
pov Author
''ma ... Ini beneran Mama?!'' tanya Fitri memastikan, Fitri mengerjap hingga air mata jatuh membasahi pipi tirusnya. Tangannya sedikit gemetar memegang ponsel jadulnya.
''iya, ini mama sayang!'' jawab Hanum ibunya Fitri yakin, di seberang sana.
''mama kenapa nangis?'' kata Raihan putra Fitri, dia sudah berdiri, mensejajarkan tubuh kecilnya dengan sang mama, menghapus sisa air mata di pipi sang mama.
Fitri hanya menggeleng, dia kesulitan berbicara, ini semua begitu mengejutkan, setelah 5 tahun baru kali ini sang mama menghubunginya. Fitri memeluk tubuh mungil Raihan, membawanya kedalam dekapannya.
''itu suara cucu mama, sayang?!'' tanya mama Hanum terdengar begitu antusias.
''iya, ma. Cucu mama sekarang sudah besar. Maaf, maaf kan Mayang ma, Mayang sudah jadi anak durhaka, Mayang sudah meninggal kan kalian! Mayang rindu!'' kata Fitri sesenggukan, Mayang adalah nama panggilan kesayangan mama dan papa nya untuk diri nya, mereka memanggil Fitri dengan sebutan Mayang.
''mama tidak bisa memaafkan kamu, Mayang!'' jawab Hanum terdengar tegas.
''ke-napa, ma?!'' tanya Fitri terbata, Fitri menajamkan pendengarannya, jantung nya berdegub lebih kencang.
''iya, mama tidak akan memaafkan kamu sebelum kamu pulang dan kembali ke rumah, sayang. Papa dan mama sudah semakin renta, kami butuh kamu sebagai penerus perusahaan dan usaha kami. Kamu pulang ya, ajak suami kamu juga. Hanya kamu satu-satunya harapan mama dan papa, Mayang!'' ucap Mama Hanum terdengar memohon.
''iya, ma. Mayang akan pulang! Papa gimana kabarnya ma? Sehatkah?'' tanya Fitri.
''papa sehat sayang. Makanya kamu cepatan pulang, ya. Atau kalau tidak kamu kasih tahu alamat kamu sekarang di mana, biar orang suruhan mama jemput kamu segera Mayang.'' kata mama Hanum, selama 5 tahun ini, mama dan papa Fitri memang tidak pernah mencari tahu tentang keadaan dan keberadaan putrinya, mereka membiarkan Fitri bebas, hidup sesuai kemauan Fitri. Tapi, semakin lama, papa nya Fitri makin banyak melamun, semenjak kepergian Fitri dia bersikap kejam kepada anak buah dan karyawan-karyawannya di Kantor. Papa Fitri selalu teringat sama putri kesayangannya. Yang membuat mama Hanum kuatir dan kepikiran selalu.
''tidak usah ma, mayang akan pulang sendiri bersama Raihan anak Mayang! Mama tunggu saja, ya. Mayang akan mengabari mama!'' jelas Fitri.
''iya, sayang. See you! Jaga diri mu baik-baik, kami selalu menunggu dan merindukan mu, nak''
Kemudian setelah mengucapkan salam panggilan berakhir, lama Fitri termenung. Dia merasa lega dan tidak menyangka ternyata sang mama masih ingat dan mau menghubungi nya, setelah apa yang dia lakukan di masa lalu. Fitri merasa beruntung memiliki orang tua hebat seperti mama dan papanya. Senyum manis terbit di wajah Fitri. Lalu, setelah itu Fitri dan Raihan lanjut makan lagi, menghabiskan makanan.
''keadaanku harus terlihat lebih baik sebelum aku kembali kerumah mama dan papa. Aku tidak ingin membuat mereka bersedih melihat penampilan aku'' batin Fitri.
Fitri tidak peduli saat orang-orang yang berada di warung, mereka menatap Fitri dengan tatapan aneh.
__ADS_1
**********
Sementara itu, di tempat berbeda, Ibnu baru saja bangun. Bergegas dia melihat arloji, lalu setelah itu dia mengumpat kesal.
''sial, kesiangan lagi aku hari ini! Di mana Fitri? kenapa dia tidak membangunkan aku!'' Gumam Ibnu dengan penglihatan masih sayu.
Ibnu melangkahkan kakinya, berjalan sedikit sempoyongan ke luar kamar.
''Fitri ...''
''Fitri ....!''
Teriaknya memanggil Fitri, Ibnu berjalan ke kamar Raihan, lalu ke dapur, serta ke kamar mandi, tidak dia temukan keberadaan Fitri.
''dasar, istri tidak berguna! Semakin hari sikap nya semakin menjadi-jadi, dia benar-benar sudah berani menantang aku sekarang!'' kata Ibnu, sambil meneguk air dari dalam gelas. Dia duduk di kursi meja makan. Dia teramat kesal melihat meja makan yang masih kosong, yang hanya ada air putih, masih sama seperti kemarin. Padahal sebelum itu, Fitri selalu rajin melayani Ibnu, makanan selalu tersedia di meja makan.
