Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Usai


__ADS_3

Senin


Di rumahnya, Ibnu tengah bersiap-siap. Dia akan pergi mendatangi sidang perdana perceraian antara dirinya dan Fitri. Tiba-tiba ponsel miliknya yang berada di atas tempat tidur berdering menandakan ada panggilan masuk. Ibnu mengambil ponsel yang dia letakkan di atas tempat tidur itu, ''mama'' gumamnya, ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel. Ibnu menggeser ke atas gambar telpon berwarna hijau, dia mengangkat panggilan tersebut.


''hallo ma, ada apa ma?'' Tanya Ibnu dengan posisi masih berdiri. Tangan yang satu dia masukkan kedalam saku celana.


''mama ikut kamu Ibnu, mama mau melihat wanita itu. Sekalian mama mau mempermalukan dia di depan orang banyak!'' sahut mama Reni dari seberang sana tanpa basa-basi.


''tidak usah ma, Ibnu sendiri saja.''


''tidak, pokoknya mama, Sari, dan Anggia akan hadir di persidangan kamu. Mama takut si Fitri itu menuntut banyak hal dari kamu, dan jangan-jangan dia mau menuntut rumah yang kini kamu tempati. Mama nggak rela dia mendapatkan sepeserpun harta milik kamu! Sudah jadi benalu selama lima tahun, sekarang apa lagi maunya dia. Dasar wanita serakah. Mama sudah tahu tentang niat busuknya,'' umpat mama Reni di seberang sana. Ibnu hanya bisa menarik nafas dalam mendengar celotehan sang mama.


''ya sudah, aku jemput mama ya. Anggia biar dia pergi sendiri saja, sedangkan Sari biar dia pergi bersama Hamka. Aku juga nggak rela ma Fitri menuntut harta gono-gini dari aku. Yang aku takut kan dia menggunakan nama Raihan untuk memeras aku''


''iya, memang itu yang mama takutkan Ibnu, kalau perlu kamu sewa pengacara hebat, kalau dia menuntut mu, kamu tuntut balik dia! Kamu sekarang sudah menjadi direktur utama di sebuah perusahaan, semua bisa kamu beli menggunakan uang mu, sayang. Okey sayang, lakukan yang terbaik, jangan biarkan Fitri itu hadir dan mengusik hidupmu lagi. Apalagi si bocah yang bernama Raihan itu, mama dari dulu tidak pernah menganggap dia sebagai cucu mama!'' kata mama Reni panjang lebar. Ibnu fokus mendengarkan.


''siap, ma! Semuanya akan beres ma,'' balas Ibnu singkat.


Lalu panggilan pun terputus, mama Reni memutuskan panggilan tanpa mengucap salam terlebih dahulu, membuat Ibnu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang mama.


Mama Ibnu sudah berusia kepala enam, dia memiliki tubuh sedang, dengan dandanan sehari-hari yang begitu menor, rambut yang sudah memutih miliknya, dia semir menggunakan semir hitam. Dia sangat rajin merawat tubuh tua nya dengan uang pemberian dari Ibnu. Sedangkan papa Ibnu sudah lama tiada, dia sudah meninggal.


Ibnu telah siap dengan kemeja panjang bewarna putih yang di lapisi dengan jas bewarna hitam, celana kerja bewarna hitam, serta sepatu hitam mengkilap.


Dia menatap pantulan dirinya di depan cermin.


''ah, kenapa aku bodoh sekali waktu itu, aku malah membuang-buang waktu untuk hal yang sia-sia. Kenapa tidak dari dulu saja aku membuang Fitri, lalu menikah dengan Anggia. Anggia memang dapat di andalkan. Lihat lah, aku sekarang kelihatan sungguh sangat tampan dan berkelas'' gumamnya, dengan berputar-putar di depan cermin yang menampilkan seluruh tubuhnya dari atas hingga kebawah. Berulang kali dia menyisir rambut hitam mengkilap nya yang di kasih minyak.


Saat Ibnu tengah asyik memuji-muji dirinya sendiri di depan cermin, dia di kagetkan dengan suara ketukan pintu yang terdengar berirama diiringi dengan suara salam dari luar.


Ibnu melangkahkan kakinya menuju pintu utama, lalu membuka pintu tersebut.


