
Seminggu kemudian.
Hari ini Tim Khusus akademi mengadakan acara pelepasan murid Akademi,salah satunya adalah Jingga walau dirinya sebenarnya sudah menjadi guru di akademi tapi hari ini adalah hari peresmian ke lulusannya.
Dan karena banyak misi yang dia selesaikan dengan baik dia pun mendapatkan penghargaan dari pihak akademi detectiv,apa lagi misi besar seperti kemarinnya di gedung W adalah misi yang membuat namanya semakin mencuat di akademi.
Dan beberapa tamu kehormatan pun di undang seperti doktor Darma dan juga Jupiter,mereka menyaksikan kelulusan para siswa akademi. Dan saat namanya di panggil untuk menerima penghargaan Jingga pun naik ke atas panggung untuk mengucapkan rasa terima kasihnya kepada orang-orang yang berjasa padanya.
"Saya mengucapkan syukur karena mendapatkan penghargaan ini,dan tak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman satu tim saya guru saya detectiv Go dan detectiv Ester yang selalu membimbing saya,dan special thanks saya ucapkan kepada...."Jingga memberi jeda saat akan mengucapkan special thanks untuk seseorang hingga membuat orang yang hadir disana bertanya-tanya untuk siapakah ucapan special itu.
" Tuan Jupiter Suya Meda"lanjutnya.
Deg...
Jantung Piter langsung berdegub seolah dadanya ada yang memukul terasa sesak dan sulit bernafas tapi ada rasa kebahagaiaan juga di sana.
" karena telah menyelamatkan saya dari tembakan mafia,terima kasih tuan berkat anda jantung saya masih berdetak dan saya masih bisa bernafas sampai sekarang ini"lanjutnya dan itu lah kata penutup dari Jingga dan dia pun turun dari panggung.
saat berjalan menuju kursinya matanya menatap Piter yang tak pernah lepas menatap dirinya.
Jingga yang saat itu kikuk karena di lihat seperti itu oleh Piter berbisik ke telinga ayahnya untuk pamit pulang duluan dan dia meminta detectiv Go untuk mengantar ayahnya pulang nanti dan Go pun setuju.
Jingga melangkah cepat ke arah mobilnya langkahnya di kejar oleh Piter saat Jingga ingin membuka pintu mobilnya tangannya di cegah oleh Piter,dan hampir saja Jingga menghajar Piter karena dia fikir itu orang jahat,karena refleks dari tubuhnya yang biasa bertarung hingga seperti itu.
"Eh....maaf tuan anda ada perlu apa dengan saya?"tanya Jingga kaku.
"Dik...."Piter memegang tangan Jingga.
Jantung Jingga langsung berlomba-lomba saat tangan Piter menyentuhnya.
"A...ada apa?"Jingga ragu.
__ADS_1
"Ikutlah dengan ku kita lari bersama dan menikah aku tahu kau masih mencintai ku"Pinta Piter.
"Hemf anda sudah gila rupanya,apa anda lupa pada kata-kata anda saat di rumah sakit?anda memilih ibu anda kan?ya sudah turuti saja ibu anda saya tidak akan mencegah anda dan tidak ingin menjadikan anda anak durhaka"
"Dik...ku mohon jangan bicara begitu pada ku itu menyakitkan,ku mohon dik...ku mohon"Piter memohon dengan sangat.
Jingga menghela nafasnya kasar.
"Kak....berbahagialah dengan pilihan orang tua mu,mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya,berjanjilah satu hal pada ku"
"Apa?"
"Berjanjilah kau akan bahagia meskipun bukan dengan ku"
Piter langsung memeluk tubuh Jingga kini wajah Jingga berada di dadanya Jingga pun menagis di dada bidang tersebut.
"Kau pun harus bahagia dik harus berjanjilah"kata Piter lirih.
Jingga pun hanya mengangguk dan melepaskan pelukan Piter,Jingga pun membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam mobil tersebut dan langsung memacunya dengan kecepatan sedang.
"Doktor"tegur Go pada ayah Jingga.
doktor Darma pun menoleh pada Go.
