Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Rumainah?


__ADS_3

Beberapa hari ini Gendis di landa rasa gelisah. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Bagaimana tidak, selama beberapa hari semenjak kehadiran Arkan, Gavin tak pernah lagi berkunjung ke panti, menghubungi dirinya pun tak pernah lagi. Pernah waktu malam, Gendis mencoba menghubungi Gavin, tapi ternyata nomer yang dihubungi nya sudah tidak aktif. Gendis merasa begitu galau tak berkesudahan. Ia tidak tahu apa yang terjadi? Ke mana Gavin? Dan kenapa kabar tentang Gavin hilang begitu saja. Gendis merasa rindu sama lelaki dingin, tapi begitu baik dan manis.


***


Sore hari, Gendis duduk sendiri di atas ayunan di taman panti. Bibirnya di tarik kedalam saat dirinya tengah menatap layar ponsel. Di layar ponsel itu Gendis menatap foto dirinya dan Gavin bersama anak-anak panti. Foto yang di ambil sekitar seminggu yang lalu. Di dalam foto itu semua orang berwajah ceria.


''Huh .... Kamu kemana sih? Kenapa kamu tiba-tiba menghilang! Apa kamu lagi ada pekerjaan di luar kota. Kamu membuat aku gelisah.'' gumam Gendis dengan wajah lesu. Saat Gendis tengah melamun memikirkan Gavin, tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Gendis membuka pesan wa itu cepat.


[Gendis, bagaimana? Apakah kau sudah punya jawabannya?]


[Maaf, kalau aku selalu bertanya. Soalnya kedua orangtuaku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan calon istriku]


Gendis membaca pesan yang di kirim oleh Arkan dengan tak bersemangat. Arkan selalu bertanya setiap hari tentang jawaban apa yang akan Gendis jawab perihal hubungan mereka kedepan nya. Padahal Gendis sudah mengatakan kalau ia akan memberi jawaban sekitar dua minggu lamanya, Gendis butuh waktu. Entah kenapa Gendis merasa tidak tertarik sama sekali dengan Arkan. Yang ada di pikirannya hanyalah Gavin, Gavin, dan Gavin. Tapi di satu sisi Gendis merasa kasihan sama Arkan.


Di sela-sela rasa galau nya, tiba-tiba sebuah mobil Lamborghini masuk kehalaman panti. Gendis berdiri dari duduknya, ia tersenyum melihat mobil yang masuk kehalaman. Itu adalah mobil Aksa dan Mayang. Gendis menghampiri Aksa dan Mayang cepat. Rencananya ia akan bertanya kepada Aksa tentang keberadaan Gavin. Karena dulu, berkat Aksa lah dia bisa bertemu dan berkenalan dengan Gavin.


''Kalian mau mampir kesini kenapa nggak ngabarin aku dulu sih? Kalau aku tahu kalian akan kesini hari ini aku kan bisa memasak jamuan yang lezat.'' sapa Gendis dengan wajah tersenyum manis. Ia menatap Aksa dan Mayang bergantian. Ia dan Mayang bercipika cipiki. Mereka sudah seperti teman akrab.


''Maaf Gendis. Aku dan Mas Aksa juga mendadak kesini nya. Kami merasa rindu sama kamu dan anak-anak. Kebetulan tadi kami juga baru habis dari rumah sakit, periksa kandungan.'' jawab Mayang. Sedangkan Aksa sibuk menurunkan bingkisan dari bagasi yang sengaja ia beli untuk anak-anak. Anak-anak panti berhamburan dari dalam, mereka manghampiri Aksa dan Mayang, menyalami tangan Aksa dan Mayang. Lalu mereka membantu Aksa menurunkan bingkisan yang lumayan banyak.


''Duh, ponakan aku udah besar rupanya. Sehat-sehat yah Sayang. Ounty udah nggak sabar lagi pengen ketemu kalian.'' Gendis membelai perut bucit Mayang, di dalam hati ia menyelipkan doa-doa untuk keselamatan janin yang ada di kandungan Mayang.


