Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Kekecewaan Mayang


__ADS_3

Suara Mobil Aksa terdengar berhenti di halaman rumah, Gendis pura-pura memejamkan matanya dengan dada berdebar. Dia ingin melihat adakah rasa khawatir yang di tunjukkan Aksa untuk dirinya, kalau ada berarti masih ada peluang bagi Gendis untuk mendapatkan hati Aksa, begitulah pikirnya. Di kening Gendis terdapat handuk putih kecil yang lembab, karena terlalu sering memikirkan Aksa yang akan menikahi wanita lain membuat suhu tubuh Gendis sedikit panas, sebenarnya dia tidak terlalu demam, dia hanya sengaja berpura-pura lemes dan tak berdaya hanya untuk mendapatkan perhatian Aksa.


Bu Aida berjalan ke arah pintu yang sudah terbuka, pintu yang memang selalu terbuka karena ulah anak-anak Panti. Bu Aida akan menyambut kedatangan Aksa dan Mayang.


''Ini, maaf ya, Kakak cuma bisa kasih ini.'' ucap Aksa, dia memberikan beberapa pack cemilan kepada anak-anak Panti. Anak-anak Panti bersorak gembira mereka merasa sangat senang, tidak lupa mereka ucapkan terimakasih kepada Mayang dan Aksa. Tadi Mayang dan Aksa menyempatkan diri singgah di sebuah toko manisan sebentar, membelikan beberapa cemilan untuk anak-anak, seperti snakc, roti dan permen. Aksa tahu rasanya menjadi anak panti, anak panti pasti merasa amat bahagia kalau ada orang yang berkunjung ke Panti apalagi kalau orang tersebut membawa bingkisan.


Bu Aida menatap dari ambang pintu keberadaan Aksa dan Mayang yang masih di taman Panti membaur bersama anak-anak. Bu Aida tersenyum simpul melihat kebaikan Aksa.


Setelah itu Aksa dan Mayang menghampiri Bu Aida, mereka menyalami tangan Bu Aida.


''Gendis sakit apa, Bu?'' tanya Aksa yang berjalan di samping Bu Aida menuju kamar Gendis, dengan Mayang pun juga.


''Ibu tidak tahu, tiba-tiba saja tadi pagi suhu tubuhnya panas Nak, Ibu merasa khawatir, Ibu takut Gendis mengalami demam seperti dulu,'' jelas Bu Aida dengan suara serak. Iya, Gendis saat masih remaja dulu pernah mengalami demam tinggi hingga kejang-kejang yang menyebabkan Gendis harus di rawat di rumah sakit, beruntungnya Gendis masih dapat di selamatkan dan tidak terjadi apa-apa.


''Ibu tenang aja ya, Gendis sudah dewasa, dia pasti sudah bisa mengatasi demam yang menderanya'' balas Aksa, seraya mengelus punggung Bu Aida.


''Iya, ayo masuk. Gendis lagi beristirahat,'' ucap Bu Aida, Bu Aida memutar kenop pintu kamar Gendis.


''Iya, Bu'' sahut Mayang dan Aksa bersamaan. Setelah itu mereka masuk melihat kondisi Gendis.


''Mmm ... Nak Mayang, ikut Ibu kebelakang dulu ya, Nak. Bantu Ibu bikin minuman buat Aksa,'' kata Bu Aida saat Mayang dan Aksa tengah berdiri melihat Gendis.


''Tidak usah repot-repot Bu,'' ujar Aksa.


''Tidak repot kok Nak, kamu kan sudah jarang sekali berkunjung kesini, Ibu bikin minuman ya, kamu tunggu disini, tolong jaga Gendis sebentar.'' kata Bu Aida lembut.


''Baiklah bu,'' Jawab Aksa mengangguk.


''Ayo Mayang'' ajak Bu Aida.


