
Di rumah tuan Aditama, pukul 11 siang.
Mayang tampak sibuk dengan peralatan dapur, peralatan yang selama 5 tahun belakangan telah menjadi temannya sehari-hari, sudah sebulan lebih dia tidak menyentuh peratan tersebut, membuatnya rindu.
dia begitu telaten memegang Spatula, mengaduk-ngaduk rendang daging sapi yang telah di iris kecil-kecil bercampur dengan santan kelapa dan berbagai macam bumbu didalam kuali di atas tungku, aroma begitu menggugah selera. Butir-butir Keringat membasi keningnya, sesekali Mayang menghapus keringat itu dengan tangan nya. Rambutnya diikat keatas, baju kaos biasa berwarna putih dan celana kulot panjang, Mayang tampak menawan dengan penampilan polosnya.
''sudah non, biar kami saja. Nanti tuan besar sama nyonya besar protes, non. Nanti mereka marah,'' sapa sang kepala koki dirumah itu dengan lembut dan sopan. Para koki yang berjumlah 6 orang berdiri berbaris melihat Mayang memasak. Rasanya mereka ingin merebut Spatula itu dari tangan Mayang.
''ah, tidak apa-apa, hari ini, untuk makan siang biar aku saja yang memasak menu utamanya. Kalian siapkan makanan penutupnya saja, ya'' balas Mayang ramah.
''tapi non ...'' protes kepala koki pria tersebut, terlihat takut-takut.
''tidak apa-apa, aku sudah biasa memasak, mama dan papa tidak akan marah. Kalian tenang saja, ayo semangat!'' Sahut Mayang, sambil tersenyum ramah lalu menegakkan satu tangan nya, memberi semangat.
Para koki ikut tersenyum, mereka lalu mulai bergabung dengan sang nyonya muda. Mereka merasa amat bahagia mendapatkan nyonya muda yang teramat baik serta ramah seperti Mayang yang mau berbaur sama mereka.
''tolong ambilkan tepung yang di sana, ya, aku akan membuat kan kue untuk kalian semua yang ada dirumah ini.'' perintah Mayang sambil menunjuk ke lemari yang memang khusus untuk menyimpan bahan-bahan untuk membuat kue.
Obrolan mereka mengalir begitu saja, Mayang memperlakukan para koki dan pelayan di rumah itu seperti temannya sendiri.
''wah, sepertinya enak, non. Tidak di sangka ternyata non Mayang pintar memasak'' celetuk Aksa tiba-tiba memasuki dapur, dia berdiri di sisi kulkas dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku, dia memperhatikan Mayang lekat.
''ah, kamu bisa saja. Memasak memang salah satu kewajiban kaum para wanita untuk membuat sang suami dan seluruh keluarganya bahagia'' jawab Mayang begitu saja, sambil menyajikan rendang kedalam mangkok besar. Sedangkan kue brownisnya sedang di kukus.
''aduh, senangnya kalau bisa mempunyai istri seperti non Mayang yang serba bisa'' goda Aksa. Tersenyum simpul.
Mayang mencebik ''semoga saja kamu segera dipertemukan dengan wanita yang pandai dalam segala hal, Aksa'' balas Mayang, dia melihat Aksa sekilas. Aksa terlihat sangat tampan, bisa di bilang sempurna dengan tubuh tinggi tegapnya, Tetapi tidak membuat Mayang tertarik, entah kenapa Mayang merasa trauma dengan para pria, dia tidak ingin jatuh cinta lagi dengan terburu-buru.
''amin, ya rabbal allamin'' jawab Aksa, memandang Mayang penuh arti.
Sedangkan sang mama, papa, dan putra-nya sedang pergi jalan-jalan di minggu pagi, mereka ingin memanjakan Raihan, membawa kemana saja yang Raihan mau. Sekarang akan memasuki waktu tengah hari, tapi, mereka masih belum pulang juga.
__ADS_1
***********
tuan Aditama menatap menu-menu yang ada di atas meja, ''ada apa ini? Kenapa koki kita mengubah menu sarapannya? Ini makanan mangandung banyak kolesterol, tidak baik untuk kesehatan!'' Ucapnya sedikit keras, dia terlihat tidak suka, sambil menatap rendang daging sapi. Mereka sudah pulang dari tengah jam yang lalu, Mayang pun sudah mandi dan mengganti pakaiannya. Sekarang mereka berada di meja makan. Tuan Aditama, nyonya Hanum, Mayang, Raihan dan Aksa.
Aksa yang berada di sana menatap kearah Mayang kuatir, sedangkan Mayang bersikap biasa saja.
''itu sepertinya enak, pa? Mama sudah tidak sabar lagi ingin menyantapnya.'' sahut mama Hanum.
''wah, Raihan mau dong. Mama selalu masak itu kalau pas lebaran saja, kadang hari-hari biasa Raihan kepengen, Raihan sering meminta mama untuk membuatnya, tetapi kata mama, duit mama tidak cukup untuk membeli daging sapi yang harganya mahal'' celoteh Raihan bahagia, sambil menunjuk ke arah rendang sapi.
