
Di kediaman Ibnu.
Mama Reni, Sari, Anggia dan Ibnu sedang berkumpul di ruang keluarga, mereka duduk di sofa yang mengelilingi meja. Mereka sedang pusing memikirkan keuangan mereka yang sudah menipis, hingga akhirnya sekarang mereka sangat berharap ide yang sempat mereka rencanakan sebelumnya bisa berhasil.
Usai Ibnu menelpon orang suruhan nya, mereka mengobrol, mengeluarkan unek-unek.
''aku sangat berharap mas, orang suruhan mas itu bisa membawa Raihan secepatnya kesini. Aku sama mas Hamka benar-benar sudah tidak punya uang simpanan lagi, mas. Mana arisan aku juga belum di bayar, stok susu Meisya juga sudah menipis. Pusing aku tuh!'' ungkap Sari memijit keningnya, sang suami duduk di sampingnya, menghisap sebatang rokok.
''iya, mama juga. Sudah seminggu lebih ini mama tidak shopping, mama rindu sekali ingin menginjakkan kaki ke mall, pasti di toko langganan mama sudah banyak barang baru, duuh senangnya kalau mama bisa memborong semua nya, seperti dulu-dulu'' sambung mama Reni, dengan khayalan nya.
''kalian pokoknya tenang saja. Aku yakin sekali pasti orang suruhan aku bisa membawa Raihan ke sini, mereka orang-orang yang sudah berpengalaman dalam hal ini'' kata Ibnu, dengan percaya diri.
Anggia duduk di sebelah sang suami, dari tadi fokusnya selalu tertuju ke layar ponselnya. Tapi, dia mendengar dengan baik setiap perkataan yang keluar dari mulut Ibnu, mama Reni dan Sari. Telinganya terasa panas mendengar obrolan itu.
''kalian emang nggak waras, anak, keponakan, cucu sendiri ingin di culik hanya kerena uang. Dasar keterlaluan!'' celetuk Anggia, akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya setelah dari tadi bersusah payah dia tahan. Dari jauh-jauh hari Anggia memang tidak setuju dengan ide gila keluarga Ibnu, dia sudah melarang tapi Ibnu sepertinya lebih menurut sama perintah sang mama dan adiknya Sari.
''diam lah kau Anggia, kalau orang suruhan Ibnu bisa membawa Raihan ke tangan kita, kamu juga akan kebagian rizki nomplok, lagian kita tidak akan menyakiti Raihan, kita hanya menjadikannya sebagai jaminan untuk mendapatkan uang yang banyak dengan mudah, setelah berhasil meminta uang tebusan itu kita akan melepaskan nya lagi dengan keadaan baik-baik, sekalian juga hitung-hitung upah untuk keluarga kita selama ini. Kalau nggak ada Ibnu, nggak mungkin Raihan ada di dunia ini, dan Raihan bisa segede itu juga karena nafkah dari Ibnu'' jelas mama Reni. Ibnu dan Sari mengangguk setuju sedangkan Hamka hanya memasang wajah datar dan Anggia wajahnya memerah seketika, dia marah.
''pokoknya aku nggak mau ikut campur ya, kalau sampai terjadi apa-apa sama tu anak. Aku nggak mau terlibat kalau sampai ketahuan dan aku juga nggak butuh uang itu!'' bantak Anggia keras, setelah itu dia berlalu ke belakang.
''lihat lah, istri mu Ibnu. Anggia songong sekali, Ibnu. Selama seminggu lebih ini dia sudah jadi benalu di keluarga kita, tidak bisa di andalkan, kerjaannya cuma tiduran di kamar. Sekarang dengan lantangnya dia malah menentang rencana bagus kita. Masih mendingan Fitri dulu kemana-mana.'' ketus mama Reni dengan wajah juteknya.
''iya mas, lebih baik mas buang saja tu kak Anggia. Cari mangsa baru lagi mas.'' saran Sari dengan suara lirih.
''besok saja mas pikirkan. Mas sih berharap mas bisa balikan lagi sama Fitri,'' kata Ibnu lagi menimpali.
Hamka suaminya Sari juga merasa kurang srek sama jalan pikiran keluarga Sari, kemudian dia berlalu kebelakang, memisahkan diri dari keluarga sang Istri.
****
__ADS_1
"Nangis?'' kata Hamka, berdiri di belakang Anggia yang sedang menutup wajah dengan kedua tangannya, punggung itu nampak bergetar dengan isakan tertahan. Hamka menyusul Anggia yang ada diluar, di dekat jemuran kain. Meski sedikit kaget, akhirnya Anggia menjawab.
''iya, aku tu nggak tahan lagi tinggal di sini! Kamu ngapain menyusul aku kesini Hamka!'' jawab Anggia sesak, dia mengalihkan wajahnya memandang Hamka.
''kabur saja yuk!'' tawar Hamka pelan.
''maksud kamu?'' heran Anggia dengan suara serak.
