
Mayang hanya menurut, dirinya duduk diam di samping Aksa. Aksa lalu mengemudikan kendaraan roda empat miliknya dengan pelan, dia mulai bercerita, menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi tadi di kamar Gendis dengan pelan dan hati-hati berharap Mayang akan mengerti dan memaafkan kesalahan yang sama sekali tidak dia lakukan.
''Mas sudah di maafkan, 'kan?'' tanya Aksa penuh harap saat dia sudah selesai menjelaskan. Mayang masih enggan menjawab pertanyaan Aksa. Dia masih diam memasang wajah cemberut yang menurut Aksa sangat menggemaskan.
''Kita ke KUA sekarang ya? Kita langsung nikah hari ini saja ya?'' tanya Aksa lagi dengan wajah tersenyum simpul.
''Enggak!'' jawab Mayang singkat.
''Lho kok gitu? Emang kamu mau Mas di goda lagi sama perempuan lain?''
''Apaan sih, pasti kesenangan ya ada yang godain!'' wajah Mayang semakin cemberut ketika Aksa berkata seperti itu.
''Mas di maafkan, 'Kan dek?'' ulang Aksa lagi masih dengan pertanyaan yang sama karena pertanyaan nya belum mendapatkan jawaban.
Mayang menarik nafas dalam lalu dia mulai berucap, ''Iya, Mas aku maafkan. Hati aku tadi tu sakit banget saat melihat Mas dan Gendis saling mendekap, aku kira Mas pria yang sama brengseknya seperti kebanyakan pria di luaran sana. Aku tuh sangat takut, Mas kan tahu sendiri bagaimana kisah masa lalu rumah tangga aku yang berakhir tidak baik-baik saja. Yang aku inginkan jika aku menikah kali ini, aku berharap aku menikah sama orang yang tepat. Orang yang benar-benar mencintai aku dan memprioritaskan aku di dalam hidupnya, tanpa ada nama wanita lain.'' Mayang berkata lirih, menunduk dengan mata berkaca-kaca. Aksa yang merasa begitu bersalah karena keteledoran nya tadi yang membuat hati sang calon istri terluka lalu memberhentikan laju kendaraan sejenak di pinggir jalan di bawah pohon rindang, lalu dia duduk menghadap ke arah Mayang.
''Maaf, Mas janji, kali ini Mas akan lebih berhati-hati lagi, Mas akan menjaga jarak dengan wanita lain selain kamu Dek. Kamu jangan bersedih lagi ya, Mas tidak rela setetes air mata turun dari mata indah mu itu.'' Aksa berucap yakin dan pelan dengan tatapan tertuju ke arah Mayang, lalu kemudian kedua telapak tangan Aksa meraup wajah Mayang yang ada di depannya. Dia menghapus sedikit air mata Mayang yang hendak terjatuh dari kelopak, Aksa merasa jantungnya berdetak lebih cepat, karena baru kali ini dia berada begitu dekat dengan sang wanita pujaan. Mayang hanya mampu menurut menerima perlakuan lembut dari sang calon suami yang tampan lagi baik hati. Akhirnya Mayang dan Aksa saling berdamai kembali, keterbukaan dan kejujuran memang sangat di butuhkan dalam sebuah hubungan.
Setelah itu mobil Aksa melaju lagi, tidak berapa lama akhirnya Mayang dan Aksa sampai di tempat tujuan, di KUA. Aksa dan Mayang mengurus semua keperluan untuk acara pernikahan mereka dengan cepat. Aksa kekeh meminta agar dia menikahi Mayang hari itu juga, tapi Mayang masih belum mau. Sesuai perjanjian awal, pernikahan Mayang dan Aksa akan di adakan satu bulan lagi. Setelah selesai dengan ***** bengek di KUA, Mayang dan Aksa singgah sebentar di rumah makan dan di mesjid terdekat, karena waktu zuhur sudah mau terlewatkan, habis itu baru Aksa mengantarkan Mayang pulang.
****
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, Bagaskara sudah memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil untuk sang Adik dan Keponakan supaya mereka tidak mengganggu kehidupan dia dan Aksa lagi.
''Bawakan mereka sekarang juga, aku percayakan sama kamu. Jangan sampai mereka kembali, bawa mereka ke mana saja ke tempat aman, jauh dari hidup ku dan Putra ku'' ucap Bagas kepada orang kepercayaan nya, dia berdiri di samping mobil. Di dalam mobil terdapat Gentala dan Mama nya duduk di kursi mobil bagian belakang dengan tangan masih terikat. Bagaskara memutuskan memerintahkan orang suruhannya untuk membawa Gentala dan Mama nya ke sebuah Desa di luar kota, hidup jauh dari dirinya. Karena Bagaskara merasa tidak tega kalau harus menjebloskan Gentala dan Mama nya ke dalam penjara, bagaimana pun Hani dan Gentala adalah anggota keluarganya.
