
Setibanya dirumah, Anggia masuk dengan memasang wajah cemberut, dia menghampiri sang suami dan mertuanya yang lagi ada di ruang keluarga yang tidak terlalu besar itu, ''mas, ini!'' katanya meletakkan semua barang belanjaannya ke pangkuan Ibnu yang lagi duduk bersandar di sofa, Ibnu yang lagi bermain game di ponsel nya merasa kaget karena ulah Anggia.
Ibnu dan mamanya memandang heran, ''lho, itu belanjaanya kenapa kamu kasih ke Ibnu, Anggia? Sana kamu bawa ke dapur, masak itu telur dan sayurnya, mama dan Ibnu sudah lapar ini'' kata mama Reni, dengan wajah sedikit kesal, mama Reni duduk di sofa sebelah Ibnu.
Anggia menatap heran ke arah mertua dan suaminya, ''masak? Aku masak! Nggak salah?!'' ucap Anggia heran, lalu Anggia tertawa sumbang dengan posisi masih berdiri.
''lah iya Anggia, kamu kan istrinya Ibnu, sudah menjadi kewajiban kamu untuk melayani suami kamu. Tidak hanya untuk urusan kasur tapi juga untuk urusan dapur, Anggia!'' ujar mama Reni, menasehati.
''mama, aku mau masak apa, ma? Ini, pegang yang kayak beginian aja baru kali ini saja aku lakukan. Ini juga tadi saat belanja aku juga banyak tanya-tanya sama pemlilik warungnya karena aku nggak ngerti'' oceh Anggia sambil menunjuk ke arah kresek yang sudah Ibnu pindah ke atas meja.
Mama Reni kelihatan sangat kesal, sedangkan Ibnu hanya memasang wajah datar, dia bingung harus bersikap bagaimana. Anggia kemudian duduk di sebelah sang suami, bersandar di bahu Ibnu, membuat jarak antara mama Reni dan Ibnu.
''ya sudah sini biar mama saja yang masak, kamu jangan tahunya cuma duduk saja Anggia, ayo bantu mama di dapur, kamu potong sayurannya,'' ketus mama Reni berdiri, dia mengambil kresek lalu berlalu kebelakang.
''mas!'' rengek Anggia dengan suara dibuat manja.
''sudah sana sayang, kamu bantuin mama, kan kasihan sama mama kalau harus masak sendiri,'' ucap Ibnu lemas.
''terus kamu nggak kasihan sama aku, mas? Aku kan juga belum makan apapun dari pagi, mas'' bantah Anggia.
''iya mau bagaimana lagi sayang, di rumah ini nggak ada pembantu seperti di rumah milik orang tua kamu''
''makanya kamu cari pembantu mas!''
''uang mas sudah tidak banyak lagi sayang, udah dapat makan saja udah syukur kita, kita harus berhemat. Kamu juga tadi kenapa kartu ATM milikmu di kasih ke papa semuanya''
''pokoknya aku nggak mau mengerjakan pekerjaan rumah mas!'' rengek Anggia dengan suara keras, dia berdiri dari duduknya.
__ADS_1
''anggia! Coba mengerti, coba kamu belajar seperti Fitri, orang tuanya saja lebih kaya dari papa kamu, tapi dia sangat bisa di andalkanm', dia bisa mengerjakan semuanya'' kata Ibnu sedikit membentak, dengan lancar Ibnu membawa nama Fitri di dalam perdebatan kecilnya dengan Anggia, membuat Anggia marah.
''oh jadi sekarang kamu sudah berani banding-bandingin aku sama si Fitri itu, mas? Aku tidak bodoh mas. Kamu jahat, kamu udah nggak sayang lagi sama aku, mas!'' teriak Anggia kecewa, lalu dia berlalu ke kamar dengan suara sedikit serak. Ibnu hanya mampu memandang punggung Anggia yang berangsur menghilangkan dari pandangan nya, karena jangankan mengejar, untuk sekedar berdiri saja dia masih lemas.
''ah, brengsek! Baru sehari saja aku tidak bekerja keadaan keluarga ku sudah kacau balau begini. Aku memang harus cepat bertindak, dalam kurun waktu seminggu ini aku harus sembuh, aku akan segera melakukan misiku'' batin Ibnu.
