Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Perhatian Gentala


__ADS_3

Hingga cuaca pagi menyala terang memasuki pentalasi ruangan, karena sinar mentari pagi ini yang keluar seutuhnya menyinari bumi, Raihan masih belum sadarkan diri juga. Yang membuat kecemasan keluarga Aditama tak kunjung reda, bayang-bayang tentang kabar buruk terus menghantui mereka.


Mereka masih setia berkumpul di depan ruang rawat Raihan, hanya Gentala saja yang sudah pulang subuh tadi.


Aditama dan mama Hanum nampak duduk dengan kondisi terkantuk-kantuk, menguap dan mata sayu. Bagaimana tidak, dari semalam mereka belum ada memejamkan mata, merebahkan tubuh yang sudah beranjak senja.


''papa sama mama pulang saja ya, beristirahat. Nanti ke sini lagi. Mayang bisa jaga Raihan sendiri di sini!'' kata Mayang, berkata lembut kepada kedua orang tuanya, dia merasa begitu khawatir, takut kalau mama dan papa nya jatuh sakit.


''apa kamu tidak apa-apa, sayang? Menunggu Raihan sendiri?!'' tanya Aditama, menatap lekat ke arah sang putri yang sedang duduk bersandar di dinding rumah sakit, mata Mayang nampak cekung.


''tidak pa, Mayang tidak apa-apa. Apa papa lupa kalau Mayang ini wanita kuat'' sahut Mayang, dengan memaksa senyum di wajahnya, dia hanya ingin terlihat baik-baik saja di mata kedua orang tuanya. Tidak ingin membuat mereka semakin khawatir.


''putri papa bisa saja, baiklah kami akan pulang, nanti papa akan mengirimkan 2 pelayan yang ada dirumah kita ke sini, untuk menemanimu. Tetap lah kuat nak'' kata Aditama mengelus pucuk kepala Mayang.


''baik pa''


"Iya sayang, jaga diri. Mama dan papa akan selalu mendoakan Raihan di mana dan kapan pun.'' kata mama Hanum ikut menimpali.


''Aksa, kamu ikut kami pulang ya, hari ini kamu gantikan lagi posisi Mayang di kantor. Maaf kalau kami selalu merepotkan kamu'' ujar Aditama yang menatap lekat ke arah Aksa, yang duduk tidak jauh dari mereka.


''baik tuan, tidak apa-apa tuan. Saya senang masih di anggap berguna di keluarga tuan'' jawab Aksa berusaha kuat. Meskipun sebenarnya dia juga lelah dan rapuh. Apalagi kondisi hatinya yang tidak sedang baik-baik saja, ancaman untuk kehilangan wanita yang sudah lama diidam-idamkan datang lagi untuk kedua kalinya, setelah enam tahun silam terjadi.


''baiklah, ayo. Mobil yang satu di tinggal saja. Kamu setir mobil kita ya, saya tidak sanggup kalau harus menyetir''


''baik tuan''


Lalu mereka bertiga melangkahkan kaki meninggalkan Mayang dan Raihan, serta meninggalkan rumah sakit yang tampak megah.


Tidak berapa lama setelah kepergian Aditama, mama Hanum dan Aksa. Tiba-tiba Mayang yang baru memejamkan mata sesaat di kursi tunggu di rumah sakit di kagetkan dengan sebuah suara.


''assalammualaikum, cantik. Maaf mengganggu, ini makanan khusus dan spesial yang aku bawa untukmu'' kata Gentala, duduk di sebelah Mayang lalu berbisik di telinga Mayang sedikit keras.

__ADS_1


''Ge--ntala, kamu menganggu saja. Walaikumsallam, terimakasih'' sahut Mayang, menguap, membuka mata sayup memperjelas penglihatan nya dengan wajah cemberut.


''kenapa tidur di sini? Kenapa tidak menunggu di dalam saja, di dalam kan ada tempat tidur khusus'' kata Gentala selembut mungkin. Menatap intens ke arah wanita yang di kagumi nya. ''di saat seperti ini, dengan penampilan apa adanya, kamu masih terlihat cantik aja Mayang'' batin Gentala kagum.


''tadi aku baru saja melepas kepulangan mama, papa serta Aksa. Tidak di sadari ternyata aku sudah memejamkan mata disini.'' jelas Mayang, mengucek mata dan membenahi sedikit penampilannya.


''baiklah, kalau begitu ayo masuk. Cuci muka setelah itu sarapan. Aku akan menyuapi mu''


''tidak perlu, aku bisa sendiri. Kamu kenapa kembali lagi kesini? Bukankah kamu harus bekerja?!''


