Jingga Di Hati Jupiter

Jingga Di Hati Jupiter
Bab 73


__ADS_3

"Apa?! kakak akan meminjamkannya mobil?apa kakak tidak salah?"tanya Pluto tiba-tiba.


"Tidak"Jawab Piter singkat.


"Kau mencari Lita?"tanya Al.


dan Jingga hanya mengangguk saja.


"Dia ada di rumah ku"kata Al.


Dan itu membuat Jingga dan Piter terkejut.


"Kok bisa"kata Jingga dan Piter bersamaan.


"Iiih kalian kompak banget seh kagetnya"ledek Al.


"Bapak serius kak Lita di rumah bapak?"Jingga penasaran.


"Iya kemarin aku bertemu dengannya di halte bus sambil menggendong bayi aku tidak tega melihatnya dan memberikannya tumpangan tempat tinggal"jelas Al.


"Ooo begitu syukurlah jadi aku tidak khawatir lagi aku memang kepikiran karena dia baru mempunyai bayi"kata Jingga.


Pluto mendekati Jingga dan memperhatikan Jingga lagi,Jingga merasa risih karena tingkah laku Pluto.


Al langsung keluar dari ruangan Piter setelah selesai memberikan dokumen.


"Aku pamit sepertinya sudah tidak ada keperluan lagi disini"Jingga langsung pamit.


Tapi Pluto langsung mencegahnya pergi Pluto menarik tangan Jingga hingga spontan Jingga berteriak.


"Apaan sih"Teriak Jingga.


Pluto yang mendengar Jingga berteriak langsung menutup mulutnya karena menganga.


"To...a mes...jid?"Pluto terbata-bata.


Jingga menepuk jidatnya karena dia keceplosan,Piter yang melihat itu hanya tersenyum saja.


"Bukan Plu dia bukan Jingga namanya Edel"Piter menyembunyikan indentitas Jingga yang sebenarnya karena Jingga masih dalam misi.


"Ta..ta..tapi kak suaranya mirip banget sama toa mesjid eh maksud ku Jingga"Pluto gelagaban.


"Kak...mungkin kakak ini hanya memiliki suara yang sama dengan kak Ji,ya contohnya saja kak Piter pun menyukai kakak ini karena suaranya mengingatkan pada kak Ji"jelas Alisa dengan penuh kelembutan.


Aih...Alisa...kau lembut banget sih...gemes aku sama kamu,pantes ajah si ceriwis ini demen banget sama kamu.


Fikir Jingga.


Jingga pun akhirnya segera pamit pada semuanya yang ada di ruangan itu,sebelum dia keluar dia melihat mejanya yang pernah menjadi tempatnya bekerja masih berdiri kokoh disana.


Meja itu...hemmm.


Fikir Jingga.


Dan dia pun berlalu dari ruangan itu.


Saat Jingga pergi Pluto melayangkan rentetan pertanyaan pada Piter.


"Kak...kakak suka padanya?apa karena suaranya mirip sama Jingga?kak nggak mungkin kan kakak anggap dia Jingga?nggak mungkin kan kak?"Pluto bertanya bertubi-tubi.


"Kamu kalau sudah selesai urusan disini sebaiknya pulang dan antar pacar mu itu pulang ke rumahnya,kakak masih banyak kerjaan"Piter mengusir Pluto secara halus.


"Kak...ck...ih...ayo Lis...kakak ku makin aneh makin hari"Pluto kesal dan meninggalkan ruangan Piter bersama Alisa.


Alisa pamit dengan sopan pada Piter dan Piter hanya menganggukan kepalanya saja kemudian menatap komputernya lagi.


"bila kakak bicara jujur kau akan terkejut Plu,tapi tunggu saja lah kau pasti suatu saat nanti juga akan tahu"


Tapi tiba-tiba Piter ingat pada Al yang memberikan tumpangan pada Lita,Piter akhirnya menyuruh Al ke ruangannya.

__ADS_1


Al datang ke ruangan Piter,dan Piter menyuruhnya duduk di sofa ruangan tersebut.


"Al...kau bertemu Lita dimana kemarin?"tanya Piter.


"Aku bertemu dengannya di halte bus dekat daerah rumahnya"


"Kau lewat sana?"


"Iya iseng kenapa tumben tanya-tanya?"


"Tidak apa-apa,kau tertarik padanya?"


"Tidak aku hanya kasihan kenapa sih?tumben banget kamu ini?"


"Tidak tidak apa-apa kalau tertarik juga tidak masalah sih dia single mom ini"


"Apaan sih Pit...kau sendiri tertarik dengan Edel kan?"


Piter hanya tersenyum.


"Hemmm jatuh cinta lagi nih?"


Piter tidak menjawab pertanyaan Al dan malah kembali bekerja.


"Hemmm dasar"Al kesal tapi dia tersenyum karena melihat keceriaan di wajah sahabatnya,keceriaan yang sempat hilang beberapa tahun ini.


Kejadian kemarin.


Sore itu saat Al pulang dari kantor,entah kenapa dia ingin sekali melewati jalan yang tidak pernah ia lewati.


Saat dia melajukan mobilnya perlahan dia melihat sosok wanita sedang duduk di halte bus sambil mengendong bayi.


"Sedang apa dia disana?"


Entah apa yang ada di fikiran Al saat itu dia menghentikan laju mobilnya dan turun dari dalam mobil dan menghampiri Lita yang sedang duduk di halte bus sambil menggendong bayinya.


"Lita..."tegur Al.


"Sedang apa kamu disini dengan bayi mu?"


"Eh...Mas Al eh...itu...ehm...."Lita ragu dan malu untuk bercerita.


