
Satu bulan kemudian.
Hari ini adalah hari uji kopetensi di sekolah Jingga,hari dimana Jingga dan kawan-kawannya di uji setelah melaksanakan PKL,ada beberapa orang dari perhsahaan tempat mereka melaksanakan PKL yang di undang untuk menguji langsung para peserta PKL.
Sebagian murid tegang menghadapi ujian ini,tapi tidak dengan Jingga dia berfikir tidak perlu setegang itu lah toh hanya memberikan jawaban sesuai dengan apa yang kita laporkan saja.
"Eh...Ji katanya orang dari tempat mu PKL juga di undang ke sini ya buat nguji kita?"tanya Anita.
"Ooo paling pak Danil yang dateng"jawab Jingga santai sambil merapihkan pakaiannya dan jaket almamater sekolahnya.
"Bukan dia?"goda Anita.
"Nggak mungkin dia lah Nit akhir-akhir ini tuh orang sibuk,gue ajah jarang di latih sama dia sekarang"kata Jingga.
"Iya...juga sih"Anita terlihat seperti berfikir.
"Eh...ada apa tuh kok kayanya rame banget"lanjut Anita yang melihat keluar kelas.
Jingga tidak memperdulikan dia fokus membaca laporannya,agar dia tidak melakukan kesalahan dalam ujiannya nanti.
"Ji...ya...ampun Ji..."Anita berteriak histeris hingga membuat Jingga terkejut.
"Apaan sih lu heboh banget"Jingga bingung.
"Itu...itu..."Anita menunjuk-nunjuk keluar kelas.
"Apaan itu...itu?"Jingga semakin bingung.
"Sini mangkanya elu"Anita menarik tangan Jingga dari kursinya.
Anita membawanya keluar kelas dan menunjukan apa yang dia lihat.
"Ya...ampun"Jingga langsung terpaku di depan pintu kelas melihat apa yang terjadi di area parkir sekolah.
Jingga berlari ke kamar mandi dan di kejar oleh Anita,Jingga masuk kedalam toilet dan duduk di atas closet duduk.
Kenapa orang itu ada disini sih...gimana kalau dia yang menguji aku hadoooh pasti dia nanya yang aneh-aneh dan bikin aku nggak lulus ujian.
Jingga frustasi.
"Ji...ji...elu nggak apa-apa?"Anita khawatir.
Jingga membuka pintu toilet.
"Nit...gimana ini dia disini dia pasti cari gara-gara deh sama gue"Jingga cemas.
"Nggak usah cemas begitu sih Ji...elu kaya bukan elu deh ih..."
__ADS_1
"Ahhh elu nggak tau betapa menyeramkannya orang itu kalo bertindak arghhh kenapa sih sekolah kita harus kerja sama sama perusahaan dia"Jingga sters sendiri.
Di ruang guru.
"Selamat datang tuan Jupiter,suatu ke hormatan anda mau memenuhi undangan dari sekolah kami"sapa kepala sekolah dan mengulurkan tangannya pada Piter untuk berjabat tangan.
Piter menjabat tangan kepala sekolah tapi hanya diam tak bergeming dia lalu duduk di sofa,pak Danil dan Al yang mendampingi Piter mereka lah yang tersenyum pada kepala sekolah.
Dimana dia apa dia tahu kedatangan ku.
Piter hanya memikirkan Jingga,dan tujuan dia datang kesini juga hanya untuk menguji Jingga bukan yang lainnya.
Semua siswi yang melihat kedatangan Piter sangat antusias beberapa ada yang mengenali sosok Piter karena suka melihatnya menjemput Jingga di depan sekolah dengan motor gedenya.
"Eh...bukannya itu yang suka jemput Jingga kalau pulang sekolah ya?"
"Iya...bener dia yang suka antar jemput Jingga kesekolah"
"Siapa sih dia?"
"Nggak tahu"
"Ada hubungan apa ya sama Jingga?"
Dan desas desus yang lainnya.
Satu persatu teman-teman Jingga sudah melewati ujian,dan kini giliran Jingga.
