
"Dik...adik...bangun...dik...adik...Jingga bangun....!"
Srak....
Jingga langsung bangun dari tidurnya.
"Ah....mimpi"Jingga memegangi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa Ed?mimpi buruk?"tanya Ryuna teman sekamar Jingga.
"Ya...kak...mimpi yang sama"kata Jingga lemas.
Tubuhnya berkeringat dingin karena mimpi yang di alaminya.
Maafkan aku kak...pasti saat itu kamu sangat sedih hingga berteriak sekencang itu,tapi aku hanya bisa mendegar mu saja dan tidak bisa bangun dan menggerakan tubuh ku.
Rasa bersalah mampir kembali di benak Jingga,dulu saat dirinya ada di kamar mayat,dirinya mendengar suara keputusasaan Piter meneriakinya tapi dia tidsk bisa menjawabnya apa lagi bangun saat itu,obat bius yang di berikan kepadanya seperti orang yang sudah mati benar-benar kuat.
Bila kita memang berjodoh suatu saat nanti kita pasti akan di persatukan kembali ku yakin itu,itu juga kalau kau belum berpaling pada yang lain hehe,aku hanya berdoa semoga kau mendapatkan yang terbaik pasangan terbaik yang bisa mendampingi mu kak...
Jingga tersenyum sambil mendoakan kebaikan untuk Jupiter.
Jingga keluar dari kamarnya dan menuju dapur asrama,dia mencari air dingin untuk menyejukan dirinya.
Saat dirinya di dapur sedang meneguk air tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dan membuatnya terkejut hingga dia menumpahkan air tersebut.
"Anda...kenapa sih buat orang terkejut saja"kata Jingga kesal ketika melihat yang menepuk pundaknya adalah Go.
"Kenapa terkejut seperti itu?"tanya Go santai.
"Ya karena anda mengejutkan ku seperti hantu saja,kapan anda kembali?"tanya Jingga.
"Sejak kapan kau perhatian seperti ini?"
"Aku bukan perhatian hanya tanya kapan anda kembali bisa membedakan tidak sih?"Jingga ketus.
Go hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kan....gitu kan aneh kan dia "gumam Jingga.
Ke esokan paginya.
Para murid akademi seperti biasanya berbelanja mingguan di toko langganan mereka,Yuki sudah menunggu kedatangan mereka saat mereka sudah selesai belanja Yuki bertanya pada salah satu dari mereka karena dia sepertinya tidak menemukan seseorang yang ia tunggu selama ini.
"Maaf...apa anak-anak yang kemarin belanja disini tidak ikut bersama kalian?"tanya Yuki lembut.
"Maksud nyonya siapa ya?"tanya salah satu teman Jingga yang bernama Kiki.
"Itu...kalau tidak salah dia suka bilang gorila gila ya...dia suka menyebutkan itu"kata Yuki mencoba apa yang pernah di dengarnya.
"Oooo hihi mungkin maksud anda Edel"kata Kiki sambil tertawa kecil.
"Edel tidak bisa keluar hari ini karena dia sedang di hukum oleh guru kami"kata Grisel.
"Di...hukum?"tanya Yuki ragu.
__ADS_1
"Iya...dia iseng memberikan garam di kopi guru kami jadi dia di hukum hihi hanya Ed yang berani dengan detectiv Go"kata Kiki sambil tertawa.
"Iya aku juga bingung anak itu berani sekali pada detectiv Go,tapi diantara semua murid hanya dia yang selalu berlatih bela diri langsung dengan detectiv Go"Grisel terlihat seperti berfikir.
"Itu karena hanya Ed yang mampu mengimbangi di tectiv Go kemampuan berkelahinya sama seperti detectiv profesional yang seperti detectiv Go dan detectiv Ester"kata Ryuna yang ikut belanja.
"Iya kak Ryu benar kami semua tidak bisa seperti Ed,dia pintar berkelahi,menembak dan memanah hanya saja dia kurang di akademis hihi"
"Ya...itulah kelemahan Ed hahaha"mereka bertiga pun tertawa.
Yuki tersenyum mendengar pembicaraan mereka.
"Eh...apa kalian melihat tadi lagi detectiv Go tersenyum saat menghukum Edel?"tanya Grisel.
"Hah...kau serius dia tersenyum?"tanya Kiki dan Ryu bersamaan.
"Iya...aku melihat dia tersenyum saat memberikan Edel kopi asin itu"kata Grisel antusias.
"Seperti ini" Grisel bersiap mengikuti cara Go.
"Minumlah ini kan buatan mu"kata Grisel sambil mengikuti cara Go memberikan secangkir kopi pada Jingga tadi pagi.
Go tersenyum meledek pada Jingga saat itu dan dirinya tidak sadar kalau sebagian muridnya melihat senyumnya.
"Bayangkan detectiv Go yang dingin itu si kaku sedingin salju itu tersenyum saat tahu kopinya di beri garam oleh Edel"kata Grisel antusias.
Yuki sempat terkejut mendengar hal itu dia jadi ingat tuan mudanya yang dulu tak pernah tersenyum dan bisa tersenyum kembali saat bertemu Jingga.
