
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat, Kendaraan roda empat itu membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, di temani dengan derasnya rintik hujan, Suara hujan yang jatuh terdengar begitu bising hingga mengalahkan suara-suara yang lain.
Aksa duduk di kemudi, tangannya fokus dengan benda berbentuk lingkaran yang berada tepat di hadapannya, dan tatapannya lurus kedepan. Tapi, sesekali manik hitam tersebut teralih ke rear-vision mirror alias spion dalam yang menempel di kaca depan atau plafon , dia diam-diam mencuri pandang ke arah Mayang yang tampak sudah banyak berubah. Fisik, maupun perangainya.
Mayang yang dulu terlihat begitu jelita, wajah imut nan menggoda setiap siapa saja yang melihat paras cantiknya. Serta sifat periangnya yang terkadang tiada henti berceloteh ria.
Tapi, sekarang setelah lima tahun tidak bertemu, Aksa rasa Mayang benar-benar telah banyak berubah, dia telah kehilangan jati dirinya.
Mayang yang duduk di kursi belakang mendekap sang putra dengan begitu erat, sambil membelai rambut lebat milik Raihan. Manik matanya melihat keluar, jari-jari tangan itu menyentuh kaca jendela mobil, di luar tampak sudah sepi. Dia melihat warung-warung yang biasa dia titipkannya kue-kue dagangannya.
''selamat tingal, selamat tinggal ... Terimakasih telah memberiku banyak pelajaran. Besok aku akan kembali lagi dengan orang yang sama. Tapi, status dan kelas yang sudah berbeda'' batin Mayang melamun.
''mama, om itu siapa?'' celetuk Raihan. Rupanya dari tadi dia tengah memperhatikan Aksa dan mobil yang membawa mereka.
''ah, oh iya, om itu?'' sahut Mayang, tatapan nya teralihkan kedepan.
''iya, ma. Siapa lagi emangnya, kan cuma ada kita bertiga di dalam mobil keren ini!'' celoteh Raihan.
Aksa yang berada di depan tersenyum simpul mendengar ucapan Raihan, sementara Mayang hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Raihan benar-benar sudah pintar.
''maaf, kamu supir baru, ya?'' tanya Mayang ramah.
''non Fitri, apa anda sudah tidak mengenali saya, lagi?'' kata Aksa, dia melepaskan topi yang menutupi kepalanya.
Kemudian setelah Aksa membuka topi, baru lah Mayang mengenali sosok Aksa, mata mereka sempat beradu beberapa detik lewat kaca spion.
''Aksa?!''
''iya, non Fitri. Ini saya, Aksa!''
''stop, jangan menyebut saya Fitri lagi, mulai hari ini panggil saya dengan sebutan Mayang, seperti yang mama dan papa saya biasa ucapkan dulu''
''oh, maaf non ... Dulu, lima tahun yang lalu, setahu saya non ... Mayang, begitu tidak suka di panggil dengan sebutan Mayang, menurut anda nama Fitri lebih keren waktu itu, tidakkah anda ingat, itu?''
''saya ingat, tetapi mulai malam ini saya memutuskan nama panggilan saya Mayang, titik, tidak ada, tapi-tapi.'' tegas Mayang, memberi penekanan disetiap ucapan nya.
''baiklah, non!'' Aksa mengangguk.
''ternyata kamu sudah banyak berubah, Aksa.'' ujar Mayang.
__ADS_1
''saya atau non Mayang yang sudah banyak berubah?''
''kita berdua, kamu berubah menjadi lebih baik. Tetapi aku, lihat tubuhku begitu menyedihkan'' tutur Mayang, dengan tatapan lurus kedepan.
''itu tidak penting non, tubuh bisa di rawat, tapi kepribadian, saya lihat kepribadian non telah banyak berubah, non Mayang sudah berubah menjadi lebih baik. Non Mayang tidak cerewet dan angkuh lagi''
''oh ya? begitukah pandanganmu dulu terhadap saya?''