Saat Jingga masuk kedalam aula dirinya tidak melihat keberadaan Piter dia hanya melihat pak Danil,Jingga sudah merasa lega,tapi tiba-tiba ada derap langkah kaki dari belakang Jingga dua orang laki-laki mengenakan pakaian kantor lengkap dengan jasnya berjalan menuju bangku tim penguji.
Ah...sial dia pasti sengaja kan.
Wajah Jingga sudah terlihat kesal manatap Piter.
Piter pura-pura cuek tapi dalam hatinya ingin sekali dia mencubit pipi gadis itu karena gemas,melihat ekspresi wajah Jingga.
Ujian pun di mulai beberapa pertanyaan di ajukan dari guru Jingga,dan Jingga bisa menjawabnya dengan lancar.
Dan tiba giliran Piter mengajukan pertanyaannya beberpa pertanyaan yang di ajukannya di luar dari laporan Jingga tapi Jingga bisa menjawabnya,bahkan Piter menggunakan beberapa bahasa asing untuk bertanya pada Jingga dan di jawab dengan lancar dan lugas oleh Jingga.hingga guru-guru Jingga pun terperanga dengan jawaban Jingga.
Hebat...aku nggak nyangka otaknya yang sebesar biji kacang hijau itu bisa membuatnya secerdas ini.
"Pertanyaan terakhir,apa kamu mau bergabung dengan perusahaan kami setelah kamu lulus sekolah"kata Piter.
"Hah...apa?"Jingga terkejut mendengar pertanyaan yang di ajukan Piter.
Guru-guru Jingga melihat bangga pada Jingga saat mendengar Piter berkata seperti itu.
__ADS_1
Jelas kau meminta dia bergabung dengan perusahaan kita kau tak ingin dia kemana-mana kan Pit...dasar licik.
keluah Al.
Piter menunggu jawaban Jingga.
Jawab iya....iya mau gitu dik.
harapan Piter.
"Boleh saya memikirkannya dulu Tuan"kata Jingga ragu.
"Berfikir terlalu lama bisa membuang kesempatan untuk mu"kata Piter dingin.
Nah...ini nih begini nih...nyebelinnya...
"kalau boleh saya bertanya akan di tempatkan di mana posisi saya nantinya bila saya mau bergabung dengan perusahaan tuan?"Jingga bertanya balik.
"Seperti kemarin kamu melakukan PKL menjadi staf di dalam kantor saya"Piter masih dingin.
Ya...iya lah...mau di mana lagi di tempatinnya.
Fikir Al.
Nah...kan gitu kan pasti maunya orang ini apa sih sebenarnya.
Para guru sangat antusias dan bangga pada Jingga karena presedir perusahaan langsung meminta muridnya bekerja di perusahaannya.
"Pantas dia langsung ingin menguji Jingga ternyata dia melihat Jingga berkompeten saat dia PKL disana"fikir gurunya.
Padahal bukan itu bu...maksud presedir yang satu ini,untuk kompeten memang Jingga oke,tapi maksud terselebung dari niatan Jupiter itu agar Jingga tetap selalu bersamanya so sweet....
"Baiklah saya mau"kata Jingga tersenyum pasrah.dia ingin ujian ini segera berakhir.
Bayangan Piter langsung terbang ke angkasa mendengar jawaban Jingga.
"Baiklah saya rasa cukup saya masih ada meeting di luar"kata Piter sambil melihat jam tangannya.
Piter berdiri dari kursinya dan semua guru pun ikut berdiri dan berterima kasih atas kedatangannya,Piter berjalan dan berhenti di depan Jingga menatap wajah gadis itu yang tertuduk hormat.
Tiba-tiba Piter mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan gadis itu.Jingga langsung mendengakan kepalanya saat melihat tangan Piter berhenti di udara.
Jingga menjabat tangan Piter dia tersenyum manis pada Piter,dan Piter pun tesenyum padanya membuat orang-orang yang melihat hal itu menutup mulut mereka.
"Astaga dia tersenyum pada anak murid kita ki fikir dia tidak bisa tersenyum karena sedari tadi tampangnya begitu dingin"fikir guru Jingga.
...*****************...
__ADS_1