Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Butik


__ADS_3

Setelah mengendarai kendaraan roda empat keluaran terbaru miliknya cukup jauh dengan wajah berseri-seri bahagia, tidak terasa akhirnya Aksa tiba di kediaman Aditama. Aksa menghentikan mobilnya di pelantaran rumah di depan pintu utama, lalu dia keluar, diluar nampak Mayang dan mama Hanum sudah menunggu kedatangan nya. Mereka duduk di kursi yang ada di teras, saat mereka melihat kedatangan Aksa, mereka langsung berdiri.


''Mama.'' sapa Aksa, seraya menyalami tangan sang calon Mama mertua.


''Iya. Kamu mau masuk minum-minum dulu atau mau berangkat aja langsung, Aksa?'' kata Mama Hanum berbasa-basi dengan senyuman simpul yang dia tunjukkan, Aksa merasa mama Hanum sudah seperti mama nya sendiri. Wanita anggun yang begitu keibuan yang selama ini telah begitu baik terhadap dirinya, wanita yang tidak pernah berlaku kasar terhadap bawahannya.


''Sepertinya mau langsung berangkat saja, Ma. Takut kitanya nanti pulang ke sorean, soalnya masih banyak hal yang akan aku dan Mayang urus bersama-sama, ya kan, Mayang?'' jelas Aksa, lalu melempar tanya ke arah Mayang. Sesekali ujung ekor matanya melirik kearah sang calon istri yang nampak sangat cantik dengan gamis bewarna Wardah serta warna hijab senada, tidak tertinggal tas cantik yang menggantung di lengannya.


''Iya, bener, Ma.'' jawab Mayang menunduk malu.


''Ya sudah, hati-hati kalian ya, jaga anak Mama dengan baik ya, Aksa'' pesan mama Hanum.


''Siap, Ma'' Aksa menjawab dengan semangat. Setelah itu dia permisi dan tidak lupa dia menyalami tangan sang calon mertua dan permisi untuk membawa Mayang keluar. Karena walau bagaimanapun Mayang masih milik orang tuanya.


Aksa membuka pintu mobil untuk Mayang, saat memastikan Mayang sudah masuk dan duduk dengan sempurna di kursi mobil, Aksa menutup pintu mobil pelan, lalu giliran dia lagi yang masuk membuka pintu mobil untuk dirinya, dia duduk di kemudi, di samping Mayang. Setelah itu mobil berjalan pelan, meninggalkan mama Hanum yang melambaikan tangan dengan wajah tersenyum.


****


"Cantik.'' kata Aksa dengan tatapan lurus kedepan dia melempar pujian kepada Mayang, wajahnya tersenyum simpul menyiratkan rasa bahagia yang amat.


''Apanya yang cantik?'' tanya Mayang, Mayang melihat ke arah Aksa yang sedang mengemudi, Aksa nampak sangat tampan.


''Calon istriku, kamu sangat cantik dan anggun. Pakaian seperti itu sangat cocok di tubuh mu, Mayang.'' ucap Aksa jujur.


''Mmm ... Terimakasih atas pujiannya''


''Itu bukan pujian, tetapi emang kenyataan. Kamu sudah sarapan?''


''Sudah.''


''kalau begitu kita langsung ke Butik aja, ya''


''Iya''


''Mayang apa sayang aja panggilan yang cocok? Sebentar lagi kita kan akan menikah, kurang sopan aja rasanya kalau aku masih manggil kamu dengan sebutan Mayang, aku merasa aku tidak menghargai calon istriku'' lembut Aksa berucap menyungging senyum.


''Au ... ah. Terserah gimana bagusnya aja'' jawab Mayang asal terdengar kurang sopan, padahal dia lagi sibuk meredakan debaran di dada.


''Sayang aja ya?'' kata Aksa pelan lagi lembut


"Besok aja, tunggu kita udah sah''


''Sah apaan?''


''Issshhh...'' wajah Mayang bersemu, dia mengalihkan tatapannya ke samping, ke arah luar.


