
Piter mengajak Jingga pulang mereka pun pamit pada kakek sebelum masuk kedalam mobil.
Di dalam mobil dalam perjalanan Jingga banyak bertanya pada Piter.
"Kak...apa keluarga kakak itu semua bisa judo?"
"Iya karena kakek yang melatih kami semua"
"Ooo begitu..."
"Kenapa memangnya?"tanya Piter.
"Tidak kak tidak apa-apa"
Jingga tersenyum,Piter melihatnya juga ikut tersenyum.
"Kak...aku senang melihat kedekatan kaluarga kakak"
"Kenapa?"
"Hehe karena aku tidak pernah mempunyai saudara kandung seperti kakak"
Piter tersenyum pada Jingga,dia faham maksud Jingga yang seorang anak tunggal.
Piter pun melajukan mobilnya sampai ke rumah Jingga,Piter pun mengantar Jingga sampai ke depan pintu rumahnya dan pamit pada kakek dan nenek Jingga.
Jingga masuk kedalam kamar dia merebahkan dirinya di atas kasurnya,entah kenapa dirinya tiba-tiba tersenyum dan wajahnya merona saat mengingat dia makan di sendok yang sama dengan Piter.
"Aaaa kenapa aku jadi memikirkan dia terus sih,tapi hari ini dia tidak marah-marah pada ku,apa karena di rumah kakek nya ya?hihi"Jingga berbicara sendiri.
Ke esokan harinya di kantor Piter sedang sibuk dia meeting di ruang meeting dan meninggalkan Jingga di kantor sendirian,Jingga mengerjakan pekerjaan yang telah di berikan oleh Piter.
Sudah jam makan siang Piter masih belum kembali kenruangannya.
"Sepi juga kalau sendirian begini,apa ya yang di rasakan kak Piter saat sendirian begini?hihi kenapa aku jadi mikirin dia sih?"Jingga cekikikan sendiri sambil menatap komputer.
Ponsel Jingga berdering,ternyata temannya yang menelpon mereka menunggu Jingga makan siang di kantin.Jingga pun pergi ke kantin tak lupa dia pamit pada Indah yang tidak ikut meeting bersama Piter.dan makan siang dikantin.
"Kak...Indah Ji pamit ke kantin dulu ya...mau makan siang,kakak sudah makan belum?"
"Ooo iya...kakak belum makan sih tapi nanti saja tanggung karena bos belum kembali kakak tidak bisa meninggalkan meja sayang..."kata Indah ramah.
"Kakak mau nitip makanan?nanti Ji belikan"
"Oh...nggak usah kakak nanti bisa minta tolong sama yang lain"Indah tersenyum.
Astaga anak ini baik sekali,mana mungkin aku berani meminta kamu membelikan makanan untuk ku,kamu itu calon istri bos besar bisa kena masalah aku.
Batin Indah.
Jingga pun pergi ke kantin di sana teman-temannya menunggunya,saat sampai di kantin mereka pun mengobrol dan bertanya pada Jingga di mana dia bekerja,Jingga hanya menyebutkan dirinya bekerja di lantai atas Jingga tidak menyebutkan kalau dirinya bekerja di dalam kantor presedir,karena Jingga sendiri pun tahu kalau tidak sembarang orang bisa bekerja di lantai atas apa lagi sampai masuk ke ruangan presedir perusahaan ini.
Jingga dan kawan-kawannya pun selesai makan siang dan mereka pun kembali ke pekerjaan masing-masing.
Jingga keluar dari lift dan menuju ke ruangan Piter, Indah yang melhat Jingga langsung mencegah Jingga masuk,dia memberitahu kalau Piter sedang ada tamu.Jingga pun menunggu disamping meja Indah.
"Ji...kamu tidak perlu menunggu disini karena sepertinya bos akan lama berurusan dengan tamu yang satu ini"
__ADS_1
"Tidak apa-apa kak Ji tunggu disini saja"
"Tidak sebaiknya kamu tunggu di tempat lain saja di pantri juga tidak apa-apa"Indah berusaha menjauhi Jingga dari ruangan Piter.
Jinga jadi bingung kenapa sikap Indah seperti ini,tapi saat Jingga sedang kebingungan tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari dalam ruangan suara yang dia kenal.
"Piter...dengarkan aku dulu aku sangat mencintai mu aku tidak bisa hidup tanpa mu"teriaknya.
"Sudah lah San...hubungan kita itu sudah berakhir sejak lama,sejak kau memilih menghianati ku di belakang ku saat itu"
"Piter...."Teriak Sandra.
"Al...bawa dia keluar aku tak mau adik melihatnya"teriak Piter.
Indah yang tak bisa mengalihkan Jingga jadi gelisah sendiri.
Jingga terpaku saat mendengar pertengkaran di ruangan Piter.
