Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Meregang nyawa


__ADS_3

''kamu benaran mau pergi dari rumah ini besok, Aksa?'' tanya Mayang sungguh-sungguh, dia menyusul Aksa ke kamar. Setelah tadi Aksa menjelaskan semuanya kepada Aditama, Mayang, dan Mama Hanum. Aksa mengatakan tentang pertemuan pertama nya dengan sang Papa kandung yang telah lama terpisahkan. Aditama, Mama Hanum dan Mayang merasa begitu terkejut, senang sekaligus sedih, mendengar kabar yang tiba-tiba dari Aksa.


''iya, Non'' jawab Aksa mantap. Aksa dan Mayang berdiri di balkon kamar Aksa.


''kenapa tidak menunggu beberapa hari lagi, Aksa? Kasian Papa, Papa pasti sangat kesulitan mengurus perusahaan sendiri, dan aku ... Aku belum begitu paham dan menguasai semua pekerjaan di perusahaan'' kata Mayang berat, tatapannya lurus kedepan, menatap langit malam yang ditaburi bintang dan rembulan yang bersinar terang.


''Non tenang saja, Non bisa menghubungi aku kapan saja saat Non kesulitan dalam mengerjakan sesuatu di perusahaan, aku akan siap kapan saja membantu, Non'' sahut Aksa, seraya sesekali mata nya mencuri pandang ke arah Mayang yang tampak cantik dengan piyama bewarna abu-abu polos. Rambut Mayang yang terurai berterbangan terkena hembusan angin malam.


''tapi, kamu apa tidak terganggu, Aksa? ah .. maaf, Aksa. Setelah di pikir-pikir sepertinya Papa dan aku memang harus mencari pengganti kamu. Kami tidak mungkin bergantung kepada kamu terus-menerus'' ucap Mayang pasrah menghembus nafas kasar.


''iya, sepertinya itu ide bagus, Non'' balas Aksa apa adanya. Kerena memang tidak ada pilihan lain lagi, dirinya sudah tidak bisa lagi bekerja di keluarga Aditama.


"Iya'' sahut Mayang singkat, dengan nada terdengar terpaksa yang di dalam nya seperti tersirat kekecewaan.


Obrolan mereka terjeda beberapa saat, mata Mayang fokus melihat ke atas langit luas yang di taburi bintang-bintang, tiba-tiba dia seperti melihat Raihan sedang tersenyum mengembang ke arahnya. Mayang balas tersenyum ke arah sang Putra yang begitu di rindukan.


''Non, kenapa?'' sapa Aksa heran melihat Mayang yang tersenyum.


''aku enggak Kenapa-napa. Oh ya, kamu manggil aku nya jangan Non, Non lagi Aksa, karena setelah ini kamu juga akan menjadi seorang CEO. Kita akan menjadi Partner, Aksa''


''lalu, aku harus manggil apa?''


''terserah kamu''


''terserah? kalau 'SAYANG' aja gimana?'' goda Aksa memberanikan diri, pelan-pelan dia akan mengungkapkan isi hatinya kepada Mayang.


''apaan sih?'' sahut Mayang terkejut. Wajahnya seketika menghangat. Tidak biasanya Aksa bersikap berani seperti itu.


''sorry... Becanda, Non''


''sudah mulai berani ternyata. Mentang-mentang''


''apa Non merasa terganggu sama ucapan aku barusan?''


''tid ... Eh maksud aku, iya. Aku nggak suka''


''aku tidak akan mengulanginya''


''baguslah. Aku keluar dulu, Aksa. Maaf mengganggu waktunya'' ucap Mayang menghadap kan tubuhnya ke arah Aksa. akhirnya dia memilih keluar, karena malam sudah semakin larut.

__ADS_1


Beberapa saat mata mereka beradu pandang, Aksa mencoba menatap mata Mayang lekat, mencoba mendalami mata indah itu, dia ingin mencari tahu apakah ada namanya di situ atau tidak.


Begitu juga Mayang, entah kenapa Mayang merasa dadanya berdebar hebat saat matanya beradu pandang dengan Aksa. Aksa terlihat begitu sempurna di matanya, wajah tampan nan teduh dan tubuh tinggi tegap dengan dada bidang dan perut sixpack. Karena tidak tahan lagi, Mayang membawa langkahnya cepat berlalu dari hadapan Aksa dengan wajah senyum-senyum simpul dan malu-malu.


******


Di kamar, Aditama duduk bersandar di sofa seraya memegang bagian kepalanya dari tadi. Ucapan Aksa yang dia dengar tadi begitu berpengaruh baginya.


''sudahlah, Pa. Nggak usah terlalu dipikirkan'' ucap Mama Hanum mengelus bahu sang suami.


''cuma Aksa, Ma. Cuma dia yang selama ini begitu Papa percaya dan Papa andalkan di rumah maupun di perusahaan. Bagaimana ini, Ma? Papa ingin mencegah Aksa untuk pergi, tapi itu tidak mungkin'' kata Aditama putus asa.


