
Tubuh ibnu di bopong oleh dua orang berbadan kekar ke dalam kamar hotel. Mereka membawa Ibnu dengan rasa jijik, mereka menahan penciuman mereka karena tidak tahan sama bau yang berasal dari celana Ibnu.
''bawakan dia ke kamar lain saja, jangan ke kamar pengantin. Nanti kamar ini bau'' perintah Anggia dengan tangisnya. Ketika tubuh Ibnu yang tidak sadarkan diri itu sudah berada di depan pintu. Anggia menagis histeris karena pesta pernikahan yang diimpikan nya kini telah hancur berantakan. Belum lagi tadi banyak teman-teman dia yang datang, sudah pasti setelah ini mereka akan menertawakan Anggia.
Kemudian tubuh Ibnu di bawa ke kamar yang ada di sebelah kamar pengantin. Ibnu masih belum sadarkan diri juga.
''mama, mama ganti itu celananya mas Ibnu, bau bangat'' celetuk Sari ketika Ibnu sudah di baringkan di tempat tidur.
''nanti saja lah Sari, tunggu mas Ibnu sadar.'' jawab mama Reni lesu, dia sepertinya juga memandang Ibnu jijik.
Setelah itu dokter masuk, dia akan memeriksa Ibnu.
''alhamdulillah, kondisi pak Ibnu baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Pak Ibnu sepertinya tidak lama lagi akan sadar. Coba kalian kasih minyak kayu putih ke hidungnya. Dia sepertinya sedang merasa tertekan dan kelelahan'' jelas sang dokter perempuan.
''baiklah Dokter'' jawab mama Reni. Dia mengambil minyak kayu putih yang ada di dalam tas kecilnya, yang sengaja dia bawa kemana-mana untuk jaga-jaga.
Setelah mengatakan itu dan memberikan resep obat, sang dokter pamit keluar.
Kemudian mama Reni mengoleskan minyak kayu putih di sekitar hidung bengir Ibnu. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya Ibnu sadarkan diri.
''aduh, Fitri ...'' ucap Ibnu lirih, dia repleks menyebut nama sang mantan istri ketika dia sadar dari pingsannya. Sambil menajamkan penglihatan nya yang masih buram.
Mama Reni menutup mulut Ibnu cepat. ''iissssttt diam, kamu kenapa sadar-sadar malah menyebut nama wanita pembawa sial itu! Kalau sampai kedengaran sama Anggia dan keluarganya bisa berabe'' tukas mama Reni dengan wajah masam.
''maaf ma, Ibnu kelepasan'' jawab Ibnu, dia duduk memegang kepalanya yang masih terasa sakit nyut-nyutan.
Sari sudah keluar dari kamar itu, dia menenangkan bayi Meisya yang tiba-tiba menangis.
''in-i bau apaan sih, ma? Dan kenapa Ibnu ada di sini? Bukannya tadi Ibnu dan Anggia sedang berada di pelaminan!'' tanya Ibnu heran ketika dia sudah duduk dengan sempurna, dia menutup hidung nya.
''bau itu berasal dari celana mu itu, Ibnu, sana buruan kamu kekamar mandi, bersihkan dirimu dulu.'' jawab mama Reni sambil menunjuk ke arah celana Ibnu.
''a-ku pipis di celana ma?''
''iya!''
Ibnu kemudian berlari menuju kamar mandi, membuka pintu dengan cepat, lalu menutup nya dengan cepat pula. Dia melepaskan pakaian pengantinnya satu persatu dengan cepat.
''bagaimana ini, aku tidak percaya kalau aku pipis dalam celana, uhh ini bau sekali'' gumam Ibnu, dia mengangkat celana nya tinggi, membauinya sedikit.
__ADS_1
''brengsek, ini semua gara-gara Aditama itu, sekarang aku sudah ingat semuanya!'' batin Ibnu, dia meninju dinding beton beberapa kali.
*****
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..! Kenapa ini bisa terjadi sama aku sih ma, pa? Semuanya hancur berantakan!'' ujar Anggia sesenggukan, dia duduk di ujung sofa dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
''kamu salahkan suami mu itu Anggia, bisa-bisa nya dia mempermalukan kita karena perbuatan bodoh nya itu. Sudah kayak bayi aja buang air kecil di celana!'' geram Kuncoro berkacak pinggang.
''jangan salahkan mas Ibnu pa, ini salah kaluarga Aditama itu, Aditama yang selalu papa bangga-banggakan itu'' ungkap Anggia, dia tidak terima sang suami di salah kan.
''apa maksud kamu, Anggia?! Tuan Aditama itu orang yang baik, bukannya tadi dia memberikan kamu sekotak perhiasan? Papa lihat sendiri tadi, tuan Aditama cuma bersikap sewajarnya. Dasar Ibnu saja norak, kampungan. Sekarang papa tahu mungkin Ibnu merasa grogi karena berhadapan sama orang berkelas seperti Tuan Aditama dan keluarnya'' kata pak Kuncoro kesal.
''duh, kalau aku katakan yang sebenarnya papa bisa tahu kalau si Fitri itu mantan istrinya mas Ibnu, lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja'' batin Anggia.
''tidak pa, maaf, aku hanya salah bicara aja pa!'' ucap Anggia mengalah.
''beristirahat lah, papa mau keluar sebentar'' kata Kuncoro sambil membelai pucuk kepala Anggia.
