Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Mengunjungi rumah mertua


__ADS_3

Selesai sholat subuh, Aksa membuka jendela kamar. Begitu jendela terbuka, angin pagi yang dingin terasa menerpa wajah tampannya, angin itu berlomba-lomba masuk keruangan, dengan seketika ruang kamar pengantin itu terasa lebih sejuk karena sebagian udara dari luar telah berpindah kedalam.


Bekas hujan semalam menyisakan embung-embun kecil yang menyejukan.


Mayang duduk di kursi di depan meja rias, dia mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas menggunakan handuk. Aksa berjalan menghampiri Mayang.


''Sini biar mas bantu Sayang'' tawar Aksa. Aksa berdiri di belakang tubuh Mayang. Dengan seketika handuk berpindah tangan, Aksa mengusap rambut sang istri dengan lembut dan telaten. Setelah beberapa saat,


''Tolong ambil sisir nya lagi Sayang. Ini sudah sedikit kering. Biar Mas sisir.'' ucap Aksa lagi, nada bicaranya begitu pelan dan lembut. Terdengar begitu menenangkan bagi Mayang.


''Terimakasih Mas. Tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah.'' Mayang tersenyum dengan wajah berseri-seri. Mayang menatap bayang dirinya dan sang suami yang ada di cermin. Mereka nampak sangat serasi.


''Terimakasih juga untuk yang semalam dan yang barusan.'' Aksa berucap, dia menciumi pucuk kepala Mayang pelan dan berulang.


''Iya, sama-sama, Mas. Lain kali jangan jail gitu lagi ya, Mas. Aku enggak suka!'' ucap Mayang. Tadi Aksa menggendong tubuh Mayang yang masih polos ke kamar mandi, memasukkan tubuh sang istri ke bathtup, lalu dia kembali menggempur tubuh sang Istri tanpa ampun. Membuat Mayang sedikit kesel sama ulah sang suami. Tetapi kendati demikian, Mayang juga merasa senang dan makin ketagihan.


''Nambah lagi yuk,'' goda Aksa dengan mata di kedipkan sebelah. Kini wajahnya telah berpindah pada tengkuk leher sang Istri. Mayang merasa geli, hembusan nafas sang suami membuat bulu kuduk nya berdiri.


''Apaan sih, enggak tahu waktu!'' wajah Mayang merona.


Tiba-tiba suara sang Mama terdengar dari luar.


''Sayang, ayo kita sarapan bareng. Kalian pengantin baru jangan di kamar melulu. Ingat makan. Tambah tenaga.'' teriak Mama Hanum seraya mengetuk pintu.


''Iya, Ma.'' sahut Mayang dengan wajah yang semakin merona karena mendengar perkataan sang Mama.


''Di tunggu, jangan lama.'' balas sang Mama, setelah itu terdengar langkah kaki menjauhi kamar.


''Ayok kita keluar Mas. Mama udah manggil tuh. Malu tahu!'' Mayang berdiri, mengambil jilbab instan, memasang asal, lalu berjalan ke arah pintu kamar.


''Tapi nanti nambah lagi ya.'' goda Aksa yang mengikuti sang istri di belakang. Aksa masih memakai sarung dan koko.


''Iihh dasar nakal!'' Mayang mencubit kecil perut Aksa.


Saat Mayang hendak menarik handel pintu, Aksa melingkar kan tangan kekarnya di perut sang istri.


''Udah. Nanti aja lagi.'' Mayang berbicara dengan wajah cemberut, dia membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.


Cup!


Satu kecupan di bibir berhasil Aksa darat kan. Tubuh Mayang termangu karena ulah Aksa.


''Jatah pagi ini. Ayo sarapan.'' Ucap Aksa santai, dia keluar duluan. Sedangkan Mayang masih sibuk menetralisir detak jantung nya yang tiba-tiba berpacu karena ulah sang suami.


***


Di meja makan, saat sarapan.


''Bagaimana Aksa, apa tadi malam kamu tidur dengan nyenyak?'' tanya Papa Aditama setelah meneguk air dalam gelas.


''Uhk ... Uhk ...'' Mayang yang sedang mengunyah makanan terbatuk kecil mendengar pertanyaan konyol sang Papa. Aksa menyodorkan air ke arah sang istri.


