Jingga Di Hati Jupiter

Jingga Di Hati Jupiter
Bab 64


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Jingga di makamkan dekat dengan kuburan ayah dan ibunya,Piter masih sangat terpukul dengan kepergian Jingga yang seperti ini bahkan nenek Jingga sangat marah pada Piter,karena Piter mengajaknya keluar dan akhirnya Jingga mengalami kecelakaan.


Di pemakaman semua orang yang menyangi Jingga bersedih atas apa yang terjadi padanya hingga berujung kematian.


Piter terdiam manatap papan Nisan bertuliskan Jingga Amila Darma,air matanya sudah tidak dapat menetes lagi,Al dan Pluto yang menghadiri pemakaman pun merangkulnya mencoba menguatkannya tapi Jupiter masih saja terpaku tak bicara.


"Kak...ayo kita kembali kerumah"ajak Pluto.


Tapi Jupiter tidak bergeming sedikit pun dia masih berdiri kokoh di hadapan gundukan tanah bertaburan bunga dan berpatokan kayu nisan itu.


"Aku tidak mau pulang aku ingin disini bersamanya"ucap Piter lirih.


"Pit...kamu tidak boleh begini kasihan Jingga"ucap Al.


"Kalau kalian ingin kembali kerumah kembali lah jangan fikirkan aku"ucap Piter dingin.


"Kak..."Pluto sedih melihat kakaknya sangat terguncang.


"Sudah Plu sebaiknya kita memang membiarkannya sendiri dulu,aku akan menghubungi Anton untuk membujuknya"jelas Al.


Pluto pun akhirnya menyetujui saran Alan dan pergi meninggalkan kakaknya sendirian di pemakaman itu.


Sementara itu di sebuah ruangan.


Setelah beberapa saat lalu dirinya seperti di buat seperti mayat karena obat yang di minumnya,kini dirinya mulai sadarkan diri karena telah di suntikan obat penawar oleh tim medis khusus.


Jingga perlahan-lahan membuka matanya,dirasakan badannya tak bertenanga karena masih dalam pengaruh obat bius yang kuat.


Apa yang sebenarnya terjadi pada ku,dimana aku sekarang.


Jingga melihat kesekelilingnya sebuah ruangan bercat serba putih.


Jingga mencoba duduk di atas kasur itu,tak lama ada seseorang mamakai jas putih memasuki ruangan tersebut.


"Oh...kau sudah sadar rupanya"kata orang tersebut.


"Dimana ini?dan anda siapa? mengapa aku berada disini?"Jingga terus bertanya.


"Kau di markas tim Khusus,perkenalkan aku dr. Ryan"


"Di markas?"Jingga mencoba mengingat ingat.


dan akhirnya dia mengingat sesuatu.tadi dia di dalam mobil bersama detectiv Go dan bersama seorang wanita dewasa yang cantik.


"Ah...dimana detectiv Go pasti dia yang membawa ku kemari kan?"Jingga langsung menebak.


"Betul yang membawa mu kemari adalah Go dan Ester"


"Ooo jadi nama wanita cantik itu Ester"gumam Jingga.


"Ooo iya dok lalu kemana mereka?"tanya Jingga.


"Mereka sedang mengurus dokumen mu,kau akan mempunyai indentitas baru setelah kematian mu"


"Apa?"Jingga terkejut.

__ADS_1


"Kematian apa maksudnya?aku masih hidup belum mati dok?"Jingga protes.


"Ya....tubuh mu memang masih hidup tapi indentitas mu sudah mati,kami sengaja melakukan ini untuk melindungi mu dari kejaran para panjahat itu"


"Dimana detectiv gila itu ini semua pasti idenya aku tak terima aku masih hidup, kenapa harus mati,keluarga ku pasti bersedih karena ini dimana dia dimana detectiv gila itu"Jingga marah dia berteriak-teriak di ruangan tersebut hingga suaranya menggema.


"Tenang lah...."dokter Ryan berusaha menanangkan Jingga.


"Mana bisa aku tenang,ke gilaan apa ini hiks kenapa aku harus bertemu dengan orang seperti dia sih?"Jingga menangis sedih.


Drap...drap...