Al tak sengaja melihat sebuah tas besar di samping kaki Lita.


"Kau ingin pergi?"tanya Al saat melihat tas tersebut.


Lita hanya mengangguk.


"Kemana?"tanya Al penasaran.


"Tidak tahu mas"suara Lita terdengar serak,air matanya mulai tumpah.


Al kebingungan saat melihat Lita yang tiba-tiba menangis.


"Loh...eee Lit kenapa menangis?"Al tiba-tiba duduk di samping Lita.


"Maaf mas"Lita mengusap air matanya tapi air mata itu terus mengalir keluar.


Al jadi keki sendiri.


"Kau butuh tempat tinggal?tinggal lah di rumah ku sementara waktu,kasihan bayi mu"


"Tapi mas...saya tidak punya uang untuk bayar sewa"kata Lita lirih.


"Tidak usah sewa tinggal saja saya ikhlas kok menolong"Al tersenyum pada Lita.


"Ayo ikut saya"Al mengajak Lita menaiki mobilnya.


Lita dan bayinya pun akhirnya naik ke dalam mobilnya dan Al pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.

__ADS_1


"Mas...terima kasih banyak ya...mas sudah mau menolong saya dengan Naina"


Al menoleh pada Lita.


"Ooo nama bayi mu Naina?"


"Iya mas"


"Nama yang bagus"kata Al.


Mobil pun berjalan hingga sampai di pekarangan rumah Al.


Al memarkirkan mobilnya dan langsung turun bersama Lita,Al mengajak Lita masuk ke dalam rumahnya dan menunjukan kamar tamu untuk Lita.


"Ini kamar mu bersama bayi mu tinggalah disini senyaman mungkin"kaya Al.


"Mas...Al saya berterima kasih banget sama mas,saya akan bantu-bantu disini membersihkan rumah,memasak dan lain sebagainya sebagai gantinya mas"


"Boleh juga usul mu itu kebetulan asisten rumah tangga ku sedang pulang kampung kamu bisa gantiin dia sementara nanti gaji mu saya bayar di setiap awal bulan bagaimana?"


"Gaji?ooo nggak usah mas...di beri tempat tinggal saja saya sudah bersyukur mas nggak perlu menggaji saya".


"Ya...tapi kan kamu bekerja kamu pakai tenaga kamu di tambah lagi kamu repot karena punya bayi,anggap saja gaji dari ku itu untuk keperluan Naina membeli popok dan susu ya kan?"Al benar-benar menawarkan ketulusan pada Lita.


"Ooo iya mas benar,tapi apa saya nggak ngelunjak ya mas maaf ya mas saya benar-benar merepotkan mas Al jadinya"


"Tidak tidak usah di fikirkan,oia kadang saya tidak pulang ke rumah karena Piter suka mengajak menginap di rumahnya atau saat ada pekerjaan di luar kota,jadi tinggalah senyaman mungkin ya bila saya sedang tidak di rumah"


"Iya...mas...sekali lagi terima kasih ya mas"


Al hanya mengangguk dan meninggalkan Lita di kamar tamu dan dirinya kembali ke kamarnya yang tak jauh dari kamar tamu.


Di rumah yang besar seperti rumah Piter Al tinggal sendirian hanya kadang di temani asisten rumah tangga yang datang bila di perlukan untuk membersihkan dan merapihkan rumahnya saja,asisten rumah tangga sebenarnya tidak ada disini Al biasaya selalu menyewa jasa di sebuah perusahaan jasa yang menyediakan orang untuk merapihkan rumah dan membersihkan rumah saja sama seperti di rumah Piter paling yang ada tetap berada disini ya petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang.


Malam hari saat tengah malam Naina menangis Lita mencoba mendiaminya mengendong anaknya dan menimangnya setelah di berinya asi.


Al mendengar tangisan bayi itu tak berhenti juga,ia yang sedang tertidur akhirnya terbangun dan mencoba mengetuk kamar Lita dia ingin tahu apa yang terjadi pada bayi itu kenapa menangis terus.


"Lit...lita...kenapa anak mu?"


Lita membuka pintu kamarnya.


"Eh...mas maaf ya mas Naina ganggu tidur mas ya?"


"Hemmm"dengan mata yang masih kantuk"kenapa dia menangis terus?"


"Nggak tahu mas rewel mungkin karena tempat baru kali mas"


Al melihat wajah bayi mungil itu dirinya gemas sendiri.


"Coba aku pegang dia tidak sakit kan?"


Al memegang tubuh Naina di rasakan tidak panas Al takut bayi itu sakit.


"Boleh ku gendong?"tanya Al.


Lita mengangguk.


Al mengambil Naina dari gendongan Lita.Al menggendong Naina dan menimangnya.


"Sussshhuuu Naina cantik bobo ya sayang...bobo yang nyaman di rumah om"Al mengajak Naina berbicara dengan nada yang pelan.


Lita tersenyum melihat Al yang sepertinya memang sudah pantas menjadi seorang ayah.


Dan malam itu Naina akhirnya tertidur di gendongan Al tertidur dengan nyaman.walau Naina sempat terbangun beberapa kali tapi setelah di beri asi oleh Lita Naina kembali tertidur dan tidak se rewel tadi.


Malam pun berlalu dan Al akhirnya tertidur dengan nyenyak walau kadang mendengar tangisan suara bayi di kamar sebelahnya.tapi itu menjadikan rumahnya tidak sesepi sebelumnya.


Al terbangun dari lamunannya saat dia sedang sendirian di ruangannya lamunannya buyar ketika Piter menghubunginya untuk datang ke ruangannya lagi.

__ADS_1


...**************** ...


__ADS_2