''Iya, Pa. Tadi malam aku tidur dengan sangat nyenyak.'' jawab Aksa santai.


''Iya, saking nyenyak nya enggak mau lagi keluar kamar.'' timpal Mama Hanum seraya tersenyum ke arah sang putri.


Mayang menundukkan kepalanya. Rasa malu karena terus di goda membuat wajahnya memanas.

__ADS_1


Kedua orangtuanya tersenyum senang karena mereka merasa berhasil menggoda sang putri semata wayang. Mereka juga tidak sabar lagi ingin segera memiliki cucu dari Aksa dan Mayang.


***


Selesai sarapan, Mama Hanum dan Papa Aditama tengah bersiap-siap. Mereka akan pergi ke Kantor karena di Kantor akan ada acara seleksi calon Asisten baru. Tuan Aditama akan mencari Asisten baru untuk menemaninya, karena dia merasa tidak mampu untuk menghandle perusahaan sendirian.


Aksa pun setelah masa cuti nya berakhir, dia akan kembali ke Kantor. Mengurus perusahaan milik nya.


***


Selepas kepergian kedua orangtuanya. Mayang dan Aksa juga tengah bersiap-siap. Hari ini mereka akan menghabiskan waktu di luar.


Aksa akan membawa sang Istri berkunjung kerumah Papa Bagas, karena belum pernah sekalipun Mayang menginjakkan kakinya di sana.


''Sempurna. Istri Mas sudah cantik.'' kata Aksa. Setelah Mayang selesai memasang jilbab segi empat. Hari ini Mayang dan Aksa memakai outfit bewarna senada, warna Milo.


''Kamu juga sudah sangat tampan, Mas.'' Mayang merapikan kerah kemeja sang suami.


''Ohh pastinya. Mas memang selalu terlihat tampan.''


''Hahaha kepedean ... Tauk gitu lebih baik aku bilang kamu jelek aja.''


''Tampan jelek tetap suami kamu, Sayang.''


"Iya. Benar sekali''


''Udah, yukkk''


**


Mobil berbelok memasuki gerbang yang menjulang tinggi, Mayang memanjangkan lehernya keluar jendela mobil. Dia terkagum-kagum melihat rumah orang tua Aksa yang begitu megah dan indah. Dengan halaman luas.


''Biasa saja Sayang.'' sahut Aksa merendah.


''Enggak, ini keren banget lho, Mas.''


''Iya, kata Papa ini rumah peninggalan keluar Mama.''


''Wah, ternyata Mas memang keturunan orang-orang hebat ya. Beruntung sekali aku.''


''Bisa aja kamu, Sayang. Mas yang beruntung bisa memiliki kamu.'' Aksa mengusap pucuk kepala sang Istri.


''Almarhumah Mama mertua aku pasti orangnya sangat cantik.''


''Iya. Memang sangat cantik. Nanti di dalam kamu bisa lihat fotonya.''


Aksa dan Mayang keluar dari mobil. Bagaskara yang tahu sang anak dan menantunya akan berkunjung sudah menunggu di depan pintu utama, dengan di temani beberapa pelayan.


Bagaskara menyambut Mayang dengan ramah.


Setelah itu mereka masuk, Mayang seperti baru pertama kali masuk rumah mewah. Dari tadi matanya selalu berputar melihat furniture yang di rasanya cukup langka.


''Kalian pindah lah kesini, temani Papa.'' pinta Bagaskara. Mereka bertiga tengah berkumpul di ruang keluarga.


''Nanti kita pikirkan Pa.'' sahut Aksa.


''Oh ya, Aksa. Tadi Bu Aida menghubungi Papa. Bu Aida meminta agar Gendis di perbolehkan kerja di perusahaan kita. Kata Bu Aida, Gendis merasa bosan kalau di rumah terus.'' jelas Bagas.

__ADS_1


Aksa dan Mayang pun merasa kaget. Mereka saling pandang beberapa saat.


''Terus?'' tanya Aksa.


''Terus Papa rekomendasi Gendis untuk menjadi Sekretaris pribadi kamu. Sekretaris yang lama Papa pindah kebagian resepsionis. Gendis 'kan juga lulusan S2. Papa yakin dia pasti bisa menyeimbangi kinerja kamu.''


