
Mayang masih bertanya-tanya di dalam hati tentang siapa yang meninggal jejak di dahan pohon yang cukup besar tersebut, tulisannya bukan di tulis menggunakan pulpen atau spidol, tapi, di ukir menggunakan benda tajam, ukiran yang tampak indah.
''Mayang? Mayang siapa yang di maksud di sini? ah ... Tidak mungkin Aksa yang menuliskan nya, dan tidak mungkin juga Mayang yang di maksud itu aku, karena di dunia ini tidak hanya diriku saja yang bernama Mayang. Mungkin di rumah pohon ini banyak muda-mudi yang suka nongkrong lalu iseng menulis, meninggalkan jejak di sini.'' Mayang bermenolog. Tangannya menyentuh ukiran yang bertuliskan 'Mayang Aku Mencintaimu'
Saat Mayang tengah asyik dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba seorang wanita seusianya bersuara dari bawah dengan menyinarinya menggunakan sinter penerang.
''hey, siapa yang di atas?'' sapa perempuan itu. Langsung berteriak, sementara dibawah dia melihat mobil terparkir dengan Pak sopir di dalam.
Mayang tersadar dari lamunannya, lalu menjawab.
''iya, ini aku Mayang'' jawab Mayang ramah.
''Mayang siapa? Aksa mana, biasanya Aksa yang selalu duduk di atas'' kata Gendis heran.
''Mayang Putrinya tuan Aditama, naiklah kita mengobrol di atas saja'' jawab Mayang dengan tatapan fokus ke bawah.
''emang boleh?''
''boleh dong''
''Yey.'' sahut Gendis merasa senang.
Setelah itu, Gendis anak Ibu Panti naik ke atas hendak menghampiri Mayang.
Saat akan sampai, Mayang menjulurkan tangannya membantu Gendis.
''ternyata cukup membuat aku ngos-ngosan naik ke rumah pohon ini.
waw, ternyata di atas sangat bagus. Yah .... Pintunya ternyata di gembok, padahal aku ingin sekali melihat apa yang ada di dalamnya, aku merasa begitu penasaran ngapain saja kerjaan Aksa yang betah lama-lama di tempat ini'' cerosos Gendis dengan tarikan nafas yang terdengar cepat.
''emang kamu sebelum nya nggak pernah masuk rumah pohon ini? Dan kamu siapa?'' tanya Mayang penasaran. Gendis duduk di sebelah Mayang, sebelum melanjutkan obrolan, mereka berkenalan terlebih dahulu. Setelah berkenalan satu sama lain, mereka kembali melanjutkan obrolan yang tadi.
''nggak pernah, Aksa selalu melarang aku. Saat aku baru ingin menginjakkan kaki ku di anak tangga pertama, maka Aksa dengan cepat berkata 'STOP' membuat nyali ku ciut. Ini tempat khusus yang di bangun Aksa beberapa tahun yang lalu. Hanya dia yang boleh berada di tempat ini.
Tetapi sekarang Ibu lagi gelisah karena tidak ada kabar dari Aksa hari ini, begitu juga aku. Makanya aku mencari Aksa ke sini atas perintah Ibu''
''hanya dia? Orang lain, atau muda-mudi lainnya nggak pernah nongkrong di sini?
__ADS_1
Sama, aku dan Papa-ku juga sedang gelisah memikirkan Aksa yang tiba-tiba menghilang, karena tidak biasanya Aksa berulah seperti ini''
''ya nggak lah Mayang, aku saja di larang naik ketempat ini, apalagi orang lain. Tuh, kamu bisa lihat sendirikan gemboknya gedek begitu.
Aku berharap Aksa akan baik-baik saja, di manapun dia berada'' ujar Gendis.
''ohh. Begitu.
Amin'' sahut Mayang singkat, mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah mengobrol cukup lama akhirnya Mayang memutuskan untuk pulang, begitu juga Gendis.
Selama dalam perjalanan pulang, Mayang selalu kepikiran sama perkataan Gendis, Ponsel yang ada di genggaman nya selalu menjadi pusat perhatiannya. Kabar dari Aksa yang dia tunggu tak kunjung dia terima.
******
Di tempat yang berbeda saat selesai sarapan dan mengobrol beberapa hal bersama sang Papa, Gentala dan juga Hani. Aksa memutuskan untuk kembali ke rumah Aditama, setelah pamit dan sedikit memohon kepada Bagaskara akhirnya Bagaskara mengizinkan Aksa untuk pulang.
