Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Kegilaan Gendis


__ADS_3

Setelah seminggu lamanya Aksa cuti, Sekarang dia akan kembali ke Kantor. Hari ini adalah hari senin, Aksa telah selesai bersiap-siap, penampilannya sudah rapi dengan celana bahan, kemeja dan jas. Tidak tertinggal dasi kantoran. Mayang berdiri di depan tubuh tegap Sang Suami, dengan lincah ia memasang dasi dan membereskan kerah baju sang suami.


''Bakal tambah semangat ini Mas kerjanya kalau setiap hari di layani seperti ini.'' ucap Aksa, netranya menatap lekat wajah cantik sang istri, sedangkan kedua tangannya berada di pinggang sang istri.


''Kamu harus semangat selalu sayang, aku kan Istri kamu, ini udah menjadi tugas aku dan kewajiban aku. Aku akan melayani kamu dengan sebaik mungkin'' sahut Mayang. Sekarang tangannya telah ia kalung kan ke leher Aksa.


''Mau ikut Mas ke kantor hari ini?'' tawar Aksa dengan senyum simpul.


''Boleh.''


''Beneran?''


''Bener. Tapi nanti, aku akan membawakan makan siang spesial untuk kamu Mas.'' wajah Mayang tersebut mengembang saat mengatakan itu.


''Baiklah Sayang. Terimakasih. Mas akan menunggu kamu di Kantor nanti.'' Aksa mencium kening Mayang, setelah itu turun ke bibir. Dengan seketika dia ******* bibir Mayang begitu rakus.


''Udah ah, mau kerja juga.'' protes Mayang mendorong dada bidang sang suami, dia melepaskan dirinya dari pelukan sang suami.


Aksa memang begitu aktif, membuat Mayang sedikit kewalahan.


Setelah itu Mayang mengantar Aksa dan sang Papa ke teras rumah. Melepas kepergian dua lelaki hebatnya. Mobil Aksa sudah melaju meninggalkan pelantaran rumah, Mayang menatap pilu kearah punggung sang Papa yang hendak masuk ke dalam mobil. Mayang merasa amat kasihan melihat Papa nya itu masih tetap bekerja di usia senja. Dulu sang Papa sudah menobatkan Mayang sebagai CEO, tetapi sekarang Mayang rasa dirinya tidak mungkin lagi menduduki jabatan itu karena dirinya telah bersuami dan dia juga sedang fokus dengan program hamil. ''Mama dan Papa kenapa dulu tidak memberikan aku seorang adik. Akan lebih menyenangkan kalau seandainya aku punya seorang adik laki-laki.'' batin Mayang menerawang ke masa kecilnya.


''Kamu kenapa Sayang? Kenapa masih berdiri di sini?'' Mama Hanum menyusul Mayang ke teras. Ia menepuk kecil pundak Mayang, membuat Mayang sedikit kaget.


''Ih Mama ngagetin aja.''


''Maaf! Sedang melamum rupanya anak Mama Ini''

__ADS_1


''Aku merasa kasihan aja sama Papa, Ma. Seharusnya Papa tidak perlu ke Kantor lagi. Aku enggak ada gunanya jadi anak.'' jawab Mayang, wajahnya terlihat sedih.


''Hey, jangan ngomong gitu dong Sayang. Kamu itu anak perempuan dan juga sudah bersuami. Tugas kamu emang harus di rumah Sayang. Kamu harus istirahat, mengurus suami dan juga kamu harus memberikan kami cucu-cucu yang tampan dan cantik. Lagian Papa kan udah punya Asisten baru yang akan membantu nya di Kantor.'' Mama Hanum dan Mayang berjalan berdampingan kedalam rumah.


''Ah Mama, dari dulu Mama selalu baik sama Mayang. Terimakasih Ma.'' Mayang merebahkan kepalanya di bahu sang Mama.


''Sama-sama Sayang.'' Mama Hanum membelai pucuk kepala Mayang.


***


Saat sudah tiba di pelantaran Kantor, Aksa turun dari mobil dengan di ikuti oleh seorang Asisten barunya yang bernama Rangga. Rangga usianya sepantaran dengan Aksa, ia pria yang tampan dan juga cerdas. Mereka melangkahkan kaki lebar memasuki Kantor, berjalan sedikit tergesa-gesa karena mereka sudah terlambat. Hari ini akan ada meeting di perusahaan.


''Selamat pagi dan selamat datang kembali Tuan muda.'' sapa para karyawan dengan menundukkan kepalanya.


''Pagi juga, Iya terimakasih.'' jawab Aksa.


Aksa menekan lift lalu naik ke lantai lima, tempat ruangannya berada. Begitu lift terbuka Aksa keluar dan langsung masuk ke ruangan Direktur utama. Saat sudah sampai di dalam, Aksa di kaget kan dengan pemandangan di depan mata.