Aksa memijit kepalanya yang tiba-tiba pusing mendengar penuturan sang Papa. ''Bisa-bisa nya Papa mengambil keputusan sebesar ini secara sepihak. Ah, Gendis belum sadar juga ternyata. '' batin Aksa merutuk.


''Kamu tidak apa-apa 'kan? Papa tidak meminta pendapat kamu karena Papa yakin kamu pasti setuju sama keputusan Papa ini. Papa tahu Bu Aida dan Gendis merupakan keluarga kamu, orang yang begitu berjasa di hidup mu. Sudah pasti kamu setuju 'kan?''


''E-eh iya, Pa. Aku setuju.'' jawab Aksa tak bersemangat.


Aksa tidak bisa menyalahkan sang Papa sepenuhnya, karena Papa-Nya memang tidak tahu apa-apa tentang masalah dirinya dan Gendis.


Mayang pun merasa gelisah, Mayang takut Gendis akan berbuat curang dan nekat untuk mendapatkan Aksa.


Aksa dan Mayang lalu permisi ke Papa nya. Mereka naik kelantai atas, masuk ke kamar Aksa.


Wajah Mayang tak seceria tadi, tiba-tiba moodnya berubah jelek ketika mendengar perkataan sang Papa mertua.


Aksa yang menyadari itu, begitu sampai di kamar, dia langsung memeluk tubuh sang istri. Sebelum itu dia mengunci pintu kamar terlebih dahulu.


''Sayang, kok lemes gitu?'' tanya Aksa. Mayang bersandar di dada bidang sang suami.


''Mas, aku takut, Gendis berbuat macem-macem lagi sama kamu.''


''Kamu tenang saja ya, Mas akan jaga hati, jaga mata dan jaga jarak sama wanita manapun. I love u, Sayang''


''I love u to Mas.''


Setelah itu kedua pengantin baru itu lagi lagi merebahkan diri di atas kasur begitu saja tanpa di sadari. Jiwa muda kedua nya kembali bergelora.


***


Di tempat berbeda, di Desa terpencil di daerah Bandung.


Kedatangan Gentala dan Mama-Nya di Desa itu menjadi buah bibir masyarakat sekitar. Sebab, wajah Gentala yang memang rupawan menjadi bahan omongan gadis-gadis Desa. Mereka semua terpesona akan ketampanan Gentala. Begitu juga para Ibu-ibu. Mereka berlomba-lomba menjodohkan putri mereka dengan Gentala.


Apalagi Hani juga telah membeli rumah yang paling bagus di sana, tidak hanya itu, Hani juga membeli kebun teh yang luas, dengan uang yang di beri oleh Bagaskara. Mereka menjadi orang kaya baru di Desa itu.


Tapi, Hani tetap lah Hani. Dia tidak pernah berubah. Sikapnya masih saja angkuh, sombong dan merasa paling sempurna.


***


Siang hari yang terik.


''Mau apa kamu kesini?'' tanya Hani, begitu ia membuka pintu dia mendapati gadis Desa berkerudung usang tengah berdiri di sana. Gadis itu merupakan salah satu Gadis yang terpesona akan ketampanan Gentala. Gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama sama Gentala.


''Saya mau memberi ini untuk Gentala, Bu.'' kata Gadis itu menunduk sopan malu-malu. Di tangannya terdapat rantang makanan stainless.


''Apaan ini?'' Hani membuka rantang, melihat isinya. Di dalam rantang itu ada pisang rebus dan ubi rebus yang masih mengepul asap.


''Iihh makanan kampungan macam ini ingin kamu sodorkan untuk putra saya?! Enggak level! Bisa-bisa anak saya sakit perut!'' Usai mencaci, Hani membanting rantang itu hingga isinya berhamburan.


''Sana pergi! ganggu aja.'' umpat Hani tanpa rasa bersalah.


Gadis itu menatap makanan yang sudah susah dia masak dengan berlinang air mata. Makanan itu telah kotor, bersatu dengan tanah. Hatinya sungguh sakit di perlakukan seperti itu. Kedua tangannya mengepal erat.

__ADS_1


Gentala di dalam rumah. Dari tadi dia hanya menguping. Dia tahu yang terjadi, tetapi dia hanya diam, tidak peduli.


Pikirnya masih di penuhi dengan bayang-bayang wajah Mayang.


__ADS_2