Jingga Di Hati Jupiter

Jingga Di Hati Jupiter
Bab 50


__ADS_3

Saat di rumah Jingga langsung masuk kedalam kamarnya,nenek dan kakeknya hanya menatap punggungnya,Jingga tidak berbicara sepatah kata pun sejak di dalam mobil tadi.


"Anak itu benar-benar terpukul sepertinya kek"


"Iya biarkan dia sendiri dulu"kakek pun duduk di kursi di ruang tamu rumah.


Kakek sebenarnya menyasal karena ini semua adalah kesalahannya,menjodohkan cucunya.


"Seharusnya aku tidak perlu membuat janji perjodohan seperti ini dengan sahabat ku,bila ini tidak terjadi mungkin Ji tidak akan sedih seperti ini,maafkan kakek Ji..."Kakek bersedih dan nenek hanya mengelus punggung kakek mencoba menguatkan.


Di dalam kamar Jingga bersandar di balik pintu dan menyeret dirinya hingga dirinya terduduk di balik pintu dia menekuk lututnya menundukan kepalanya menyandarkan kepalanya di atas lutut.tubuhnya bergetar dirinya menangis.


Baru pertama kali dia mengenal cinta,dirinya tidak pernah membuka hatinya untuk pria mana pun,dan saat dirinya membuka hati itu adalah dengan seseorang yang akan menjadi calon suaminya,tapi ketika dirinya jatuh cinta pada Piter kenapa semua kenyataan pahit ini harus terungkap,kenyataan kalau dirinya hanya pengganti kakak sepupunya.


kenapa rasanya sakit sekali...kenapa dada ini sakit sekali,bukan kah seharusnya aku senang karena memang sejak awal aku tidak mengingikan ini semua,tapi kenapa aku sangat bersedih,seperti ini kah cinta,kenapa aku harus jatuh cinta padanya,bila aku tidak jatuh cinta padanya mungkin rasanya tidak akan sesakit ini ya...hiks...


Ke esokan paginya kaki Jingga sepertinya berat untuk melangkahkan kaki menuju tempat PKLnya.walau hari ini adalah hari terakhirnya PKL di sana tapi rasanya berat sekali untuk berangkat dirinya benar-benar malas bertemu Piter.


Tapi dia akhirnya menyemangati dirinya sediri agar tetap semangat walau dalam kondisi apa pun.


"Semangat Jingga semangat"saat dirinya menaiki sepedanya."Nek...Ji...bersngkat dulu"teriak Jingga dari pekarangan rumah.


"Ya...hati-hati lah"teriak nenek dari dalam rumah.


Jingga mengayuh sepedanya sampai ke perkantoran,dirinya langsung masuk dan menuju ruangan Piter,dirinya sempat mengatur nafas saat memegang handle pintu.


Jingga membuka Pintu dilihat Piter belum ada di tempatnya.


Dia belum datang rupanya.


Jingga menaruh tasnya di mejanya,kemudian dia keluar dari ruangan Piter dengan membawa jurnal PKLnya,dia turun kebawah untuk menemui teman-teman sekolahnya dan pak Dani.


Tak lama Jingga menaiki lift,lift yang berada disebelahnya terbuka Piter dan Al keluar dari dalam lift tersebut.


Di area parkir Piter sempat melihat sepeda Jingga sudah terparkir,Piter masuk kedalam ruangannya bersama Al tapi dirinya tidak mendapati Jingga disana dia hanya melihat tas ransel anak itu.


"Kemana dia?"gumamnya.


Piter duduk di kursi kerjanya dan Al menerangkan pekerjaan hari ini.


Agak lama mereka berada di dalam ruangan Piter,tak lama Jingga datang,sebenarnya mulut Piter ingin menegurnya tapi entah kenapa hari ini gengsinya meninggi dia lebih memilih diam dan tak bicara dengan Jingga.


"Pak..."Jingga tiba-tiba bicara di depan Al dan Piter.

__ADS_1


"Ya..."Al menjawab dan Piter hanya diam saja.


"Begini hari ini saya terakhir PKL di sini,dan ini jurnal kegiatan saya selama saya menjalani PKL disini,tadi saya meminta tanda tangan pak Dani tapi dia tidak berani menandatangainya karena saya di tempatkan langsung disini katanya butuh persetujuan Pak Piter dulu"


"Bos..."Al menoleh pada Piter yang wajahnya tanpa ekspresi,Piter kembali dingin seperti sebelum bertemu Jingga.


"Taruh saja di meja"kata Piter dingin dia lalu berdiri dari kursinya.


"Eh...Bapak mau kemana?"Jingga bingung. setelah dia menaruh jurnal kegiatan PKLnya Piter malah berdiri bukan menandatangani.


