
Selesai melakukan pekerjaannya Jingga berganti pakaiannya,dia lalu memakai jaketnya dan mengenakan sepatu ketsnya menggendong tas ranselnya dan berjalan keluar restoran.
Dirinya tak sadar kalau Piter menunggunya di area parkir restoran.Jingga berjalan santai tanpa memikirkan apa pun.
Kruk...kruk...
Perut Jingga berbunyi.
"Aduh aku lapar,dari tadi siang belum makan"Jingga memegangi perutnya.
Tiba-tiba dia melihat pedagang jangung rebus dia pun membeli jagung tersebut dan memakannya di pinggir jalan.
"Lapar?"tanya Piter tiba-tiba.
Jingga menatap malas pada Piter,tapi Piter tidak menghiraukannya dia malah duduk di samping Jingga tapi Jingga berusaha cuek dan tetap menggarot jangung rebus tersebut.
Piter tersenyum melihat Jingga,Jingga yang melihat itu langsung menyodorkan jangung rebus yang lain,Piter tertawa kecil melihat,wajah polos Jingga.
"Kata mu tadi kau sudah kenyang dan tidak mau makan"tanya Piter.
"Pak...maaf bila tadi saya menolak kebaikan anda,tapi apa etis saya makan dengan anda saat anda sedang berkencan tidak kan?"kata Jingga lembut.
"Hemf...kau benar-benar bertambah dewasa"
"Siapa?aku?memanganya anda mengenal aku?"
"Mau sampai kapan kau pura-pura dik?"
"Apa sih maksud anda aku semakin tidak mengerti"Jingga berusaha menutupi jati dirinya yang sebenarnya.
"Jingga kenapa kau seperti ini dik?"tanya Piter lirih.
"Jingga?siapa itu pak nama ku Edel bukan Jingga"
"Sudah lah dik aku tahu kau itu Jingga bukan Edel dik...kemana saja kau selama ini"
"Apaan sih tuan Piter sepertinya anda salah faham,sudah ya...tuan aku jadi tidak selera makan lagi dan ingin segera tidur,sudah ya tuan bye"Jingga berusaha lari dari hadapan Piter tapi Piter mengejarnya.
"Ya ampun...kenapa dia malah ngejar aku sih...bisa kacau nih kalau indentitas asli gue kebongkar sekarang"Gumam Jingga sambil berlari menghindari Piter.
Jingga berlari cepat langkah larinya memang lebih cepat dari sebelumnya karena dia terbiasa di latih oleh Go dan kawan-kawannya untuk berlari lebih cepat karena untuk menghindari musuh dan mengejar musuh.
Jingga pun berhasil menghindari Piter.
"Huft...akhirnya lolos juga,hadeuh...kalau begini apa aku mengundurkan diri saja ya dari misi ini buat menghindari kak Piter"
Jingga langsung menghubungi Go tapi Go sulit di hubunginya.
"Apa dia sedang menjalani misi juga ya?"Fikir Jingga.
"Hadeuh...kalau dia sedang ada misi mana bisa aku hubungi dia untuk membatalkan misi pasti tidak bisa dan hiih aku harus mau nggak mau nerusin misi ini semoga kak Piter nggak curiga lagi deh"
__ADS_1
Hanya itu harapan Jingga.
Hari terus berlalu sudah tiga hari sejak kejadian itu,dan dalam tiga hari itu Piter dan Jingga masih belum bertemu kembali dan Jingga dengan tenang menjalani misinya.
Tapi siang ini Piter berkunjung ke restoran Ranus bersama Al dan juga Yuki,dan Edel seperti biasa melayani.
"Selamat siang Tuan ini menu restoran kami"Edel memberikan buku menu ke meja yang di duduki Piter,Al dan Yuki.
Yuki yang mendengar Edel berbicara langsung bangkit dari kursinya.
"Nona..."Yuki memanggil Edel dengan panggilan kesayangannya.
Jingga yang melihat Yuki sebenarnya ingin memeluk pelatihnya itu tapi dia menahan dirinya karena dia tidak mungkin membongkar penyamarannya disini.
Yuki langsung memeluk tubuh Jingga.
"Nona...benar kau nona kami,aku sangat mengenal suara mu,berarti benar empat tahun yang lalu yang kudengar itu adalah suara mu kau Jingga murid kesayangan ku"Yuki berkata dan masih memeluk tubuh Jingga.
Sensei...maafkan aku.
Jingga merasa bersalah pada Yuki.
"Yuki...kau salah dia bukan Jingga dia Edel"kata Piter.
"Edel?ah...iya kau murid akademi detectiv di kota sebelah kan?ya aku ingat kau"kata Yuki yang membuat Piter dan Jingga tercengang.
"Apa?kau tahu tempat dia bersekolah?"tanya Piter.
"Aku sering berkunjung kesana dan sempat bertemu dengan mu hanya saja beberapa tahun ini aku pindah kembali kesini dan tidak pernah melihat mu lagi"jelas Yuki.
"Yuki duduklah dan ku mohon jangan bahas tentang dirinya lagi,kita kesini untuk makan kan?"kata Piter yang berubah menjadi dingin.