''iya, kita pergi saja dari sini. Aku akan mengantarmu pulang kerumah orang tuamu dan aku juga akan pulang kerumah orang tuaku yang ada di kota lain. Aku juga nggak mau terlibat sama urusan Sari dan keluarganya, karena feeling aku merasakan rencana mereka tidak bakalan berhasil. Tuan Aditama itu tidak bisa dilawan apa lagi di peras, dia memiliki kekuasaan di mana-mana. Aku memang bukan orang baik, tapi aku tidak sebodoh dan segila keluarga ini'' jelas Hamka pelan dengan suara lirih.
''iya, kamu benar sekali. Itu juga yang aku pikirkan. Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu ya. Aku akan bersiap-siap,''
''iya, aku tunggu di luar. Aku akan mengatakan kepada Sari kalau aku akan membeli rokok keluar sebagai alasannya'' kata Hamka.
''baiklah, aku duluan masuk!''
****
Di tempat yang berbeda, akhirnya Mayang, Aksa serta Raihan tiba di panti.
''sini biar aku gendong, non'' tawar Aksa, melihat Mayang yang kesulitan menggendong Raihan yang masih terlelap dia tidak tega. Mereka baru keluar dari kendaraan roda empat itu.
''terimakasih, Aksa'' kata Mayang tersenyum simpul, saat tubuh Raihan sudah berpindah ke dalam gendongan Aksa.
Saat Aksa dan Mayang keluar dari dalam mobil yang terparkir di lapangan bermain anak-anak panti, anak-anak panti berlarian ke arah mereka. Ibu panti dari tadi juga sudah menunggu kedatangan Aksa dan Mayang di pintu utama rumah panti, karena sebelum berangkat tadi Aksa sudah mengabari kepada ibu panti tentang kunjungan nya.
Mayang dengan beberapa orang dewasa di panti itu mengeluarkan seluruh mainan dan makanan yang ada di bagasi. Anak-anak membantu memasukkan semua barang bawaan kedalam rumah panti dengan begitu riang.
''ibu,'' sapa Aksa menyalami tangan ibu panti yang berdiri di depan pintu utama. Raihan masih terlelap di gendongan Aksa.
__ADS_1
''iya, nak. Akhirnya, kamu datang ke sini membawa wanita itu, nak. Ibu senang sekali'' ucap ibu panti tersenyum mengembang, dia membimbing Aksa duduk di kursi teras. Tidak lupa dia mengelus pucuk kepala Raihan yang terlelap, ''tampan sekali cucu nya tuan Aditama'' ujarnya.
''iya bu, ibu diam dulu ya, bu. Aksa tidak ingin Mayang tahu dulu'' kata Aksa dengan wajah bersemu.
''iya, kamu tenang saja Aksa. Ibu akan jaga rahasia ini, lagian untuk mendapatkan putri seorang tuan Aditama itu tidak lah mudah. Benar kata mu, dia benar-benar sangat cantik, dan kelihatan dia juga sangat baik, Aksa'' sahut ibu panti. Tatapan ibu panti tertuju ke arah Mayang yang terlihat sibuk, begitu juga Aksa. Aksa sangat percaya dan menyayangi ibu panti, meskipun bukan ibu kandungnya tapi ibu lah yang merawat dan membesarkannya dari bayi.
''paman ...'' ucap Raihan lirih yang terbangun dari tidurnya.
''jagoan sudah bangun rupanya'' kata Aksa, menatap Raihan yang sudah membuka mata sempurna.
''iya ... Raihan mau mama'' kata Raihan turun dari pangkuan Aksa, setelah itu berlari menuju sang mama.
''kalau begitu ibu menghampiri Mayang juga ya. Sepertinya hari ini ibu akan mengobrol banyak dengannya'' kata ibu panti menyusul langkah kecil Raihan.
Pada akhirnya Aksa pun ikut menyusul membantu mengangkut mainan dan makanan.
***
Dari jarak yang tidak terlalu jauh orang suruhan Ibnu yang berjumlah tiga orang terus saja mengintai pergerakan Mayang, Aksa dan Raihan. Tetapi yang menjadi fokus utama mereka adalah anak laki-laki yang berusia empat tahun itu.
Mereka tersenyum bahagia, melihat Raihan yang sedang bermain petak umpet dengan anak panti.
Aksa masih terus berdiri tidak jauh dari Raihan. Dia juga fokus melihat Raihan yang bermain, sedangkan Mayang berada di dalam rumah panti mengombrol bersama ibu panti.
Tetapi, tiba-tiba ponsel Aksa berdering. Aksa mengangkat panggilan tersebut, dia tidak memperhatikan Raihan lagi.
Pada saat Aksa lengah, orang suruhan Ibnu diam-diam menyelusup, menghampiri Raihan yang sedang bersembunyi di rerimbunan bunga yang tumbuh subur.
''dapat!'' kata orang suruhan Ibnu tersenyum senang. Membekap mulut mungil Raihan.
__ADS_1