Dia melihat wanita seusia mamanya tengah berdiri di depan pintu, dengan penampilan yang biasa saja. Daster semata kaki di padukan dengan jilbab panjang.


''assalamualaikum,'' ucap wanita itu ramah.


''iya, ada perlu apa?'' ketus Ibnu, sambil memainkan ponsel miliknya. Dia terlihat begitu angkuh.


''maaf nak Ibnu, neng Fitrinya ada di rumah?'' tanya mak Iroh sopan.

__ADS_1


''Fitri sudah tidak tinggal di sini lagi, kami sudah dari sebulan yang lalu berpisah. Jadi berhenti mencari Fitri disini, mungkin dia sekarang lagi ada di kolong jembatan. Ada perlu apa?''


Mak Iroh diam, dia tidak menyangka kalau Fitri sudah tidak tinggal dirumah itu lagi, mak Iroh juga tidak menduga ternyata Ibnu begitu tega sama Fitri. ''aduh gimana ini? Ini lho, mak mau memberikan uang hasil jualan kue neng Fitri yang pernah dia titipkan waktu itu. Mak sudah lama menunggu dia datang ke warung mak, tapi neng Fitri tak kunjung datang. Makanya mak kesini, mak kira neng Fitri lagi sakit'' jelas mak Iroh, tatapannya tertuju ke arah Ibnu.


''mana uang nya?'' sahut Ibnu menaguk tangan.


''i-ini, semuanya ada 200 ribu. Buat mak sudah mak ambil'' mak Iroh berkata sedikit terbata-bata sambil menyerahkan dua lembar uang mata merah. Ibnu memang tidak tahu sopan santun, dia mengambil uang itu dengan cepat.


''ya sudah, terimakasih'' ujar Ibnu, lalu menutup pintu sedikit keras.


Mak Iroh masih berdiri di depan pintu sambil mengelus-elus dadanya. ''semoga anak keturunan saya di jauhkan dari sifat sombong dan angkuh seperti itu. Dan semoga saja nak Fitri baik-baik saja dimanapun dia berada'' batin mak Iroh. Lalu mak Iroh melangkahkan kakinya, berlalu dari rumah itu dengan sekantung kresek hitam di tangan, yang berisi buah jeruk di dalamnya, rencananya tadi mak Iroh akan memberikan buah itu untuk Fitri.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Di kediaman Aditama, setelah selesai sarapan bersama-sama, Mayang masuk ke kamarnya. Lalu menuju ruangan lain di kamar itu. Dia duduk di kursi di sebuah ruangan kecil yang telah di persiapkan untuk dirinya belajar, membaca atau mengerjakan tugas kuliahnya dulu.


Tiba-tiba sang papa menyusul, menghampiri dia ke kamar.


''sayang, gimana? Apa kamu sudah siap untuk ikut papa ke kantor hari ini? Papa akan memperkenalkan kamu keseluruhan karyawan di kantor'' ucap sang papa, berdiri menatap Mayang.


''sepertinya belum pa, aku akan mempelajari semua ini dirumah terlebih dahulu'' balas Mayang, sambil menunjuk tumpukan kertas yang sengaja di kasih sang papa untuk dia mempelajari tata cara mengerjakan pekerjaan di perusahaan.


''baiklah, belajar yang giat dan teliti ya sayang'' kata Aditama dia mengelus pucuk kepala Mayang.


''iya, kamu tidak usah datang, sayang. Papa sudah menyewa 3 orang pengacara hebat, biar mereka saja yang datang untuk menyelesaikan semuanya. Biar semua urusan kamu dan Ibnu itu cepat di selesaikan, papa tidak ingin kalian ada sangkutan apa-apa lagi, papa juga telah mengurus hak asuh atas Raihan, nanti sekalian akan di sidang kan semua nya. Untuk harta gono-gini, papa tidak menuntut, papa tahu mantan suami kamu itu kere sayang, harta yang papa punya sudah lebih cukup untukmu dan Raihan.'' jelas sang papa.


''iya pa, terimaksih ya pa, papa selalu melakukan yang terbaik untuk Mayang''


''iya, papa akan selalu melakukan yang terbaik untukmu.''


