Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Kabur


__ADS_3

Beberapa kali Aksa melakukan panggilan ke nomer Bu Aida tapi tak kunjung diangkat. Akhirnya Aksa menyerah. Aksa memutuskan untuk menghubungi orang suruhan nya saja yang ada di Panti. Hanya dengan sekali panggilan, terdengar Jawaban dari seberang sana.


''Hallo Tuan.''


''Hallo, gimana kabar disana sekarang?''


''Sekarang sudah aman Tuan, tapi ... Kami merasa kasihan sama wanita yang disiksa dan di kurung, tangis nya terdengar begitu pilu.'' jelas orang dari seberang sana.


''Emm .... Baiklah, tolong kamu bebaskan Gendis dari gudang. Bawa dia keluar dari gudang secara diam-diam. Dan bawa Gendis ke Apartemen milik mu untuk sementara waktu. Kalau Gendis bertanya katakan kalau ini perintah saya.'' titah Aksa.


''Ke-kenapa ke Apartemen milik Saya tuan?''


''Yaaa terus kemana lagi? Saya tidak mungkin menampung Gendis dirumah mertua saya, saya tidak mau ada seorangpun yang bisa memacu retak nya rumah tangga saya.'' Ucap Aksa sedikit kesel.


''B-baik lah Tuan, siap laksanakan.''


Setelah itu Aksa menekan gambar gagang telpon bewarna merah pada layar ponselnya. Ia meletakkan ponselnya diatas nakas, setelah itu Aksa melepas jaket kulit yang menutupi tubuhnya, lalu ia membaringkan tubuhnya yang terasa lelah di samping sang Istri. Aksa memeluk Mayang dengan erat. Aksa merasa pusing memikirkan masalah yang ada.


**


Di tempat berbeda, orang suruhan Aksa yang berbadan kekar, diam-diam menghampiri area gudang. Saat sudah sampai di depan pintu gudang, ia mendobrak pintu gudang dengan keras, dan pintu gudang pun terbuka.


Orang itu menghampiri Gendis cepat, lalu dengan cepat pula ia membawa tubuh Gendis yang tak berdaya. Orang suruhan Aksa menggendong tubuh Gendis dengan enteng, tanpa melepaskan ikatan yang mengikat tangan dan kaki Gendis. Gendis yang terisak merasa kaget dengan tindakan yang dilakukan oleh orang suruhan Aksa.


''Hey, siapa kamu?'' tanya Gendis lirih. ''Lepaskan aku,'' ucap Gendis sedikit melakukan perlawan.


''Diamlah! Aku melakukan ini untuk menolong mu wanita menyedihkan.'' ungkap orang suruhan Aksa yang bernama Gavin. Gavin adalah pria yang tampan, ia merupakan ketua mata-mata, yang siap di tugaskan kapanpun dengan bayaran yang cukup fantastis. Karena ia memang sudah sangat terlatih, ia sudah menguasai ilmu bela diri dengan benar.

__ADS_1


''Iya, tapi kamu siapa?'' tanya Gendis masih penasaran.


''Aku orang suruhan Tuan Aksa. Aku melakukan ini atas perintah nya. Jadi diam lah! Apa kau mau mati secara mengenaskan di gudang?!''sahut Gevin sedikit ketus.


''Jadi Aksa yang meminta mu untuk membawa aku kabur dari sini?'' lagi Gendis bertanya.


''Iya! Dasar cerewet, diam lah!'' bentak Gavin. Gavin memang terkenal ketus kalau sama perempuan. Di usianya yang cukup matang Gavin masih betah membujang, karena dulu ia pernah mengalami pengalaman yang menyakitkan saat menjalin kasih sama perempuan. Semenjak saat itu ia menganggap semua wanita sama saja.


Setelah mendengarkan penuturan Gavin, mata Gendis yang baru berhenti menetes air mata tiba-tiba kembali berkaca-kaca.


''Ternyata Aksa masih peduli kepada aku. Padahal aku telah bersikap kasar terhadap Mayang waktu itu. Meskipun aku hanya di suruh Ibu, tapi aku tetap merasa tidak enak sama Mayang. Aku berjanji, suatu hari nanti kalau aku bertemu sama Mayang aku akan meminta maaf kepadanya.'' batin Gendis bermonolog.


Gavin yang melihat mata Gendis memerah merasa bersalah. Ia kira Gendis seperti itu karena dirinya.


Tidak lama setelah itu, Gavin meletakkan tubuh Gendis di dalam mobil. Beberapa orang teman Gavin masuk kedalam mobil yang lain.