Sama seperti nona dulu membuat tuan muda tersenyum,apa dia ah...tidak mungkin Jingga sudah meninggal dia tidak mungkin Jingga kami.
"Permisi ya..."Yuki akhirnya pamit pada mereka semua.
Yuki menghubungi Al di kantor dia memberitahu kalau ada orang suaranya mirip dengan Jingga begitu pun tingkah lakunya mungkin orang itu bisa mengisi hati bosnya yang sekarang ini masih kosong.
"Tidak Yuki...itu tidak mungkin ku mohon pada mu jangan ceritakan ini pada Piter,karena dia sedang fokus dengan bisnis barunya di luar negeri"Pinta Al.
"Ya...baiklah Al"kata Yuki sedikit kecewa.
"Aku tahu maksud mu baik,tapi untuk sekarang ini ku rasa ini bukanlah hal yang tepat bila di bahas dengan Piter"kata Al.
"Ya...kau benar Al"
Yuki pun akhirnya mematikan saluran telpon.
"Ku fikir anak itu bisa menggantikan nona tapi Al benar tidak ada yang bisa menggantikan Jingga di hati Jupiter"gumam Yuki sambil menatap layar ponselnya.
Di asrama.
Jingga di dalam perpustakaan menjalani hukumannya menulis permintaan maaf sebanyak satu rim kertas HVS.
"Dasat gorila gila tangan ku bisa kram karena harus menulis sebanyak ini"keluh Jingga.
"Seharusnya kau senang karena hanya hukuman ringan yang aku berikan pada mu,kenapa kau sama sekali tidak ada penyesalan kalau begitu ku tambah hukuman mu"kata Go dingin.
"Eeeh iya..iya...maaf guru ku yang paling tampan sedunia...maafkan aku yang sudah kurang ajar ini"Jingga berusaha merayu Go.
__ADS_1
"Heh merayu tidak cocok untuk mu"kata Go kesal padahal hatinya sudah di penuhi bunga mawar bermekaran disana karena pujian Jingga.
"Kerjakan hukuman mu tanpa mengumpat,dan sesali perbuatan mu itu"Go berkata dingin dan meninggalkan perpustakaan.tapi saat di luar senyum lebar terlihat di wajahnya.
Jingga mengerjakan hukumannya dengan diam,agar cepat selesai.
"Hadeuh....lagian Jingga...Jingga kenapa sih elu pake iseng ngasih garem ke kopi gorila gila itu,dia pasti sudah tahu kalau otak elu tuh pasti iseng sama dia"keluh Jingga sambil terus menulis.
"Eh...lagian dia kan tahu gue itu iseng kenapa dia minta gue bikin kopi buat dia coba"Jingga mencoba berfikir.
Jingga mengingat kejadian tadi pagi.
"Edel...tolong buatkan saya kopi"kata Go saat melihat Jingga di dapur tadi.
Jingga yang kesal karena sedang mengingat kejadian waktu itu di kamar mayat membuat Jingga jadi iseng memasukan garam bukan gula ke dalam kopi Go.
"Hehe...sensasi rasa kopi yang berbeda dari biasanya gorila gila hihi"Jingga tertawa licik.
Jingga membawa kopi tersebut keruangan kerja Go.
Tok...tok...
Jingga mengetuk pintu.
"Ya...masuklah"kata Go dari dalam.
Jingga pun membuka pintu ruangan Go dan masuk kedalam,Jingga menaruh secangkir kopi untuk Go,dan kemudian pergi.
Tapi saat langkahnya sudah sampai di depan Pintu langkahnya terhenti.
"Tunggu"kata Go dingin.
"Ya..."Jingga menoleh pada Go.
Go menghampirinya dan membawa cangkir kopi itu.
"Minumlah"Go menyodorkan cangkir kopinitu di depan wajah Jingga membuat Jingga membelalakan matanya.
"Itu kopi pesanan anda detectiv"kata Jingga sewot.
"Minumlah ini kan buatan mu"Go tersenyum meledek membuat Jingga jadi merinding.
"Tidak mau"Jingga menolak.
"Kau fikir aku tidak tahu apa yang kau taruh di dalam kopi ku?"Go tersenyum meledek.
"Apa? aku tidak menaruh apa-apa"Jingga gugup.
"Kalau begitu minumlah ini kan kau yang buat sendiri"rayu Go sungguh menakutkan di mata Jingga.
Dia kenapa jadi semenakutkan ini sih bila tersenyum seperti ini.
Fikir Jingga.
Karena Go terus memaksa Jingga meminum kopi itu dan Jingga menolak meminumnya akhirnya cangkir kopi itu terjatuh dan kopinya mengenai baju Go yang berwarna putih membuat Go jadi kesal dan akhirnya menghukum Jingga.Mereka juga tidak sadar saat berdebat tentang kopi itu banyak murid yang memyaksikan kejadian itu,hingga menjadi bahan gosip terbaru di antara para murid di akademi.
__ADS_1
...*************...