"Baiklah Tuan muda"Yuki menurut.
Edel pun mencatat pesanan Piter dan membawa catatan itu ke dapur.
Piter terdiam di meja entah apa rencananya lagi,tapi kali ini dia benar-benar mempunyai ide untuk mengorek dan mencari tahu siapa sebenarnya Edel,benarkah dia itu Jingga atau hanya kebetulan saja mereka memiliki kemiripan.
Hari terus berlalu tak terasa seminggu sudah sejak kejadian itu malam ini Piter menunggu Jingga di area parkir restoran,saat dia melihat Edel keluar dari restoran dirinya langsung menghentikan langkah Edel.
"Edel...bisa kita bicara?"tanya Piter.
Edel menoleh ke arahnya.
"Maaf tuan sepertinya tidak perlu ada yang kita bicarakan"Edel mengelak.
"Sebentar saja ku mohon"Piter memohon.
Edel menghela nafas dan akhirnya menuruti Piter dia akhirnya naik dan masuk kedalam mobil Piter,dan Piter membawanya ke sebuah pantai tempat mereka selalu menghabiskan waktu bersama.
Piter duduk di atas pasir putih itu berdampingan dengan Edel.
__ADS_1
Deru ombak terdengar jelas karena hari yang sudah semakin larut hingga suara ombak tersengar semakin jelas,angin laut yang berhembus pun semakin terasa menusuk pori-pori kulit mereka berdua.
"Siapa kau sebenarnya?"tanya Piter tiba-tiba.
Edel terdiam dan membiarkan angin pantai menghembus wajahnya dan menerbangkan rambutnya yang kurang panjang.
"Edel...jawab aku jujur aku janji setelah ini aku tidak akan mengganggu mu lagi,tapi ku mohon jawab aku dengan jujur dan berikan alasan yang tepat hingga aku benar-benar menjauh dari mu"Piter berkata sudah seperti memohon pada Edel.
Edel menatap Piter matanya menatap mata Piter yang terlihat sendu.
"Aku Edel aku adalah seorang detectiv dari tim khusus,aku di kirim seseorang untuk mengawasi adik mu Uranus"
"Apa?mengawasi Ranus siapa mengapa dia harus di awasi apa adik ku terlibat kriminal?"tanya Piter cemas.
"Hehe bukan Tuan adik anda baik-baik saja hanya saja ada seorang putri konglongmerat di kota ini yang diam-diam mencintai adik anda,karena adik anda sangat dingin dan sulit di dekati orang itu menyewa jasa ku untuk menyelediki apa saja yang bisa menarik perhatian adik anda hingga dia bisa meraih cintanya"jelas Edel.
"Hah...bisa ya seperti itu?"
"Ya...bisa ini misi kecil hehe"
"Astaga adik ku ternyata mempunyai penggemar rahasia hihi"
"Iya...dan aku rasa anda sudah tidak penasaran dengan jati diri ku,dan sebaiknya anda jangan mendekati aku karena akan berbahaya untuk anda karena aku masih jadi incaran para penjahat yang mengincar nyawa ku"
"Apa?"
"Sudah lah Tuan jangan bertanya lagi dan jangan penasaran lagi,ini semua untuk kebaikan anda sendiri"
"Kau ingin melindungi ku selama ini rupanya heh...tapi aku tidak akan melepaskan mu lagi Jingga"Piter langsung menarik tangan Jingga hingga jarak Jingga dan dirinya sangat dekat sekarang.
Piter melepaskan kaca mata yang di kenakan Jingga dan wajah Jingga terlihat jelas sekarang,dibelainya wajah itu,wajah yang sangat ia rindukan selama ini.
"Aku tahu aku yakin kau masih hidup dik...aku tahu itu kamu saat pertama mendengar suara mu merasakan sentuhan tangan mu aku tahu itu kamu dik aku tahu"Bisik Piter dan air matanya pun menetes di pipinya.
"Jauhi aku kak bahaya bila kau terlalu dekat dengan ku misi utama ku belum selesai kita tidak bisa bersama seperti dulu"kata Jingga lirih.
"Aku tak perduli meski pun aku mati asal itu bersama mu aku tidak takut"
"Tapi aku perduli aku takut kelihangan mu,aku takut kau mati bila berasama ku"Jingga kesal.
"Tidak akan aku yang akan melindungi mu bukan kamu yang melindungi ku dik,aku laki-laki seharusnya aku lah yang menjadi pelindung mu bukan sebaliknya"Piter bersih kukuh.
"Tapi kak"
"Tidak ada kata tapi lagi,sudah cukup Jingga lima tahun itu sangat lama dik...lama aku menantikan diri mu"
"Cukup sekarang kau tidak boleh pergi lagi,jangan pergi dari sisi ku lagi sayang ku mohon"Piter mencium tangan Jingga air matanya yang menetes membasahi punggung tangan Jingga.
Melihat itu Jingga pun meneteskan air matanya dan menyatukan kepalanya dengan kepala Piter yang menunduk.
...**************...
__ADS_1