
Doktor Darma menarik tangan Jingga dan mengajaknya keluar dari ruangan tersebut.
"Ayah..."Jingga terkejut ketika tiba-tiba ayahnya datang dan menarik tangannya.
"Sudah lebih baik kau lupakan saja dia nak"kata doktor Darma.
"Tapi ayah"Jingga berusaha bertahan di ruangan Piter.
"Sudah ayo kita pulang lupakan dia,ayah pun tidak akan setuju bila kau bersama dia karena ibunya sudah kasar pada mu"Doktor Darma menatap tajam pada ibu Piter.
"Ya...lebih baik bawa putri anda jauh-jauh dari anak saya"ibu ketus.
"Bu...jangan begitu bu...dik tunggu dik jangan pergi"Piter memohon.
"Piter kamu pilih dia atau ibu"bentak ibu.
Jupiter mengalami dilema saat ibunya mengatakan itu,di sisi lain dia sangat mencintai Jingga disisi lain juga dia sangat menyangi ibunya wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya selama ini.
"Jawab Jupiter Surya Meda "Ibu benar-benar emosi karena sudah memanggil nama lengkap Jupiter.
"Bu...aku tidak bisa memilih bu"Piter frustasi.
"Jawab sekarang atau kau memang bukan anak ibu lagi"ancam ibu.
Mendengar hal itu membuat Piter benar-benar dilema.
Sementara Ayah Darma sudah menarik-narik tangan Jingga tapi Jingga masih berat meninggalkan Piter,saat dirinya dan ayahnya sudah di ambang pintu Piter akhirnya menjawab pertanyaan ibunya.
"Baik kalau begitu Piter pilih ibu"Piter dengan berat hati mengatakan itu.
Jingga yang mendengar hal itu langsung mengikuti langkah ayahnya untuk keluar ruangan itu,dia memang meyadari bahwa Piter pasti akan memilih ibunya dari pada dia,dia pun berusaha berlapang dada.
Saat Jingga sudah menjauh dari ruangan Piter,perdebatan masih terjadi antara Piter dan ibunya.
"Tapi...jangan pernah ibu menjodohkan aku dengan wanita mana pun aku tidak akan menikahi wanita lain selain Jingga"ucap Piter tegas pada ibunya.
"Tapi Piter bila kau belum menikah bagaimana dengan adik-adik mu?"ibu cemas.
"Bila mereka ingin menikah ya menikah saja,tapi aku tidak akan menikah dengan wanita lain selain Jingga dan jangan paksa aku bu"Piter tegas.
"Tapi Piter...."ibu masih membujuk.
"Al...Plu...tolong antar ibu pulang aku ingin sendirian"pinta Piter.
"Baiklah kak"
__ADS_1
"Ayo bu...biarkan Piter sendiri dulu agar fikirannya tenang"kata Al. dan Ibu pun menuruti dan meninggalkan ruangan Piter.
Sementara itu di dalam mobil yang di kendarai Go,Jingga dan doktor Darma.
Jingga hanya terdiam seribu bahasa tak membahas apa pun dengan ayahnya,tapi doktor Darma dapat menebak fikiran putrinya.
"Ji...jangan sedih nak...masih banyak laki-laki di dunia ini yang mau bersanding dengan mu"kata ayah lembut.
Jingga masih terdiam.
"Ji...ayah tidak akan pernah setuju bila kau dengannya ibunya begitu membenci mu nak,apa jadinya rumah tangga kalian nantinya bila ibunya sangat membenci mu,ayah tidak mau kau bersedih karena pernikahan mu tidak di restui olehnya"
"Tapi ayah...dulu ibu sangat menyangi ku,aku tahu itu hanya emosi sesaat saja ayah..."
"Tidak...nak apa kau tidak dengar tadi kata-katanya begitu pedas seperti cabai harbanero?"ayah kesal mengingat kata-kata ibunya Piter.
"Ayah....tapi kami saling mencintai ayah"Jingga merengek.
"Tidak pokoknya tidak dengan dia nanti akan ayah carikan jodoh untuk mu yang keluarganya baik dan sayang pada mu,ayah sangat menyangi mu nak ayah tidak mau kau tekanan batin setelah menikah nanti"
"Ayah...."Jingga pasrah.
