
"Pergi kencan dengan ku"kata Piter tiba-tiba.
"Ke...kencan?"jawab Jingga ragu.
"Tidak mau tidak ada tanda tangan"ancam Piter.
Orang ini selalu begitu seenaknya sendiri.
Jingga kesal dalam hati.
"Besok sore aku akan menjemput mu di rumah mu bersiaplah"
"Tapi aku harus latihan judo kak".
"Kau bisa latihan bersama ku,bukan kah pelatih mu itu aku kan?"
Aah iya juga sih tapi kenapa dia seenaknya saja sih...kencan hadoh...dia tidak akan melakukan tindakan yang aneh kan?
keluh Jingga.
Menjelang sore Piter mengantar Jingga pulang dengan mengendarai motor Pluto.
"Kak...antar aku sampai depan gang saja"kata Jingga sebelum naik ke atas motor.
"Kenapa?"tanya Piter bingung.
"Kemarin nenek marah saat kakak mengantar ku pulang"kata Jingga ragu.
"Kenapa marah apa nenek mu tidak menyukai ku?"Piter penasaran.
"Bukan begitu kata nenek tidak pantas karena kakak sudah bukan calon suami ku lagi"Jingga sempat ragu menyampaikan maksudnya.
"Aku akan bilang pada nenek dan kakek mu kau memang bukan calon istri ku lagi,tapi..."Piter tidak melanjutkan kata-katanya.
"Naiklah nanti keburu malam"Kata Piter tiba-tiba.
Jingga pun menurut naik di boncengan motor.
...***...
__ADS_1
Piter terpingkal-pingkal hingga menitikan air mata di ujung matanya,sementara Jingga kesal melihat tingkah Piter yang mentertawakannya.Jingga cemberut wajahnya di tekuk kusut seperti koran lusuh.
Kejadian sebelum ini.
Sore itu Piter menjemput Jingga dia menunggunya di ujung gang sempit itu,dia menuruti apa mau gadis itu untuk tidak menjemputnya di rumahnya,tapi menunggunya di ujung gang rumahnya.
Sore itu Piter mengendarai motor gedenya,Jingga pun naik di boncengan Piter dan pasrah Piter akan membawanya kemana.
Piter melajukan motornya dengan kecepatan standar,dia membawa motor tersebut ke taman bermain.
Jingga tak menyangka kalau Piter akan membawanya ke taman beramain.
Dia membawa ku kesini?apa tidak salah ku fikir pria dewasa itu kalau kencan tidak akan mengajak kekasihnya ke tempat seperti ini.ah aku lupa aku kan bukan kekasihnya sekarang,aku hanya bahan mainannya saja hehe.
Piter membeli tiket masuk dan mengajak Jingga masuk kedalam arena bermain,Piter mengajak Jingga ke suatu permainan yang memacu andrenalin,dari permainan satu ke permainan lain,setiap wahana yang ia taiki semuanya membuatnya teriak histeris,tapi itu membuatnya merasa lega.
Dan kali ini Piter mengajaknya ke sebuah wahana bukan untuk menguji andrenalin lagi tapi menguji keberanian,wahana rumah hantu.
Jingga sudah mengkerut ketakutan saat berada di depan pintu masuk wahana tersebut,Piter menarik tangan Jingga hingga langkah kakinya terseret,Piter sudah membaca fikiran Jingga saat dia melewati rumah hantu tersebut itu pasti tempat yang paling tidak ingin dia masuki.
Piter sengaja melakukan itu pada Jingga entah kenapa rasa isengnya pada Jingga benar-benar membuatnya sangat senang.
Jingga memeluk lengan Piter saat masuk ke dalam rumah hantu tersebut,musik yang menegangkan dan menakutkan membuat Jingga semakin memepererat pelukan tangannya.sesekali dia berteriak histeris ketika melihat sosok hantu yang muncul tiba-tiba di iringi musik yang tegang dan mencekam.
Piter yang melihat reaksi Jingga menahan tawanya setiap kali Jingga menyembunyikan wajahnya di pelukannya,berteriak dan memeluknya lagi,lagi dan lagi hingga mereka sampai di pintu keluar.
