Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Permohonan Aksa


__ADS_3

Mayang melangkahkan kaki lebar meninggalkan area Panti, tidak dia pedulikan tatapan anak-anak Panti dan penghuni Panti lain yang menatapnya heran. Mayang keluar dari gerbang, dia berjalan menyusuri jalan raya yang sepi yang di kiri kanannya di tumbuhi oleh pohon-pohon besar dengan daun lebat. Gamis lebar dan hijabnya berterbangan terkena hembusan angin.


''Aksa kok tega sih, Gendis juga. Kalau mereka memang ada hubungan spesial sebelumnya kenapa Aksa nggak jujur aja dan kenapa Aksa berbohong sama aku, katanya dia hanya mencintai aku tapi bisa-bisanya dia berpelukan sama wanita lain yang bukan muhrimnya. Hati aku sakit banget rasanya ya Allah'' gumam Mayang di sela-sela isakan nya yang hampir reda, rasa sesak di dada masih dia rasa, tangannya sibuk membersihkan air mata yang jatuh. Sesekali Mayang menoleh kebelakang, tidak dia lihat keberadaan Aksa, dia berpikir kalau Aksa memang tidak peduli dengan dirinya. Sesekali mobil melewati jalan itu, tak luput Mayang jadi pusat perhatian.


''Bisa-bisanya aku percaya sama bualan Aksa dengan begitu cepat dan mudah. Dasar, semua lelaki memang pada dasarnya sama, tukang bohong!'' gumam Mayang lagi, dia menyeret langkahnya pelan. Lagi-lagi dia menoleh kebelakang berharap Aksa menyusulnya, tetapi tetap tidak dia lihat kehadiran sosok pria yang bertubuh tegap nan tampan tersebut yang telah berhasil mencuri hatinya, padahal Mayang sudah berjalan cukup jauh dari Panti.


Mayang mengeluarkan ponsel dari saku gamis nya, lalu dia menghubungi sang sopir Keluarga. Dia meminta agar sopir segera menjemput nya yang berjalan tak tahu arah tujuan.


Tetapi tidak lama setelah itu dia mendengar suara mobil berjalan melambat di belakang nya.


***


Di Panti, masih di dalam kamar Gendis.


"Maaf Bu, bukanya aku tidak mau membantu, tetapi Gendis bukan muhrim ku, aku akan keluar meminta bantuan para pekerja perempuan di tempat ini untuk membantu mengangkat tubuh Gendis, setelah itu aku akan langsung pergi menyusul Mayang Bu, sekali lagi maaf Bu, aku sangat mengkhawatirkan Mayang'' sungguh- sungguh Aksa berucap dengan wajah memelas seraya memperhatikan wajah senja Bu Aida. Bu Aida mengangguk kecil, lalu berucap, ''pergilah, kejar cinta sejati mu. Ibu harap Mayang mau mendengarkan penjelasan mu, Nak,'' Bu Aida berkata sambil mengelus bahu Aksa, secercah rasa bersalah bersarang di lubuk hatinya.


''Terimakasih, Bu. Aku pamit'' ujar Aksa.


''iya, Nak'' jawab Bu Aida. Setelah itu Aksa pergi, sebelum keluar dari kamar Aksa melempar tatapan kesal dan geram ke arah Gendis yang terbaring di lantai, kedua tangannya mengepal erat.


Setelah kepergian Aksa, Bu Aida berjalan menghampiri Gendis yang tergeletak di lantai.


''Sudah, Nak. Bangun! Aksa sudah pergi, Ibu tahu kamu cuma pura-pura'' kata Bu Aida dengan mengelus pipi sang putri.


''Huhuhuhu ... Ibu kok tega sih membiarkan Aksa pergi meninggalkan aku, kenapa Aksa enggak di tahan!'' racau Gendis, dengan seketika dia duduk, dia menyalahkan sang Ibu.


''Kamu kenapa tidak mendengarkan Ibu, Ibu kan tadi berpesan agar kamu berbicara baik-baik sama Aksa, berbicara dari hati ke hati tanpa adanya sentuhan. Ibu malu, bisa-bisanya kamu memeluk Aksa dari belakang.'' Bu Aida berkata dengan wajah kecewa.


