
Di dalam kamar Jingga menjatuhkan dirinya di atas kasurnya posisinya tertelungkup dia membenamkan wajahnya di bantalnya,dia lalu berguling dan memeluk bantalnya.air matanya pun menetes di sisi matanya.
Air mata kekesalan dan kemarahan pada Piter.
"Kenapa sih aku harus bertemu dengan orang itu"Jingga kesal dan melemparkan bantalnya ke arah pintu.
"Di matanya semua yang aku lakukan itu selalu salah hal yang benar pun di anggapnya salah,aku tidak mengerti jalan fikiran orang itu sebenarnya apa sih mau dia dari ku,kadang baik,kadang marah-marah dan lebih parahnya lagi tadi dia bilang dia cinta sama aku,bohong banget"Jingga mengoceh terus sendirian di kamarnya.
Beberapa hari kemudian, di kantor Piter bekerja seperti biasa dan Jingga pun masih PKL disana waktu PKL dia sudah tidak lama lagi di kantor itu,dia pun mulai menulis jurnal kegiatannya selama melakukan PKL di sana.
Tapi sepertinya suasana hati Piter sedang tidak bagus Jingga memilih diam saja sambil menulis jurnal kegiatan PKLnya sebelum dia mengerjakan pekerjaannya.
Tok..tok...terdengar suara ketukan pintu dan tak lama pintu pun terbuka di balik pintu ada Al bersama seorang tamu yang paling tidak di inginkan kedatangannya oleh Piter,ya tamu itu adalah Sandra.
Sandra masuk kedalam ruangan Piter berjalan elegan dan menghampiri meja Piter. Sementara Jingga cuek saja dengan kedatangan sepupunya itu.
"Berhenti disitu jangan melangkah lebih jauh dari itu"kata Piter dingin.
"Mau apa kamu kemari?"tanya Piter dingin.
"Sayang...kenapa dingin seperti itu,apa kamu lupa kejadian semalam?"kata Sandra manja.
Wajah Piter sedikit pucat mengingat kejadian yang dia alami semalam dengan Sandra.
Jingga masih sibuk dengan jurnalnya dan tidak memperdulikan pembicaraan mereka.
Jingga lalu beranjak dari duduknya dan pamit untuk kebawah menemui teman-temannya.
"Kak...aku pamit sebentar mau menanyakan jurnal kegiatan pada teman-teman ku"
Jingga berjalan ke arah pintu.
"Jingga apa kau tidak ingin tahu kejadian yang kami alami semalam?"pancing Sandra.
"Hehe aku tidak perduli sudah ya kak"Jingga ingin membuka handle pintu.
__ADS_1
"Tunggu"Sandra menghentikannya lagi.
"Apa lagi sih kak?"tanyanya malas.
Sandra mendekati Jingga dia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukannya pada Jingga.
"Oh...itu ya sudah ya kak urus saja masalah kakak dengan kak Piter jangan libatkan aku"jawab Jingga santai.
Reaksi Jingga sungguh di luar dugaan Sandra. Jingga tidak bereaksi apa pun saat Sandra menunjukan fotonya bersama Piter di sebuah ranjang tidur.
"Kau sungguh tidak bereaksi apa pun setelah melihat ini?"tanya Sandra bingung.
Jingga kesal akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk turun dan menemui teman-temannya.dan malah meladeni Sandra.
"Hehe kakak sepupu ku sayang....aku itu tidak sepolos seperti yang kakak fikirkan,mungkin kakak fikir dengan menunjukan foto seperti itu pada ku aku akan menangis begitu?"
Sandra semakin kesal dengan reaksi Jingga.
"Kak kakak tahu perbuatan kakak itu bisa membuat kakak masuk penjara karena pencemaran,bila di usut lebih jauh kakak sudah menjabak kak Piter dengan cara seperti itu"
"Itu buktinya yang kakak pegang,sekarang logikanya orang berbuat hal seperti itu tidak mungkin bergaya seperti itu,lihat dengan jelas disini kak Piter terpejam bersama mu lalu yang memotret kalian ini siapa?berarti orang lain kan?berarti ada orang lain di kamar itu untuk sengaja mengambil foto kalian berdua kan?"