Saat sudah di luar Piter baru melepaskan tawanya,Piter tertawa terpingkal mengingat kejadian di dalam rumah hantu tersebut.
Jingga yang kesal lalu memukul bahu Piter yang besar hingga Piter merasakan sakit dan mengaduh saat di pukul Jingga.
"Kakak tega sekali aku kan takut,kakak sengaja ya mau menakuti ku,nanti malam aku pasti tidak bisa tidur nyenyak hiiiiih" Jingga mencubit perut Piter.
Tapi Piter tidak marah sama sekali dia malah tersenyum melihat wajah Jingga yang menurutnya sangat imut.
"Oke...karena hari ini kau telah membuat ku senang aku akan menandatangani jurnal mu"
Jingga langsung mengeluarkan jurnal PKLnya dari dalam tasnya.
"Astaga kau sudah mempersiapkan ini rupanya ckck"
__ADS_1
Piter pun menepati janjinya dia menandatangani jurnal PKL Jingga.
Jingga tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya.
Piter mengelus kepala Jingga dengan lembut,dia tersenyum pada Jingga.
"Aku akan menunggu mu"kata Piter tiba-tiba.
Jingga yang mendengar hal itu bingung.
"Apa maksud kakak?"tanya Jingga bingung.
"Sudah jangan di fikirkan fokus dengan ujian mu dan pertandingan judo yang akan di adakan nanti di luar kota oke...berjanjilah kau akan melakukan yang terbaik di pertandingan meski aku tidak bisa mendampingi mu saat pertandingan"Piter mengangakat jari kelingkingnya agar Jingga mengaitkan jari kelingkingnya pada Piter sebagai perjanjian di antara mereka.
"Janji aku akan berusaha sebaik mungkin dan menjadi kebanggaan kakak"Jingga mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Piter.
Piter tersenyum mendengar janji yang di utarakan Jingga.
selesai puas bermain di taman bermain mereka pun pulang bersama rencananya mereka akan langsung latihan judo di klub tapi tiba-tiba hujan turun deras sedangkan Piter mengandarai motor dan tidak membawa mobilnya.
Akhirnya mereka berteduh di sebuah halte bus di pinggir jalan.mereka berdua duduk disana dan entah kenapa hari itu tidak ada seorang pun yang menunggu bus disana bahkan tidak ada seorang pun yang berteduh seperti mereka berdua.
Hujan deras bersama angin yang kencang terasa cukup menusuk kulit Jingga dia gemetar kedinginan,Piter yang melihat itu langsung melapaskan jaket yang di gunakannya.
"Tidak usah kak nanti kakak kedinginan dan sakit"Jingga menolak saat Piter ingin memakaikan jaketnya.
"Pakailah aku tidak akan sakit hanya karena hujan begini"kata Piter meyakinkan.
"Ooo ya...buktinya waktu itu kakak deman saat hujan-hujanan di halaman rumah"Jingga mengingatkan kejadian tempo hari.
"Hei...waktu itu aku hujan-hujanan dan tidak berteduh berbeda dengan sekarang ini bodoh"Piter langsung memakaikan Jaketnya pada Jingga.
Bisa tidak sih orang ini tidak mengatai ku bodoh.
Jingga kesal tapi dia merasa nyaman di sisi Piter entah kenapa walau Piter sering marah-marah padanya tapi dia merasa nyaman bila di sisinya.
Cinta...Jingga memang sadar dia sudah mulai mencintai Piter tapi dia berfikir Piter tidak menginginkannya lebih dari sekedar pelipur laranya saja.
Tetesan hujan pun berhenti,Piter langsung mengajak Jingga pulang kerumahnya,dia tidak mengajaknya latihan malam ini karena malam sudah cukup larut.
__ADS_1
Piter mengantar Jingga sampai di depan gang sempit itu,Jingga mengucapkan terima kasih pada Piter,tapi dia lupa mengambalikan jaket yang dia gunakan.
...****************...