
Gundukan tanah dengan nisan di atasnya nampak berjejer rapi, tumbuhan dan kembang nampak indah menghiasai, memberi warna kehidupan terhadap benda mati. Pemakaman di area itu tampak begitu terurus, rumput-rumput tumbuh dengan indah sama panjang, tiada rumput liar yang menyala merangkak naik.
Di sudut yang berbeda masih di area itu, di bagian tengah, nampak begitu ramai orang-orang yang memakai pakaian serba hitam, tetapi ada juga yang memakai pakaian bewarna putih, mereka mengerumuni sebuah makan kecil dan baru. Mayang dan keluarga nya berada di tempat itu memakai pakaian berwarna putih polos.
Tidak semua tentang kehidupan, karena pada hakikatnya manusia memang akan kembali ke tempat dari mana mereka berasal, tempat kekal abadi, tempat manusia berkumpul di akhir zaman.
Tanah, ya. Begitulah keyakin salah satu agama, mereka yang sudah meninggal akan di kubur, di timbun, menyatu dengan tanah kembali. Tua muda, miskin kaya, semua sama dihadapan sang pencipta. Hanya amal ibadah yang menjadi pertimbangan di akhirat kelak.
Gundukan kecil itu terlihat penuh dengan kembang bermacam-macam warna, ada warna merah, putih, kuning dan lain-lainnya. foto balita yang berusia empat tahun itu terlihat tampan terpampang jelas dengan bingkai di dekat nisan, foto dia memakai pakaian muslim bewarna putih di lengkapi peci bewarna putih pula. Senyum di foto itu semakin menambah rasa sesak di dada sang mama, oma, opa serta anggota keluarga yang di tinggalkan.
Mayang terlihat sudah sedikit lebih tegar dan iklas, walaupun air mata masih belum mau berhenti membasahi pipi mulusnya. Itu wajar, ibu mana yang tidak terluka, tidak berduka saat kehilangan buah hati yang sudah susah payah dia besarkan dengan penuh kasih sayang dan perjuangan.
''Raihan tungguin mama ya nak, tunggu mama di surga, kalau mama tidak ada di surga, Raihan cari mama, ya, sampai Raihan ketemu sama mama. Mama sangat menyangimu sayang,'' kata-kata itu meluncur dari mulut Mayang dengan di sertai isakan dan air mata, dia membelai lembut gundukan makam sang putra yang masih basah dengan tanah liat bewarna kuning bata.
''cucu ku sayang, rasanya baru kemarin kita bersama-sama menjalani hari-hari, tapi kini kamu telah pergi meninggalkan oma. Kini tiada lagi yang menemani oma saat mama dan opa mu sibuk bekerja, biasanya kamu akan berceloteh ria bercerita apa saja sama oma'' kata mana Hanum, dengan isakan. Mama Hanum dan Mayang duduk di depan pusaran dengan saling berpelukan.
''sudah, hari sudah senja, ayo pulang'' kata Aditama, merangkul kedua wanitanya.
Aksa dan Gentala berdiri disisi kanan Mayang, mereka selalu setia menemani Mayang.
Sedangkan di belakang mereka ada Anggia, Hamka, pak Kuncoro, istrinya, dan kakak tertua Ibnu.
Kematian dan pemakaman cucu tunggal Aditama sang pengusaha terkaya itu berlangsung tertutup, hanya pihak tertentu, anggota keluarga dan teman dekat mereka saja yang hadir. Karena Aditama tidak ingin berita tentang kematian cucu nya bermunculan di mana-mana di media sosial atau berita televisi, Aditama tidak ingin Mayang merasa terganggu dengan wartawan dan media massa yang meliput maupun mewawancarai nya mencari tahu penyebab tentang kematian Raihan.
Saat Mayang membalikkan badan ingin berlalu pulang dia di kagetkan dengan pemandangan di depan matanya.
''Mayang ... maafkan aku, Mayang! Aku ikut berdukacita yang sedalam-dalamnya,'' kata Anggia terisak dia bersujud di kaki Mayang.
''kamu ... ngapain kamu kesini? Gara-gara suami laknat mu itu putra ku meninggal!
Dan kalian ngapain kalian semua ke sini? Kalian mau menertawakan aku, menertawakan kematian putra ku! Dan kalian juga pasti sudah tahu jauh-jauh hari tentang rencana jahat Ibnu'' kata Mayang pelan dan tenang namun penuh penekanan. Dia menunjuk ke arah Anggia, Hamka dan kakak kandung Ibnu.
__ADS_1
''tidak .... Tidak Mayang. Aku sama mas Hamka tidak ikut andil dalam masalah penculikan Raihan, waktu mereka mau melancarkan aksi jahat mereka kami berdua sudah kabur dari rumah Ibnu, Mayang. Kami tidak setuju dengan ide gila mama Reni, aku sudah menentang dan berusaha mencegah dan membujuk mereka untuk membatalkan ide gila mereka, tapi mereka tidak mau mendengar kan aku. Aku dan Hamka kabur dari rumah mas Ibnu tanpa mereka ketahui'' jelas Anggia, dia tulus meminta maaf kepada Mayang.
