Jingga Di Hati Jupiter

Jingga Di Hati Jupiter
Bab 34


__ADS_3

Di siang hari menjelang sore di taman belakang rumah orang tua Jupiter,Jingga yang sedang berbibcang dengan calon mertuanya,tidak sadar kalau pembicaraan mereka di dengar oleh sang objek yang di bicarakan.


Ibu memegang tangan Jingga yang ada di pangkuannya.


"Jingga..."ibu mulai berbicara.


Jingga sudah menyiapkan hati mendengar jawaban calon ibu mertuanya,hatinya sudah siap menerima kenyataan bahwa tunangannya itu memang sering mengajak wanitanya mampir ke rumah orang tuanya.


Ibu tersenyum sebelum menkanjutkan kata-katanya.


"Piter mungkin sering berhubungan dengan wanita lain sebelum adanya kamu"


Deg....jantung Jingga berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Tapi hanya kamu wanita yang baru di ajaknya kesini,apa kamu sudah mulai mencintai Piter?"Ibu bertanya seperti itu karena mengingat kedua insan ini di jodohkan dan sepeetinya keduanya belum memiliki cinta dihati mereka masing-masing.


Deg...Piter yang mendengar pertanyaan ibu berdebar menunggu jawaban dari Jingga.


Sedangkan wajah Jingga sudah merona merah mendengar pertanyaan ibu.


"Jingga sudah lama ibu tidak pernah melihat Piter tersenyum tulus seperti tadi saat kita sedang makan bersama,entah kapan terakhir kali ibu melihatnya tersenyum seperti itu,tapi setelah dia bersama mu bahkan saat kalian bertunangan ibu merasakan aura kebahagiaan dari dirinya kau memberikan warna baru dalam hidupnya saat ini dan ibu berharap kalian benar-benar bersatu selamanya".


Jingga hanya tersenyum mendengar perkataan ibu.


"Kau mencintainya kan Jingga?"tanya ibu.


Dan Piter masih mengintip mereka dari balik tembok.


Jingga bingung harus menjawab apa karena dia sendiri belum pasti dengan perasaannya dengan Piter apa itu cinta atau hanya rasa kagum saja dia masih bingung.


"Jingga nggak tahu bu...Jingga sendiri masih bingung dengan perasaan Jingga,tapi apa menurut ibu kak Piter mencintai Jingga?"


"Memangnya apa yang kamu rasakan anak ku sayang...apa kamu merasakan perlakuan berbeda dari Piter?"


"Entah lah bu kak Piter itu sulit ditebak kadang baik kadang marah-marah hehe tapi kadang aku kesepian sih kalau dia lagi tidak ada"Jingga keceplosan.


"Hehe itu artinya cinta mulai tumbuh di hati mu"


Jingga langsung malu mendengar perkataan ibu.


Tak lama Piter muncul dari balik dinding.


"Dik...nanti jangan lupa latihan,oia kita ajak Pluto saja sekalian"kata Piter yang pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Plu...."Panggil Piter.


Tak lama Pluto pun muncul dari dalam.


"Apa kak"


"Nanti malam ikut ke klub latihan bersama Jingga"


Wajah Pluto sudah terlihat malas.


"Hei...ayolah ikut"bujuk Piter.

__ADS_1


"Ya...baik"jawab Pluto malas.


"Nah...gitu dong..."kata Piter.


"Oia dik kamu istirahat saja dulu di kamar sampai sore"pinta Piter"Plu antar Jingga ke kamar kakak"kata Piter.


"Ya...ayo aku antar"ajak Pluto malas.


Dan Jingga pun berjalan mengikuti langkah Pluto.


Ditaman Piter berbincang dengan ibunya.Piter berbicara kalau dia sempat mendengar pembicaraan ibunya dengan Jingga.


Piter meminta pendapat ibunya,apa menurut ibunya Jingga sudah mulai mencintai dia atau belum,ibunya hanya tersenyum melihat rasa penasaran dari wajah anaknya.


"Bu...aku serius kenapa ibu hanya tersenyum begitu?"Piter penasaran.


"Memangnya sejak kapan kamu mulai jatuh hati padanya?sepertinya sebelum kalian bertemu di perjodohan waktu itu kamu sudah jatuh hati padanya ya kan?"tebakan ibu langsung telak mengenai hati Piter.


Piter pun hanya tersenyum malu.


"Astaga...anak ibu...bisa malu-malu juga rupanya"ibu meledek.


"Apaan sih ibu ini"Piter memalingkan wajahnya dari ibunya agar tidak terlihat rona merah di wajahnya.


Ibu tersenyum melihat tingkah anaknya.


Di dalam kamar.


Saat masuk kedalam kamar Piter Jingga takjub melihat interior kamar yang sederhana dinding yang di tempeli wall paper bercorak hitam dan putih dan dia melihat beberapa mendali terpajang di atas tembok yang menpel dengan kasur.


