinya.
"Bangun kak...bangun..."isak tangis semakin menjadi hingga tangan Piter basah karena air mata Jingga yang menetes dengan deras.
"Hiks...hiks...maafkan aku kak...maaf karena aku kamu jadi begini maaf....hiks...hiks...bangun kak....bangun..."Jingga terus menangis dan memegang tangan Piter.
jari tangan Piter mulai bergerak dan Piter pun berusaha membuka matanya,telinganya sedari tadi mendengar suara yang sangat ia rindukan selalu.
"Berisik...dik"ucapnya pelan.
Jingga yang saat itu mendengar kata-kata Piter langsung mendongak melihat kearah Piter.
"Kak..."Jingga langsung memeluk tubuh Piter.
"Akh...dik sakit"kata Piter yang kesakitan.
"Aaaa maaf kak maafkan aku"Jingga langsung melepaskan pelukannya.
Piter tersenyum padanya.
"Jangan menangis...jagoan kok nangis"ucap Piter.
Jingga tersenyum mendengar perkataan Piter.Jingga pun memanggil perawat dan dokter memberitahukan kalau Piter sudah sadar dan setelah dokter memeriksa keadaan Piter,Piter pun di pindahkan ke ruang rawat.
Jingga pun mengikuti langkah perawat dan dokter yang membawa Jingga sementara doktor Darma sejak semalam di jemput anggota tim khusus untuk di mintai keterangan dan belum kembali sampai sekarang.
Drap...drap...drap....
Suara langkah kaki lebih dari dua orang melangkah menuju ruangan Piter,pintu ruangan VVIP itu pun di buka dengan kasar Jingga terperanjat ketika melihat siapa yang muncul di balik pintu tersebut.
Mereka adalah keluarga Piter dan juga Al,mereka mengetahui Piter mengalami musibah ini karena tim khusus menghubungi keluarga Piter.
Ibu Piter dengan langkah cepat menghampiri Piter yang tergeletak di kasur dan belum menyadari kehadiran Jingga.
"Piter...pit...bagaimana ini bisa terjadi nak?"tanya ibu cemas.
Pluto yang saat itu ikut pun mendekati kakaknya,tapi matanya tertuju pada sosok wanita yang sedang berdiri di samping tempat tidur kakaknya.
Betapa terkejutnya dia setelah menyadari siapa wanita itu.
"Toa...mes..jid"ucapnya ragu.
Ibu yang tadi hanya fokus pada Piter akhirnya menoleh ke arah Jingga,bahkan Al pun baru menyadari bahwa yang semalam berada di gedung W yang berbicara dengannya itu adalah Jingga.
Pantas saja Piter tidak mau ketinggalan Edel ternyata Edel adalah Jingga.
__ADS_1
Fikir Al.
Jingga yang merasa di tatap oleh ibu,langsung ingin menyalami tangan ibu,tapi ketika Jingga mengulurkan tangannya ibu segera menepis tangan Jingga hingga semua yang melihat itu terkejut.
"Siapa kamu?"tanya ibu ketus.
"Bu...ini Jingga...dia masih hidup bu"Piter menjelaskan.
"Kemana saja kau selama ini?"nada ibu sudah tidak bersahabat sama sekali.
"Saya..."Jingga tertunduk.
"Pergi kau dari sini dan jangan dekati anak ku lagi"Ibu marah.
Semua yang ada di ruangan tersebut langsung terkejut terlebih Piter.
"Bu...ibu kenapa bukan kah ibu sangat menyangi Jingga?"tanya Piter bingung karena sikap ibunya berubah drastis pada Jingga.
"Itu dulu sebelum kamu terpuruk,seperti orang gila dan menjauhi keluarga dan pergi keluar negeri menghindari keluarga sendiri"Ibu semakin marah.
"Bu...Piter keluar negeri untuk membangun bisnis baru bukan menghindari keluarga"jelas Piter.
Jingga masih terdiam dirinya merasa bersalah.
"Tapi kau selalu menolak pulang bila ibu menyuruh mu pulang"kata ibu kesal.
"Itu karena ibu selalu ingin menjodohkan ku dengan wanita lain bu"Piter dan Ibu jadi berdebat.
"Kenapa kau menolak di jodohkan?apa karena dia?"ibu menunjuk wajah Jingga.
"Iya memang semua karena dia karena aku yakin dia masih hidup bu,dan semuanya terbukti kan Jingga memang masih hidup"jelas Piter.
"Pokoknya ibu tidak setuju bila kamu dengan dia,kenapa harus selama ini dia kembali kehadapan kita"
"Itu semua ada alasannya bu dengar dulu"Piter benar-benar memohon pada ibunya.
"Kak...sudah jangan berdebat dengan ibu mu tidak baik"ucap Jingga.
"Tapi dik ibu harus mendengar alasannya dulu agar dia mengerti"
"Sudah cukup sekarang saya minta kamu keluar dari kamar ini"usir ibu.
"Bu...."Piter frustasi pada sikap ibunya.
Ayah Darma yang sedari tadi menyaksikan ibunya Piter mengomeli anaknya akhirnya masuk keruangan tersebut dan menarik tangan Jingga.
__ADS_1
"Ayah...."ucap Jingga.
...*************...