''thanks you, dad''


''your welcome'' ucap tuan Aditama, kemudian dia pergi dari hadapan Mayang. Dia akan ke kantor dengan di temani Aksa.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Ibnu dan rombongan sudah sampai di kantor pengadilan, mereka melangkahkan kaki cepat, berjalan memasuki ruangan.


Anggia tetap sama, dia bergelayut manja di lengan kekar milik Ibnu. Pakaiannya begitu seksi dan terbuka, rok di atas lutut dan baju kensi tanpa lengan.

__ADS_1


Sedangkan Sari, mama Reni dan Hamka berjalan di belakang mereka. Hamka memandang body bahenol Anggia dari belakang dengan lekat, dengan tatapan penuh minat, tanpa di sadari oleh sang istri, Sari.


***********


Kini mereka semua telah duduk di kursi masing-masing, mereka celingukan mencari keberadaan Mayang, yang mereka sebut dengan Fitri.


Kuasa hukum Mayang juga sudah hadir, tuan Aditama menyewa 3 pengacara sekaligus yang membuat rombongan Ibnu sedikit kaget.


''itu kan, pengacara kondang itu ma, yang kalau nggak salah namanya Hotmun puris'' bisik Sari sambil menunjuk salah satu kuasa hukum Mayang.


''iya kali. Mama nggak tahu!'' ketus mama Reni.


''hebat si Fitri itu ya, bisa menyewa pengacara berkelas seperti mereka itu'' Ujar Hamka.


''alah, palingan si Fitri itu m*nj*al tubuh kurus nya itu.'' Fitnah mama Reni.


Kemudian tidak terdengar apa-apa lagi, mereka fokus dengan jalannya persidangan.


Setelah melakukan berbagai rangkaian, akhirnya hakim memutuskan persidangan selesai hari itu juga. Karena tidak ada yang perlu di negosiasikan, semua juga atas dorongan dari para pengacara Mayang. Hak asuh Raihan jatuh ketangan Mayang, keluarga Ibnu juga bernafas lega karena Mayang tidak menuntut harta gono-gini. Tapi, yang menjadi beban pikiran mereka, mereka masih kepikiran tentang Mayang yang mampu membayar pengacara kondang tiga sekaligus.


*********


Di area parkiran.


''eh, pak pengacara maaf menganggu waktunya sebentar. Kalau boleh kita tahu, si Fitri kenapa tidak datang? Lalu kalian bertiga di bayar berapa sama dia? Apa jangan-jangan kalian tidak dibayar sepeserpun, alias gratis gitu?!'' tanya mama Reni sedikit lembut, dia begitu genit, dengan tubuh gemulai. Dia menghalangi langkah ketiga pengacara Mayang.


''itu bukan urusan anda, dan kalian'' tegas seorang pengacara, dengan membentak dan menunjuk wajah mama Reni serta keluarga Ibnu yang lain. Lalu mereka berlalu melewati tubuh tua mama Reni, mereka masuk ke dalam mobil mewah milik mereka.


Ibnu CS merasa amat kesal dan marah di perlakukan seperti itu.


*************


"Selamat siang tuan Aditama, senang bisa bertemu dengan anda secara langsung, sang pemilik perusahaan terbesar dan tersukses di negeri ini''


''iya, selamat siang juga tuan Kuncoro, anda terlalu berlebihan''


''tidak, itu memang kenyataannya tuan Aditama. Ini, saya ke mari ingin memberikan undangan pesta pernikahan anak saya secara langsung kepada anda tuan. Saya sangat senang jika tuan bersama keluarga tuan datang ikut memberi selamat kepada putri saya dan suaminya''


''saya insha Allah akan datang, ini pesta besar. Lagian perusahaan kita juga sudah bekerja sama cukup lama. Saya akan menyiapkan kado istimewa untuk putri anda dan suaminya'' sahut Aditama dengan senyum sulit diartikan, sambil memandang undangan, yang disitu terdapat foto mantan menantu yang tak pernah di anggap nya.

__ADS_1


''iya, terimaksih banyak tuan. Itu yang sangat saya harapkan,'' ujur tuan Kuncuro, papanya Anggia.


Kemudian mereka mengobrol beberapa saat, menghabiskan segelas tes melati.


__ADS_2