''Papa tunggu kepulangan-mu besok, Nak. Jelaskan semuanya kepada Aditama, lalu setelah itu menetaplah di sini'' kata Bagaskara lirih.
Gentala dan Hani langsung ke kamar mereka, setelah Bagaskara menjelaskan yang sebenarnya tadi. Gentala merasa sangat murka ketika mengetahui kenyataan yang sesungguhnya. Berulang kali Gentala berteriak, 'tidak mungkin'. Gentala benar-benar merasa syok mendengar kabar buruk baginya.
Aksa masuk ke dalam mobil miliknya, lalu melambaikan tangan ke pada sang Papa yang berdiri di teras rumah melepas kepergian nya. Besok Aksa akan kembali lagi kerumah itu, begitu lah janjinya kepada sang Papa.
Saat mobil miliknya sudah bergerak maju, menjauh dari rumah mewah itu. Aksa teringat akan benda persegi yang selama seharian ini tidak pernah di sentuh nya.
Dia mengambil Ponselnya yang berada di laci dashboard mobil.
''mati ternyata,'' gumam Aksa, melihat ponsel nya yang tak menyala lagi. Dia mengambil PowerBank lalu, mengisi daya baterai handphone nya sesaat.
''aku harap tuan Aditama tidak akan murka dengan kesalahan-ku hari ini.'' gumam Aksa dengan tatapan lurus kedepan, dia dilanda kecemasan akan kemarahan sang tuan.
''ternyata Gentala bukanlah saudara kandung-ku. Syukurlah, setidaknya aku tidak perlu sungkan kepada nya. Bagaimana pun caranya aku tidak boleh menyerah. Aku akan terus memperjuangkan Mayang.'' Aksa kembali bermonolog.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Aksa tiba di kediaman Aditama.
Memang kebetulan atau apa, mobil yang dikendarai Aksa berpas-pasan dengan mobil yang membawa Mayang di gerbang. Lalu mobil itu masuk beriringan dengan mobil yang membawa Mayang di depan. Entah kenapa Mayang merasa jantungnya berdebar hebat saat dia menyadari dan menatap sekilas wajah tampan Aksa yang terlihat sedikit di jendela mobil. Mayang memegang dadanya, ''tidak, ini terlalu cepat. Makam anakku saja belum kering'' batin Mayang seraya menormalkan detak jantung nya.
__ADS_1
*****
"Non, non Mayang dari mana malam-malam begini?'' tanya Aksa sopan, saat dia baru keluar dari mobil dia membuka pintu mobil Mayang dengan cepat.
''a-ku, aku tadi ....'' jawab Mayang sedikit gugup.
''kita tadi habis dari rumah pohon den, Aksa, mencari keberadaan Aden'' sambung Pak sopir begitu saja, yang membuat Mayang melebarkan matanya menatap Pak sopir yang sudah cukup lama bekerja dengan keluarga Aditama.
''Pak!'' sela Mayang. Pak sopir menunduk sungkan sama Mayang.
''rumah Pohon?'' ulang Aksa menatap Mayang.
''i-ya Aksa, Papa merasa sangat khawatir karena kamu seharian ini menghilang tanpa kabar. Makanya aku berinisiatif mencari kamu kesana, berharap nya sih kamu ada di sana, tapi nggak ada. Mana kamunya juga susah bangat di hubungi,'' jelas Mayang sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''maaf Non, Ponsel aku mati seharian ini. No-n Mayang ngapain saja di rumah Pohon tadi?''
''tidak ngapain-ngapain. Aku hanya duduk di teras rumah pohon milik mu, karena pintunya di gembok''
''lalu?'' tanya Aksa lagi, wajahnya terlihat pias.
''lalu apa, Aksa?''
Saat mereka sedang mengobrol di teras, tiba-tiba Aditama keluar dengan langkah kaki lebar dengan di dampingi Mama Hanum di sebelah nya.
''Aksa!'' ucap Aditama terdengar tegas.
''iya tuan,'' jawab Aksa berjalan menghampiri Aditama.
''ayo masuk dulu, kita berbicara di dalam''
*****
"Jelaskan! Kamu hari ini kemana saja, Aksa? Bisa-bisanya kamu lari dari tanggung jawab mu,'' tanya Aditama saat mereka sudah berada di dalam, mereka duduk di sofa ruang keluarga.
''maaf tuan. Aku tadi habis ....''
Bersambung!
__ADS_1