Mama Reni yang ada di dapur memasak dengan perasaan jengkel, ''duh repot juga ya kalau Fitri tidak ada, pokoknya setelah ini aku harus bisa membuat Anggia mau di perdaya seperti Fitri dulu. Tidak bisa di biarkan ini,'' batin mama Reni sambil memasak telur ceplok.
******
Seminggu berlalu, hari ini hari minggu, waktunya beristirahat sejenak dari pekerjaan yang cukup menguras pikiran.
Pagi begitu cerah, embun kecil menghiasi pagi, membuat anak laki-laki berusia empat tahun itu berlari girang di jalanan kompleks dengan stelan olahraga, di temani oleh mama dan oma, opa nya. Tidak tertinggal, paman Aksa yang sudah di anggapnya seperti papa nya.
''ayo, paman ... Kejar aku'' celoteh Raihan, berlari kecil, di bagian paling depan.
''sudah sayang, nanti jatuh,'' celetuk Mayang dengan langkah lebar menyusul Aksa dan Raihan.
Aditama dan mama Hanum yang berlari santai di belakang terseyum bahagia melihat keceriaan orang-orang yang sangat mereka sayangi tersebut.
''sayang, lihatlah, mereka tampak sangat serasi, mereka seperti sebuah keluarga kecil yang amat bahagia'' ucap Aditama, tatapan matanya fokus kedepan melihat tawa yang terbit di wajah Mayang, Raihan dan Aksa.
''iya, mama pikir juga begitu, pa!'' jawab mama Hanum.
''papa berharap kalau papa sudah tiada di dunia ini, Aksa lah yang akan menjadi pengganti papa untuk melindungi serta menjaga putri dan cucu kita''
''pa, kenapa papa berbicara seperti itu! Tidak baik pa, pamali. Mama berharap, kita memiliki umur panjang supaya kita bisa melihat putri kita bersanding di pelaminan dengan Aksa, pa'' kata mama Hanum lagi. Mama Hanum dan papa Aditama berlari santai dengan saling berpegangan tangan.
__ADS_1
''amin, sayang'' balas Aditama.
''opa ... Oma ... Ayo cepatan kejar kami'' teriak Raihan.
****
"Raihan mau ikut paman nanti siang?'' tanya Aksa. Aksa, Raihan dan Mayang sedang duduk di bangku taman, beristirahat sebentar. Sedangkan tuan Aditama dan mama Hanum sudah pulang duluan.
''kemana, paman?'' tanya Raihan, Raihan duduk di apit oleh mama dan paman Aksa.
''ada saja, pokonya di sana banyak sekali anak kecil sebaya Raihan. Paman yakin sekali Raihan pasti suka''
''oh, ya? Aku mau paman'' teriak Raihan antusias, turun dari bangku lalu meloncat kegirangan.
''Jangan senang dulu, izin sama mama dulu, kalau bisa ajak mama sekalian'' kata Aksa memberi kode, tatapannya sesekali melirik ke arah Mayang yang sedang fokus dengan minuman di tangan.
''mama, ayo kita ikut paman tampan nanti siang, ma? Mau ya ma!'' bujuk Raihan memegang tangan sang mama.
''ke mana, Aksa?'' tanya Mayang, menatap kearah Aksa yang ada di samping nya.
''ke panti asuhan, non! Non mau ikut? Panti asuhan tempat aku di besarkan dulu non!'' ujar Aksa hati-hati, dengan dada berdebar. Wajah Mayang yang berkeringat semakin menambah kecantikan nya.
''wah sepertinya asyik, aku dan Raihan akan ikut kamu Aksa. Sekalian kita bawa makanan dan mainan yang banyak ke sana. Mereka pasti senang!'' kata Mayang tersenyum senang. Disertai tawa Raihan yang begitu riang.
''hore ... Hore ... Aku nanti mau pergi sama mama dan papa!'' teriak Raihan polos. Membuat wajah Aksa memerah, sedangkan Mayang hanya mamandang heran, dengan menggeleng-geleng kan kepalanya.
Tanpa mereka sadari seseorang sedang bersembunyi di sekitar tumbuhan rimbun di sekitar taman, mengintai pergerakan ketiga insan yang sedang berbahagia itu.
__ADS_1
Orang itu memandang dengan perasaan yang amat jengkel.