Jingga Di Hati Jupiter

Jingga Di Hati Jupiter
Bab 47


__ADS_3

Jingga berjalan dan berhenti di tepi jalan besar,menunggu angkot yang lewat,dan ada sebuah angkot kosong lewat di hadapannya Jingga berusaha menumpang angkot tersebut.


"Bang...saya boleh numpang nggak bang?saya nggak punya ongkos"tanya Jingga polos.


"Ya...kasihan amat neng...ya udah naik di belakang tapi nanti bantu abang ya cari penumpang"kata supir angkot tersebut.


"Oh...iya bang terima kasih ya bang"Jingga pun naik dan duduk di belakang.


Mobil angkot berjalan beberapa meter dari tempat Jingga menumpang tadi dan berhenti di sebuah jalan pabrik perindustrian.


Jingga turun dari dalam angkot dan berteriak mencari penumpang,gayanya sudah seperti kenek yang sudah biasa melakukan hal tersebut setiap harinya.


Dan angkot tersebut menjadi penuh karena di jam segini orang-orang dari daerah pabrik biasanya sudah pulang bekerja.


Angkot penuh Jingga akhirnya duduk di sisi pintu angkot sambil menangih ongkos para penumpang.


"Ya...lanjut bang..."teriak Jingga ketika angkot penuh dan para penumpang sudah membayar.


Satu persatu penumpang turun dan ada juga yang naik,angkot tersebut tidak pernah sepi dengan penumpang.


Mobil angkot berjalan sudah cukup jauh dari tempat dimana Jingga menumpang tadi.


...***...


Piter kalang kabut mencari keberadaan Jingga,dia kembali lagi dan menelusuri jalan yang kira-kira di lewati Jingga.


"Kemana anak itu,apa dia membawa ongkos untuk naik kendaraan umum atau tidak,ponselnya pun tidak aktif"Piter cemas.


Piter terus menelusuri jalan yang sekiranya di lewati Jingga dan angkutan umum yang menuju ke daerah rumahnya.


Dan benar saja dia mendapati Jingga sedang berdiri di pintu mobil angkot sambil mencari punumpang.


"Apa yang anak itu lakukan apa dia sudah gila,dia menjadi kenek angkot?astaga"Piter memacu mobilnya lebih cepat dari laju angkot tersebut dan mencegat angkot tersebut hingga supir angkot mengerem mendadak.


"Woi...apa-apaan luh"supir angkot marah pada Piter saat Piter keluar dari dalam mobil.


Jingga terdiam melihat Piter berada di hadapannya sekarang.


"Hayu ikut"Piter menarik tangan Jingga.


"Woi mau elu bawa kemana kenek gua"supir angkot marah di pun turun dari dalam angkotnya.


Jingga membaca gelagat tidak baik yang akan terjadi.akhirnya dia mengeluarkan uang setoran yang ada di tasnya.


"Bang...ini ongkos penumpang tadi,terima kasih sudah kasih tumpangan"kaya Jingga sambil memberikan setumpuk uang recehan pada supir angkot.

__ADS_1


"Neng kenal orang ini?"tanya supir angkot lembut.


Jingga mengangguk.


"Dia calon istri saya"Piter nyeletuk.


"Oooo ceritanya tadi itu lagi berantem sampe misah gitu jalannya ya...ya...abang faham udah neng jangan berantem sama calon sendiri nggak baik pacar neng ini tampan loh neng nanti di ambil orang gimana nyesel loh"supir angkot dengan sok tahunya menasehati.


"Cie...ceritanya ada adegan kaya di tv drama nih"kata salah satu penumpang perempuan.


"Cie.....cie....jadi macet nih jalan apa ada suting filim ya?"ledek penumpang yang lain.


"Udah neng...baikan sama pacarnya jangan ngambek terus"penumpang yang lainnya ikut menimpali.


Jingga jadi malu.


"Ya udah bang...terima kasih ya...atas tumpangannya"Jingga pun akhirnya berjalan ke arah mobil Piter.


"Kalo nikah ngundang-ngundang ya..."teriak supir angkot.


Piter tidak menggubris perkataan sang supir dan masuk kedalam mobilnya.


"Kayanya orang kaya tuh cowonya"supir angkot pun masuk kembali ke dalam angkotnya.


"Ya jelas lah bang liat ajah penampilannya sama mobilnya tuh yang kelihatan banget mobil mewah"celetuk salah satu penumpang dari belakang angkot.


Sementara itu di dalam mobil.dua anak manusia ini hanya berdiam diri saja.


"Kenapa kau bisa menjadi kenek seperti itu?itu kan bahaya dik apa lagi kamu ini perempuan"Piter mulai mengoceh.