Suara langkah sepatu terdengar mendekati ruangan tersebut,Jingga menoleh ke arah suara langkah tersebut di lihatnya Ester dan Go yang muncul di balik pintu.


Jingga yang benar-benar marah pada Go langsung menyerangnya,Jingga langsung mencengkram kerah baju Go dan mendorong tubuh Go tanpa melepaskan cengkramannya,Jingga mendorong tubuh Go hingga Go melangkah mundur.


"Apa yang kau lakukan pada ku,senenaknya saja membuat data ku mati"Jingga marah dan masih mencengkram kerah baju Go.


Go berusaha santai menghadapi sikap Jingga yabg sedang meledak-ledak.


Malam hari di rumah Jupiter.


Anton tadi berhasil membujuk Piter untuk kembali ke rumah dan meninggalkan pemakaman,tapi saat di rumah Piter hanya mengurung dirinya di dalam kamarnya.


Al dan Anton setia menemaninya di rumah,mereka takut Piter akan melakukan hal di luar kendali bila dia tidak di temani dalam keadaan yang terpukul seperti ini.


Al dan Anton duduk di sofa ruang tengah mereka di kejutkan ketika melihat Piter keluar dari kamarnya mengenakan jaket kulit hitamnya dia menuruni tangga dengan langkah yang cepat.


Melihat itu Al dan Anton saling bertatapan,dan mengikuti langkah Piter,Piter berjalan menuju gudang dia membuka pintu gudang dan mengacak-acak isi gudang dan tiba-tiba Piter keluar dari dalam gudang dengan membawa sekop,Al dan Anton langsung melebarkan mata mereka saat melihat apa yang sedang di bawa kawan mereka itu.


"Pit...apa yang mau kau lakukan?"tanya Al.


"Apa?"Al dan Anton bersamaan.


"Apa kau benar-benar kehilangan akal kawan"kata Al.


"Al....ssstt"Anton memberikan isyarat pada Al untuk tidak berdebat dengan Piter saat ini.


Hingga Al pun terdiam.


"Piter....jangan seperti ini kawan...kasihan Jingga bila melihat mu seperti ini dia pasti tidak tenang di alam sana"Anton bicara selembut mungkin pada Piter.


"Ton....Jingga belum meninggal Ton...aku bisa merasakannya Ton..."


"Dia memang masih hidup kawan selamanya akan hidup di sini"Anton menunjuk dada Piter.menjelaskan Jingga akan tetap hidup selamanya di hati Jupiter.


Jupiter terkulai lemas dia menjatuhkan sekop yang di pegangnya.Al dan Anton membantunya berdiri dan memapahnya ke kamar kembali.


"Istirahatlah kawan kami akan selalu berada disisi mu"ucap Anton.


Piter masih terdiam saat dirinya di dalam kamarnya,Al dan Anton meninggalkannya sendirian di dalam kamar dan kembali duduk di sofa ruang tengah lagi.


"Piter benar-benar rapuh untuk saat ini,apa yang harus kita lakukan Ton?"Al benar-benar bingung.


"Untuk saat ini kita dampingi dia kita suport dia karena hanya itu sekarang ini yang bisa kita lakukan ya kan?dan semoga Jupiter cepat bangkit dari keterpurukan ini"harapan Anton.


"Ya...kamu benar Ton,semoga Piter segera bangkit dari keterpurukan ini"

__ADS_1


Hari terus berlalu kini Jingga telah menjadi anggota Tim Khusus,entah bagaimana cara mereka meyakinkan Jingga agar mau bergabung dengan tim Khusus ini.


Sudah beberapa minggu sejak kejadian itu Jingga di latih oleh Go dan rekan-rekan yang lain,mulai dari latihan fisik,latihan menembak,latihan berkendara bahkan latihan memanah dan berkuda juga semua di berikan.


Latihan fisik yang berat bahkan lebih berat dari latihan yang di berikan Jupiter saat melatih Judo.


Dan hari ini mereka melakukan latihan bela diri,benar-benar beradu fisik secara langsung tak perduli laki-laki atau perempuan mereka harus bisa melawan bila tidak ingin babak belur setelah latihan.