''Aksa ... Eh, maaf. Maksud saya Tuan Aksa.'' ucap Gendis sedikit terbata dengan meliuk-liukkan anggota tubuh. Wajahnya tersenyum menggoda.


''Ngapain kamu pagi-pagi di ruangan saya?'' tanya Aksa. Aksa berjalan, lalu ia duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Rangga masih setia mengikuti dan berdiri di samping nya.


"Aku 'kan udah jadi sekretaris kamu sekarang. Aku ingin memberikan ini. Ini berkas-berkas untuk meeting nanti.'' ucap Gendis santai dengan menjulurkan sebuah map. Dia duduk di kursi di depan Aksa. kursi yang Hanya terpisah oleh meja.


''Rangga sejak kapan wanita ini menjadi sekretaris saya?'' Aksa berucap dengan intonasi di tinggikan. Sangka nya Gendis tidak jadi bekerja di kantor, karena dia sudah berbicara sama sang Papa waktu itu. Nyatanya Papa nya tidak jadi mengeluarkan Gendis. Aksa merasa sedikit kecewa sama Papa Bagas.


''Sejak satu minggu yang lalu Tuan. Saat tuan masih cuti, selama itu pula Gendis menjadi Sekretaris Tuan Bagaskara,'' jelas Rangga. Aksa memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit, lalu dia berucap,

__ADS_1


''Emm baiklah. Gendis jadi begini. Maaf, maaf sekali. Kamu lihat sendirikan, saya sudah punya Asisten pribadi. Dan mulai hari ini saya akan kembali aktif lagi bekerja. Saya rasa saya harus memindahkan kamu kebagian lain saja atau kalau kamu tidak mau dipindahkan kamu bisa keluar dari Kantor ini secara terhormat. Rangga bisa saya andalkan. Saya tidak butuh Sekretaris lagi. Yang menerima kamu di sini adalah Papa saya, bukan saya!'' Aksa berkata dengan penuh penekanan.


''Rangga, bisa kamu keluar sebentar. Saya ingin berbicara berdua dengan Tuan Aksa.'' ucap Gendis sedikit keras, wajahnya sudah memerah. Dia merasa tersinggung mendengar perkataan Aksa.


''Rangga kamu tetap di sini.'' seru Aksa.


''Aksa!'' protes Gendis, dia berdiri wajahnya menyiratkan kekecewaan yang mendalam.


''Jangan kurang ajar!'' Aksa memukul meja dengan buku tangannya cukup kerasa. Dia benar-benar merasa begitu kesal sama ulah Gendis. Selain itu Aksa juga takut kalau sampai Mayang tahu Gendis berada di Kantor nya. Aksa tidak ingin membuat Mayang kecewa sedikit pun.


''Kamu dasar pria tidak tahu terimakasih Aksa. Kalau tidak karena Ibuku tidak mungkin kamu sekarang bisa berada di sini, berdiri tegap dengan tubuh sehat. Tega sekali kamu berbuat kasar sama aku. Padahal dulu hubungan kita begitu dekat, kita di besarkan bersama-sama di tempat yang sama, bermain bersama dan makan pun bersama. Tapi hanya karena wanita Janda itu kamu tega bersikap kasar dan mengacuhkan aku! Aku hanya ingin bekerja, aku tidak akan berbuat macem-macem!'' teriak Gendis, jari telunjuknya mengarah kearah Aksa.


''Rangga bawa dia keluar.'' perintah Aksa. Aksa merasa waktunya terbuang sia-sia karena Gendis.


''Tidak perlu, aku bisa keluar sendiri. Awas saja kamu Aksa. Akan aku adukan semua perbuatan kamu ini sama Ibu dan Tuan Bagas!'' ancam Gendis, matanya sudah memerah. Setelah itu dia berjalan cepat meninggalkan ruangan Aksa.


Selepas kepergian Gendis, Aksa dan Rangga pun berlalu ke ruang meeting. Kliennya sudah menunggu di sana.


Aksa tidak mau ambil pusing atas sikap dan ancaman Gendis. Aksa tidak takut apapun. Hanya saja nanti sepulang nya dari Kantor, dia berniat ingin menemui Bu Aida. Aksa ingin berbicara empat mata sama Bu Aida. Aksa akan menjelaskan tentang semua sikap kerasnya terhadap Gendis, semua itu Aksa lakukan karena Aksa peduli, selama ini Aksa sudah menganggap Gendis sebagai adik nya sendiri, kalau dibiarkan bisa-bisa Gendis makin menjadi-jadi dengan kegilaan nya.


***


''Mayang, bisa kita bertemu nanti siang? aku kangen sama kamu dan aku ingin berbicara sesuatu hal sama kamu.'' Mayang membaca pesan yang ada di ponselnya dengan mata menyipit.


''Maaf, ini siapa?'' balas Mayang.


''Ini aku Gendis. Adik ipar mu.''

__ADS_1


.....


Bersambung.


__ADS_2