''Fitri ... Ah bukan, maaf, maksud saya Mayang. Mayang, maafkan mas. Mas selaku anak sulung dan saudara tertua dari Ibnu dan Sari memohon maaf untuk semuanya. Mas benar-benar tidak tahu tentang masalah ini, beruntung Hamka menghubungi mas mengatakan semuanya. Mas turut berduka cita Mayang, mas juga merasa begitu kehilangan keponakan mas'' kata kakak tertua Ibnu yang beberapa minggu ini tinggal di luar kota, yang bernama Deni.
"Terus apa urusannya sama aku! Kalian pikir dengan kalian meminta maaf dan menjelaskan semuanya putra ku akan hidup kembali?! Lebih baik kalian susul suami, istri, dan saudara laknat kalian itu di penjara'' lontar Mayang menatap dengan tatapan kosong.
''iya .. iya Mayang, aku dan Hamka memang akan ke kantor polisi. Aku akan menuntut cerai dari mas Ibnu dan Hamka akan menjatuhkan talaknya terhadap Sari'' jelas Anggia, yang sudah berdiri di depan Mayang, menatap Mayang dengan wajah iba.
''terserah, itu bukan urusan aku. Yang menjadi urusanku sekarang, aku akan membuat keluarga laknat itu membusuk di penjara, mereka harus menerima ganjaran yang setimpal atas perbuatan mereka'' lirih Mayang.
''iya Mayang, kamu benar. Kami sangat mendukung keputusan mu itu.'' timpal Hamka.
''Mayang, kamu mau kan maafin aku, Hamka dan mas Deni juga'' ujar Anggia memohon.
Mayang tidak menjawab, dia kemudian berlalu dari hadapan Anggia dan yang lainnya, di ikuti oleh Aditama, mama Hanum, Aksa, serta Gentala.
******
''maaf nyonya, ada yang bisa kami bantu?'' tanya sang polisi yang berusia sekitar 30 tahun dengan ramah.
''iya pak, jadi begini, kami mau bertemu sama napi atas nama Ibnu, Reni dan Sari'' jawab Anggia sopan duduk di kursi berhadapan dengan petugas.
''apakah kalian anggota keluarganya?''
''benar pak''
''baiklah, kalian silahkan tunggu di ruang tunggu. Rekan saya akan menjemput mereka''
Anggia dan yang lainnya mengangguk, lalu melangkahkan kaki menuju ruang tunggu. Hanya Anggia dan Hamka yang di izinkan terlebih dahulu untuk bertemu dengan Ibnu, Reni dan Sari. Deni, menunggu diluar, menunggu gilirannya.
***
__ADS_1
Sari dan Reni berdiri dari duduk mereka dengan senyum merekah begitu polisi perempuan membuka gembok pintu penjara.
''kami dibebaskan, bu?'' kata Reni gembira.
''jangan mimpi! Itu di luar ada yang ingin bertemu. Mana tangan kalian? Sini, nanti kalian kabur'' ketus petugas yang menjaga mereka. Seketika senyum itu lenyap dari wajah berantakan Reni dan Sari. Mereka lalu berjalan gontai mengikuti langkah kaki petugas dengan tangan di borgol.
***
"Fitri ... Fitri ...! Raihan ...!'' Racau Ibnu berbaring menggigil di atas lantai. Tiga preman suruhannya dulu hanya menatap kesal ke arah nya.
Mereka berbisik kecil, membicarakan Ibnu.
''dapat bos kok begok bangat''
''iya''
''apa kita habisin saja dia di sini?!''
''tidak perlu, lihatlah. Selama di penjara kondisinya sudah begitu mengenaskan. Suhu tubuhnya panas dan semakin kurus, tanpa kita habisi dia akan mati dengan sendirinya''
''huh betul juga. Kalau kita kan sudah biasa berada di tempat seperti ini. Orang kaya mah tidak akan betah''
Saat mereka sedang asyik berbisik membicarakan Ibnu, petugas laki-laki datang menghampiri sel mereka.
''Ibnu, ada yang ingin bertemu'' ujar pak polisi, sambil membuka gembok. Pak polisi juga membawa kursi roda, karena kaki Ibnu keduanya belum sembuh, belum kuat untuk berdiri sendiri.
Ibnu tersenyum senang, di sela-sela rasa sakit yang mendera seluruh bagian tubuhnya.
''kalian, gendong aku kesana. Ke kursi roda itu'' kata Ibnu kepada preman yang satu sel dengannya.
''aku berharap Fitri akan mencabut tuntutannya terhadap ku, karena biar bagaimanapun aku adalah papa kandung Raihan'' batin Ibnu.
__ADS_1