''Ya habis mau bagaimana lagi, Bu. Aksa tidak mau mendengar ucapan aku, dia tidak peduli dengan perasaan aku, aku sudah mengatakan kepadanya kalau aku mencintainya, Bu'' ujar Gendis masih berlinang air mata.


''Maaf, Ibu sudah tidak bisa lagi berbuat banyak untuk membantu mu Nak. Lupakan Aksa, diluar sana masih banyak pria yang mau menjadikan kamu pendamping nya. Aksa begitu mencintai Mayang, mereka tidak bisa dipisahkan, Ibu bisa melihat itu''


''Tidak bisa, Bu! Aku juga sangat mencintai Aksa. Aku bisa gila Bu,'' rengek Gendis.


''Terserah kamu Gendis, seharusnya sebagai perempuan baik-baik kamu bisa menjaga marwah dan harga diri mu, jangan merendahkan dirimu di depan pria yang bukan muhrim mu, Nak. Malu sama hijab yang ada di kepala mu. Ibu keluar, bangkit dan beristirahat lah di atas kasur'' pesan Bu Aida setelah itu dia berlalu keluar meninggalkan Gendis yang masih menangis sesenggukan. Bu Aida begitu prihatin melihat kondisi sang Putri, tetapi dia juga merasa kecewa dan marah dengan tingkah konyol Gendis.


''Aksa!''


''Aksa, huhuhu ...''


Gendis berteriak menyebut nama Aksa, Setelah itu datang dua orang perempuan pekerja di Panti yang bertubuh gempal, mereka menatap Gendis heran.

__ADS_1


''Gendis, kamu kenapa?'' tanya perempuan yang bertubuh lebih gempal saat dia sudah berdiri di depan Gendis. Matanya menyipit melihat penampilan Gendis yang berantakan.


''Aku nggak apa-apa, sana kalian keluar!'' usir Gendis berteriak.


''Tapi ... Tadi Aksa mengatakan kalau kamu tidak sadarkan diri''


''Aku nggak apa-apa! Kalian bisa denger enggak sih!'' bentak Gendis dengan posisi masih duduk di lantai. Gendis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


''Baiklah, kami permisi'' kata salah satu perempuan, lalu mereka berlalu dengan perasaan heran dan tanda tanya. Karena tidak biasanya Gendis bersikap aneh seperti itu. Biasanya Gendis selalu bersikap ceria, ramah dan anggun.


***


Setelah berpesan kepada pekerja perempuan untuk membantu Gendis, Aksa keluar dari panti lalu masuk ke dalam mobilnya dengan terburu-buru. Dia memutar stir dengan cepat pergi meninggalkan Panti untuk mengejar Mayang.


''Gendis keterlaluan! Aku sudah sangat lama memperjuangkan Mayang, jangan sampai Mayang membatalkan pernikahan kami hanya karena ulah bodoh Gendis. Aku tidak habis pikir, Gendis kenapa bisa berbuat nekat seperti itu'' gumam Aksa dengan mengcengram kemudi erat, dia tidak habis pikir sama ulah Gendis.


Lalu, tiba-tiba senyum kecil terbit di wajah nya ketika dia melihat di depannya wanita yang dia kejar ada di depan mata, dia melajukan mobilnya pelan lalu menginjak pedal rem.


Aksa keluar mengejar Mayang, sedangkan Mayang semakin melebarkan langkahnya begitu dia tahu itu Aksa. Dia berlari menghindari Aksa.


''Dek, dengar dulu penjelasan Mas'' ujar Aksa mengejar langkah kaki Mayang.


''Dek, berhenti! Nanti kamu jatuh'' Mayang tak menghiraukan Aksa.


''Lepas! Jijik!'' sahut Mayang menunduk, dia rasanya tidak sudi lagi menatap wajah Aksa, dia menyentak tanggan Aksa yang memegang tangannya, hingga peganggan Aksa terlepas.


''Lihat Mas, plis'' bujuk Aksa memelas, Aksa berjongkok di depan Mayang. Mayang masih tetap diam.


