Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Lamaran 1


__ADS_3

Seketika hening.


Semua orang begitu tegang menyaksikan pemandangan yang ada di depan mata mereka.


Di saat semua orang yang berada di ruang keluarga rumah itu sedang ketar-ketir melihat pistol yang di pegang Hani yang berada tepat di kepala Mayang, Mayang memejamkan matanya sembari berdoa dan mencari ide untuk menyelamatkan dirinya, karena saat ini hanya dirinya sendiri dan sang maha penciptalah yang bisa menyelamatkan nya. Dia mendengar suara pelatuk pistol yang bergerak pelan, suara pelatuk yang di tarik pelan itu terdengar menakutkan bagi siapa pun, termasuk Mayang. Hani yang berada di samping Mayang seperti orang yang sedang kesetanan, tatapan matanya lurus kedepan melihat Bagas, sedangkan tangannya yang satu menarik pelatuk pistol.


Setelah itu.


''3


2


1'' Mayang bermonolog di dalam hati dengan hitungan mundur.


Dor!


Bunyi peluru yang keluar dari sarangnya terdengar begitu nyaring, namun mengagetkan. Aditama, Aksa dan Bagaskara berteriak bersamaan memanggil nama Mayang.


''Mayang!'' teriak mereka tidak percaya sama kenekatan Hani.


Setelah beberapa saat termenung, dengan perasaan campur aduk, sekarang giliran Aksa lagi yang bertindak. Aksa meringkus sang Tante, dia berlari cepat ke arah sang Tante yang berdiri tegang, di saat Hani lengah, Aksa merebut cepat pistol yang berada di tangan Hani yang gemetar. Hani memberontak berusaha melawan, tetapi akhirnya Aksa berhasil juga mengikat tangan Hani. Hani berteriak histeris tidak terima di perlakukan seperti itu, dia meracau mengupat Aksa.


'''Dasar anak sialan!'' umpat Hani.


Gentala yang masih terkulai lemah di lantai juga ikut di amankan oleh Bodyguard.


Lalu Mayang?


''Syukurlah, akhirnya pertolongan Allah itu datang.'' batin Mayang sesenggukan dengan mengucapkan hamdalah. Mayang berjongkok dengan menutup kedua telinganya. Peluru pistol itu tidak berhasil menembus kepala Mayang, tapi peluru itu mengenai tembok rumah.


''Bismillah, lindungi aku ya Allah'' batin Mayang tadi bersamaan dengan pelatuk pistol yang hampir di tekan sempurna. Dia berjongkok cepat dengan begitu yakin. Hani juga tidak fokus terhadap Mayang, Karena fokus Hani hanya terarah kepada sang kakak yang membuat nya kesal.


****


''Mayang, maafkan aku. Kamu pasti sangat ketakutan tadi. Maaf.'' lirih Aksa berucap, matanya memandang Mayang lekat, dia ikut berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh wanita pujaannya.


''Tidak apa-apa, ini bukan salah mu, Aksa. Ini salah aku, karena aku yang bandel memaksa untuk ikut.'' jawab Mayang mantap menggeleng kepala.


''Ya sudah, mari berdiri,'' kata Aksa seraya memegang kedua bahu Mayang, dia membimbing Mayang agar berdiri, jarak mereka begitu dekat. Mayang melihat tangan Aksa yang berada di pundaknya, seketika desiran halus kembali dia rasa, lalu mereka saling tatap satu sama lain ''maaf.'' kata Aksa yang sadar akan sedikit kekhilafan nya, dia menarik cepat tangannya dari bahu Mayang. Sedangkan Mayang hanya mengangguk dengan senyum simpul.


Aditama dan Bagaskara yang berdiri tidak jauh dari mereka juga ikut tersenyum menyaksikan kedekatan Putra Putri mereka.


Sedangkan Hani, Gentala dan Papa nya Gentala telah di bawa oleh para Bodyguard ke dalam ruangan tempat Bagaskara di sekap tadi. Sekarang berbalik, sekarang giliran mereka lagi yang di sekap bersama para penjaga.


*****

__ADS_1


Bagaskara berulang kali mengucapkan terimakasih kepada Aditama, Mayang dan Putra nya Aksa. Setelah beberapa saat mereka mengobrol, Bagaskara berkata, ''kalian tunggu di sini dulu ya, saya ingin menemui Hani dan Gentala sebentar. Masih banyak hal yang ingin saya tanyakan sama mereka. Kalian beristirahat lah dulu di sofa ini, ini sebenarnya rumah milik saya yang sudah lama tidak di huni. Saya tidak pernah menyangka ternyata Hani selama ini punya niat jahat sama saya, dia tidak tulus menemani kakaknya yang kesepian ini.'' kata Bagaskara sendu dengan suara serak. Kini mereka telah berkumpul duduk di sofa ruang tamu.


''Baiklah Bagas, kami akan menunggu mu. Kamu orang yang kuat, jadi tetap lah semangat'' ucap Aditama.


''Papa, biar aku ikut menemani Papa'' tawar Aksa.


''baiklah, Nak. Ayo''


''Mayang, tunggu sebentar ya, kalau kamu merasa ngantuk dan capek, berbaringlah di sofa sebentar'' ujar Aksa menatap ke arah Mayang yang duduk di sofa di seberang nya.


''Baiklah Aksa'' jawab Mayang singkat dengan anggukan kepala.


Sedangkan para Bodyguard sudah berada di luar, menunggu majikan mereka, karena tugas mereka sudah selesai.


*****


Bagaskara melangkahkan kakinya gontai menuju ruang penyekapan, Aksa membimbing sang Papa dengan pelan.