''iya, begitulah non''
''baiklah, aku tidak akan seperti itu lagi'' sahut Mayang, sementara Aksa hanya tersenyum.
''tuan muda sangat tampan'' ucap Aksa.
''apakah wajahnya mirip sama, papaku?''
''menurut aku iya non, dari alisnya yang tebal, hidung nya yang bengir dan setelah itu matanya, mata tuan muda begitu tajam dan menusuk''
''syukurlah kalau begitu''
Sedangkan Raihan hanya mendengar obrolan antara mama dan om yang di sebut oleh sang mamanya dengan tidak dia mengerti, dia diam menyimak.
Tidak terasa karena asyik mengobrol akhirnya mobil berbelok arah. Memasuki kawasan elit.
Raihan memandang takjub rumah-rumah megah yang berjejer rapi dengan terdapat banyak penerang, dia memanjangkan lehernya, menajamkan penglihatan nya melihat keluar.
Lalu tidak berapa lama tibalah mereka di rumah yang paling mewah dan megah diantara rumah yang lainnya dikawasan itu.
gerbang tinggi dan mewah itu terbuka, beberapa penjaga membuka gerbang dengan cepat begitu melihat mobil datang, lalu setelah itu mobil melaju lagi menuju pintu utama.
Jantung Mayang tiba-tiba berdetak semakin cepat, matanya menyapu sekeliling penjuru halaman beserta rumah megah tempat dia di besarkan dulu. Tidak banyak yang berubah, jari-jari tangan dan kakinya mendadak dingin. Berbeda sekali dengan Raihan yang memandang girang.
Aksa menginjak pedal rem, mobil berhenti tepat dihalaman depan pintu utama, para pelayan sudah berbaris rapi membetuk memanjang kebelakang. Dan setelah itu orang tua Mayang muncul dari balik pintu utama saat ada yang melaporkan kedatangan putri tunggal mereka yang mereka tunggu-tunggu dengan cemas dan tidak sabaran. Beberapa pelayanan terlihat sudah ada yang mengantuk, mereka menguap, tapi, karena untuk menyambut sang nyonya muda mereka memaksa untuk tersenyum dan menahan kantuk. Waktu sudah dini hari.
Salah satu pelayan laki-laki datang mendekati pintu mobil, dia hendak membuka pintu untuk Mayang, tapi, seketika Aksa keluar, ''biar saya saja,'' tegas Aksa, lalu dia menarik pintu.
Sementara pelayan laki-laki tadi sudah kembali ketempatnya. Aksa sangat di segani di rumah itu, tapi dia juga terkenal sangat baik dan ramah orangnya.
Mayang merasa haru atas penyambutan dirinya, air mata tiba-tiba membasahi pipinya. Saat dia melihat papa dan mamanya berjalan ke arah dia. Lalu papa dan mamanya berhenti tepat di depan pintu mobil. Mereka sudah tidak sabar ingin memeluk sang putri.
__ADS_1
Pintu terbuka, Mayang melangkahkan kakinya ke karpet bewarna merah itu dengan sangat hati-hati, dengan sang putra berada di dekapannya.
Raihan memandang takjub bangunan yang ada di depan matanya, tangannya mengalung dileher sang mama.
Sementara Mayang tertunduk malu. Dia merasa minder melihat penampilannya yang sungguh sangat menyedihkan. Dress dibawah lutut bewarna merah muda, hanya itu, dengan sandal jepit dan kepala yang terbuka, rambutnya di ikat asal, itu adalah penampilan dan pakaian terbaik yang di milikinya saat bersama Ibnu. saat keluar dari rumah lima tahun yang lalu Mayang tidak membawa pakaian sehelai pun, hanya pakaian yang melekat di tubuhnya yang dia bawa.