''Setelah aku memastikan kamu baik-baik saja dan sudah sarapan aku akan pulang''


''apaan sih lebay''


Setelah itu benar saja, mareka melangkahkan kaki memasuki kamar inap Raihan. Gentala masih setia menemani Mayang, saat Mayang sarapan dengan nasi yang di bawa oleh Gentala yang berada di tempat khusus seperti Tupperware, yang di dalamnya ada nasi, ayam goreng, tumis kangkung, rendang daging, yang di letakkan terpisah. Mayang makan dengan begitu lahap.


Bibir tipis Gentala tertarik ke dalam, senyum tipis itu terbit di wajah tampan nya. mereka duduk di atas lantai yang di lapisi karpet.


''tahu aja, itu makanan spesial yang mama ku masak khusus untuk mu.''


''mama?''


''iya, aku menceritakan tentang semuanya Mayang, tentang kamu, tentang Raihan, tentang apa yang terjadi kemarin. Kamu tahu aku sangat nyaman bercerita apa saja sama mama aku, saat aku bercerita, mama aku akan selalu setia menjadi pendengar yang baik'' jelas Gentala menatap lekat ke arah Mayang, dengan dagu berpangku pada tangannya.


''waw, mama kamu orang tua yang sangat baik dan hebat seperti nya, Gentala.'' Puji Mayang, ''aku harap aku juga bisa menjadi ibu yang baik untuk putra ku kelak, semoga Raihan di beri umur yang panjang'' batin Mayang sedih, wajahnya terlihat lesu kembali, dia meletakkan sendok yang di pegang nya. dia menatap ke arah Raihan yang terbaring kaku di brankar, dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuh kecilnya.


''iya, tentu saja. Besok aku akan membawa kamu ketemu sama mama'' kata Gentala begitu percaya diri, dengan mengedip-ngedipkan sebelah matanya.


''itu, kenapa tu muka lesu lagi dan sedih lagi? ayo semangat Mayang'' sambung Gentala.


''ih, apaan sih. Makin ngawur aja''

__ADS_1


''bagaimana tidak sedih, anakku masih tidak sadarkan diri Gentala. dia nyawaku, dia hidupku'' sambung Mayang lagi.


''kamu yang kuat, ya Mayang. setelah Raihan sembuh aku akan membawa kalian berdua kerumah ku, bertemu sama mama dan papa ku''


Mayang tidak lagi menjawab.


''kamu kira setelah kamu menyelamatkan anakku, kamu bisa membawa aku kemana saja yang kamu mau? Jangan harap semudah itu!'' batin Mayang lagi, menatap lekat ke arah Gentala.


Di sela-sela obrolan ringan mereka, tiba-tiba alat pendeteksi detak jantung Raihan berbunyi nyaring berulang kali, mambuat Mayang dan Gentala kaget, tubuh Raihan mengejang hebat.


''dokter ....!'' teriak Mayang.


''Gentala cepatan panggil dokter!'' setelah berkata seperti itu Gentala keluar dari ruangan dengan langkah kaki lebar, meskipun alat pemanggil dokter secara otomatis sudah di pencet berulang kali oleh Mayang.


''Raihan, kamu kenapa sayang?'' ucap Mayang panik, memeluk tubuh Raihan yang tidak mau diam, mata Raihan terbelalak hanya nampak mata putih nya saja.


*****


''alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga sayang''


''iya ma, pa, maafkan Anggia. Ternyata laki-laki yang Anggia cintai, yang Anggia pilih jadi imam Anggia dan yang Anggia rebut dari wanita lain bukanlah laki-laki yang baik, dia brengsek pa,''


''iya sudah, sekarang jadikan semuanya sebagai pelajaran yang berharga, agar kamu bisa melangkah kedepan dengan pribadi yang jauh lebih baik lagi''


''iya ma, pa'' ucap Anggia penuh penyesalan. Pak Kuncoro menerima Anggia lagi dengan tangan terbuka. Mereka bertiga berpelukan di ruang keluarga. Tadi, pak Kuncoro sempat kaget dan menolak kedatangan sang putri yang tiba-tiba yang tampak semakin kurus, setelah Anggia memohon dan menjelaskan semuanya baru-lah pak Kuncoro luluh.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Hamka yang sedang di dalam perjalanan merasa gelisah, dia baru teringat tentang putri nya, Meisya. Seorang tetangga sekitar rumah Ibnu baru saja mengabari tentang putri nya yang menangis hebat.


Hamka terpaksa memutar kembali kendaraan roda empat miliknya itu.


''brengsek! Aku harap putri ku baik-baik saja. Sari dan keluarga nya pasti sudah menjalani niat jahat mereka, atau jangan-jangan mereka sudah di tangkap polisi. Aku harap begitu, supaya aku bisa mendekati Anggia'' batin Hamka tersenyum getir.

__ADS_1


''kalau iya, aku akan menemui Sari, aku akan menjatuhkan talak kepadanya. Dan perlahan-lahan aku akan mendekati Anggia'' Hamka bermenolog lagi. Dia melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2