''papa mau kemana?''
''mau melihat suami mu itu,''
''mana Ibnu?'' tanyanya kepada mama Reni.
''Ibnu ada di kamar mandi pak besan'' jawab mama Reni sedikit gugup.
''apa anak anda memang memiliki riwayat penyakit itu sebelumnya? Dia sungguh membuat aku malu. Pokoknya anda sampaikan ke Ibnu, suruh dia mengklarifikasi membersihkan nama baiknya dan keluarga saya. Saya tidak mau tahu bagaimana pun caranya dia harus meredakan omongan orang-orang tentang dirinya yang buang air kecil dicelana, memalukan sekali. Kalau tidak saya akan mencabut kembali status dia di kantor, saya akan mengambil alih kembali kedudukan dia di perusahaan'' jelas pak Kuncoro geram. Setelah itu dia keluar.
''dengar itu baik-baik bu!'' sambung mamanya Anggia, mamanya Anggia juga ikut keluar menyusul sang suami.
Mama Reni hanya bisa mengangguk, dia mengutuk di dalam hati. ''kenapa keluarga Fitri harus datang ke pesta nya Anggia dan Ibnu, hancur semuanya. Harga diriku telah di injak-injak oleh semua orang. Pokoknya aku harus mencari ide lain supaya Fitri itu mau memaafkan Ibnu agar dia berbaik hati tidak menggangu kehidupan keluarga kami lagi, atau kalau bisa bagusnya Fitri balikan lagi sama Ibnu, aku rasa si Fitri itu mau jadi yang kedua. Duh, senangnya kalau punya mantu dua yang sama-sama anak konglomerat'' batinnya.
Sedangkan Anggia hanya duduk di sofa, menunggu sang suami keluar dari kamar mandi.
Ibnu mendengar semua ucapan sang papa mertua dari balik pintu kamar mandi dengan perasaan yang sulit diartikan. Dia kira setelah kepergian Fitri dalam hidupnya dia akan merasa lebih tenang menjali hari-hari, tetapi semuanya malah semakin rumit.
''bagaimana ini, dasar bodoh! Seharusnya aku bersikap santai saja ketika berhadapan dengan Aditama yang arogan dan licik itu.
Ah ya, atau aku susul saja Fitri kerumah papa nya itu, aku akan menggunakan nama Raihan untuk membujuk nya, dia pasti mau kembali sama aku, aku dan Fitri perlu bicara baik-baik. Kalau Fitri tetap tidak mau, aku akan mencari cara untuk membuat Aditama itu celaka,'' gumam Ibnu tersenyum, dengan handuk putih melilit di pinggang nya.
__ADS_1
*********
"Ih, kamu kenapa begok bangat sih, mas? Seharusnya kamu bersikap santai saja ketika melihat si Fitri itu? Apa, jangan-jangan kamu masih mencintainya mas?!'' racau Anggia sambil memukul-mukul dada bidang Ibnu, saat Ibnu sudah berada di hadapannya.
''tenang sayang, mas cuma kaget saja. Mas juga takut dia mengadu ke papa kamu sayang, bisa hancur semuanya kalau Fitri mengadu tentang sikap kita dulu kepada papa mu. Kamu yang tenang ya, mas minta maaf, ya'' jelas Ibnu, memohon dia memegang kedua tangan Anggia.
''mas pokoknya harus kirim pesan ke grup WA perusahaan, ke semua sosmed mas. Katakan kalau kamu lagi nggak enak badan atau apalah mas, aku dan keluargaku nggak mau di olok-olok karena ulah anu mu itu. Ih dasar'' perintah Anggia sambil menunjuk ke arah handuk yang melilit di pinggang Ibnu.
''iya, baiklah sayang'' jawab Ibnu, dia memeluk erat tubuh sang Istri.
Mama Reni keluar dari kamar itu, dia merasa anak dan mantunya tidak menghargai keberadaan nya.
********
"Ih, ini apa-apaan sih mas? Ini kan kalung dan cincin imitasi! Lihat, bentuknya aja jelek gini'' protes Anggia, saat dia membuka kotak perhiasan yang di kasih, Aditama. Anggia dan Ibnu sedang berduaan di kamar pengantin mereka.
''iya kamu benar sayang, kotak nya saja yang bagus. Ini sih perhiasan seribuan yang di jual di warung-warung kecil itu, Keterlaluan!'' geram Ibnu, dengan cincin imitasi di tangan nya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ke esokan harinya.
''ayo sayang, papa akan memperkenalkan kamu keseluruhan karyawan dan petinggi perusahaan, kamu sudah siap untuk bekerja? Aksa akan membantu kamu!''
''baik lah pa, Mayang sudah siap''
''baiklah, setelah ini papa akan membuat pesta untuk meresmikan status kamu sebagai pengganti papa di perusahaan, papa akan mengundang perusahaan-perusahaan lain yang berkerja sama dengan kita.'' jelas Aditama berjalan bergandengan tangan dengan sang putri, menuju kendaraan roda empat mereka.
''apa itu tidak terlalu berlebihan, pa?''
''tidak, sayang.'' kata Aditama, ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Mayang hanya tersenyum simpul mendengar perkataan sang papa.
''jalan Aksa'' perintah Aditama.
''baik tuan''
Kemudian mobil melaju membelah jalanan, di pagi itu.
__ADS_1