
.
''hal apa yang membuat kamu bisa jatuh cinta sama aku? Kamu merasa kasihan, atau merasa berhutang budi sama Papa ku? Aku ini seorang janda, tidak ada daya tarik dari diriku yang istimewa. Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dan sempurna dari pada aku, Aksa. Yang serasi dan pantas bersanding dengan diri mu'' lirih Mayang berucap, menatap Aksa lekat.
''jangan berbicara seperti itu. Tidak ada kata tidak, jika hati sudah berkehendak. Tidak ada rasa kasihan dan balas budi. Yang ada aku mencintaimu setulus hati, menerima semua kelebihan dan kekurangan mu. Jadi, plis, percayalah sama kesungguhan aku, Mayang,'' ujar Aksa meyakinkan.
''aku tidak bisa, Aksa!'' jawab Mayang seraya mengalihkan tatapannya ke arah lain, air matanya tiba-tiba terjatuh begitu saja.
''ja..di ... Kamu tidak menerima aku, Mayang? dan kamu juga tidak mencintai aku?'' sahut Aksa kaget dengan wajah pias, seketika seluruh persendiannya terasa lunglai.
''bu...kan seperti itu. Maksudku, aku tidak bisa untuk tidak menerima mu. Aku juga mencintaimu'' kata Mayang mantap, dengan wajah bersemu.
''katakan sekali lagi, Mayang'' sahut Aksa. Dia pun sama, wajah yang tadi tegang kini terlihat berseri.
''I Love You to Aksa'' ujar Mayang, dia mengambil buket bunga yang ada di hadapannya, memeluk buket itu lalu menghirup wanginya yang menenangkan.
''jadi, kamu mau menikah sama aku?''
''iya'' mantap Mayang menjawab, dengan anggukan kepala dan senyum mengembang.
''yes!'' teriak Aksa girang, sujud syukur dia lakukan ketika dia mendengar jawaban yang dia harapkan yang keluar dari mulut Mayang. Jawaban yang dia tunggu-tunggu selama ini.
Begitu juga Mayang, senyum malu-malu disertai wajah merona terbit di wajahnya.
''sudah, berdirilah. Nanti pakaian mu kotor'' kata Mayang menyapa Aksa yang masih betah menyium tanah. Aksa pun akhirnya bangkit, menampakkan wajah putih bersih yang sangat tampan.
''terimakasih,'' mantap Aksa berucap, sesak yang menghimpit yang memenuhi rongga dadanya bertahun-tahun lamanya kini terasa lapang.
''iya, sama-sama. Akupun mengucapkan terimakasih banyak pada mu Aksa, karena mu aku bisa tersenyum bahagia lagi, karena mu aku bisa merasakan semangat hidup yang menggelora kembali''
''baiklah, kalau begitu ayo kita masuk''
''ngapain?''
''aku mau bertemu Papa dan Mama mu Mayang, aku akan mengatakan tentang kita. Tentang kita yang memiliki perasaan yang sama, dan besok aku akan melamar kamu secara resmi mengajak Papa aku ke sini''
''apakah itu tidak terlalu cepat?''
''kamu mau kita pacaran dulu seperti kebanyak pasangan di luar? Melakukan dosa setiap hari dengan berhubungan sama pasangan yang belum muhrim?'' kata Aksa sedikit menggoda.
''apaan sih'' sahut Mayang jutek.
''kalau begitu ayo, lebih cepat lebih baik. Kamu tidak keberatan 'kan? Aku ingin secepatnya melakukan ibadah terpanjang bersama mu, menjalani hari-hari dengan ditemani seorang makmum yang melengkapi hariku''
__ADS_1
Mayang tidak lagi bersuara, dia hanya menggerakkan salah satu anggota tubuhnya sebagai jawabannya.
Setelah itu mereka berdua melangkah kan kaki menuju pintu utama rumah Aditama, dengan Mayang di depan dan Aksa berjalan di belakangnya. Aksa pemuda yang luar biasa, yang bisa menjaga marwah wanita yang di cintainya. Dia sama sekali tidak berniat untuk menyentuh tangan ataupun hal lain yang ada pada diri Mayang, tidak seperti pasangan kebanyakan, yang menganggap pegangan tangan adalah hal biasa dan wajar, padahal itu adalah awal mula terjadi perzinahan yang besar dan nyata. Itulah kenapa hati Mayang bisa terpikat sama Aksa begitu cepat, pemuda yang cerdas, sopan, lagi lembut bertutur kata. Keyakinan nya akan kesetiaan dan kebaikan seorang Aksa begitu dalam.
Sementara di dalam rumah di ruang tamu, Aditama dan Mama Hanum sudah menunggu kedatangan Mayang dan Aksa. Mereka merasa amat bahagia melihat dan mendengar sendiri jawaban dari sang putrinya tadi lewat jendela. Rasanya campur aduk, bahagia, sedih terharu. Hingga tadi Mama Hanum sampai menangis.
''bagaimana, Ma? Sudah di batalkan arisannya?''
''sudah Pa, meskipun teman-teman Mama banyak yang protes''
''besok saja. Urusan kebahagiaan putri kita jauh lebih penting. Papa tidak ingin kehadiran teman-teman Mama bisa merusak momen bahagia antara kita''
''kita?''
''iya, kita berempat. Mama, Papa, Aksa dan Mayang''
''ssssttt!''
Mereka memutuskan diam, pura-pura tidak tahu dan tidak terjadi apa-apa ketika mereka mendengar suara sepatu beradu dengan lantai.
''assalammualaikum, Ma, Pa'' ucap Mayang ketika dirinya sudah berada di depan kedua orangtuanya.