''Iya Bu, ayo. Mas aku kebelakang dulu ya,''


''Iya Dek''


Setelah Mayang dan Bu Aida berlalu kebelakang, Aksa menatap Gendis yang terbaring menutup mata, Gendis memakai piyama tidur berlengan panjang dengan hijab dikepalanya, setengah bagian tubuhnya ditutupi selimut. Bibirnya nampak pucat, pipi nya sedikit tirus dengan handuk yang berada di kening. Aksa duduk di kursi yang berhadapan tepat dengan wajah Gendis yang terbaring.

__ADS_1


''Hey cerewet, cepat sembuh ya,'' seru Aksa seraya menatap wajah Gendis yang masih memejamkan mata.


''Aku sebentar lagi akan menikah lho, kamu harus cepat sehat supaya bisa menyaksikan hari bahagia aku. Kamu tahu aku sangat bahagia sekarang, karena pada akhirnya cinta ku bersambut juga, Mayang akhirnya menerima aku!


Aku harap kamu juga segera mendapatkan pria yang cocok Gendis, pria yang kamu cintai, semoga setelah ini kamu menyusul aku segera.'' seru Aksa lagi dengan tatapan masih tertuju ke arah Gendis.


Gendis yang hanya pura-pura tidur itu tiba-tiba mengeluarkan air matanya, dia merasa sesak mendengarkan perkataan Aksa. Dia tak kuasa untuk tidak menangis. ''bukan ucapan itu yang ingin aku dengarkan, Aksa.'' batin Gendis berkecamuk.


Aksa yang melihat Gendis mengeluarkan air matanya merasa heran, mata Aksa sedikit menyipit.


''Gendis, kamu kenapa?'' tanya Aksa, Aksa mengambi sapu tangan yang tergeletak di atas nakas di sebelah bingkai foto Gendis lalu dia menghapus pelan air mata yang masih menetes dari ujung mata Gendis.


''Hiks ... hiks ... hiks ...'' Gendis tidak kuasa lagi untuk berpura-pura dan menahan isakannya, dia membuka mata, lalu dia langsung duduk di atas kasur. Gendis duduk dengan memeluk lutut, Gendis menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang di tekuk, dadanya nampak naik turun.


Aksa semakin heran melihat tingkah aneh yang di tunjukkan oleh Gendis.


''Kamu kenapa? Mana yang sakit? Apa kamu mau aku bawa kerumah sakit?'' tanya Aksa pelan terdengar khawatir dengan posisi sudah berdiri di hadapan Gendis.


''Aksa ... '' serak Gendis berucap.


''Aksa ... Aku, aku ... Huhuhu'' racau Gendis lagi sesenggukan.


''Ada apa Gendis? Katakan, aku akan membantu kamu kalau kamu lagi ada masalah'' Desak Aksa yang di landa rasa penasaran.


''Berjanjilah kamu tidak akan marah, kamu tidak akan meninggalkan aku dan kamu juga akan memenuhi keinginan aku'' kata Gendis, dia berdiri berhadapan dengan Aksa, dia menatap manik hitam pria yang dicintainya itu dengan lekat.


''Iya, aku akan melakukan apapun asalkan kamu kembali ceria. Kamu itu Adik aku'' kata Aksa, dia juga menatap wajah Gendis, tetapi hanya tatapan biasa yang tidak sampai menggetarkan hatin dan dada nya.


''Aksa aku tidak ingin menjadi Adik mu, a aku ... mencintaimu! Berhenti lah mengatakan aku ini Adik mu!'' ungkap Gendis lancar lagi tegas, sorot matanya menunjukkan pengharapan.


''ka kamu becanda,'' Aksa menggeleng kaget dengan wajah melongo. Dia lalu memutar tubuhnya membelakangi Gendis, Aksa hendak berlalu keluar menghampiri Mayang. ''Ini tidak benar!'' bantah Aksa.


''Tidak! Aku berkata apa adanya, Aksa'' Gendis lalu memeluk tubuh Aksa dari belakang dengan erat yang membuat Aksa bertambah kaget dengan keagresifan Gendis.


''Aksa, tetaplah disini, temani aku. Jangan pergi. Temani aku seperti saat kita masih tinggal bersama-sama dulu di panti ini'' mohon Gendis dia menyandarkan kepalanya di punggung tegap milik Aksa.