''Mayang ... Anak mama'' peluk sang mama tak kuasa menahan haru, dia memeluk Mayang dan sang cucu dengan isakan yang terdengar pilu, dia tidak peduli penampilan sang putri, yang dia mau hanya memeluk tubuh itu dengan erat, melepas rindu yang lama tertahan.
Sedangkan sang papa hanya menatap Mayang dengan seksama, dia menatap Mayang dari ujung rambut hingga ke jari kaki. Pipi yang dulu chubby kini telah tirus, menyisakan dengan jelas tulang kering di kedua pipinya, mata yang dulu begitu jernih dan bercahaya kini terlihat sayu, cekung dan terdapat lingkaran hitam di bagian bawahnya. Lalu, tubuh yang dulu begitu indah padat berisi kini tinggal tulang.
Gigi Aditama gemeletuk menahan geram, matanya memerah, buku-buku tangannya mengepal. Tapi, dia berusaha untuk bersikap biasa.
''apa yang telah terjadi dengan putri ku? Pria itu, dia apakan putri kesayangan ku selama lima tahun ini?! Berbagai pertanyaan memenuhi isi kepala tuan Aditama. Air mata perlahan mengenangi pelupuk matanya, walaupun dia terkenal begitu tegar, tegas dan kuat. Tapi, kalau sudah menyangkut sang putri dia tidak akan kuasa, akhirnya air mata itu lolos juga. Melihat penampilan dan keadaan sang putri yang sangat tidak layak.
''ini cucu, mama?'' mama Hanum melepaskan pelukannya, lalu tatapannya tertuju kearah Raihan.
''iya, ma!'' Mayang menjawab dengan berderai air mata.
Mama Hanum lalu mengulurkan tangannya, ''ayo, sama oma, sayang'' bujuknya. Raihan menatap sang mama, Mayang mengangguk, lalu sedetik kemudian tubuh mungil Raihan telah berpindah ke mama Hanum.
''pa!'' panggil Mayang, dia melihat sang papa yang masih diam berdiri dengan mata memerah.
Mayang lalu melangkahkan kakinya, menuju sang papa. Saat sudah tiba, Mayang menjatuhkan dirinya tepat di kaki sang papa, yang membuat semua orang kaget.
''maaf, maafkan Mayang, pa'' Mayang terisak, tak kuasa menahan tangis, teringat perbuatan nya dulu yang telah menorehkan luka di hati kedua orang tuanya. Mayang bersujud, di depan pria pertama yang mencintainya dengan segenap jiwa.
''bardiri, nak! Papa dan mama sudah memaafkan kamu'' tuan Aditama menunduk, lalu menyentuh kedua bahu Mayang, dia membimbing Mayang berdiri.
Sekarang tuan Aditama dan Mayang sudah berdiri sejajar, sang papa menangkup kedua pipi tirus Mayang menatap matanya lekat.
''apa yang terjadi, nak? Ada apa denganmu ... Ah,! Mana suamimu, sayang?''
''Mayang ... Mayang dan mas Ibnu sudah berpisah pa! Mas Ibnu sudah menjatuhkan talak nya kepada Mayang!'' jawab Mayang menunduk, dengan tangis berderai.
''apa? Dasar lelaki brengsek! Awas saja dia!'' geram Aditama, dia kemudian membawa tubuh Mayang kedalam pelukannya. ''kamu sekarang aman bersama kami, tetaplah di sini, kamu akan selalu menjadi putri di istana kami, sayang'' kata Aditama membelai punggung Mayang. 25 tahun usia Mayang, tapi dia sudah menjadi wanita kuat dengan penuh cobaan dihidupnya.
Sementara orang-orang yang berada di tempat yang sama, mereka menyaksikan merasa ikut terluka. Mereka ikut merasakan sakit yang dirasakan sang majikan. Sebagian dari mereka menghapus sisa air mata yang ikut keluar dengan sendirinya tanpa di sengaja.
Part selanjutnya, tentang Ibnu dan keluarganya.
__ADS_1