"Kau buat kak Piter tidak sadar dan mengambil foto bersamanya di tempat tidur hebat betul kak ide mu tidak sekalian saja kau buat skenario film drama heeh"Jingga tertawa meledek.
Perkataan Jingga sungguh membuat Sandra terpojok.
Piter sendiri pun tidak menyangka kalau Jingga bisa berfikir sejauh itu.
"Setelah ini kau mau menjebak kak Piter dengan apa lagi dengan pura-pura hamil agar kak Piter menikahi mu begitu?hadeuh kakak...itu cerita kuno kayanya kakak ini kebanyakan nonton drama televisi nih"
Al yang ada disana mendengar hal itu langsung bengong Jingga benar-benar diluar dugaan.
"Dan satu hal lagi aku pun tahu kalau kakak lah yang menyuruh orang mengantarkan paket berisi ular kepada ku"
Perkataan Jingga sungguh membuat Sandra benar-benar seperti tersambar petir.tangan Sandra mulai gemetar ketakutan melihat adik sepupunya ini sangatlah cerdas.
__ADS_1
"Kau tahu dari mana kalau dia yang menyuruh orang mengirim paket itu?"tanya Al penasaran.
"Aku memeriksa cctv komplek ku lihat mobil dia berada di komplek saat hari kejadian tapi hari itu dia tidak berkunjung ke rumah kak Piter,bakhan aku melihat dia berbicara dengan orang yang membawakan paket itu ke rumah itu bisa jadi barang bukti kejahatan loh kak,tapi aku tidak mau mengusutnya"
"Kau ini jangan bicara sembarangan"Sandra masih membela dirinya
"Kau bisa aku laporkan ke sekolah mu kalau kau itu tinggal satu atap dengan seorang pria yang bukan suami mu"Sandra tidak mau kalah.
"Ya...laporkan saja paling aku di keluarkan dsri sekolah tinggal cari lagi sekolah yang lain apa susahnya"
"Anak ini...pandai sekali kau bicara"Sandra geram ingin rasanya dia memukul Jingga tapi dia pasti kalah juga karena Jingga bisa judo.
"Piter kenapa sejak tadi kau diam saja anak ini sudah keterlaluan"Sandra sekarang mengomel pada Piter.
"Keluarlah Sandra aku tidak ingin melihat wajah mu lagi keluar!!!"Piter berteriak di akhir kalimat.
"Sudah habis kesabaran ku menghadapi sikap mu yang licik itu kali ini aku benar-benar tidak bisa memaafkan mu meski pun kau berlutut di kaki ku,Al bawa dia keluar"Piter benar-benar marah Al tahu itu dia lalu menyeret Sandra dengan paksa keluar dari ruangan.
Jingga kembali kemejanya dan mulai bekerja,Piter melihat ke arahnya dia lalu menghampirinya,Jingga sempat melihat ke arahnya tapi kemudian dia fokus kembali mengetik lap topnya.
"Kenapa adik tidak bilang kalau adik sudah tahu siapa yang menyerang adik waktu itu?"tanya Piter lembut.
"Bukankah kakak juga sudah tahu tak lama setelah aku keluar dari rumah sakit?lalu kenapa kakak tidak mengurusnya lagi?"Jingga tetap mengetik.
Piter terdiam.
"Karena kakak masih mencintainya kan?kakak tidak tega memasukannya ke penjara ya kan?"tebak Jingga.
"Bukan itu dik...aku menunggu dia mengakuinya sendiri hingga ada barang bukti yang kuat untuk memasukannya ke penjara"
"Maling mana ada yang mau mengaku kak,mana ada orang mengungkapkan kejahatannya sendiri"Jingga menghentikan jari-jarinya yang tadi mengetik dan menatap Piter tajam.
Entah kenapa akhir-akhir ini tatapan matanya semakin dewasa,tidak sepolos dulu.ada apa dengannya.
...*************...
__ADS_1