Begitu mereka sampai di dalam.


''Mas, lepaskan aku Mas. Aku ini Adik kandung mu, kenapa Mas Bagas tega menyekap aku hanya kerena anak Haram itu'' teriak Hani yang duduk di atas kursi dengan tubuh, kedua tangan dan kakinya diikat di kursi.


''Diam Hani! Dia bukan anak haram, dia keponakan mu. Bukankah Putra mu yang anak Haram!


''Ciuhh ... Tidak sudi aku punya keponakan dari turunan Melati. Anak sama Ibu sama saja, tahu nya cuma membuat rusak hubungan baik antara kita. Aku sudah capek berpura-pura baik selama ini sama kamu Mas, aku selama ini cuma ingin harta mu, heh'' ungkap Hani.


''Diam! Dasar kau Adik tidak tahu diri.'' berang Bagas dengan tangan mengepal. Rasanya dia ingin sekali menghadiahkan sebuah buku tinju ke mulut kurang ajar Hani.


''Paman, lepaskan aku. Maafkan aku, Mama dan Papa ku. Kami khilaf, Paman'' mohon Gentala dengan suara lirih dan tatapan sayu. Tubuhnya juga di ikat di kursi.


''Tua bangka, lepas! Dasar brengsek kau'' ujar Papa nya Gentala tidak tahu diri.


''Astaugfirullah ... Kalian benar-benar benalu, kalian sangat cocok menjadi sebuah keluarga.'' celetuk Bagas sambil mengelus dada.


''Biarkan saja mereka membusuk di sini Pa, percuma Papa berbicara sama mereka, buang-buang waktu saja. Ayo kita keluar, kita pulang saja. Kasian Papa pasti sudah sangat lelah'' kata Aksa membujuk. Aksa bersikap acuh sama Hani dan rombongan nya.


''Kamu benar Aksa, biar mereka rasakan akibat dari perbuatan mereka'' ucap Bagas dengan seringai kecil. Setelah itu dia keluar dari ruangan itu meninggalkan Hani yang berteriak-teriak minta di lepaskan.


🍂🍂🍂🍂


Sehari berlalu.


Mayang berdandan di dalam kamarnya di depan meja rias. Dia memoles tipis wajah cantiknya dengan make up. Senyuman bahagia selalu menghiasi wajah cantiknya.


Ceklek

__ADS_1


Pintu terbuka, seseorang masuk menemui Mayang.


''Mama'' ucap Mayang melihat sang Mama yang berjalan pelan ke arahnya.


''Putri Mama cantik sekali.'' puji Mama Hanum seraya membelai rambut Mayang yang di tutupi jilbab.


''Masak sih, Ma?''


''Iya. Kamu selalu terlihat cantik Sayang''


''Ahh Mama bisa aja''


''Sudah, ayo turun. Kamu sudah sangat cantik sayang. Itu, Aksa, Papa nya dan Ibu Panti sudah menunggu di bawah'' kata Mama Hanum dengan senyum simpul. Dia menatap wajah cantik sang Putri yang di tutupi jilbab bewarna merah muda. Berulang kali Mama Hanum memuji kecantikan Mayang.


''Sungguh? Aksa sudah di bawah?'' tanya Mayang dengan wajah bersemu, tangan nya memegang dadanya yang berdegup.


''Iya, sayang''


''Ma, kok Mayang gugup gini ya,''


''Hahaha itu wajar Sayang, kamu bawa santai aja ya. Tarik nafas dalam lalu keluar kan dengan perlahan'' saran Mama Hanum sembari terkekeh kecil melihat tingkah Mayang.


''Duh'' ujar Mayang lagi seraya meredamkan debaran di dada.


''Sudah, ayo kebawah. Ini baru acara lamaran biasa aja kok, jadi bersikap biasa saja ya Sayang, rileks''


''iya, Ma''


Setelah itu Mayang dan Mama Hanum berjalan bergandengan keluar dari kamar untuk menemui Aksa.


****


Aksa pun sama, dia duduk dengan tenang di ruang keluarga rumah Aditama, mereka duduk lesehan di atas lantai yang di balut karpet tebal nan mewah. Walaupun dia nampak duduk dengan tenang, tapi jantungnya juga berdegup tak beraturan menunggu kehadiran sang wanita pujaan yang telah lama bersemayam di hatinya.


Bagaskara, Ibu panti dan Gendis Putrinya Ibu panti duduk tidak jauh darinya. Di hadapan mereka telah terhidang berbagai macam kue dan buah-buahan segar.


''Sembari menunggu kedatangan Mayang, itu hidangannya silahkan di icip-icip, di nikmati dulu'' ucap Aditama ramah dengan senyum simpul.


''Baik Tuan'' sahut Ibu panti tersenyum. Sedangkan Putrinya Gendis dari tadi hanya menampakkan wajah tak bersahabat, dia cemberut tak tahu sebab.


''Saya tidak pernah menyangka, sebentar lagi kita akan menjadi besan Bagas'' ucap Aditama berbisik kecil di telinga Bagas.


''Iya Aditama. Ternyata takdir telah mempertemukan kita kembali, saya juga tidak menyangka ternyata Putraku mencintai Putri Anda'' sahut Bagas dengan nada lirih.


''Iya, lucu sekali bukan. Kalau teringat masa lalu saya jadi malu. Dulu kita pernah bersaing memperebutkan hati wanita yang sama. Tetapi kamu lah pemenangnya waktu itu'' kata Aditama terkekeh kecil. Kenangan masa lalu tiba-tiba bersemayam di ingatan dua Pria yang masih tampan di usia senja mereka.

__ADS_1


__ADS_2