Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Ketar-ketir


__ADS_3

Suasana pesta begitu meriah, artis ibukota bernyanyi bahagia menghibur para tamu undangan. Tamu undangan ada yang fokus kepada keluarga Mayang, ada yang menyantap hidangan yang telah disediakan dan sebagian juga ada yang berselfi ria dengan kedua mempelai.


Tapi siapa sangka, diantara hiruk pikuknya pesta. Ternyata bagi keluarga mempelai laki-laki suasana terasa begitu tidak nyaman, mereka tidak menikmati pesta tersebut, mereka dari tadi hanya diam kaku, dengan pikiran tidak tenang.


''cukup, berhenti dulu'' perintah pak kuncoro kepada sang artis dengan mengangkat tangannya, ketika sang artis hendak menembangkan sebuah lagu lagi. pak Kuncoro hendak berbincang-bincang sebentar dengan tuan Aditama. Mereka duduk di kursi yang mengelilingi meja di depan sekali.


Tadi keluarga Aditama sedang menyantap hidangan yang telah disediakan. Raihan, Mayang, mama Hanum dan tuan Aditama menyantap makanan dengan begitu nikmat. Sedangkan Aksa duduk di kursi yang lain, bergabung dengan beberapa pengawal dan bodyguard.


Mayang sama sekali tidak tertarik untuk memperhatikan Ibnu dan keluarganya, dia bersikap acuh, dia mencoba bersikap elegan, sebagaimana wanita-wanita berkelas. Berbeda dengan keluarga Ibnu yang sedari tadi terus saja memperhatikan Mayang dan Raihan dengan perasaan was-was. Keluarga Ibnu serta Ibnu sangat takut Mayang atau papanya menceritakan tentang semua masa lalu Ibnu. Tentang semua kejahatan dan kebusukan yang pernah mereka lakukan dulu sama Mayang kepada pak Kuncoro dan Istrinya.


''bagaimana menurut tuan, apakah makananya lezat?'' tanya pak Kuncoro berbasa-basi, sang istri duduk di sampingnya dengan senyum yang selalu menghiasi wajah dia juga sedang mengobrol bersama mama Hanum, sedangkan Raihan dan Mayang kini hanya duduk diam, sesekali mereka saling berbisik kecil, entah apa yang di bicarakan sama ibu dan anak tersebut.


''ini sungguh nikmat pak Kuncoro, terimakasih sudah menyambut kami dengan sangat baik'' balas Tuan Aditama ramah.


''iya, sama-sama tuan. Ini tidak ada artinya dibandingkan dengan kedatangan dan kehadiran tuan Aditama beserta keluarga. Tuan dan Keluarga sudah meluangkan waktu tuan untuk hadir di pesta pernikahan, yang saya tahu sedetik waktu tuan pasti sangat berarti dan berharga bagi tuan'' tutur Kuncoro.


''Ah, pak kuncoro terlalu berlebihan'' ucap Aditama sambil meneguk segelas air.


''apa tuan Aditama ingin berselfi dengan menantu dan putri saya?'' tawar Kuncoro.


''boleh juga, tapi nanti saja.'' jawab tuan Aditama dengan senyum sinis, dia memperhatikan wajah Ibnu di pelaminan, wajah Ibnu terlihat seperti tegang, menanggung beban.


''kalau boleh saya tahu, apakah menantu pak Kuncoro sudah pernah menikah sebelumnya? Ah, maksud saya begini, saya seperti tidak asing lagi melihat wajah menantu pak Kuncoro, oh ya, siapa namanya? soalnya saya masih lupa-lupa ingat namanya'' sambung Tuan Aditama. Bertanya, pura-pura tidak tahu.


''namanya Ibnu Setyawan, tuan Aditama. Dia sekarang yang memimpin di perusahaan milik saya, sudah ada selama 1 bulan ini. Saya sangat berharap dia bisa bekerja sama sama tuan dengan baik.

__ADS_1


''per-nah tuan, Ibnu pernah menikah sebelumnya. Tapi, pernikahan pertamanya tidak berjalan dengan baik. Dia sudah berpisah karena menurut keterangan yang saya dengar dari Ibnu dan keluarganya kalau mantan istrinya dulu tidak pernah becus dalam melayani Ibnu, dan dia juga tidak bisa menyesuaikan penampilannya dengan Ibnu, hingga membuat Ibnu kerap kali merasa malu. Apalagi sama mama dan adiknya Ibnu, wanita itu juga tidak pernah bisa akur sama mereka'' jelas pak Kuncoro. Membuat tuan Aditama sedikit terpancing emosi. Tapi, secepat mungkin Mayang mencoba mengelus tangan sang papa memberi kenyamanan, ini belum saatnya. Pikir Mayang.


''benarkah, anda yakin?'' tanya tuan Aditama menelisik.


''iya, sepertinya memang begitu tuan, karena menurut yang saya dengar selama ini, Ibnu merupakan karyawan yang teladan dan dia juga gigih. Yang pastinya mantan istrinya lah yang bermasalah dalam pernikahan mereka, bukan Ibnu'' jelas pak Kuncoro terlihat ragu.


''tapi, entah kenapa sejak pertama kali saya melihat pria itu, saya merasa kurang srek sama dia. Maaf, bukan apa-apa pak Kuncoro, saya hanya mengatakan apa yang saya rasakan. Semoga saja dia bisa bekerja dengan baik, seperti pak Kuncoro. Karena kalau tidak, saya akan membatalkan semua kerja sama kita, saya tidak ingin rugi pak Kuncoro'' tekan Aditama.