***


''Ini air hangat, dan handuk. Bersihkan luka memar mu itu terlebih dahulu, setelah itu beristirahat lah. Tidak lama lagi pagi akan datang.'' titah Gavin kepada Gendis. Setelah itu Gavin berlalu keluar dari kamar membawa bantal, ia merebahkan dirinya di sofa di depan televisi.


''Kamu akan tidur di luar? Biar aku aja yang tidur di luar.'' teriak Gendis merasa tidak enak.


''Biar aku saja! Beristirahat lah.'' ucap Gavin tegas. Gendis pun tak lagi menjawab. Gendis menutup pintu kamar, lalu ia membuka gamis dan jilbab panjangnya. Perut dan sebelah pipi nya terasa sangat perih, wajar saja, karena tadi ia mendapat pukulan dari Bu Aida secara membabi buta. Bu Aida marah karena Gendis telah kabur dari gudang. Bu Aida masih belum tahu tentang Gendis yang telah membocorkan segala perbuatan jahatnya kepada Aksa.


Bagian perut Gendis yang putih nampak memar, pipi nya pun juga.


**

__ADS_1


Adzan Subuh berkumandang, Mayang terbangun dari tidurnya. Saat ia melihat kesamping, ia tersenyum melihat sang suami yang tidur begitu pulas. Mayang membelai lembut rambut hitam lebat Aksa.


''Aw, leherku.'' Mayang merasakan perih dibagian lehernya. ''Alhamdulillah, syukur aku masih bernafas hari ini. Aku kira aku tidak bakalan melihat suami ku lagi pagi ini. Siapa orang tadi malam itu, kenapa ia menyerang aku secara mendadak.'' batin Mayang. Setelah itu Mayang turun dari kasur, ia berjalan ke kamar mandi dengan sedikit tertatih, karena ia juga merasa sedikit sakit dibagian ari-ari nya. Mayang hendak menunaikan sholat subuh. Aksa yang baru terlelap pun tiba-tiba terbangun karena merasakan Mayang tak ada lagi di sampingnya.


''Sayang, apa kamu sudah baikan?'' seru Aksa yang melihat punggung sang Istri berjalan ke kamar mandi.


''Kamu sudah bangun Mas. Sudah, aku tidak apa-apa. Alhamdulillah Mas, Allah masih melindungi aku. Ayo Mas kita ke ambil Wudhu bersama-sama.'' sahut Mayang mengalihkan tubuhnya menatap sang suami.


''Baiklah istriku Sayang. Hati-hati kamu jalannya.'' Aksa berjalan kearah Mayang seraya menguap lebar.


**


Di tempat berbeda, pagi hari.


Wanita paruh baya itu kembali memeriksa gudang belakang, saat sudah sampai di gudang betapa kagetnya ia melihat pintu sudah terbuka dan Gendis yang tidak ada lagi di tempat.


Bu Aida mengeluarkan ponsel dari saku Sweater nya, lalu ia berniat menghubungi seseorang. Sebelum menghubungi orang itu, ia juga kaget melihat panggilan dari Aksa yang tidak ia jawab tadi malam.


''Ada apa Aksa menelpon aku tadi malam? Apa dia sudah tahu semuanya? Ah ... Lebih baik-baik aku bersiap-siap untuk kabur dari tempat ini, sepertinya tempat ini sudah tidak aman lagi.'' gumam Bu Aida. Ia mengurungkan niatnya untuk menelpon orang itu. Bu Aida memilih masuk lagi ke kamarnya, Ia mengumpulkan semua uang, perhiasan dan surat-surat berharga yang ia punya.


Setelah semuanya telah ia masukkan kedalam koper, ia menemui Hana yang ada di rumah sebelah.


''Ini uang belanja untuk anak-anak panti. Kalau ada orang yang menanyakan Ibu, katakan Ibu sedang ada urusan di luar kota.'' Bu Aida berbicara sama Hana seraya menyerahkan uang lima ratus ribu rupiah. Hana lalu melontarkan tanya, ''Bu, Gendis mana Bu? apa Gendis tidak akan ikut? tanya Hana.


''Alaaahhh jangan banyak tanya kamu. Ya sudah, Ibu pergi!'' kata Bu Aida setelah itu ia berlalu menuju mobil yang terparkir di garasi. Mobil zaman dulu yang masih terlihat bagus, karena mobil itu memang selalu di rawat oleh Bu Aida.


Bu Aida, Aditama, Bagaskara, dan Mama nya Aksa usianya sepantaran.

__ADS_1


__ADS_2