Dan hari ini Go melatih Jingga secara langsung satu lawan satu Go melatih bela diri Jingga tanpa pandang bulu,latihan yang di berikannya sangatlah keras bila memukul ya dia benar-benar memukul tak pernah berbelas kasih.


"Bila tak ingin terluka saat latihan maka kau harus bisa melawan ku mengerti"itulah yang di ucapkan Go.


"Karena nanti saat di lapangan lawan mu itu benar-benar orang-orang yang tidak punya hati maka kau tidak boleh lembek mengerti"


Jingga sebenarnya tidak menyukai Go karena dia seenaknya sendiri tapi,Jingga menyadari apa yang di katakan Go semuanya benar penjahat tetaplah penjahat tak mengenal pria atau wanita.


Latihan antara Jingga dan Go pun berlangsung alot keduanya tak mau menyerah saling pukul dan saling menghindar dan mencoba mencari celah diantara mereka untuk menjatuh kan lawan.


Bugh.....


Jingga lengah dan terkena pukulan tepat di pipinya dan melukai ujung bibirnya hingga mengeluarkan darah.


Di sisi lain di kamar Piter.


Srek....


Piter mencengram selimut yang menyelimuti tubuhnya wajahnya sudah berkeringat dingin.


"Hah....Adik...."Piter terbangun dari tidurnya dia langsung duduk.


"Ah....mimpi"Piter nampak kecewa dia lalu menunduk.


"Mimpi yang aneh mengapa aku seperti melihat dia di pukul seseorang,hah...sudah beberapa minggu tapi kenapa hati ini masih tidak percaya kalau dia telah tiada,maaf kan aku dik"Piter bangkit dari kasurnya dia lalu mencuci wajahnya di kamar mandi dan keluar dari kamarnya.


Sejak kejadian itu dirinya tak pernah keluar kamar,Al yang mengurus semuanya di perusahaan.


Piter berjalan menuruni tangga,dia melihat ke sekeliling rumahnya begitu banyak kenangan bersama Jingga di rumah ini Piter berjalan ke ruang latihan dia duduk disana,dia tersenyum mengingat tempat itu begitu banyak menyimpan kenangan dengan Jingga dia tersenyum mengingat setiap kenangan yang pernah terjadi,tapi tak lama dia menangis sedih karena semua itu kini tinggal kenangan.


Piter bercermin di sebuah cermin yang ada di ruang latihan dirinya melihat pantulan dirinya,sangatlah kacau benar-benar tak terurus,rambutnya mulai gondrong dan berantakan,bulu-bulu halus sudah mengelilingi wajahnya,matanya yang sembab karena kurang tidur,bahkan badannya pun nampak kurus.


"Sekacau ini kah aku sekarang?"katanya saat melihat pantulan dirinya di cermin besar itu.


"Hemf apa yang akan dia katakan ya bila melihat ke adaan ku yang seperti ini?anak itu pasti akan meledek ku habis-habisan dan mengatakan aku ini payah,ya...aku harus bangkit tidak boleh seperti ini terus Jingga pasti tidak suka melihat tampilan ku yang seperti ini"


Piter akhirnya berlari ke arah kamar mandi dan membersihkan dirinya memotong janggutnya yang sudah memanjang dan mengelilingi wajahnya,setelah melakukan itu semua di raih ponselnya di atas meja dan dia langsung menelpon Al.


"Al....maaf merepotkan mu selama ini,bisa kah kau menangani semuanya untuk sementara waktu aku ingin keluar negeri dulu,siapa tahu aku bisa membuka bisnis baru"


"Piter....kau sudah keluar kamar kawan?"Al terdengar senang mendengar sahabatnya sepertinya sudah bangkit dari keterpurukan.


"Ya....aku sadar aku tak boleh jadi orang payah terus Jingga tidak suka dengan orang payah"


"Bagus lah kawan kau mulai bangkit"


"Ya....tolong kau urus perusahaan disini untuk beberapa waktu ya...sementara aku di luar negeri".


"Oke siap bos...."kata Al semangat.

__ADS_1


Piter menutup telpon dia tersenyum melihat layar ponselnya yang ada gambar dirinya dengan Jingga saat di kebun binatang.


...*****************...


__ADS_2