''Iya, aku udah besar Ounty. Makasih doanya, aku juga udah nggak sabar pengen ketemu Ounty dan kakak-kakak yang ada di sini.'' jawab Mayang dengan suara di buat-buat seperti suara anak kecil. Setelah mengatakan itu, tawa Gendis dan Mayang pecah. Aksa pun tersenyum melihat kedekatan antara istri dan wanita yang sudah di anggap nya seperti adiknya sendiri.


Gendis mengandeng tubuh Mayang ke dalam panti. Setelah sampai di dalam, mereka duduk di sofa.


''Kamu mau minum apa Mayang? Biar aku buatkan.'' tanya Gendis ramah.


''Nggak usah repot-repot Gendis. Aku cuma pengen duduk aja. Pinggul aku rasanya sangat pegal.'' sahut Mayang, ia duduk bersandar di dinding sofa seraya membelai perutnya.


''Oh ... Baiklah.'' jawab Gendis lagi.

__ADS_1


''Emm ... Gendis, apa Gavin masih sering berkunjung kesini?'' tanya Mayang sedikit ragu. Mayang dan Aksa memang sudah tahu tentang kedekatan antara Gendis dan Gavin akhir-akhir ini. Gendis menggeleng lemah, dengan wajah terlihat murung.


''Kamu kenapa? Kenapa kelihatan sedih begitu?'' selidik Mayang dengan mata menyipit.


''Mayang, sudah hampir seminggu ini, Gavin tak pernah lagi berkunjung ke sini. Dan nomer ponselnya pun tak aktif lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Padahal setahu aku hubungan kami baik-baik saja.'' jelas Gendis menatap Mayang lekat. Mayang nampak sangat cantik dengan gamis panjang dan jilbab lebar bewarna hijau botol.


''Oh, ya. Em ...apa kamu butuh bantuan aku untuk mencari tahu perihal sikap Gavin yang berubah?'' tawar Mayang dengan senyum simpul. Gendis pun mengangguk kecil dengan sedikit malu-malu.


''Baiklah. Tunggu sebentar, ya.'' Mayang mengeluarkan ponsel dari tas branded nya. Tas yang berukuran kecil, yang hanya muat untuk menampung hp saja. Tapi harganya begitu fantastis. Tas itu di beli oleh Aksa beberapa waktu yang lalu. Mayang mengeluarkan sebuah hp dari tas itu, lalu jari nya mulai bergerak lincah di atas layar. Itu adalah ponsel Aksa. Tadi Aksa menitipkan ponselnya kepada Mayang.


''Kamu mau ngapain, Mayang?'' tanya Gendis.


''Aku mau mencoba menghubungi Gavin.''


''Tapi, nomernya sudah tidak aktif lagi.'' ucap Gendis.


''Coba aku tes dulu, ya.''


Mayang lalu menyentuh gagang ponsel bewarna hijau. Ia menghubungi Gavin. Tiba-tiba saja jantung Gendis dag dig dug tak karuan.


''Tut ...''


''Tut ...''


Bunyi panggilan yang belum di angkat. Mayang menatap ke arah Gendis. Gendis hendak bersuara, tapi Mayang memberi kode agar ia diam terlebih dahulu. ''Kenapa saat aku menghubungi Gavin, nomernya tak aktif. Apa Gavin sengaja memblokir nomer aku.'' ucap Gendis di dalam hati dengan dada nya tiba-tiba terasa sesak. Tidak lama setelah itu, suara yang Gendis rindu akhir-akhir ini bisa ia dengan dari ponsel yang menyala.


''Hallo Tuan Aksa.'' ucap suara yang berasal dari ponsel.


''Iya, hallo juga Gavin.'' jawab Mayang.


''Nyonya Mayang. Maaf, saya kira tuan Aksa yang menghubungi saya tadi.''