''Mmm ... Baiklah, kalau begitu sekarang panggilan nya DEK aja ya?''


''Iya.''


''Aku panggil kamu Dek, kamu panggil aku apaan?''


''Mau nya apa?

__ADS_1


''Sayang''


''Mas aja!'' jawab Mayang.


''Dil? Jangan panggil nama-nama lagi kita ya,'' tegas Aksa.


''Iya''


Setelah itu hanya suara hiruk pikuk kendaraan yang terdengar, serta alunan musik yang sengaja di putar oleh Aksa.


******


Mayang dan Aksa sudah berada di dalam butik, Mayang sudah mencoba beberapa gaun pengantin begitu juga Aksa.


''Bagaimana yang ini, cantik enggak?'' tanya Mayang saat dia mencoba salah satu gaun pengantin lagi, gaun pengantin bewarna putih yang di lengkapi dengan payet-payet. Dia berdiri di depan cermin, berputar-putar, memutar kan tubuhnya.


''Cantik, semuanya cantik'' balas Aksa yang selalu setia mendampingi Mayang. Dia duduk di sofa memperhatikan Mayang, dengan dagu berpangku pada tangan.


''Iihh ... Kok gitu? Aku serius Mas!'' ujar Mayang lagi, dia merasa Aksa hanya becanda. Panggilan mas sudah dia sematkan untuk sang pria pujaan.


''Iya, mas juga serius Dek. Kamu pake apa aja cocok,''


''Terus yang mana dong? Kan kata kamu semuanya bagus dan cantik, aku sudah mencoba sekitar lima gaun lho ini'' ucap Mayang sedikit manyun, dia berjalan ke arah Aksa, lalu setelah itu dia duduk tepat di samping Aksa, dengan tetap menjaga jarak.


''Ambil semuanya saja'' goda Aksa, dia menatap lekat ke arah Mayang yang ada di sampingnya.


''Dasar, enggak pernah serius'' omel Mayang, dia menarik ujung hidung Aksa yang bengir, dia merasa gemes. Sedangkan Aksa hanya nyengir di perlakukan seperti itu. Menampakkan deretan giginya yang rapi yang semakin menambah ketampanan nya. Dia merasa senang mendapat perlakuan seperti itu dari sang wanita pujaan.


''Wahh ... Yang ini juga cocok banget lho sama Nona Mayang, jadi kalian mau ambil gaun yang mana?'' tanya wanita itu. Wanita yang merupakan designer sekaligus pemilik butik.


''Tanya sama calon suami aku aja, Mbak, bagusnya yang mana.'' sahut Mayang, tangannya mengangkat gaun nya yang kepanjangan, dia merasa gerah.


''Semuanya bagus,'' celetuk Aksa.


''Iihh ... tuh kan'' cibir Mayang melempar tatapan sebal ke arah Aksa.


Pemilik butik itu tersenyum melihat tingkah dua sejoli yang sebentar lagi akan menjadi suami istri tersebut.


''Iya, ambil ke lima nya aja Mbak, simpan disini saja dulu karena pernikahan kita akan di adakan sebulan lagi.''


''Baiklah, tuan Aksa. Kami akan mencatat semua total pembayaran nya, dan gaun ini juga akan kami simpan di tempat khusus terlebih dahulu, karena kalau tidak di simpan bisa-bisa gaun-gaun ini di ambil sama pasangan lain, karena di butik kami gaun-gaun ini memang keluar terbaru dan yang paling bagus di antar yang lain. Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu'' ucap wanita itu ramah, lalu berlalu dari hadapan Mayang dan Aksa.


''Mas serius? gaun-gaun ini mahal lo Mas, sayang duitnya'' kata Mayang lirih, dia merasa mubasir kalau harus membuang-buang duit.


''Enggak apa-apa dek. Ini sekali untuk seumur hidup, Mas ingin semuanya yang terbaik. Buat apa Mas bekerja selama ini kalau Mas masih hitung-hitungan sama orang yang Mas sayang'' ucap Aksa yang duduk berjongkok di depan Mayang, dia menatap Mayang lekat.