"Siapa yang kamu panggil bapak?"Piter mendekati Jingga dengan nada suara kesal.


Jingga mundur selangkah ketika Piter mendekatinya,Jingga menunjuk dada Piter mengisyaratkan kalau dirinya lah yang di sebut bapak oleh Jingga.


"Bukan kah sudah sering aku peringatkan kamu kalau aku paling tidak suka di panggil bapak"Piter sewot.


Akhirnya kebiasaannya keluar juga,dirinya tidak bisa menahan diri karena ada saja yang Jingga perbuat hingga membuat dirinya akhirnya berbicara walau awalnya dia bertekad untuk tidak berbicara dengan anak ini,tapi entah kenapa Jingga bisa memancingnya untuk berbicara dengannya.


"Eh...iya...iya...maaf bos"Jingga menciut melihat kemarahan di wajah Piter


Piter lalu berbalik badan dan akan meninggalkan Jingga.


"Tapi bos akan kemana kenapa jurnal ku belum dintanda tangani?"tanya Jingga hingga menghentikan langkah kaki Piter.


"Hei...kau fikir aku itu tidak punya pekerjaan apa,dan hanya mengurus jurnal mu yang tidak penting itu"Poter sewot.


"Ah...tidak penting"Piter mengacuhkan Jingga.


Tapi Jingga tiba-tiba berlari ke arahnya dan menarik ujung jasnya.


"Bos aku mohon tanda tangan sebentar saja"Jingga mengiba.


Akh...kenapa wajahnya menyebalkan begini sih,menyebalkan tapi manis aku suka akh...Piter apa sih yang ada di fikiran mu.


Piter bertarung dengan isi hatinya sendiri.


"Ya...ya...nanti aku tanda tangani setelah aku selesai meeting di luar kau bekerja seperti biasa saja dulu"Piter akhirnya kalah dengan egonya.


"Terima kasih bos..."Jingga tersenyum.


Aaarghh sial kenapa dia harus memasang senyuman ini sih...


Piter memalingkan wajahnya dari Jingga dan segera keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Al yang melihat gelagat sahabatnya menahan tawanya.


"Jangan tertawa"Piter ketus.


"Iya bos"tapi tetap tidak bisa menahan tawa.


di dalam lift.Piter mengomel pada Al untuk tidak mentertawakan dirinya.tapi semakin di larang tawa itu malah semakin menjadi.


"Pit...sudahlah jangan sok jual mahal begitu,tetap nggak bisa kan kalau mendengar dia merengek dan melihat dia tersenyum ceria begitu?"ledek Al.


"Apaan sih"Piter masih tidak mau mengakui.


Al hanya menggelengkan kepalanya saja.


Piter akhirnya pergi bersama Al menuju tempat meeting.


Sementara itu Jingga bekerja seperti biasa di ruangan Piter,dan dia terus bekerja sampai sore tiba.


Jingga menyelesaikan pekerjaannya,tapi Piter masih belum kembali dari tempat meeting.Jingga sabar menunggu karena hari ini hari terakhirnya PKL disini dan jurnal PKLnya belum di tanda tangani oleh Piter,dia menunggu Piter untuk menandatanganinya.Hingga langit menjadi gelap Piter belum kembali juga.


Jingga duduk di sofa sambil menunggu Piter dia mengambil jurnal kegiatannya di meja Piter dan memeluknya,malam semakin larut tapi Piter masih belum kembali ke kantor,hingga Jingga akhirnya tertidur di sofa sambil memeluk buku jurnalnya.


Ponsel Piter berdering di lihat layar ponsel kakeknya menelpon langsung dia angkatnya.


"Piter apa kamu bersama Jingga,kakeknya menelpon tadi Jingga belum pulang ke rumah,dia sudah menelpon teman-teman sekolahnya tapi mereka tidak tahu keberadaan Jingga,ponselnya juga tidak bisa di hubungi".


"Tidak kek aku tidak bersamanya"kata Piter.


Dan dia baru teringat jurnal kegiatan PKL Jingga.


"Senentar kek sepertinya aku tahu dimana anak itu"kata Piter.


"Bila kau bertemu dengannya antar dia pulang ini sudah terlalu malam soalnya"


"Iya...kek"


Panggilan telpon pun berakhir.


Piter mengecek cctv di ruangannya yang terhubung dengan ponselnya di lihatnya benar saja Jingga masih berada di ruangannya.


"Anak itu benar-benar"Piter kesal.


"Al...kita ke kantor dulu Jingga masih di kantor"

__ADS_1


Al akhirnya memutar arah mobil ke arah kantor,yang awal rencana ingin langsung pulang ke rumah malah balik ke kantor lagi karena Jingga.


...************...


__ADS_2