Al menarik tangan Sandara dan membuka Pintu dan betapa terkejutnya dia saat melihat di balik pintu ada Jingga,dan saat pegangan tangan Al mulai melemah Sandra berlari ke arah Piter dan dia langsung memeluk Piter yang masih berdiri di depan mejanya dan dengan tidak tahu malunya dia mencium bibir Piter Al yang melihat itu langsung menutup pintu karena tidak ingin Jingga melihat kejadian itu.tapi percuma Jingga sudah melihat dan mendengar semuanya.
Jingga terdiam beberapa saat di balik pintu dan berlari ke arah atap gedung.Indah tidak bisa mencegahnya.
"Hadoooh gimana ini kenapa jadi rumyam begini sih" Indah kesal sendiri.
Piter langsung mendorong Sandra,dia tidak sadar kalau kejadian tadi di lihat oleh Jingga.Al pun langsung menarik tangan Sandra dan membawanya keluar.
Piter kesal dia langsung menjatuhkan dirinya di kursinya.setelah selesai mengurus Sandra Al bertanya pada Indah kemana Jingga.Indah menunjukan arah Jingga berlari.
Al pun menyusul Jingga di atap gedung.Al melihat Jingga duduk sendirian rambutnya yang terurai berterbangan tertiup angin.
Jingga menoleh wajahnya tanpa ekspresi.
"Sendirian saja"
"Ya...mau sama siapa, lagi pula aku terbiasa sendiri"kata-kata Jingga dingin.
"Apa kamu lihat kejadian tadi?"tanya Al ragu.
"Ya mata ku kan tidak buta"jawab Jingga ketus.
"Kamu jangan salah faham ya...Piter sudah menolaknya kok"
"Hehe aku tidak perduli dia mau menolak atau menerimanya"Jingga tertawa hambar.
Jingga bangun dari duduknya dan berjalan menuruni tangga dan kembali ke ruangan Piter.
Piter masih terduduk di kursinya.Jingga masuk tanpa berkata sepatah kata pun dan langsung duduk di meja kerjanya dia lalu mengerjakan pekerjaannya.
Piter bertanya dari mana dirinya.
"Adik dari mana?"tanyanya lembut.
"Dari kantin"Jawab Jingga singkat.
"Kamu ketemu teman-teman mu di kantin,ngobrolin apa?"
"Ngobrolin apa ya banyak yang jelas bukan ngobrolin kakak"jawabnya ketus.
__ADS_1
Piter membaca gelagat tidak beres pada tingkah Jingga,dia lalu menghampiri meja Jingga dan duduk di atas meja.
"Kamu kenapa?"tanyanya lembut.
"Tidak apa-apa"jawab Jingga singkat tanpa menoleh ke arah Piter.
Piter lalu memegang tangan Jingga agar berhenti mengetik.
"Jangan bohong"Piter sudah mulai kesal.
Jingga menarik tangannya hingga terlepas dari Piter.Piter mulai kesal dan menarik tangan Jingga paksa.
"Kamu kenapa sih!?"nada Piter mulai terdengar tidak bersahabat.
"Aku bilang aku tidak apa-apa"Jingga sewot.
Tak lama Al masuk.
"Bos...maaf bisa bicara sebentar"kata Al.
Piter langsung menuju mejanya.Al membisikan sesuatu di telinga Piter dan Piter langsung berjalan ke arah meja Jingga.
"Adik tadi di depan pintu?adik lihat semuanya?"Piter panik.
Jingga tidak menggubrisnya,dia tetap menatap layar laptopnya.
"Dik...jangan salah faham,dik...dengar kakak"bentak Piter.
"Iya...aku dengar aku tidak buta dan tidak tuli tidak usah berteriak"Jingga kesal.
Piter memgang tangan Jingga tapi di tepis olehnya.
"Jangan salah faham"Piter berusaha meyakinkan Jingga
"Siapa yang salah faham sih?"Jingga kesal dia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.
"Kamu jangan cemburu itu tidak seperti yang kamu fikirkan".
"Memangnya kakak tahu apa yang aku fikirkan?memangnya kakak bisa membaca fikiran orang?"kata-kata Jingga ketus.
Piter bingung harus menjelaskannya bagaimana.
"Dik..."
"Apa sih kak...sudah aku tidak cemburu,aku juga sebelumnya sudah pernah melihat dia mencium mu di sini dan kakak diam saja,kalau masih cinta balikan saja sana tapi kakak bilang sama kakek karena semua ini mereka yang atur bukan kemauan ku"Jingga berdiri dari kursinya dan berjalan keluar ruangan Piter.
Kata-kata Jingga membuat Piter frustasi.
"Arh..."Piter kesal dan menjatuhkan semua barang yang ada di meja Jingga.
"Bos...tenang bos..."Al berusaha menenangkan Piter.
"Gimana bisa tenang,sekarang dia marah pada ku"Piter membentak Al.
Al hanya mengelus dadanya karena kaget.
...**************...
__ADS_1