''Mas ... Aku janji aku akan berubah, aku minta maaf. Jangan lakukan ini kepada aku dan Putra ku'' teriak Hani tak terima sama keputusan sang kakak. Sedangkan Gentala yang duduk di sebelah sang Mama tampak putus asa, dia hanya diam duduk bersandar di dalam mobil. Dia hanya bisa pasrah, sikap sombong dan angkuh nya tak terlihat lagi. Hanya saja dia merasa amat rindu dengan seseorang, dari tadi pikiran nya hanya di penuhi oleh bayang-bayang wajah cantik Mayang.
''Sayang, kamu kenapa hanya diam saja. Memohon lah kepada Paman mu. Siapa tahu Paman mu berubah pikiran setelah mendengar permohonan kamu. Mama tidak mau hidup di kampung dan berbaur sama orang-orang kampung.'' lirih Hani berbisik di telinga Gentala.
''Udah lah Ma, buang-buang waktu saja. Paman tidak akan mendengarkan permohonan kita. Jadi diam lah!'' jawab Gentala acuh.
''Mas!''
Setelah itu mobil melaju membawa Hani dan Gentala entah ke mana, tapi Bagaskara telah menjamin hidup mereka. Bagaskara menitipkan segepok uang kepada orang suruhannya tadi agar di berikan kepada Hani nanti begitu mereka sampai di tempat tujuan. Segepok uang yang bisa Hani beli rumah, hewan ternak dan membuka usaha kecil-kecilan di perkampungan. Begitulah pikir Bagas. Suatu hari nanti ada masanya Bagas akan menemui sang Adik dan Keponakan, tapi entah kapan. Bagaskara menatap mobil yang meninggalkan nya itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa benci melihat tingkah sang Adik yang amat keterlaluan dan ada rasa sedih yang menggelayut menerima kenyataan kalau dia dan sang keponakan yang selalu membersamai nya sedari kecil kini telah terpisah jarak dan waktu. Berbagai harap dia lantunkan di dalam hati, berharap Hani dan Gentala bisa hidup mandiri dan baik-baik saja setelah ini.
****
Tidak terasa, waktu sebulan telah berlalu begitu cepat. Pagi ini cuaca nampak begitu cerah, secerah wajah Aksa. Aksa bangun lebih awal, mandi, sholat, setelah itu dia bersiap-siap dengan bersemangat.
Aksa berdiri di depan cermin di dalam kamar miliknya, dia menatap pantulan dirinya yang telah amat rapi dan tampan. Aksa telah memakai busana pernikahan yang terlihat begitu pas dan cocok di tubuhnya, busana bewarna putih bersih. Aksa mengambil jam tangan yang tergeletak di nakas, lalu memasang ke pergelangan tangannya. Sebagai penutup penyempurna penampilan nya. Aksa meletakkan telapak tangan di dadanya, dia nampak gugup. Tiba-tiba ponsel miliknya berdering, Aksa mengambil ponselnya yang terdapat di atas nakas lalu menatap ke layar ponsel. Ternyata itu panggilan dari sang calon istri. Aksa mengangkat dengan senang dan senyum lebar.
''Mas, masih belum berangkat kah?'' tanya Mayang dari layar ponsel. Mayang juga sudah sangat cantik dengan make-up tipis, gaun bewarna putih dan hijab bewarna putih yang terdapat mahkota di atasnya, Mayang melakukan panggilan vidio call.
__ADS_1
''Belum Dek, sebentar lagi. Tunggu Mas ya'' jawab Aksa menatap Mayang kagum, dengan senyum mengembang. ''Masya Allah, cantiknya calon istriku'' batin Aksa berkata-kata di dalam hati, dengan hati yang berdebar-debar.
''Iya Mas, hati-hati ya calon suamiku. Aku tunggu,'' ucap Mayang lembut dengan senyum simpul, wajahnya nampak berseri-seri.
''Iya sayang'' jawab Aksa santai. Mayang nampak tersenyum malu mendengar jawaban Aksa. Lalu setelah itu panggilan terputus.
''Aksa kamu sudah siap? Ayo kita berangkat'' kata Bagas yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Aksa.
''Aksa sudah siap Pa''
''Baiklah, ayo kebawah. Rekan-rekan kamu sudah menunggu di bawah untuk ikut mengantarkan kamu ke rumah calon istrimu. Kamu sangat tampan Nak, almarhumah Mama kamu pasti sangat senang melihat kamu yang sebentar lagi akan melepaskan masa lajang,'' ucap Bagas menepuk-nepuk bahu sang putra, mata Bagas nampak berkaca-kaca penuh haru.
Aksa lalu memeluk tubuh sang Papa, membelai punggung sang Papa, tidak lupa dia meminta restu kepada Papanya. Setelah itu mereka ke bawah.
Di bawah nampak rombongan teman dan rekan-rekan Aksa sudah menunggu dirinya dengan penampilan yang rapi juga.
Bu Aida dan Gendis juga ada di bawah. Mereka juga akan ikut mengantarkan Aksa ke kediaman Aditama. Gendis melongo menatap Aksa yang turun dari tangga, di terpesona, menatap Aksa kagum. ''Tampannya calon suami orang'' batin Gendis. Hatinya terasa sakit.
Bersambung.
Vote dan kalau bersedia kasih hadiah juga ya supaya author makin semangat ngetiknya.
__ADS_1