''Makasih Mas untuk semuanya. Bersama mu aku merasa begitu di istimewa kan.'' Mayang pun sama, kedua sejoli itu saling tatap satu sama lain dengan penuh cinta.


''Kerena kamu memang pantas di istimewa kan, Sayang'' ucap Aksa lembut. Seketika wajah Mayang merona di buatnya.


''Ya udah, aku ganti pakaian dulu ya'' pamit Mayang, lalu berjalan ke ruang ganti.


''Mau di bantuin nggak?'' tanya Aksa yang mengikuti Mayang di belakang.

__ADS_1


''Nggak usah'' ketus Mayang.


''Nanti kamu kesulitan membuka resleting nya lo''


''Aku bisa!'' Mayang menutup pintu ruang ganti.


'' ..... '' Aksa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia bersandar di pintu ruang ganti.


******


Mayang dan Aksa keluar dari butik, mereka berjalan berdampingan menuju mobil yang terparkir rapi, tapi tiba-tiba saja ponsel Aksa berdering. Aksa mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, dia ingin melihat siapa yang menelpon nya.


''Siapa mas?'' tanya Mayang penasaran saat mereka sudah berada di dalam mobil.


''Bu Aida dek, tumben banget Ibu menelpon''


''Angkat cepat mas''


Aksa mengangguk lalu mengangkat telpon.


''Assalamu'alaikum, Bu" kata Aksa memulai percakapan.


''Walaikumsallam, Nak. Kamu lagi ada di mana? Lagi sibuk nggak?''


''Aku nggak sibuk Bu, ada apa Bu?''


''Emm ... Ini, Gendis ....''


''Iya, Gendis kenapa, Bu?''


''Kamu bisa kepanti sekarang tidak, Nak? Nanti di panti saja kita bicaranya''


''Tapi ... Aku sekarang lagi sama Mayang, Bu, kami akan ke KUA mengurus berkas-berkas untuk pernikahan kami''


''Mmm ... Bisa di tunda dulu tidak, Nak. Gendis sakit, katanya dia mau berbicara sama kamu. Mayang nya kamu bawa saja ke sini''


''Baiklah, Bu. Aku dan Mayang berangkat sekarang,'' Aksa memutuskan panggilan.


Setelah panggilan terputus Mayang bertanya kepada Aksa, Aksa menjelaskan semua perkataan Bu Aida tadi, dan Mayang pun setuju untuk ikut Aksa ke Panti. Meskipun ada sedikit keraguan di hatinya, karena jika dia ikut ke Panti sudah pasti bayang-bayang tentang awal hilangnya Raihan akan memenuhi pikirannya, meskipun seperti itu dia harus mampu melawan trauma itu, karena Mayang yakin sekarang Raihan pasti sudah bahagia di tempat barunya.


***


...''Bagaimana, Bu?'' tanya Gendis penuh harap. Gendis lagi duduk di tempat tidurnya. Sedangkan Bu Aida berdiri dengan ponsel berada di tangan nya....


''Aksa dan Mayang akan ke sini, kamu berbaring lah, Nak. Ibu akan mengambil air untuk mengompres kening mu'' jawab Bu Aida.


''Mayang juga ikut Aksa ke sini?''


''Iya, berbaring lah, Ibu sayang dan tidak tega melihat kamu terluka dan larut dalam kesedihan, Ibu akan melakukan apa pun untuk membuat mu bahagia, tetapi kalau Aksa tidak mau Ibu juga tidak bisa memaksa nya'' tutur Bu Aida, dia mengelus lembut pipi sang putri yang sedikit tirus.


''Baiklah Bu, terimakasih,'' ucap Gendis lembut. Setelah itu Bu Aida berlalu keluar.


''Iihh ... Mayang mengganggu saja!'' gumam Gendis sebel saat Bu Aida sudah keluar.

__ADS_1


__ADS_2