Jingga dan Doktor Darma kembali ke markas tim Khusus dulu sebelum mereka kembali ke kediaman kakek Cahya.Tim khusus akan mengantar mereka dan menjelaskan kepada kakek dan nenek Jingga karena sepengetahuan mereka anak dan cucunya ini sudah tiada mereka akan terkejut bila ayah Darma dan Jingga kembali berdua saja,oleh karena itu nanti beberapa Tim khusus akan menamani mereka dan menjelaskan pada mereka bagaimana kejadian selama ini dan apa yang menimpa mereka hingga mereka seperti ini.
Di ruang rawat Piter.
"Dik...maaf"Piter memejamkan matanya erat hingga air mata itu pun menetes membasahi bantal yang dia gunakan.
Satu bulan berlalu.
Suara derap lari seekor kuda terdengar begitu kencang,di atasnya terdapat seorang wanita yang menunggangi kuda tersebut dengan membawa busur dan anak panah di punggungnya dan....
Sret...tak...sret....tak...
Setiap anak panah yang di lesatkan olehnya tepat mengenai sasarannya.beberapa siswa di akademi menyaksikan sesi latihan itu bergemuruh menyebutkan namanya.
"Wah.....mis Jingga hebat..."teriak salah satu siswi akademi dan disusul sorak sorai dari murid yang lainnya.
Kuda masih berpacu kali ini Jingga berdiri dari pelana kudanya dan mengambil pistol dari balik punggungnya dan...
Dor...Dor...Dor...
Semua tembakannya tepat sasaran,bertambah histeris lagi lah para murid yang mengagumi Jingga di Akademi.
Jingga mengehentikan laju kudanya dan turun dari atas kuda tersebut,saat dirinya turun dari kuda tersebut terdengar suara tepukan tangan dari seseorang yang cukup keras.
__ADS_1
Prok...prok...prok...
"Gila...toa mesjid gue nggak nyangka elu hebat banget"Pluto datang bersama Piter ke markas Tim Khusus karena markas mengundang Piter kesana.
Jingga yang melihat kehadiran Pluto langsung menghampirinya,walau di samping Pluto ada Piter tapi Jingga tak menghiraukannya.
"Hei...Plu...apa kabar?"sapa Jingga ramah.
"Baik...kok elu nanya gue doang yang di sebelah gue nggak lu tanya?"singgung Pluto.
Jingga terdiam saat mendengar ocehan Pluto.
"Apa kabar Tuan Jupiter"nada Jingga begitu dingin.
Deg...
Sakit...dada Piter begitu sakit mendengar Jingga memanggilnya seperti itu.hingga Piter tidak menggubris sapaan Jingga dan malah berlalu dari hadapannya dan menuju kantor markas tim khusus.
Kenapa aku harus kesini lagi sih setelah kasus itu.
Kesalnya dalam hati.
"Eh...gima hubungan lu sama Alisa?"tanya Jingga pada Pluto yang di tinggalkan Piter bersamanya.
"Hubungan apa maksud elu?"Pluto bingung.
"Ah...maksud gue ada perkembangan nggak?"Jingga penasaran.
"Perkembangan apa sih maksud elu nggak ngerti gue"Pluto pura-pura tidak mengerti.
"Ah...belaga bego nih anak,elu udah bilang cinta sama dia belum maksud gue gitu"
"Apaan sih cinta-cinta"Pluto mengelak.
"Ah...gue tahu elu belum bilang cinta sama dia karena takut di tolak ya...hahaha kalah sebelum perang dong lu hahaha"Jingga tertawa lepas.
Tawanya hingga terdengar oleh Piter yang sedang menuju kantor pak Edward.
Apa yang di bicarakan mereka sampai dia sesenang itu?
Piter begitu penasaran,hingga dia berencana akan menanyakan pada adiknya nanti saat dia menyelesaikan urusannya disini.
Tawa Jingga yang lepas terus terngiang di telinga Piter,sebenarnya Piter senang mendengar Jingga tertawa lepas seperti itu,karena dia menganggap Jingga sudah tidak mempunyai beban lagi,keceriaannya sudah kembali seperti dulu lagi,Piter senang mengetahui itu.
Tapi Piter tidak tahu itu hanya akting Jingga saja,padahal hatinya menangis dan menjerit ingin sebenarnya dia memeluk Piter saat bertemu tadi menegurnya seperti biasa bukan seperti orang asing tapi mengingat ayahnya tidak menyetujui hubungan ini,begitu pun ibunya yang sudah membencinya,hingga dia pun memutuskan menjaga jarak dengan Piter.
__ADS_1
Sedih,kesal,marah campur aduk menjadi satu dalam hati kedua insan ini.
...*************** ...