
"Dia milik ku"dengan tegas Piter mengatakan.
Go yang menyadari itu melepaskan tangan Jingga perlahan.
Ya Go menyadari bahwa di hati Jingga hanya ada Jupiter walau mereka berpisah selama lima tahun tapi nama yang mengisi hatinya tidak pernah berubah,walah Go dan Jingga selalu bersama setiap misi dan di setiap latihan di asrama tapi tetap tidak merubah pendirian Jingga.
Go melihat kepergian Jingga bersama Piter dia hanya menatap punggung keduanya dari kejauhan hingga menghilang dari pandangannya.
Entah sejak kapan perasaan Go seperti ini pada Jingga tapi dia merasakan hal yang berbeda saat pertama kali melihatnya bertanding judo saat itu di luar kota.Dia merasa Jingga berbeda dari gadis yang sering dia temui,oleh karena itu tanpa Jingga sadari Go selalu mengikuti setiap pertandingan Jingga dan menyelidiki latar belakang Jingga hingga ia menariknya ke akademi dan menjadikannya detectiv.
Jingga dan Piter mampir di sebuah food cornt,mereka berdua memesan makanan dan minuman,tapi ketika sedang duduk dan menikmati makanan di sebuah meja ada sosok yang menarik mata Jingga.
Ester dan Go sedang berjalan bersama juga disana,Go tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Jingga dan Piter.
Jingga menyapa detectiv Ester.
"Nona Ester"Sapa Jingga.
Ester pun menoleh ke arah suara yang memangilnya.
"Eh...Edel..."Ester lalu melirik ke arah Piter.
Dan Ester pun langsung melirik ke arah Go,Ester tahu benar bagaimana perasaan Go pada Jingga,walau Go tidak pernah mau mengakuinya.
"Kau...dengan?"tanya Ester ragu.
"Hehehe Iya"Jingga tersenyum.
"Kalian mau makan juga?barengan yuk?"ajak Jingga.
Setahu Jingga Ester dan Go memang sangat dekat Jingga mengira mereka ada hubungan,padahal mereka hanya bersahabat saja tidak lebih.Usia Go dan Ester itu di bawah Piter mereka baru berusia 27tahun berbeda lima tahun dari Jingga.
Ester pun bersedia bergabung dengan mereka,Go yang sebenarnya malas bergabung dengan mereka jadi terpaksa ikut bergabung karena Ester ikut bergabung.
Dalam satu meja Piter dan Go hanya terdiam tak ada obrolan apa pun yang mereka bahas.
"Aku beli minum dulu ya"kata Jingga beranjak dari kursinya.
"Kakak mau minum apa?"tanya Jingga pada Piter.
"Hemmm jus mangga kayanya enak ya dik"kata Piter sambil berfikir.
"Oh...oke sebentar ya...Tuan Go dan Nona Ester mau minum apa?apa seperti biasanya saja?"Jingga tahu menimuman kesukaan kedua orang di hadapannya ini.
"Boleh juga,kau apa Go?"tanya Ester pada Go.
"Jangan yang biasa kalau yang biasakan buatan mu kopi asin"singgung Go ketus.
Ester tertawa kecil mendengar hal itu.
__ADS_1
"Kamu masih ingat hal itu Go?"tanya Ester.
"Ya...disini kan bukan aku yang buat Tuan tapi pelayannya,atau anda memang sangat menyukai kopi asin buatan ku?" singgung Jingga.
Go hanya tersenyum kecil,Ester yang melihat itu pun ikut tersenyum.
"Sudah Ed...pesan seperti biasa saja dia memang sedikit berlebihan"kata Ester.
Dan Jingga pun segera pergi ke stand minuman yang ada disana.
"Kopi asin?"tanya Piter tiba-tiba ketika Jingga telah pergi.
"Hehe iya Tuan Piter dulu Edel iseng dengan Go memasukan garam di kopi Go ketika Go memintanya membuatkan kopi"Ester bercerita.
"Apa kau pernah di isengi dia seperti itu?"tanya Go pada Piter.
"Tidak dia selalu memasak makanan enak untuk ku"kata Piter dingin.