__ADS_1


''Aku tidak mencintai mu Gendis! Aku mencintai Mayang. Cuma dia, lepaskan! Jangan gila kamu!'' bentak Aksa sembari berusaha melepaskan tangan Gendis yang melingkar di perutnya. Aksa sangat takut Mayang masuk lalu melihat semua yang di lakukan Gendis, Aksa takut Mayang salah paham.


****


Sementara itu di belakang, Mayang dan Bu Aida sudah selesai membuat minuman, setelah tadi mereka mengobrol cukup lama, Bu Aida sengaja menunda-nunda waktu di dapur, dia menceritakan apa saja tentang Aksa kepada Mayang, agar Gendis dan Aksa dapat berbicara berdua di kamar lebih lama.


''Aku aja yang bawa ya, Bu'' kata Mayang dengan senyum simpul, dia mengambil nampan yang diatasnya sudah ada segelas teh hangat untuk Aksa.


''Iya, Nak'' jawab Bu Aida, setelah itu mereka berjalan beriringan menuju kamar Gendis.


Bu Aida dan Mayang masuk begitu saja ke dalam kamar Gendis, karena memang kamar Gendis tidak di kunci dan terbuka lebar.


Bu Aida masuk terlebih dahulu, setelah itu baru Mayang, Mayang yang berada tepat di belakang tubuh Bu Aida yang hanya berjarak dua langkah saja.


Tangan Mayang tiba-tiba gemetar, sorot matanya memandang ke arah Aksa dan Gendis yang begitu dekat tanpa jarak, tubuh mereka begitu dekat saling mendekap. Mayang melihat Gendis yang memeluk Aksa dari belakang, sedangkan kedua tangan Aksa memegang kedua tangan Gendis. Mayang sebisa mungkin menguasai dirinya, dia meletakkan teh hangat untuk Aksa di atas nakas di kamar Gendis dengan tangan gemetar. Hati Mayang merasa sakit bagai teriris sembilu melihat pemandangan yang ada di depan matanya, dia tahu kalau Aksa dan Gendis tidak ada hubungan darah, tidak juga se susu, karena tadi di belakang Bu Aida sempat membahas itu.


Waktu seakan berhenti.


Air mata sudah mengenangi pelupuk mata Mayang, dia menggeleng lemah setelah itu dia berlalu keluar dengan langkah kaki lebar. Trauma masa lalu yang sudah susah payah dia obati kembali mengangga, Mayang tidak mudah percaya sama pria. Saat dia sudah menjatuhkan hatinya kepada pria yang begitu dia percaya, tapi sekarang dia malah melihat pemandangan yang menyakitkan, yang membuat nya kecewa.


Aksa berteriak memanggil nama Mayang, Aksa tadi merasa kaget melihat kedatangan Mayang di kamar Gendis, yang sempat membuat Aksa terdiam sejenak.


''Mayang ...'' teriak Aksa, dia melepaskan tangan Gendis yang melingkar di perutnya dengan kasar, hingga tangan itu terlepas.


''Aksa, jangan pergi Nak, ada yang ingin Ibu bicarakan sama kamu'' ujar Bu Aida saat Aksa selangkah lagi akan keluar dari kamar.


''Maaf Bu, aku harus mengejar calon istriku, aku ingin menjelaskan semuanya!'' Jawab Aksa menoleh melihat ke arah Bu Aida. Wajah Aksa terlihat sangat tegang dan panik.


Brukk!


''Aksa, Gendis pingsan. Bantu Ibu Aksa,'' mohon Bu Aida panik dia berjalan ke arah Gendis yang sudah terbaring di lantai.


Sedangkan Aksa terlihat bingung, dia bingung apakah dia akan mengejar Mayang sang calon istri atau apakah dia akan membantu Bu Aida Ibu panti yang sudah di anggapnya seperti Ibu sendiri.


Like and komen ya reader. Bagaimana tanggapan kalian?!

__ADS_1


__ADS_2