''ba-ik lah Tuan, saya jamin Ibnu tidak akan pernah megecewakan perusahaan besar milik tuan.


Oh ya, apakah ini putri tuan? Dia sungguh cantik, saya rasa saya belum pernah melihat dia sebelumnya!'' tanya pak Kuncoro mengalih topik percakapan, tatapannya tertuju kearah Mayang yang sedang duduk dengan begitu anggun.


''Iya, perkenalkan ini putri semata wayang saya pak Kuncoro, namanya Visensia Fitri Mayang Sari, dan ini cucu kesayangan saya Raihan Aditama'' ucap Aditama dengan bangga, dengan nada suara sedikit di tinggikan. Mayang dan Raihan tersenyum simpul ke arah pak Kuncoro.


''papa dari cucu saya sudah lama meninggal, dia meninggal saat putri saya sedang mengandung. Sejak menikah, putri saya ikut kerabat dekat saya yang ada di luar negeri, dan sekarang baru pulang. Saya memang sengaja menyembunyikan identitas putri saya sebelumnya. Tapi, besok saat putri saya sudah menemukan jodohnya dan akan menikah lagi, saya akan membuat pesta yang sangat meriah'' ucap Aditama sedikit membual, yang berhasil membuat wajah Mayang sedikit memerah, Mayang sedikit cemberut mendengar ucapan sang papa.


''oh ...! Semoga putri anda segera di pertemukan dengan jodohnya secepat mungkin tuan, seperti putri saya Anggia''


''iya, semoga saja. Tapi putri saya tidak akan saya biarkan menikah dengan orang sembarangan, dia akan menikah dengan orang berkelas dan bertanggung jawab''


''ih, papa'' celetuk Mayang sedikit memukul lengan kekar sang papa.


''aminkan saja sayangku, kamu sangat cantik, papa berharap kamu bisa mendapatkan pria tampan yang sepadan dengan kita'' goda Aditama. Membuat mama Hanum, Raihan, pak Kuncoro dan Istrinya tertawa bersama.


Sari yang duduk tepat di sebelah meja mereka, mendengar itu dengan perasaan geram, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, langkahnya seakan terkunci, bersusah payah Sari menormalkan detak jantungnya, tetapi tak bisa. Begitu juga dengan suaminya.

__ADS_1


''eh wanita itu sangat cantik ya, Sari. Tapi, kenapa wajah nya seperti tidak asing, ya?!'' tanya teman dekat Sari yang sempat mengomentari status Sari kemarin. Dia mengetuk-ngetuk tangannya ke kepala, sambil berpikir. Tatapannya selalu tertuju ke arah Mayang.


''lho kenapa diam aja dari tadi sih, Sar? Aneh bangat, biasanya lho yang paling heboh'' sambung temannya Sari, merasa heran.


''udah diam aja kenapa, sih!'' bentak Sari sedikit keras, moodnya benar-benar tidak baik.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kini tibalah saatnya Mayang, Raihan, tuan Aditama sama mama Hanum menuju pelaminan.


Mereka berjalan dengan penuh percaya diri, langkah kaki mereka berjalan menuju mama Reni dan Ibnu yang nampak gelisah.


Ibnu memperhatikan putranya Raihan, ''tampan sekali putraku, persis seperti aku'' batinnya mellow. ''dan Fitri kenapa bisa cepat sekali berubah menjadi cantik, Fitri begitu sempurna. Fitri benar-benar licik kenapa setelah kami berpisah dia baru mau kembali ke orang tuanya. Bisa habis riwayat aku'' batin Ibnu berkecamuk, seakan-akan jantung nya di remas dan dadanya terasa bagai dihimpit, susah sekali rasanya dia untuk bernafas.


Anggia berdiri juga dengan gelisah, dia sangat takut kehilangan Ibnu, dia takut Ibnu berpaling kepada Fitri lagi. Suasana pernikahan yang mereka impikan seakan sirna, kini hanya ada ketegangan di wajah mereka.


''anda Kenapa, sakit kah?'' tanya Aditama saat sudah berdiri di hadapan mama Reni, mama Reni menunduk dengan wajah pucat dan lesunya.


''ti-dak, saya tidak apa-apa'' jawab mama Reni gugup. Dia mengulurkan tangannya, karena dia kira Aditama akan bersalaman dengannya. Dia ingin Aditama dan mantan menantu nya segera berlalu dari pesta itu.


''tidak sudi'' tekan Aditama dengan suara keras, hingga terdengar oleh banyak orang. Dia menepis tangan mama Reni. Tatapan orang-orang tertuju ke arah mereka. Begitu juga tatapan pak Kuncoro dan Istrinya yang berdiri di samping Ibnu di ujung yang berlawanan, mereka sedikit heran melihat sikap tuan Aditama yang aneh.


Mama Reni semakin menundukkan wajahnya, entah kemana sikap angkuh yang biasa dia tunjukkan. Nyalinya seakan menciut saat berhadapan dengan Aditama, yang tingginya hanya se perut Aditama, dia nampak sangat kecil.


Ibnu juga ketar ketir, ''jangan sekarang, jangan di sini. Aku bisa mati, karirku bisa hancur kalau sampai tuan Aditama mempermalukan dan memberikan pelajaran kepada aku saat ini. Fitri benar-benar keterlaluan, dia pasti sudah mengadu. Duhh menyesal aku sudah menalak Fitri!'' batin Ibnu dengan peluh basi yang sudah membasahi sekujur tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2