Jingga pun melihat sebuah foto Piter yang terpajang di dinding kamarnya memakai seragam judo dan memakai mendali di lehernya dan memegang piagam ditangannya.


"Hihi ini saat dia usia berapa ya?kelihatannya saat dia masih remaja"fikir Jingga saat melihat foto itu.


"Sudah berapa lama ya dia nggak pernah tinggal di kamar ini?isi kamar dia yang disana saja aku belum tahu penasaran juga sih ah tapi kan nggak sopan kalau masuk kamarnya tanpa ijin hihi"


Jingga akhirnya duduk di sofa yang ada di kamar tersebut,hingga rasa kantuk menghampirinya dan dia pun akhirnya tertidur di sofa.


Tak lama Piter masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Jingga tertidur di sofa sambil terduduk wajahnya tersapu oleh hembusan angin hingga rambut panjangnya pun bergoyang karena tiupan angin.


Piter tersenyum melihat itu melihat wajah polos Jingga,tangannya di masukan kedalam saku celananya saat dia ingin menyentuh wajah polos itu,dia tak berani melakukan hal itu dia takut mengganggu tidur gadis itu.


Piter pun keluar kamarnya menutup pintu perlahan dan masuk kedalam kamar Pluto,Pluto terkejut ketika kakaknya masuk kedalam kamarnya.


"Eh...kakak ada apa?"tanya Pluto saat Piter masuk.


"Numpang istirahat"Piter merebahkan badannya di kasur bersebelahan dengan Pluto.


"Kenapa disini kan kakak punya kamar sendiri"Pluto bingung.


"Di kamar ku ada Jingga sedang tidur,nggak baik kan sekamar berdua aku kan belum jadi suaminya"


"Aih...kakak ku ini benar-benar pria yang baik,menjaga martabat keluarga dan juga wanita ya...aku salut pada kakak,kakak benar-benar jadi panutan ku"


"Kalau aku ini panutan mu,seharusnya kamu menurut pada ku,jangan melawan terus"

__ADS_1


"Kapan aku melawan kakak"Pluto sewot.


"Iya juga sih kamu memang tidak pernah melawan ku hehe anak baik"Piter mengacak-acak rambut adiknya.


"Ihh kakak apaan sih"Pluto kesal.


Piter tertawa dan ia pun tak lama tertidur disamping adiknya.


Sore telah tiba mentari sudah mulai tenggelam,Jingga sudah bangun dari tidurnya dia lalu membersihkan dirinya di kamar mandi kemudian dirinya melamun lagi di sofa.


"Bagaimana aku mau latihan masa pergi ke klub dengan pakaian begini,lagi pula kenapa kak Piter tidak membawa baju ku yang bias sih?"Jingga berguman sendiri.


Tak lama Piter masuk ke dalam kamarnya.


"Eh...adik sudah bangun"kata Piter saat melihat Jingga sudah duduk di sofa.


"Eh...kakak tahu aku ketiduran?"tanyanya.


"Iya tadi aku masuk aku lihat kamu tertidur jadi aku keluar lagi"


"Kak apa kita mau pergi ke klub?dengan pakaiain begini?"tanya Jingga.


"Ya...kamu bisa menggunakan pakaian kak yang ada di lemari,sebentar sepertinya kakak masih punya kaos yang berukuran kecil dan sepertinya pas buat mu"Piter membuka lemarinya.


Jingga tertawa kecil.


"Kenapa tertawa?"Piter bingung.


"Tidak kak aku jadi ingat tadi kakak marah pada Pluto karena mau meminjamkan bajunya untuk ku,kata kakak baju dia itu baju anak laki-laki masa di pakai oleh ku,dan sekarang kakak sendiri mau meminjamkan baju kakak pada ku hihi"


Pluk...Piter melempar baju ke wajah Jingga.


"Calon suami mu itu aku bukan dia,jadi wajar kalau aku yang meminjami mu baju,sudah untuk sementara pakai baju ku dulu nanti pulang dari klub kita beli baju buat mu ganti dan buat tidur"Piter sewot.


"Kita menginap kak?"


"Iya..."jawab Piter sewot.


"Terus aku tidur dimana?"


"Ya disini"


"Lantas kakak tidur dimana?"


"Disini juga"


Wajah Jingga mulai pucat saat Piter mengatakan hal tersebut.


"Hehehe kamu takut ya?"ledek Piter.


"Aku tidur bersama Pluto disini tidak ada kamar tamu,jadi kamu tidur di sini kakak tidur bersama Plu,kakak nggak akan macam-macam sama adik,kakak akan jaga adik,lagi pula ibu bisa murka kalau aku sekamar dengan mu hahahha"Piter tertawa lepas.


Jingga pun lega saat mendengar semua itu.


...***************...

__ADS_1


__ADS_2