''Dek, maaf. Yang kamu lihat tadi itu enggak bener'' wajah Aksa memelas.


''Aku kecewa sama kamu!''


''Itu tidak benar, Mas bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi''


''Tapi hatiku udah terlanjur sakit, kamu tega!'' sahut Mayang, lalu Mayang melangkahkan kakinya lagi, meninggalkan Aksa yang terus memohon.


''Maaf, Mas bisa menjelaskan semuanya. Ayo kita masuk ke dalam mobil dulu. Mas akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, setelah itu kita ke KUA, kita urus semua keperluan acara pernikahan kita secepat mungkin supaya tidak ada lagi yang bisa mengganggu hubungan kita'' ucap Aksa memohon dia mengikuti langkah Mayang yang tergesa.


''Enggak mau!''


''Dek ....''

__ADS_1


''Nggak! Pergi sana, kamu menikah saja sama Gendis!''


''Kamu salah paham, Dek''


''Aku lihat sendiri!''


''Mas hanya mencintai kamu,''


''Bohong!''


Mayang tetap kekeh tidak mendengar perkataan Aksa, lalu tiba-tiba Aksa berinisiatif untuk menggendong tubuh Mayang kedalam mobil. Tidak ada pilihan lain lagi, pikir Aksa.


''Aw ... Mas kamu apa-apaan sih, lepas! Kita belum muhrim lho.'' protes Mayang, dia kaget karena tubuhnya yang sedikit mungil kini sudah berada di dalam gendongan Aksa. Mayang memukul-mukul dada bidang Aksa, sedangkan Aksa tersenyum tipis karena dia telah berhasil membawa Mayang masuk ke dalam mobil.


''Makanya sekarang kamu dengar dulu penjelasan Mas, dan setelah ini kita ke KUA, kita hari ini nikah aja di sana supaya kamu dan aku segera menjadi muhrim hari ini, aku halal untukmu dan kamu halal untukku.'' kata Aksa santai saat tubuh Mayang telah duduk di kursi mobil, Mayang memasang wajah cemberut. Sebenarnya dia juga merasa penasaran ingin mendengar penjelasan dari Aksa langsung.


***


Di tempat yang berbeda, Bagaskara sedang berdiri di hadapan Adik dan sang keponakan. Dia menatap pilu ke arah keduanya.


''Apakah kamu yang menculik Aksa saat dia masih bayi? apakah kamu yang memisahkan istri dan anak Mas sehingga menyebabkan istri Mas meninggal? serta membuat mas merasa stres karena kehilangan kedua orang yang begitu mas cintai secara bersamaan?!'' ucap Bagas tegas menatap ke arah Hani yang masih di ikat di kursi.


''Ti ti tidak Mas, bukan aku. Itu ide gila Mama.'' jawab Hani ragu. Wajahnya begitu kuyu.


Bagaskara mengepal kedua tangannya, dia merasa begitu murka.


''Kenapa? kenapa kalian tega melakukan itu hah? aku ini keluarga kalian'' berang Bagaskara.


''Ma mama, Mama ingin menguasai semua harta Mbak Melati saat itu, Mas'' lagi-lagi Hani berucap tergagap. Akhirnya kebohongan yang dia tutupi selama puluhan tahun lamanya terbongkar juga.


''Hanya Mama atau kamu juga Hani?''


Hani menggeleng cepat dengan wajah pucat pasi.


''Sudah Paman, berhenti mengintrogasi Mama. Kasian Mama ku'' bela Gentala bersuara.


''Kalian berdua pantas masuk jeruji besi''


''A a aku, aku saja. Gentala jangan Mas! Dia tidak tahu apa-apa'' jawab Hani cepat.


Bagaskara lalu berlalu dari hadapan Hani dan Gentala, Bagas merasa bingung keputusan apa yang harus dia ambil untuk menghukum dua orang yang masih ada hubungan darah dengannya. Bagaskara di landa kegalauan yang amat. Dia merasa sangat berdosa terhadap mendiang Ibu kandung Aksa. Bagaskara akhirnya memutuskan untuk mengunjungi makam sang Istri. Dia ingin menumpahkan rasa rindu nya yang tak berkesudahan di sana.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2