__ADS_1


''Nggak apa-apa. Santai aja, Ini karena saya menghubungi kamu menggunakan ponsel suami saya, wajar saja. Gavin, apa kamu bisa menemui saya dan tuan Aksa sekarang di panti? Ada yang ingin saya dan tuan Aksa bicarakan.'' ucap Mayang dengan lembut. Setelah beberapa detik Gavin tak menjawab. Seketika hening. Gendis pun tak sabar ingin mendengarkan jawaban dari Gavin.


''Gavin,'' ujar Mayang lagi.


''E-eh ... Iya Nyonya. A-ku segera berangkat ke panti sekarang.'' sahut Gavin ragu dan sedikit terbata. Mayang tersenyum merekah, lalu berucap lagi.


''Baiklah. Kami tunggu kedatangan mu.'' ucap Mayang.


''Baiklah Nyonya.'' balas Gavin. Usai berkata seperti itu, panggilan pun terputus.


''Bagaimana Gendis? Bersiaplah, tidak lama lagi Gavin akan datang.'' ujar Mayang tersenyum simpul ke arah Gendis. Wajah Gendis tiba-tiba merona. Setelah itu ia berlalu ke kamarnya untuk bersiap-siap. Rencananya nanti ia akan berbicara empat mata sama Gavin. Gendis akan menanyakan kenapa Gavin memblokir nomer nya. Padahal usai ia shalat istikharah waktu itu, wajah Gavin selalu hadir di dalam mimpinya.


***


Di tempat berbeda, di perkampungan. Gentala berjalan dengan langkah kaki lebar menuju sebuah rumah. Ia menembus jalanan sedikit sempit yang di kiri kanannya terdapat semak belukar, jalanan itu juga berbatu dan tanahnya sedikit becek. Gentala rela melewati apapun untuk menyelamatkan nyawa sang Mama. Ia dulu yang di kenal dengan anak manja dan sedikit angkuh kini sudah benar-benar berubah. Gentala sudah menjadi pribadi yang mandiri dan begitu ramah dengan penduduk setempat. Penyakit yang di derita sang Mama sudah cukup membuat nya sadar. Bahwa kita harus menjaga setiap omongan dan kelakuan kita di mana saja kita berada. Rambut boleh sama hitam, tapi hati siapa yang tahu. Apalagi kalau omongan kita itu menyakiti hati orang lain, bukan tidak mungkin orang itu akan menyimpan dendam dan berusaha membalas dengan cara yang lebih licik dan berbahaya.


Gentala menatap rumah kayu yang ada di hadapannya. Rumah yang berdinding papan beratap daun. Rumah itu nampak sepi. Gentala tiba-tiba memegang kuduknya. Tiba-tiba saja bulu kuduknya terasa merinding.


''Assalamu'alaikum.'' ucap Gentala seraya mengetuk pintu papan tersebut. Setelah mencoba beberapa kali, tidak ada yang menjawab. Sunyi. Tempat itu sangat sunyi. Rumah yang di datangi Gentala memang jauh dari rumah penduduk yang lain. Rumah itu terpencil di atas bukit sendiri. Rumah yang merupakan rumah seorang Gadis yang pernah di hina oleh Hani waktu itu habis-habisan. Niat Gentala ingin bertemu dengan Gadis itu adalah untuk meminta maaf. Setelah ia mencari tahu tentang Gadis itu, warga setempat memberi tahu alamat rumah gadis yang ia cari-cari.


''Assalamu'alaikum.'' ujar Gentala lagi. Tiba-tiba saja, pintu yang terbuat dari papan itu terbuka.


''Walaiku'sallam.'' jawab seorang gadis yang menutupi kepalanya dengan selendang. Gadis itu nampak sangat cantik di mata Gentala. Senyum simpul terbit di wajahnya.


''Rumainah?'' tanya Gentala. Gadis itu mengangguk pelan.


''Boleh saya meminta waktu kamu sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan.''


Gadis yang bernama Rumainah itu menggeleng lemah.


''Tidak bisa.'' ucapnya lirih.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2