Go yang juga melihat keadaan yang tejadi di area parkir akhirnya memberitahu doktor Darma kalau Jingga dan Piter saling mencintai sejak lama,bahkan perpisahan selama lima tahun tanpa komunikasi tapi hati mereka masih saja saling mencintai.
Meski Jingga di nyatakan telah tiada Piter tidak pernah pindah kelain hati,karena dia yakin kalau Jingga masih hidup dan pasti akan kembali,dan keyakinannya memang terbukti nyata mereka akhirnya di pertemukan kembali oleh suatu kejadian,padahal saat itu Jingga sudah menyamar tidak menjadi dirinya sendiri,tapi Piter langsung mengenalinya walaupun itu hanya dari suara dan sentuhan tangan Jingga dia mengenali Jingga dengan mudahnya.
"Kau serius?anak itu begitu?"tanya doktor Darma.
"Iya Dok itulah kenyataannya"doktor Darma hanya bisa mengehela nafanya berat sambil memikirkan kedua insan itu.
__ADS_1
Malam hari di rumah Piter.
Ibunya datang mengunjungi Piter bersama Pluto,Ibunya ingin melihat perkembangan anak sulungnya itu apakah masih memikirkan Jingga atau tidak tapi ternyata dia masih memikirkan Jingga,Piter menjadi tak banyak bicara lagi menjadi dingin lagi,setelah ibunya melarangnya bersama dengan Jingga.
Pluto yang selama ini hanya diam akhirnya ikut berbicara dengan ibunya di ruang tengah rumah Piter sedangkan Piter sudah masuk kedalam kamarnya setelah menyapa ibunya dan adiknya tapi setelah itu dirinya tidak keluar kamar lagi.
"Bu...sudahlah bu...restui kak Piter dengan Jingga bukan kah dulu ibu sangat menginginkan mereka bersatu?bahkan aku sempat cemburu saat kasih sayang kakak dan ibu beralih padanya,lihat kakak bu sekarang bicara pun se kedarnya dan parahnya lagi dia tidak pernah tersenyum lagi seperti dulu bu,mengertilah bu mereka saling mencintai,kak Piter memilih ibu karena kakak sayang pada ibu karena ibu lah yang mengandubg,melahirkan dan membesarkan kami semua,bukan karena dia tidak mencintai Jingga"
Mendengar perkataan Pluto ibu hanya terdiam sambil menatap pintu kamar Piter di lantai dua.
"Kita Pulang"ajak ibu dan Pluto pun menurutinya.
Tiga bulan kemudian.
Pagi ini Jingga sedang melamun di halaman rumah belakangnya,dirinya melihat sepasang burung merpati yang hinggap di halaman belakang rumahnya,dirinya tersenyum melihat itu.
"Senangnya kalian bisa bersama dengan orang yang kalian cintai seumur hidup kalian"ucap Jingga pada burung tersebut.
Ayahnya yang tak sengaja mendengar hal itu langsung menegurnya.
"Ji...sedang apa pagi-pagi melamun di halaman belakang?"tegurnya hingga membuat Jingga sempat terkejut.
"Eh...ayah tidak yah...aku tidak apa-apa hanya melihat sepasang burung merpati putih itu yah"Jingga masuk kedalam rumahnya dan dirinya akan menaiki tangga menuju kamarnya tapi langkahnya terhenti ketika ayahnya berbicara lagi.
"Ji...ayah sudah menemukan calon suami untuk mu,kemarin saat kamu di kantor keluarganya datang untuk melamar,ayah harap kamu mau menyetujui pernikahan ini"Pinta ayahnya.
Jingga terdiam sesaat.
"Terserah ayah Ji...hanya menurut saja,apa pun dan siapa pun pilihan ayah pasti itu yang terbaik untuk Ji kan? maka akan Ji laksanakan"
"Ayah yakin kau tak akan menyesal bila menikah dengannya nak"tegas ayah.
__ADS_1
Jingga tak menjawab perkataan ayahnya dia lalu melangkah menaiki tangga dan memasuki kamarnya.
...******************...