Setelah mendengar ucapan Raihan, kini, tatapan tuan Aditama dan mama Hanum tertuju ke arah sang putri. ''hehehe, itu Mayang yang masak pa, ma! Papa jangan marah gitu dong.'' ujar Mayang, sambil terseyum salah tingkah. Dia merasa malu sama pengakuan sang putra.
Tuan Aditama menarik nafas panjang, merasa kasihan mendengar penuturan sang cucu, hatinya merasa sakit mengingat kesusahan yang pernah sang cucu dan putrinya jalani.
''baiklah, tidak apa-apa. Papa akan mencobanya sedikit saja'' balas tuan Aditama sambil menyendok satu potong daging sapi, dia sudah melunak.
Mama Hanum pun sama, begitu juga Aksa. Mereka menyantap makan siang dalam diam, hanya suara dentingan sendok beradu dengan piring yang terdengar. Rendang buatan Mayang terasa begitu lezat, bumbunya begitu pas, dagingnya pun sangat lembut.
''ini lezat sekali, sayang! Putri papa begitu pandai memasak sekarang. Mama kamu saja tidak pernah membuat masakan seenak ini.'' Puji Aditama.
''oh, jadi sekarang papa sudah berani banding-bandingin mama? Papa kan selalu melarang mama untuk masak!'' balas mama Hanum tidak terima.
''iya dong, sekarangkan sudah ada putri kesayangan papa di sini. Jadi, mama harus berbesar hati kalau papa bandingin''
''ih papa! Tapi, masakan kamu emang enak sayang. Mama pun suka, iya kan Aksa?'' ucap mama Hanum memuji Mayang, lalu bertanya kepada Aksa.
''iya nyonya! Ini lezat sekali'' jawab Aksa, matanya selalu tertuju ke arah Mayang.
''Aksa, bagaimana yang tadi? Apa sudah kamu antar?'' Tanya Aditama kerepotan, dengan makanan penuh dimulut nya.
''sudah tuan'' jawab Aksa tegas.
__ADS_1
''bagus!''
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ditempat yang berbeda. Ibnu, Anggia, mama Reni, Sari, dan Hamka baru tiba di rumah Ibnu. Mereka habis dari jalan-jalan memutari mall dan restoran. Ibnu baru habis gajian, Ibnu yang mentraktir mereka semuanya, karena Ibnu baru saja di angkat menjadi di rektur utama di perusahaan tempatnya dia bekerja, perusahaan milik orang tua Anggia, semua itu atas bujukan Anggia kepada sang papa, hingga papa-nya setuju. Tidak lama lagi mereka akan segera menikah. Keluarga Ibnu merasa sangat bahagia.
Ibnu mengeluarkan kunci rumah dari saku celananya, dia lalu memasukkan kunci itu kedalam lobangnya, setelah itu dia memutar kunci tersebut, hingga pintu terbuka.
''itu apaan, mas?'' ucap Anggia tiba-tiba, menunjuk kebawah. Matanya tidak sengaja melihat amplop berwarna putih diatas lantai didekat pembatas pintu.
Ibnu mengambil amplop itu, lalu mereka semua berjalan menuju sofa ruang tamu, mereka duduk di sana, melepaskan lelah sebentar.
''buka, mas!'' perintah Anggia, sambil bergelayut manja di lengan kekar Ibnu. Dia tidak merasa sungkan kepada mama Reni, Sari dan Hamka.
''iya'' jawab Ibnu. Ibnu membuka amplop itu, setelah terbuka dia membaca tulisan yang terdapat di atas kepala surat.
''pengadilan agama ...'' Ibnu membaca surat itu dengan suara sedikit keras, hingga terdengar oleh semua orang yang ada di sana.
''itu surat cerai, Ibnu?'' tanya mama Reni penasaran.
''iya ma, ini surat cerai dari Fitri. Disini dijelaskan kalau besok lusa sidang pertama kami akan di adakan'' jelas Ibnu tampak tidak percaya, begitupun yang lainnya.
''dari mana si Fitri itu dapat uang? Dia pasti mengemis dijalanan! Gaya-gayaan pakai mengirim surat cerai kesini,'' sahut Sari, dengan senyum sinis.
''iya, atau jangan-jangan dia menjual tubuh kurus nya itu. Makanya dia dapat uang!'' ujar mama Reni lagi.
''Hahahaha, mama betul juga'' ucap Sari. Mereka di sana menertawakan Fitri,
''apa kalian lupa? Kalau Fitri itu anak orang kaya! Apa jangan-jangan Fitri sudah pulang kerumah orang tuanya?!'' sambung Anggia, dia berbicara serius.
''itu tidak mungkin kak Anggia, orang tuanya itu sudah tidak menganggap Fitri lagi, mana ada orang tua yang membiarkan anaknya selama lima tahun tanpa kabar.'' celetuk Sari. Mama Reni, Ibnu dan Hamka pun mengangguk.
__ADS_1
Assalamualaikum, bagi yang suka jangan lupa kasih love dan komentar nya, ya.