Dan di mulailah perang dingin antara mereka berdua.
"Apa panggilan sayangnya untuk mu?apa hanya kakak begitu?"tanya Go memancing.
"Ya...iya mau apa lagi?"Piter sudah mulai tersulut emosi.
Sementara Ester pusing sendiri berada diantara kedua lelaki yang sama-sama menyukai Jingga.
"Apa memangnya?"Piter ketus.
"Gorila gila,dia selalu memanggil ku seperti itu bila kami sedang latihan bersama"dengan bangganya Go menyebutkan itu di depan Piter.
"Heh...gorila itu julakan untuk ku sebelum kau tahu"Piter tidak mau kalah.
Ester menepuk jidatnya tidak menyangka kedua laki-laki di hadapannya ini begitu bangga dengan julukan gorila yang di berikan oleh Jingga.
"Apa?"Go tidak percaya dengan ucapan Piter.
"Ya...saat pertama kali aku melatihnya judo kata dia dia sama saja bergelut dengan gorila,telinga ku saja sampai memar beberapa hari karena di gigit olehnya"Piter membanggakan dirinya.
"Hanya di gigit aku sampai babak belur bila latihan bersamanya"Go tidak mau kalah.
"Ya...walau babak belur kau senang kan bisa menerima luka itu,kau selalu tersenyum bila Edel memukul mu secara membabi buta hahaha"Ester tiba-tiba buka suara.
"Kau yang melatihnya?"tanya Piter penasaran.
"Iya...kenapa,dia latihan bertarung dengan ku dengan tangan kosong,tak dapat ku pungkiri bakatnya bertarung memang hebat"
"Itu semua karena awalnya aku yang melatihnya dengan keras"
"Tapi kau masih kurang"
__ADS_1
Dan terjadilah tatapan tajam diantara keduanya seolah ada aliran listrik yang menyambar di antara kedua tatapan tersebut.
Ester hanya memijit dahinya dan berharap Jingga segera kembali membawa minumannya.dan tak lama Jingga pun datang membawa nampan berisi minuman.
"Ini minumannya,ini untuk kak Piter dan ini untuk Tuan dan Nona"
Piter menatap Go dengan tatapan penuh kemenangan karena Jingga mendahulukannya dari pada dia.Go kesal di buatnya.
"Apakah ini manis?"tanya Go pada Jingga.
"Nggak tahu bukan aku yang buat di coba saja"kata Jingga cuek.
"Kamu pesannya bagaimana?"tanya Go dingin.
"Ya seperti selera tuan biasanya tidak terlalu manis bukankah tuan sukanya kopi yang tidak banyak gula"jelas Jingga.
"Jadi adik selalu membuatkan kopi untuknya?"nada Piter sudah tidak enak di dengar di telinga Jingga nada yang tidak bersahabat.
Ah...nyebelin nih tuan Go pasti kak Piter salah faham deh.
Fikir Jingga.
"Jadi pelajaran mu di akademi itu hanya untuk membuatkannya kopi begitu?"Piter ketus.
Go tersenyum mendengar nada Piter menekan Jingga,dirinya merasa menang.
"Ya...bukan kak"jawab Jingga polos.
"Terus apa?kau jadi pelayan dia begitu selama lima tahun terakhir ini begitu?"Piter mulai sewot.
"Kak...bukan begitu kak,jangan salah faham,aku di akademi itu benar-benar belajar"jelas Jingga.
Brak...
Piter menggerbrak meja hingga membuat Jingga terperanjat.
"Pulang"Ajak Piter tiba-tiba.
"Hah?"Jingga bingung.
"Ayo pulang"Piter langsung menarik tangan Jingga dia bahkan belum menyentuh makanan dan minuman yang sudah di pesan tadi.
"Tapi kak kita belum makan"kata Jingga mengikuti langkah cepat Piter.
"Aku sudah tidak berselera lagi"Piter kesal.
Go hanya tersenyum sinis sambil meminum kopinya,Ester melihat itu hanya menggelengkan kepalanya saja,dia malas berkomentar.
...****************...
__ADS_1