''ini gara-gara Sari juga, kenapa waktu itu dia tidak bisa menjaga sikap nya. Dan sekarang, Fitri sepertinya tidak mau lagi di bodohi, padahal aku dulu begitu senang memiliki istri rasa babu sepertinya!'' Gumam Ibnu lagi.
Kemudian Ibnu berlalu ke kamar mandi, dia mau membersihkan dirinya.
**********
''tidak, sayang! Mas kesiangan lagi hari ini. Sekarang mas lagi di rumah mama. Tadi, mas sudah izin sama papa sayang, mas mengatakan kalau mas tidak bisa masuk kerja lagi hari ini karena tidak enak badan!'' jawab Ibnu, memegang ponsel, dia lagi duduk di sofa di rumah mama nya. Anggia merupakan anak dari direktur utama di perusahaan tempatnya bekerja. mereka sudah menjalani hubungan istimewa cukup lama.
''owwhh, kasihan sekali pacarnya aku! Ya sudah, kalau begitu aku ke sana ya sayang, aku mau nyusulin kamu, sekalian mau ketemu sama mama. Setelah itu kita senang-senang lagi seperti kemarin. Aku akan membooking hotel lagi beib, kita habiskan waktu kita seharian lagi di sana'' kata Anggia, dia teramat mencintai Ibnu.
''iya, sayang! Mas tunggu. Hati-hati ya honey,'' jawab Ibnu, sambil tersenyum puas.
''iya, honey'' sahut Anggia.
Kemudian panggilan terputus.
''Anggia, ya?'' tanya mama Ibnu yang duduk tidak jauh dari Ibnu, dia tadi sempat menguping.
__ADS_1
''iya, ma,'' jawab Ibnu santai.
''Ibnu, lebih baik kamu tinggalkan saja si Fitri. Kamu menikah saja sama Anggia. Tidak ada yang bisa kamu harapkan dari wanita benalu seperti si Fitri itu'' celetuk mama nya Ibnu memberi saran.
''tidak akan ma, Ibnu tidak akan melepaskan Fitri! Fitri itu sumber harta kekayaan kita ma, bahkan harta papanya Anggia saja tidak sebanding sama punya orang tua Fitri!''
''iya, mama tahu Ibnu. Tapi, sampai kapan? Fitri itu asal usulnya saja dari keturunan berada, tapi, dia begitu bodoh. Ini sudah 5 tahun lamanya Ibnu, Fitri masih betah saja tinggal bersama kamu, orang tuanya juga tidak pernah mencarinya. Mama begitu benci sama istri babu mu itu, setelah apa yang dia lakukan kemarin. Dia benar-benar katerlaluan. Dia sudah berani melawan kita!'' ungkap Reni, mamanya Ibnu.
''mama benar juga, ya. Aku akan pikirkan ma. Tapi, sebelum aku melepaskan Fitri aku akan membuat hidupnya menderita terlebih dahulu, ma'' sahut Ibnu sambil memijat, keningnya. Lalu Sedikit tersenyum sinis, begitu pun mamanya.
Tidak lama, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil dari luar.
''mama!'' teriak Sari, Sari datang, sambil menggendong anak perempuan nya yang masih bayi.
''iya, masuk Sari'' jawab mama Reni, menghampiri sang putri dan cucu tercintanya.
''ma, hari ini mama jaga anak aku ya ma, aku mau shopping dan jalan-jalan sama mas Hakam.'' ucap Sari. Suaminya menunggu di mobil.
''duh, mama tidak bisa sayang, mama juga mau keluar nanti. Mama ada arisan sama teman-teman mama'' ujar mama Reni, sambil membawa cucunya ke dalam dekapannya.
''yah, gimana dong ma'' kata Sari terdengar putus asa.
''Gi mana ya? Ah ya, mama punya ide sayang, kamu titipkan saja cucu mama ya lucu ini sama si Fitri.''
''tapi, Sari takut babu sialan itu nyakitin Meisya ma.'' ungkap Sari.
''tidak akan sayang, kalau dia berani macam-macam sama Meisya, mas mu akan memberikan dia pelajaran yang lebih menyakitkan! Ya kan Ibnu?'' ucap mama Reni, sambil melihat kearah Ibnu, Ibnu mengangguk memberi jawaban.
''Iya sudah, mama ada benarnya juga! Dia kan babu gratisan di keluarga kita.'' ucap Sari menimpali.
Kemudian mereka tertawa bersama-sama.
Setelah itu, Sari berlalu, melangkahkan kakinya lebar menuju kendaraan roda empat miliknya, dia akan membawa anaknya kerumah Ibnu dan Fitri.
__ADS_1
Sementara itu, Ibnu abai, dia bersikap tidak peduli saat mama dan adiknya membicarakan sang istri. Ibnu tidak sabar lagi menunggu kedatangan Anggia, dia sudah tidak sabar ingin bermanja-manja dengan kekasih gelap nya itu, seperti kemarin-kemarin, menghabiskan hari bersama perempuan yang di cintai nya dengan bermandi keringat bersama-sama.