''mau bagaimana lagi, Pa? Ini yang terbaik untuk Aksa, ingat, Pa. Aksa bukan Putra dari orang sembarangan. Aksa harus mengganti kan posisi Papa nya, dia akan memimpin perusahaan tuan Bagaskara selanjutnya. Ternyata Gentala yang selama ini kita kenal sebagai Putra tuan Bagas, bukanlah Putra tuan Bagas yang sesungguhnya, tetapi dia hanya Keponakan nya saja'' ujar Mama Hanum.


''Papa sangat yakin, setelah Aksa memimpin Perusahaan itu, Perusahaan itu akan kembali berkembang pesat. Ternyata keahlian yang dipunyai Aksa selama ini menurun dari kedua orang tuanya. Karena setahu Papa, tuan Bagas dan mendiang Istrinya adalah sepasang suami istri yang sangat hebat dalam berbisnis''


''Papa kenal sama Ibu nya, Aksa?''


''kenal. Pada masa itu, Melati adalah wanita yang sangat cantik, dia wanita mandiri lagi tangguh. Dia seorang wanita pekerja keras, dia begitu giat meneruskan Perusahaan peninggalan keluarga nya.'' sahut Aditama dengan pikiran menerawang ke masa lalu.


''apa Papa pernah pacaran sama Malati sebelum kenalan sama, Mama?'' tuduh Hanum curiga dengan muka cemberut.


Setelah itu, kedua orang tua Mayang yang masih tetap romantis di usianya yang tidak lagi muda itu tidur dengan saling berpelukan.


*****


Di tempat yang berbeda.


Ibnu meregang nyawa dengan kondisi yang sangat miris lagi memprihatikan. Tubuh kurus, dengan kedua bagian kaki membusuk berair dan bernanah.


Dia meregang nyawa tanpa ada yang mendampingi nya. Di malam yang larut, para perawat sudah keluar dari ruangan Ibnu untuk beristirahat, sementara Ibnu tidak ada satupun anggota keluarganya yang menemani nya di rumah sakit. Karena Mama dan Adiknya Sari, masih di dalam penjara. Sedangkan Deni sang kakak tertua tinggal jauh di luar kota.


Ibnu meninggal dengan mendekap sebuah buku. Buku yang dia pinta kepada perawat beberapa hari yang lalu.


''sus ...'' panggil Ibnu waktu itu pada siang hari dengan suara lirih.


''iya, Pak''


''maaf merepotkan. Apa di sini ada sebuah buku dan bulpen?''

__ADS_1


''ada, untuk apa, Pak? Bapak mau?'' balas sang Suster ramah.


''iya, saya mau. Saya ingin menulis sesuatu di situ, Sus. Sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada seseorang yang pernah saya sakiti dan saya sia-siakan dulu''


Kata Ibnu waktu itu dengan mata berkaca-kaca. Penyesalan yang dia rasakan saat ini begitu menyiksa nya. Satu persatu perbuatan atas ke zholimannya di masa lalu kepada anak dan istrinya telah di bayar tunai di dunia, belum lagi di akhirat, entah bagaimana lagi hukaman atau siksaan yang akan dia dapat atas kesalahannya itu.


*****


Di kediaman Bagaskara.


''brengsek ... Brengsek ... Brengsek!'' racau Gentala dengan memukul-mukul kepalan tangannya ke kasur.


''dasar pria sok cool. Sampai kapanpun dia tidak boleh mengganti kan kedudukan aku di Perusahaan. Bagaimana juga caranya aku akan tetap menjadi CEO di sana.'' gumam Gentala kesal dengan tangan mengepal erat, bantal berceceran di lantai serta kasur yang acak-acakan.


Tidak berapa lama, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.


Tok ... Tok ... Tok!


''masuk saja, nggak di kunci'' teriak Gentala, dia duduk lesu di kasurnya.


Sosok sang Mama muncul dari balik pintu.


''ya ampun, kamu apa-apaan sih, sayang? Kenapa tempat tidurnya berantakan seperti ini?''


"Ma, aku nggak mau kedudukan aku di perusahaan di ganti oleh Aksa, Ma! Mama harus melakukan sesuatu. Ini nggak adil, Ma. Bukankah selama ini hanya kita berdua yang menemani Paman Bagaskara, Ma''


''kamu ya tenang dong sayang, kamu tenang saja, Mama sudah punya ide bagus untuk mendapatkan semua harta kekayaan Paman Bagas. Rumah, Perusahaan dan yang lainnya''


''rencana apa, Ma?"


''ada saja. Makanya sekarang kamu tidur ya, sayang. Tidur yang nyenyak ya. Supaya besok kamu bisa bangun dengan tubuh segar'' ucap Hani seraya merapikan tempat tidur Gentala.


''baiklah, Ma'' ucap Gentala sedikit tenang dengan memperhatikan Ponselnya.


''itu, bagaimana hubungan kamu dengan Putrinya tuan Aditama?'' tanya Hani penasaran.


''tidak ada perkembangan. Dia janda yang sok jual mahal''


''pepet terus dia Gentala. Karena hanya dia satu-satunya Putri Aditama, sang pewaris kekayaan Aditama'' ujar Hani tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Gentala pun hanya mengangguk setuju, dengan senyum yang sama.


__ADS_2