''walaikumsallam, Mayang. Temannya sudah pulang?'' tanya Aditama berpura-pura sekaligus heran, karena dia tidak melihat keberadaan Aksa.
Setelah itu tatapan Aditama, Mama Hanum dan Mayang tertuju ke arah pintu, di sana tampak Aksa sudah berdiri.
''assalammualaikum, Tuan, Nyonya'' ucap Aksa ketika dia masih berdiri seraya mengayunkan langkah nya pelan.
''walaikumsallam Aksa. Ternyata kamu yang di temui Mayang di taman tadi? Kenapa tidak masuk saja? Kalian ini aneh sekali. Ayo, sini duduk'' ucap Aditama ramah.
Aksa pun akhirnya duduk di kursi yang berbeda, mereka berempat duduk saling berhadapan.
''Tuan, Nyonya, jadi begini, ada yang mau saya sampaikan tentang sesuatu hal sama kalian.''
''kamu jangan memanggil kami dengan Tuan dan Nyonya lagi Aksa. Kamu sudah tidak bekerja di sini lagi dan kamu juga sudah kami anggap seperti putra kami sendiri, jadi panggil Om dan Tante aja ya, atau Mama sama Papa juga boleh'' kata Mama Hanum terseyum simpul.
''em ... Baiklah''
''kamu mau mengatakan apa, Aksa?''
Kemudian Aksa mengatakan semuanya, tentang perasaan nya kepada Mayang. Aksa berbicara dengan begitu pelan dan jelas. Mayang pun sama, selama Aksa berbicara sama kedua orang tuanya dia hanya diam dengan rasa malu, kalau di tanya sesekali Mayang hanya mengangguk dengan wajah merona.
''kami sangat senang dan merasa tidak percaya. Terimakasih Aksa, kehadiran kamu sangat berarti di keluarga kecil kami. Terimakasih karena kamu sudah menyayangi Putri kami dengan tulus.
__ADS_1
Pulanglah, malam sudah semakin larut, besok malam kami tunggu kedatangan mu di rumah ini bersama orang tuamu, Aksa.'' tutur Aditama.
''baiklah''
Setelah itu Aksa berlalu pergi meninggalkan rumah yang mewah lagi megah itu dengan perasaan yang amat bahagia.
******
Aksa tiba di rumahnya sekitar pukul 11 malam, rumah megah miliknya itu tampak remang dengan penerangan yang minim. Beberapa lampu di bagian rumah tidak menyala. Entah kenapa perasaan nya mulai tak enak, wajahnya yang dari tadi selalu tersenyum bahagia kini berubah menjadi tegang. Aksa memeriksa ponselnya yang berada di dasbor mobil, dan dilayar depan terlihat lah olehnya panggilan dari nomor sang Papa, ada tiga kali panggilan yang tidak Aksa ketahui, karena memang ponselnya sengaja di diamkan dan di tinggal di mobil.
''satu jam yang lalu? Ah ... Ada apa lagi ini? Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa sama Papa'' gumam Aksa cemas.
Setelah itu Aksa keluar dari mobilnya, Aksa berlari memasuki rumah. Di depan juga tidak ada penjaga dan memang penjaga di rumah Bagaskara terbilang cukup sedikit untuk rumah sebesar itu. Sangat berbeda kalau dibandingkan dengan rumah Aditama yang memiliki penjaga cukup banyak.
Di dalam rumah tampak sangat berantakan, gucci dan pot bunga jatuh dengan pecahannya terlihat begitu berantakan serta tidak ada sesiapa yang Aksa lihat di rumah itu termasuk para pelayan.
''Papa!''
''Papa ...'' teriak Aksa berjalan menaiki tangga, dia begitu panik.
Begitu sampai di depan pintu kamar sang Papa, Aksa berteriak lagi memanggil Papanya.
''Papa! Apakah Papa ada di dalam?'' kata Aksa seraya mengetuk pintu tidak sabaran. Namun tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Plak
Aksa mengalihkan tatapannya kebelakang, saat dia merasa kan punggungnya di tepuk oleh seseorang.
''Bibik?!'' ucap Aksa kaget, dia melihat wanita paruh baya yang merupakan ketua pelayanan di rumah itu berdiri dengan kaki dan tubuh gemetar.
''den,'' terbata Bibik berucap, dengan air mata mengenangi kelopak mata.
''apa yang sebenarnya terjadi, Bik? Papa mana dan kenapa rumah jadi berantakan seperti ini?'' cecar Aksa dengan wajah memerah.
''Den ... Tadi.. Tuan besar di bawa oleh dua orang bertopeng beserta teman-temannya. Bibik tadi sempat bersembunyi di salah satu ruang ketika keributan terjadi, Bibik sempat mengintip lewat lobang kecil. Maafkan Bibik, Bibik tidak bisa berbuat apa-apa. penyusup itu sangat banyak, ada sekitar 15 orang lebih dengan tubuh tinggi dan besar. Tetapi ada dua orang yang bertubuh sedang'' jelas bibik dengan isakan nya.
''Pelayan dan pengawal yang lain mana? Dan Gentala sama Mamanya mana, Bik?'' tanya Aksa seraya memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
''Yang lain Bibik juga tidak tahu, kalau Den Gentala dan Nyonya besar Bibik tidak melihat kehadiran mereka di rumah ini dari pagi, Den.'' jelas Bibik hati-hati.
Aksa dan Bibik lalu berjalan menyusuri rumah berlantai tiga tersebut. Berteriak memanggil yang lain.
.....
__ADS_1