Jingga diam saja tidak menjawab perktaan Piter.karena fikir Jingga siapa juga yang membuatnya jadi seperti itu,itu semua kan karena dia meninggalkannya tadi sendirian saat di jalan.


"Dik...adik...Jingga"Piter mulai berteriak pada Jingga.


Jingga terperanjat dia lalu menutup telinganya karena bentakan Piter.


Kebiasaan buruk Piter yang paling di bencinya yaitu Piter suka meninggikan suaranya bila Jingga tidak menjawab pertanyaannya.


Piter kesal melihat reaksi Jingga yang menutup telinganya,dia lalu menurunkan paksa tangan Jingga yang menempel di telinganya.


Jingga kesal dan semakin kesal dengan tingkah laku Piter.


"Mau kakak itu apa sih!?"Jingga marah matanya menatap kesal pada Piter,ini kedua kalinya Piter melihat mata Jingga seperti ini sebelumnya saat dia mencium bibirnya dengan paksa dan sekarang api di mata itu berkobar lagi.


"Kakak kalau tidak suka dengan aku katakan saja,jangan seenaknya saja bersikap,kakak itu tidak pernah bicara pelan-pelan selalu marah-marah apa sih salah aku sama kakak,yang aku ingat memang aku salah karena sudah merusak kaca spion mobil kakak,tapi bukan kah aku sudah menebus kesalahan ku sama kakak dengan bekerja membantu kakak,apa masih belum cukup mengganti semua kerugian itu?terus kenapa waktu itu kakak malah merobek kertas kontrak kerja yang aku tanda tangani dan bilang aku sudah tidak perlu bekerja dengan kakak lagi!?"Jingga meluapkan emosinya.

__ADS_1


"Dik...jangan salah faham,aku tidak bermaksud seperti itu,kakak menghawatirkan mu itu saja"Piter berusaha mengontrol nadanya agar tidak terlalu keras bila di dengar Jingga.


Jingga cemberut dia memalingkan wajahnya dari Piter,dia lebih memilih melihat jalanan yang ramai di lalui kendaraan dari pada melihat wajah Piter.


"Dik...maafkan kakak"Piter meraih tangan Jingga,tapi Jingga menarik tangannya kembali.


"Aku mau pulang bila kak Piter masih betah disini aku akan turun dan menumpang angkot yang lain"kata Jingga dingin dirinya berbicara tanpa menoleh ke arah Piter.


"Baiklah"Piter akhirnya mengalah dan menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kendaraan tersebut.


Di sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam,Jingga terus menatap keluar jendela dia sama sekali tidak ingin melihat wajah Piter,sedangkan Piter sesekali menoleh ke arah Jingga yang benar-benar tidak berubah posisinya.


Dia benar-benar marah dia sama sekali tidak ingin melihat wajah ku.


Mobil pun sampai di depan gang sempit,Jingga melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.


"Terima kasih"ucapnya sebelum turun dari mobil.


Jingga menutup pintu mobil dan berlalu dari hadapan Piter,hanya terima kasih saja yang di ucapkannya,tanpa menoleh ke arahnya.


Piter melajukan mobilnya kembali dia menuju rumah Anton kembali,sesampainya dia di rumah Anton Piter langsung menjatuhkan dirinya di sofa.


"Bagaimana ketemu?"tanya Anton yang sudah menebak Piter pasti mencari Jingga.


Piter mengangguk sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Anak itu benar-benar nekat Ton...dia jadi kenek angkot tadi agar dirinya bisa sampai kerumah huft...."Piter menghembuskan nafasnya.


"Hah...jadi kenek angkot gila berani juga dia"


"Bukan berani dia nekat,kalau keberaniannya memang sudah aku akui dia itu pemberani,buktinya saja tempo hari dia menggigit telinga ku saat latihan judo di rumah"


"Apa?!menggigit telinga mu hemf"Anton menahan tawanya.


"Apa aku salah ya?apa aku berlebihan padanya?dia sepertinya tidak nyaman berada disamping ku Ton?"keluh Piter.


"Maksud mu?"Anton bingung.


"Iya...dia bilang aku itu sukanya marah-marah dan tidak pernah bicara pelan-pelan"


"Ya aku rasa kau memang terlalu berlebihan kawan padanya,jangan terlalu mengekangnya dia itu masih labil anak seusianya lebih nyaman bila di perlakukan lembut,setahu ku kau dulu lembut Pit dengan Sandra tidak sekeras dengan Jingga"


"Jangan bahas dia aku sedang membahas Jingga"Piter kesal.


"Oke...oke...apa kau takut kehilangan lagi?"tanya Anton.

__ADS_1


...*************** ...


__ADS_2